WAHYU GAGAK EMPRIT
(Siapapun yang mendapat wahyu itu kelak keturunannya akan jadi penguasa di Tanah Jawa)
Turunnya Wahyu Gagak Emprit
Suatu hari dalam pertapaannya, Giring, yang saat itu telah mendapat gelar Ki Ageng Giring mendapat wangsit bahwa Wahyu Gagak Emprit berada di satu-satunya pohon kelapa di sebelah rumahnya. Selama bertahun-tahun, pohon kelapa itu dirawat dan dijaga Ki Ageng Giring hingga menjadi besar namun tak kunjung berbuah.
Hingga akhirnya saat Ki Ageng Giring melihat kembali pohon itu setelah selesai bertapa, di atas sana sudah ada satu buah kelapa. Dengan perasaan gembira karena ternyata wahyu Gagak Emprit itu benar adanya, Ki Ageng Giring memetik buah itu dengan hati-hati.
Ia pun tak langsung meminum buah itu karena baru saja makan. Ki Ageng Giring meletakkannya di sudut balai-balai dan kemudian ditinggal berladang. Ia berencana akan minum buah kelapa itu setelah selesai berladang dengan perhitungan nanti setelah bekerja pasti tenggorokkannya akan terasa kering dan perutnya terasa lapar.
Berikut Kisah Wahyu Gagak Emprit
Di malam Jumat Sunan Kalijaga seperti malam-malam yang lain mengajar murid-muridnya yang bernama Pemanahan dan Giring. Seperti biasa setelah pengajian selesai Giring selalu mengambilkan secangkir air bening untuk gurunya. Setelah membasahi tenggorokannya dengan setetes air bening, Sunan Kalijaga berwasiat kepada kedua orang muridnya. Bahwa kelak di tanah Jawa akan turun wahyu Gagak Emprit. Kedua murid memperhatikan dengan saksama tanpa menoleh sedikitpun ke arah lain selain ke arah Sunan Kalijaga. Siapapun yang kedunungan Wahyu Gagak Emprit kelak keturunannya bisa menjadi penguasa di Tanah Jawa. Keduanya bersemangat ingin mendapatkan wahyu itu, ini terlihat dari berbagai pertanyaan yang dilemparkan kepada Sunan Kalijaga gurunya. Untuk laku semedi, akhirnya kedua muridnya diberi kesempatan untuk mencari Wahyu Gagak Emprit. Keesokan harinya mereka berpamitan kepada gurunya untuk mencari wahyu dengan arah yang berbeda.Setelah beberapa lama bersemedi Ki Ageng Giring mendapatkan wangsit bahwa wahyu Gagak Emprit berada di satu-satunya pohon kelapa di tepi rumah Ki Ageng Giring yang buahnya hanya satu. Akhirnya Giring bergegas pulang dan tak lama kemudian setelah beristirahat dan makan segera mencari kelapa yang diwangsitkan itu. Hatinya Giring merasa gembira campur debar karena ternyata wangsit itu benar adanya. Dengan berhati-hati dipanjatnya pohon kelapa itu dan dipetik buahnya. Karena giring baru saja makan, maka ada kekhawatiran tidak habis jika air kelapa dan isinya langsung dimakan. Sehingga kelapa itu ditaruh di sudut balai- balai dan ditinggal ke ladang dengan perhitungan nanti setelah bekerja terkena panas maka tenggorongkanku akan merasa lebih haus dan perutku jadi lapar.
Tak disangka takdir berkata lain, sepeninggal Giring ke ladang datanglah Pemanahan ke rumah Giring. Dengan mengucap salam Pemanahan masuk ke rumah Giring. Setelah dipersilahkan duduk oleh istri Giring, tanpa basa-basi Pemanahan meminta kelapa yang ada di balai balai rumah Giring. Istri Giring yang tidak mendapat pesan apapun dari suaminya langsung memberikannya kepada adiknyanya Pemanahan. Dalam sekejap air kelapa dan isinya dilahap habis. Alhamdulillah segar sekali rasanya guman Pemanahan. Tak lama kemudian Giring pulang dari ladangnya. Melihat kelapa yang berisi Wahyu Gagak Emprit sudah dimakan adik Pemanahan, sambil menepuk-nepuk bahu adiknya mengucapkan Alhamdulillah adik yang kedunungan Wahyu Gagak Emprit. Pemanahan terbengong-bengong mendengar ucapan kakaknya Giring. Dijelaskannya kejadian yang menimpa Giring dari awal hingga memperoleh buah kelapa yang sudah dimakan adiknya. Pada awalnya Giring menghendaki bergantian kelak yang menjadi penguasa tanah Jawa, namun adik Pemanahan tak berkenan. Sehingga akhirnya mereka bersepakat ketika keduanya punya anak yang berbeda jenis akan dinikahkan agar keduanya merasakan kebahagiannya.
Dalam cerita ini ada pencerahan yang bisa kita ambil manfaatnya. Pertama, adalah laku semedi yang diperintahkan oleh Sunan Kalijaga agar kedua muridnya untuk selalu berdoa ketika ingin menggapai cita-cita. Kedua, istri Giring tidak ragu-ragu untuk memberikan kelapa kepada adiknya Pemanahan. Unsur sodakoh tanpa pamrih menjadi contoh buat kita semua. Ketiga, Giring termasuk orang yang menerima ing pandum atau nglenggana dengan takdir, manusia berusaha Tuhan yang menentukan. Keempat, Pemanahan dengan senang hati akan berbagi dengan keluarga Giring dalam hal kebahagiaan.
Kisah Wahyu Gagak Emprit, Pembawa Trah Mataram yang Diperebutkan
Pada Babad Tanah Jawa, dikisahkan seorang ulama yang berjuluk Ki Ageng Giring III. Dirinya tidak dapat dipisahkan dengan terbangunnya Kerajaan Mataram Islam yang kelak menjadi cikal bakal bersatunya Nusantara.
Ki Ageng Giring diperintah oleh Sunan Kalijaga untuk menanam sepet (sabut kelapa kering) yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa. Kelak pohon kelapa menghasilkan degan (buah kelapa muda).
Pencarian wahyu keraton juga dilakukan oleh salah satu murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di Kembang Semampir (Bang Lampir), Panggang,Gunung Kidul.
Ketika itu Ki Ageng Giring mendapatkan wisik (bisikan gaib) saat sedang memanjat pohon untuk menyadap getah. Di tempat itu, ada sebatang pohon kelapa, dekat pohon yang dipanjat Ki Ageng.
“Pada saat itu buahnya hanya satu dan masih muda (degan). Ki Ageng sedang memasang tabung bambu di atas pohon kelapa, kemudian mendengar suara. Ki Ageng Giring, ketahuilah, siapa yang minum air degan itu habis seketika, kelak seanak turunnya akan menjadi Raja Agung di tanah Jawa,” demikian bunyi dari bisikan gaib itu.
Ki Ageng Giring setelah mendengar bisikan gaib itu, segera turun dari pohon yang dia panjat. Di bawah setelah selesai meletakkan tabung penyadap getah, kemudian cepat-cepat memanjat pohon tadi. Maka dipetiknya kelapa muda itu dan dibawa turun.
Namun ada syarat khusus, bahwa air degan ini harus habis seketika, sedangkan Ki Ageng Giring pada saat itu belum haus sangat, karena itu dirinya memilih meminum air kelapa itu pada siang hari.
Ketika Ki Ageng Giring sedang pergi ke hutan. Sahabatnya Ki Ageng Pemanahan tiba di kediaman Ki Ageng Giring. Ki Ageng Pemanahan yang sangat haus setelah berjalan jauh lantas menenggak air kelapa ‘gaib’ tersebut.
Ki Ageng Giring ketika kembali dari hutan hanya bisa meratapi saat mendapati air kelapa ‘gaib’ yang dia petik sudah tidak ada di tempatnya. Ki Ageng Pemanahan yang terdapat di situ, mengakui dirinya yang meminum air kelapa muda tersebut.
Ki Ageng Giring setelah mendengar perkataan sahabatnya itu merasa seakan hancur hatinya, sedih dan sangat kecewa. Lama dirinya terdiam. Pupus sudah dirinya menjadi penguasa di tanah Jawa.
Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka dirinya pun mengetahui akan takdir, sudah suratan dari Tuhan, bahwa Ki Ageng Pemanahan akan menurunkan raja-raja yang menguasai tanah Jawa.
Janji Tujuh Turunan Mataram.
Betapa kecewa Ki Ageng Giring, melihat kenyataan yang terjadi sehingga hanya bisa pasrah. Namun dia menyampaikan maksud kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang keturunannya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.
Rupanya Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan terlibat dalam pembicaraan penting mengenai “wahyu” ini. Mereka mencari petunjuk dengan melakukan tirakat, berpuasa dan berdoa memohonkan petunjuk serta arahan dari Sang Pencipta Jagad.
Ki Ageng Giring melakukan tirakat untuk memperoleh Wahyu Mataram di Kali Gowang. Istilah gowang konon berasal dari suasana batin yang kecewa (gowang) karena gagal meminum air degan yang diminum Ki Ageng Pemanahan.
Sedangkan Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di luar rumah Ki Ageng Giring. Hal ini cukup menyita banyak waktu hingga menjelang malam hari itu, keduanya bersepakat menyebut nama wahyu yang diperoleh dengan “Wahyu Gagak Emprit".
Dua sahabat ini kemudian melanjutkan kembali pembicaraan tentang berbagai kisah, cerita-cerita masa lalu dan pengetahuan tentang wahyu. Berlanjut kepada keberadaan sejarah Kerajaan sejak zaman Hindu - Buddha sampai Islam.
Dalam diskusi mengenai wahyu tersebut diakhiri dengan permintaan Ki Ageng Giring agar diberikan jatah mengisi harapan kemulian di masa mendatang. Akan tetapi, Pemanahan masih belum menyetujui permintaan tersebut.
Pada permohonan terakhir itu, Ki Ageng Pemanahan dapat memahami perjuangan Ki Ageng Giring. Akhirnya, Ki Ageng Pemanahan menyetujui bahwa kelak keturunan Ki Ageng Giring akan menduduki tahta di Mataram.
“Penghargaan itu kemudian menjadi kesepakatan dari mereka bahwa setelah enam generasi pemangku keraton dipegang oleh keturunan dari Ki Ageng Pemanahan, barulah diberikan kepada pemangku keraton yang masih keturunan langsung dari Ki Ageng Giring,” jelas Matheus Nastiti Nurcahyo Widjaja dalam Ritual Nggayuh Wahyu di Pertapaan Bang Lampir: Kajian Foklor.
Pembagian kekuasaan antara keturunan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring dapat dilihat dari urutan penguasa Mataram :
1. Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan atau Kiai Ageng Mataram
2. Susuhunan Adi-Prabu Hanyakrawati, putra Panembahan Senopati
3. Panembahan Martapura, putra Hanyakrawati
4. Sultan Agung Hanyakrakusuma, putra Hanyakrawati
5. Amangkurat Agung (Tegal-Arum), putra Sultan Agung Hanyakrakusuma
6. Amangkurat Agung II, putra Amangkurat I
Pada keturunan selanjutnya tahta Mataram ditempati oleh Pangeran Puger atau Pakubuwono I yang konon adalah keturunan KI Ageng Giring. Pada Babad Nitik Sultan Agung, dikisahkan Ratu Labuhan, permaisuri Amangkurat I melahirkan bayi yang kurang sempurna.
Bersamaan itu, istri Pangeran Arya Wiramanggala dari Kajoran, Klaten yang masih keturunan Giring, Gunungkidul melahirkan seorang bayi sehat dan tampan. Amangkurat I yang mengenal Panembahan Kajoran sebagai orang sakti menitipkan anaknya.
Panembahan Kajoran merasa inilah momentum untuk menjadikan keturunannya sebagai raja. Dengan cerdik bayi Wiramanggala (kelak jadi Pangeran Puger) dikembalikan ke Amangkurat I dengan menyatakan upaya penyembuhan berhasil.
Singkat cerita, ketika Amangkurat III naik ke tahta muncul pergolakan yang terjadi dari dalam istana. Rakyat ketika itu juga meyakini bahwa wahyu keprabon (tanda-tanda gaib untuk seorang calon raja) jatuh kepada Pangeran Puger, pamannya.
Amangkurat III juga punya tabiat buruk, dirinya mudah marah, kerap bertindak sewenang-wenang, dan terkenal sebagai seorang hidung belang. Akhirnya dirinya hanya tiga tahun memerintah Mataram dan menyerahkan kekuasaanya kepada pamannya.
Dengan demikian, menjadi benarlah bahwa pada urutan yang ke-7, keturunan Ki Ageng Giringlah yang menjadi raja Mataram. Meskipun silsilah itu diambil dari garis perempuan. Namun tetap saja Pakubuwono I adalah raja yang berdarah Giring.
Janji yang telah ditepati.
Pada 2015 silam, Sultan Hamengkubawono X mengeluarkan Sabda Raja yang salah satu poinnya adalah menyatakan perjanjian antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring telah selesai.
“Dasare perjanjian Ki Ageng Giring sampun rampung, mboten saged dipun ewahi (perjanjian antara Ki Ageng Giring sudah selesai dan itu tidak bisa diubah),” kata Sultan.
Sultan juga menjelaskan, Mataram Lama adalah dari zaman Ken Arok, Singosari sampai Kerajaan Pajang. Sedangkan Mataram Baru berdasar pada perjanjian antara Ki Ageng Pemanahan.
Sekarang perjanjian itu sudah berakhir, dan sudah tidak ada lagi perpisahan antara Mataram Lama dengan Baru.
WAHYU RATU TANAH JAWA
( WAHYU GAGAK EMPRIT )
Dikisahkan Sunan Kalijaga pernah berkata kepada murid muridnya, bahwa " Wahyu Ratu Tanah Jawa akan turun di tengah Pegunungan Selatan ( Gunungkidul Yogyakarta ) "
Kisah diawali ketika Ki Ageng Pemanahan berhak memperoleh hadiah dari Sultan Hadiwijaya Raja Pajang yaitu Alas Mentaok karena keberhasilannya menundukkan Arya Penangsang .Tetapi hadiah Tanah Mentaok tidak segera di berikan karena menurut Sabda Sunan Prapen yang menyebutkan bahwa di Alas Mentaok kelak berdiri sebuah kerajaan besar dan Giri pun akan tunduk kepadanya.
Menghadapi kondisi tersebut Ki Ageng Pemanahan menjadi muram, ingin memohon pun tidak berdaya. Akhirnya beliau mendapat nasehat dari Sunan Kalijaga untuk laku prihatin memohon kepada Allah supaya Sultan Hadiwijaya berkenan segera memberikan Alas Mentaok kepadanya. Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Ki Ageng Pemanahan untuk bertapa di daerah Pegunungan Selatan disamping untuk keperluan diberikannnya Alas Mentaok juga , guna mencari Wahyu Ratu yang diisyaratkan akan turun di daerah Pegunungan Selatan. Kepada Ki Ageng Pemanahan diperintahkan untuk bertapa di suatu tempat yang ada bunga yang tergantung / tersangkut di sebuah batang pohon . Akhirnya ditemukanlah Tanah bukit dengan tanda tersebut. Kemudian Ki Ageng Pemanahan membuka hutan tersebut dan memulai laku prihatin di tanah tersebut yang kemudian dikenal sebagai Desa Kembang Semampir. Selama di pertapaan Kembang Semampir , disamping laku tapa brata Beliau dan Ki Juru Martani serta Danang Sutawijaya juga terkadang mendapat piwulang dari Sunan Kalijaga yang sesekali datang berkunjung. Selama Di Kembang Semampir, Ki Ageng Pemanahan juga melakukan dahwah / syiar Islam di desa Belimbing yang letaknya dibawah bukit Kembang Semampir. Bahkan beliau bersama Sunan Kalijaga juga membangun masjid di desa Blimbing tsb.Dan setelah sekian lama laku prihatin, tapa brata di pertapaan tersebut akhirnya pada suatu hari Sunan Kalijaga berkunjung ke pertapaannya dan berkata “ Jebeng , galo Wahyu Ratu Tanah Jawa wis katon ono sisih Wetan “ Jebeng adalah panggilan Sunan Kalijaga untuk Ki Ageng Pemanahan
Sementara itu jauh sebelum Ki Ageng Pemanahan bertapa di Kembang Semampir ,Sunan Kalijaga memberikan kepada salah satu muridnya yaitu Ki Ageng Giring III sabut kelapa kering untuk di tanam di halaman rumahnya di daerah Paliyan Gunung Kidul. Setiap hari Ki Ageng Giring merawat sabut kelapa tersebut dengan telaten. Akhirnya dari sabut kelapa tersebut tumbuh pohon kelapa. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, delapan tahun berlalu akhirnya pohon kelapa tersebut berbuah untuk pertama kalinya. Pada saat itu Ki Ageng Giring sedang menyadap ( nderes ) pohon kelapa tersebut, ketika ada sebuah suara bisikan yang bersumber dari buah kelapa muda tersebut yang isinya " Hei Ki Ageng Giring mengertilah ! Barang siapa yang meminum air kelapaku sampai habis tanpa berhenti ( sak endegan ) kelak akan menjadi Ratu berikut keturunannya akan menguasai Tanah Jawa.
Betapa kagetnya Ki Ageng Giring kemudian dipetiknya buah kelapa muda tersebut dan dibawanya ke rumah untuk diminum airnya. Tapi sebelum meminum air kelapa tersebut Ki Ageng Giring terlebih dahulu masuk ke hutan menebangi pohon supaya nanti sepulang dari hutan bisa menghabiskan air kelapa dalam satu tegukan ( sak endegan ).
Tapi begitulah lelaku kehidupan ( takdir ) , sesampai di rumah ternyata air kelapa muda tersebut telah diminum habis oleh saudara seperguruannya yang datang berkunjung kerumahnya yaitu Ki Ageng Pamanahan. Yang mana pada saat itu Ki Ageng Pamanahan baru saja menyelesaikan tapa brata laku prihatin di Padepokan Kembang Lampir agar memperoleh petunjuk dimana wahyu keraton berada.akhirnya langkah kakinya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah saudara seperguruan sekaligus sama sama keturunan darah Majapahit yaitu Ki Ageng Giring III.
Meskipun kecewa, Ki Ageng Giring berusaha memupus semua yang telah terjadi itu telah digariskan oleh Tuhan. kemudian Ki Ageng Giring menceritakan kepada Ki Ageng Pemanahan bahwa wahyu Ratu Jawa ada di dalam kelapa muda yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan tersebut.. kemudian Ki Ageng Giring meminta kepada ki Ageng Pemanahan supaya kelak kerajaan diperintah selang seling dari keturunan mereka tapi Ki Ageng Pemanahan tidak menyetujui, kemudian Ki Ageng Giring memohon lagi diseling setelah keturunan kedua, tapi Ki Ageng Pemanahan tetap tidak mengiyakan begitu seterusnya sampai akhirnya Ki Ageng Giring memohon supaya keturunannya yang ketujuh kelak akan menjadi Ratu di tanah Jawa dan Ki Ageng Pemanahan hanya bisa berkata lirih " Kakang Giring Allahualam, besuk keadaanya bagaimana aku tidak tahu "
Dan pada kenyataannya sesuai silsilah sejarah ternyata Raja Mataram ke 7 yaitu Sunan Pakubuwana I mempunyai darah keturunan dari Ki Ageng Giring yang diturunkan melalui Dewi Kajoran ( Putri Panembahan Rama , bupati Klaten ) yang dipermaisuri oleh Sunan Amangkurat I. Jadi Sri Sunan Pakubuwana I berikut semua keturunannya mempunyai darah Pamanahan dan Giring III.
Diceritakan kembali oleh KRT Koesrahadi Sajid Jayaningrat (JSM)
Imajier Nuswantoro


