Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi. Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni boya keduman melik, kaliren wekasanipun. Dilalah kersane Allah, sabegja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lawan waspada (Kidung Tembang Macapat Sinom Dening Raden Ngabehi Ranggawarsita)

0

 Amenangi jaman edan, 

ewuh aya ing pambudi. 

Melu edan nora tahan, 

yen tan melu anglakoni boya keduman melik, 

kaliren wekasanipun. 

Dilalah kersane Allah, 

sabegja-begjane wong kang lali, 

luwih begja wong kang eling lawan waspada

(Kidung Tembang Macapat Sinom Dening Raden Ngabehi Ranggawarsita)





Amenangi jaman edan, 

ewuh aya ing pambudi. 

Melu edan nora tahan, 

yen tan melu anglakoni boya keduman melik, 

kaliren wekasanipun. 

Dilalah kersane Allah, 

sabegja-begjane wong kang lali, 

luwih begja wong kang eling lawan waspada


Artinya :

Mengalami zaman edan, pikiran serba ragu. 

Jika turut tak akan tahan, sedang tak ikut tak kebagian, berujung kelaparan. 

Tetapi atas kehendak Allah, seberuntung apapun orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang sadar dan waspada



Amenangi Jaman Edan Ranggawarsita

Amenangi zaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya keduman milik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersaning Allah

Begja begjaning kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada


Makna Indonesia :

Menyaksikan zaman edan

Tidaklah mudah untuk dimengerti

Ikut edan tidak sampai hati

Bila tidak ikut

Tidak kebagian harta

Akhirnya kelaparan

Namun kehendak Tuhan

Seberapapun keberuntungan orang yang lupa

Masih untung (bahagia) orang yang (ingat) sadar dan waspada



Amenangi Zaman Edan

Hilanglah kemuliaan akhlaknya, tiada lagi kebaikan, selalu buruk sangka, Apa yang dipikir serba membahayakan, Sumpah dan janjinya tiada yang percaya, Akhirnya menanggung malu sendiri, Lenyaplah keluhuran budinya.


Ilang budayanipun, Tanpa bayu weyane ngalumpuk, Sakciptane wardaya ambebayani, Ubayane nora payu, Kari ketaman pakewoh, Lenyap kebudayaannya.

(Hilanglah kemuliaan akhlaknya, tiada lagi kebaikan, selalu buruk sangka, Apa yang dipikir serba membahayakan, Sumpah dan janjinya tiada yang percaya, Akhirnya menanggung malu sendiri, Lenyaplah keluhuran budinya).



Ewuh Aya Ing Pambudi

Pujangga besar Ronggowarsito pada suatu saat akan diangkat jadi pejabat  tinggi. Ternyata pengangkatan itu batal karena ada pihak yang memfitnah beliau kepada raja. Tentu Ronggowarsitu kecewa dan marah  dalam hati. Beliau kemudian bertafakur sejenak lalu berkata kepada dirinya sendiri: “Ah dari pada menuruti hati yang kecewa lebih baik saya gunakan energi untuk berkarya”.  Beliau kemudian menulis sebuah tembang yang disebut “Serat Kalatidha’.


Tembang ini berisikan gambaran di lingkungan kraton yang sedang mengalami kebobrokan moral yang kemudian menciptakan krisis di masyarakat yang disebut Kalabendhu.  

Tembang ini berupa syair yang disusun menurut aturan macapat. Salah satu bait (atau podo) Imajiner Nuswantoro kutip di bawah ini :


Amenangi jaman edan (mengalami jaman edan)

Ewuh aya ing pambudi (terjadi pergulatan batin)

Melu edan nora tahan (ikut edan tidak tahan)

Yen tan melu haanglakoni (kalau tidak ikut edan)

Boya kaduman melik (tidak mendapat bagian harta)

Kaliren wekasanipun (akhirnya akan kelaparan)

Dilalah karsa Allah (sudah menjadi kehendak Allah)

Beja bejane kang lali (seuntung-untung yang lupa)

Luwih beja kang eling lawan waspada (masih lebih untung yang sadar dan wapada).


Banyak orang menganggap tembang tersebut ramalan yang terwujud jaman ini. Sebagaimana saya katakan di atas, tembang ini bukan ramalan tetapi gambaran keadaan pada waktu itu yang diprihatinkan oleh Ronggowarsito.


Kesimpulan Imajiner Nuswantoro adalah bahwa jaman edan itu merupakan siklus jaman. Pertanyaannya adalah, apakah jaman edan (kalabendhu atau krisis multi dimensi) yang terjadi di Indonesia sekarang ini akan dapat diatasi dan siapa yang dapat mengatasi ?   


Kunci untuk mengatasi jaman edan atau kalabendhu terletak di kalimat ewuh aya ing pambudi dalam tembang di atas. Dalam pergumulan batin untuk ikut atau tidak ikut dalam jaman edan harus dimenangkan oleh orang-orang yang eling lan waspada.


Siapa yang harus eling lan waspada? Bukan hanya para pemimpin tetapi seluruh bangsa ini harus eling lan waspada. Di bawah ini saya akan  mengingatkan kembali makna ajaran eling lan waspada (yang sudah saya uraikan di posting yang lalu).


Eling artinya sadar bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dan diciptakan bukan asal diciptakan tetapi diciptakan untuk mengemban misi dari Allah. Selain itu manusia juga harus sadar bahwa dia tidak sendiri di dunia tetapi bersama dengan manusia lain. Terakhir manusia juga harus sadar bahwa untuk mengemban misi tadi, Allah telah menyediakan segalanya di dunia untuk digunakan bersama.


Waspada merupakan kemampuan manusia untuk membedakan yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah, yang hak dan yang bukan, dan sebagainya.


Jelaslah bahwa dewasa ini manusia  Indonesia  banyak yang tidak eling dan tidak waspada. Orang lupa siapa dirinya sehingga proses ewuh aya ing pambudi tidak berlangsung. Orang langsung mengikuti jaman edan tanpa eling lan waspada. Batin orang sudah demikian tumpul sehingga tidak terjadi lagi pergolaan batin untuk mempertimbangkan apakah akan ikut atau tidak ikut dalam jaman edan.


Kesimpulannya, untuk mengatasi krisis, seluruh bangsa ini harus memperkuat batinnya agar tidak terhanyut dalam jaman edan.



Kajian Sastra Klasik 

Kajian Kalatidha (7): Luwih Begja Kang Eling Waspada

Bait ke-7, tembang Sinom dari serat Kalatidha karya pujangga agung Ranggawarsita :


Amenangi jaman edan,

Ewuh aya ing pambudi,

Milu edan nora tahan,

Yen tan miluanglakoni,

Boya kaduman melik,

Kaliren wekasanipun,

Ndilalah karsa Allah,

Begjabegjanekang lali,

Luwih begja kang eling lawan waspada.


Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Hidup di jaman gila,

serba sulit dan repot dalam bertindak.

Ikut gila tidak tahan,

kalau tidak ikut melakukan,

tidak kebagian pendapatan,

kelaparan akhirnya.

Namun sudah menjadi kehendak Allah,

sebahagia-bahagianya orang yang lupa diri,

masih lebih bahagia yang ingat dan waspada.


Kajian per kata :

Amenangi (menyaksikan, hidup di) jaman (jaman) edan (gila), ewuh (repot) aya (sulit) ing (dalam) pambudi (bertindak, berusaha). Hidup di jaman gila, serba sulit dan repot dalam bertindak.


Kata amenangi sering diartika sempat hidup dan mengalami, misalnya pada kalimat: amenangi jaman panjajahan Walanda, masih hidup dan menyaksikan jaman penjajahan Belanda. Dalam kalimat di atas bermakna bahwa beliau hidup dan mengalami sendiri jaman edan itu. Dan merasakan seulit dan repotnya hidup tersebut.


Milu (ikut) edan (gila) nora (tidak) tahan (tahan), yen (kalau) tan (tidak) milu (ikut) anglakoni (melakukan), boya(tidak) kaduman (kebagian) melik (pendapatan), kaliren (kelaparan) wekasanipun (akhirnya). Ikut gila tidak tahan, kalau tidak ikut melakukan, tidak kebagian pendapatan, kelaparan akhirnya.


Dalam bait sebelumnya pernah disinggung tentang di jaman penuh petaka wong hambeg jatmika kontit, di jaman penuh petaka orang yang berbudi halus tersingkir. Nah inilah yang terjadi ketika dunia sudah penuh dengan penyimpangan. Orang-orang yang berbudi halus tidak tahan kalau mau ikut-ikutan gila. Tak sampai hati kalau harus rebutan periuk nasi, merasa malu kalau harus rebutan kursi. Merasa tak pantas kalau berebut jabatan dengan menyikut orang lain. Tak tega kalau demi mendapat proyek harus menyingkirkan teman. Akibatnya seringkali lebih suka mundur dan mengalah, dengan resiko pendapatannya atau peruntungannya berkurang.


Jaman edan memang tidak berpihak kepada orang baik-baik. Orang yang tekun mengabdi disingkirkan, yang banyak bacot dijunjung tinggi. Asal bisa njeplak banyak pengikutnya, tentu saja sesama orang sakit hati yang sama gilanya.


Ndilalah (namun sudah menjadi) karsa (kehendak) Allah (Allah), begja begjane (sebahagia-bahagianya) kang (yang) lali (lupa diri), luwih (masih lebih) begja (bahagia) kang (yang) eling (ingat) lawan (dan) waspada (waspada). Namun sudah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lupa diri, masih lebih bahagia yang ingat dan waspada.


Kata ndilalah sebenarnya bermakna kebetulan yang tidak diharapkan seperti pada kalimat, ora nggawa payung ndilalah udan, tidak membawa payung tiba-tiba hujan. Agaknya kata ini dipakai sebagai ungkapan bahwa mereka yang berperilaku gila itu boleh merencanakan ini dan itu, berbuat sesk mereka namun yang terjadi tetaplah kehendak Allah yang tidak mereka duga ata rencanakan.


Walau orang-orang yang berlaku gila dalam hidupnya itu tampak bahagia dan hidup enak, tetapi belum tentu seperti yang terlihat. Mungkin kelak tiba-tiba masuk bui karena terbongkar kejahatannya. Mungkin suatu saat terkena banyak penyakit karena gaya hidupnya. Karena sesungguhnya manusia hanya dapat menilai orang lain dari penampilan luarnya saja, sedangkan yang ada didalam kehidupannya kita tidak tahu.


Namun orang-orang yang tetap ingat dan waspada akan lebih bahagia. Hidupnya lebih terarah dan teratur. Keinginannya sederhana sesuai kemampuannya dan gaya hidupnya pun sewajarnya. Tidak ada keinginan yang menyiksa hati siang dan malam, karena orang seperti ini sudah pasrah dengan apa yang diterimanya.


Di sini ada dua kata kunci, yakni eling (ingat) dan waspada. Artinya sudah sering kami uraikan dalam kajian sastra klasik ini. Ingat berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampuai batas, jadi eling lebih ditujukan ke dalam. Waspada lebih ditujukan ke luar dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang muncul. 



Imajiner Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)