KISAH JAKA SENGKALA (AJI SAKA)

0

Kisah Jaka Sengkala (AJI SAKA)

 

 


Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka memakan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

 

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan sorban (ikat kepala) di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

 

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus. Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.

 

Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

 

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

 

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas sorban (ikat kepala) yang digunakannya. Sang Prabu pun mengabulkan permintaan Aji Saka.

 

Aji Saka dibawa ke alun-alun, sorbannya pun dibuka dan dibentangkan. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang dan melebar sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

 

Sorban pun semakin meluas. Sang Prabu pun makin terdesak. Semakin lama samakin mundur tersudut sampai ke pinggir laut Selatan. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, sorban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan. Pada saat itu pula berubah menjadi buaya putih. Dewata Cengkar memerintah di kerajaan laut selatan bersama putri Angin-angin.

 

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan dan bergelar Prabu Jaka. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

 

Prabu Jaka ingat akan dua pengawalnya yang ditinggalkan di pulau Majheti, bernama Dora dan Sembada. Dua pengawal yang lain, Yaksai, Duga dan Prayoga diutus ke pulau Majheti untuk menyampaikan perintah Prabu Jaka agar Dora dan Sembada datang ke Medang Kamulan.

 

Berita tentang Aji Saka naik tahta di Medang Kamulan sebenarnya telah didengar oleh Dora dan Sembada. Mereka akan datang ke Medang Kamulan karena takut melanggar perintah Raja. Namun pesan Aji Saka dulu bahwa ia akan datang sendiri untuk menjemput Dora dan Sembada, sehingga mereka berdua menjadi ragu-ragu dan gelisah.

 

Tanpa berunding dangan Sembada, Dora berangkat sendiri ke Medang Kamulan. Dalam perjalanan Dora bertemu dengan Duga dan Prayoga. Dora pun diajak kembali menghadap Prabu Jaka di Medang Kamulan.

 

Dora diperintahkan Prabu Jaka kembali ke pulau Majheti untuk memanggil Sembada, sekaligus meminta kembali keris Aji Saka yang dahulu dititipkan padanya. Apabila Sembada berkeras mempertahankan keris tersebut hendaknya diambil paksa sjs. Pesannya, dalam waktu satu minggu Dora harus telah kembali di Medang Kamulan.

 

Dora telah sampai di Majheti dn bertemu dengan Sembada. Dora mengatakan bahwa ia mengemban tugas Prabu Jaka agar Sembada datang ke Medang Kamulan sekaligus menyerahkan kembali keris titipan sang Prabu. Sembada tetap bertahan pada pesan Prabu dahulu bahwa keris hanya diberikan kepadanya, saat ia sendiri yang menjemput untuk mengambilnya.

 

Oleh karena masing-masing bertahan pada perintah sang Prabu, akhirnya terjadilah pertikaian dan perkelahian yang sengit. Pertikaian yang seru berakhir dengan tewasnya Dora dan Sembada, dua orang pengawal kepercayaan Prabu Jaka.

 

Waktu yang ditentukan satu pekan telah berlalu, namun Dora maupun Sembada tidak kunjung datang. Maka Duga dan Prayoga diperintahkan menyusul ke pulau Majethi. Setiba di sana mereka mendapatkan Dora dan Sembada telah tewas. Duga dan Prayoga melaporkan kematian Dora dan Sembada kepada sang Prabu. Prabu Jaka pun lanta ingat akan pesan yang pernah diperintahkan dahulu dan menyadari kekhilafanya.

 

Sejak peristiwa kematian Dora dan Sembada, Prabu Jaka merekayasa aksara sebanyak 20 aksara yang mengacu kepada kisah dua pengawalnya yang setia itu. Keduapuluh aksara tersebut adalah :

 

 


Ha-na-ca-ra-ka = ada utusan

Da-ta-sa-wa-la = tidak menyangkal

Pa-dha-ja-ya-nya = sama-sama kuat

Ma-ga-ba-tha-nga = berakhir menjadi mayat

 

 

 

Kisah Jaka Sengkala / Ajisaka

Kisah Jaka Sengkala / Ajisaka ini menceritakan kelahiran dan kehidupan masa muda Jaka Sengkala, putra Batara Anggajali. Ia kelak bergelar Ajisaka, yaitu orang yang mengisi Pulau Jawa dengan penduduk dari bangsa manusia. Kisah ini disusun berdasarkan sumber dari Serat Paramayoga karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

 

 

 

PRABU SAKIL BERTEMU BATARA ANGGAJALI

Tersebutlah seorang raja keturunan Nabi Ismail bernama Prabu Sakil yang memerintah Kerajaan Najran. Raja ini suka sekali berdagang ke seberang lautan dengan berdandan sebagai saudagar. Pada suatu hari, kapal yang ditumpangi Prabu Sakil dan para pengikutnya hancur dihantam badai. Seluruh penumpang tewas, kecuali Prabu Sakil yang terapung-apung di lautan dengan berpegangan pada sebilah papan kayu.

 

Batara Anggajali saat itu sedang duduk di atas ombak laut sambil mengerjakan perintah Batara Guru untuk membuat senjata-senjata pusaka kahyangan. Ketika melihat Prabu Sakil terapung-apung, ia pun bergegas menolong dan membawanya naik ke daratan.

 

Setelah sadar dari pingsan, Prabu Sakil berterima kasih atas pertolongan Batara Anggajali. Mereka pun berkenalan dan saling menceritakan asal-usul masing-masing. Sebagai ungkapan terima kasih, Prabu Sakil memohon dengan sangat agar Batara Anggajali sudi singgah di Kerajaan Najran barang beberapa hari.

 

Batara Anggajali tidak tega untuk menolak. Maka dengan kesaktiannya, ia pun menggendong Prabu Sakil dan membawanya terbang di udara, sehingga dalam sekejap saja mereka sudah sampai di ibu kota Kerajaan Najran.

 

 

BATARA ANGGAJALI MENIKAHI DEWI SAKA

Prabu Sakil sangat menyukai pribadi Batara Anggajali dan berterus terang ingin menjadikannya menantu. Saat itu ia telah memiliki seorang putri remaja bernama Dewi Saka yang hendak dijodohkan dengan dewa pembuat senjata tersebut.

 

Batara Anggajali menerima lamaran Prabu Sakil dengan senang hati. Maka dilangsungkanlah pernikahan antara dirinya dengan Dewi Saka. Namun ia juga tidak bisa lama-lama meninggalkan tugas yang diberikan Batara Guru. Setelah sang istri mengandung, Batara Anggajali pun mohon pamit kembali ke tengah lautan untuk melanjutkan pembuatan senjata-senjata pusaka.

 

 


KELAHIRAN JAKA SENGKALA

Sudah lebih dari sembilan bulan mengandung, namun Dewi Saka belum juga melahirkan. Segala macam pengobatan sudah diusahakan oleh Prabu Sakil namun belum juga berhasil. Sampai akhirnya, usia kandungan mencapai dua tahun, barulah Dewi Saka melahirkan bayi laki-laki berkulit putih bersih, dengan mata berwarna merah berkilat-kilat. Bayi itu diberi nama Jaka Sengkala, karena kelahirannya tergolong aneh dan tidak seperti bayi-bayi lain pada umumnya.

 

Sejak kecil Jaka Sengkala sudah memiliki keistimewaan. Ia tidak minum air susu ibunya, tetapi menghisap ujung jari sendiri. Ketika berusia delapan tahun ia sudah menamatkan semua ilmu yang diajarkan para ulama. Setelah tumbuh dewasa ia pun memiliki berbagai macam kesaktian, antara lain mampu terbang di angkasa.

 

Pada suatu hari Jaka Sengkala meminta ibunya untuk menceritakan siapa sebenarnya ayah kandungnya. Setelah didesak terus-menerus, Dewi Saka akhirnya bercerita, bahwa Jaka Sengkala sebenarnya adalah cucu seorang dewa pembuat senjata, bernama Batara Anggajali, yang saat ini berada di atas Samudera Hindia.

 

Jaka Sengkala sangat penasaran ingin bertemu ayahnya dan tidak bisa ditahan lagi. Ia pun mohon pamit kepada kakek dan ibunya untuk pergi mencari Batara Anggajali. Dengan berat hati Prabu Sakil dan Dewi Saka pun melepas kepergian Jaka Sengkala yang sangat mereka kasihi itu dan mendoakannya supaya selalu mendapatkan perlindungan Tuhan Yang Mahakuasa.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU AYAHNYA

Jaka Sengkala terbang meninggalkan Kerajaan Najran dan sampai di atas Samudera Hindia. Di tengah lautan ia melihat Batara Anggajali sedang duduk tenang di atas ombak lautan sambil tangannya bekerja membuat senjata-senjata pusaka. Jaka Sengkala yakin orang itu adalah ayah kandungnya dan ia pun segera memperkenalkan diri. Mengetahui pemuda itu adalah anak Dewi Saka, Batara Anggajali sangat gembira dan menerimanya sebagai putra.

 

Jaka Sengkala sangat kagum melihat kesaktian sang ayah dalam membuat senjata yang tidak menggunakan api, namun cukup jarinya memijat-mijat besi saja. Ia pun menyatakan ingin tinggal bersama sang ayah. Namun Batara Anggajali berkata bahwa sebaiknya Jaka Sengkala pulang ke Najran saja supaya bisa hidup mulia di sana sebagai raja yang kelak menggantikan kakeknya. Jaka Sengkala mengaku tidak suka kemewahan dan ingin hidup sebagai murid sang ayah saja. Karena baginya, Batara Anggajali adalah yang paling sakti di dunia.

 

Batara Anggajali menolak anggapan itu. Ia mengatakan bahwa ayahnya, atau kakek dari Jaka Sengkala yang bernama Batara Ramayadi jauh lebih sakti darinya. Jika membuat senjata, Batara Ramayadi tidak perlu menggunakan tangan tapi cukup dengan memandang saja, besi baja akan lunak dengan sendirinya.

 

Jaka Sengkala pun mengurungkan niat untuk berguru kepada ayahnya dan menyatakan ingin berguru kepada sang kakek saja. Batara Anggajali melepaskan kepergian putranya itu dan menunjukkan arah yang harus ditempuh jika ingin bertemu Batara Ramayadi.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU KAKEKNYA

Jaka Sengkala akhirnya berhasil menemukan Batara Ramayadi yang sedang duduk di atas awan mega sedang sibuk membuat berbagai senjata pusaka. Tanpa perlu Jaka Sengkala memperkenalkan diri, ternyata Batara Ramayadi sudah dapat menebak kalau ia adalah cucunya sendiri, yaitu putra Batara Anggajali.

 

Jaka Sengkala menyampaikan niatnya ingin berguru kepada sang kakek yang dianggapnya paling sakti di dunia. Kini ia melihat dengan mata sendiri bagaimana sang kakek membuat senjata tanpa perlu menggunakan tangan. Cukup dengan dipandang saja, segala macam besi dan baja akan lunak dengan sendirinya. Namun, Batara Ramayadi menolak sebutan paling sakti tersebut, karena ia hanyalah seorang empu pembuat senjata. Para dewa di Kahyangan Tengguru jauh lebih sakti, dan yang paling sakti adalah Batara Guru, sang raja para dewa. Adapun dewa lainnya yang memiliki kesaktian setara dengan Batara Guru adalah putra bungsunya yang bernama Batara Wisnu.

 

Jaka Sengkala terlihat kecewa karena kakeknya ternyata bukan yang paling sakti. Ia kemudian mohon pamit untuk berangkat menemui Batara Wisnu. Batara Ramayadi mengizinkan dan menunjukkan arah yang harus ditempuh menuju tempat tinggal Batara Wisnu tersebut.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU BATARA WISNU

Berkat petunjuk sang kakek, Jaka Sengkala berhasil menemukan Gunung Tengguru dan tiba di kahyangan tempat tinggal Batara Wisnu. Tanpa harus memperkenalkan diri, Batara Wisnu dapat menebak asal-usul Jaka Sengkala sekaligus mengetahui perasaan kecewa dalam hati pemuda itu terhadap ayah dan kakeknya yang ternyata bukan manusia paling sakti di dunia. Jaka Sengkala sangat senang melihat kepandaian Batara Wisnu dalam menebak asal-usul serta isi hatinya. Ia pun menyatakan ingin berguru kepadanya. Batara Wisnu mengatakan jika Jaka Sengkala ingin menjadi murid maka harus bisa menyesuaikan diri dengan perilaku kehidupannya.

 

Jaka Sengkala menyatakan siap untuk menyesuaikan diri dengan perilaku Batara Wisnu. Batara Wisnu pun menguji Jaka Sengkala. Dalam sekejap tubuh Batara Wisnu sudah menghilang dari pandangan dan kemudian amblas ke dalam perut bumi, setelah itu terbang ke angkasa, dan mendarat di Kutub Utara, kemudian menuju ke Kutub Selatan dalam waktu sekejap. Anehnya, ke mana pun Batara Wisnu pergi, Jaka Sengkala selalu dapat menyertainya.

 

Batara Wisnu mengatakan bahwa Jaka Sengkala tidak perlu lagi belajar kesaktian karena pada dasarnya ia telah sakti sejak lahir. Batara Wisnu juga menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang memiliki kesaktian paling sempurna, karena yang sempurna hanyalah  Tuhan Yang Mahasempurna. Maka, ilmu yang paling tinggi derajatnya bukanlah ilmu kesaktian yang membuat manusia tidak terkalahkan, tetapi ilmu pengetahuan yang membuat manusia semakin dekat dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Itulah ilmu kesempurnaan yang seharusnya dipelajari dan diamalkan.

 

Jaka Sengkala pun memohon supaya Batara Wisnu mengajarkan ilmu kesempurnaan tersebut agar ia dapat mendekati Tuhan Yang Mahakuasa. Batara Wisnu menyarankan supaya Jaka Sengala berguru kepada sahabatnya saja yang bernama Pendeta Usmanaji di Kerajaan Bani Israil. Jaka Sengkala menurut dan berangkat menuju arah yang ditunjukkan kepadanya.

 

 

JAKA SENGKALA MENJADI MURID PENDETA USMANAJI

Jaka Sengkala akhirnya bertemu dengan Pendeta Usmanaji dan menceritakan apa yang disampaikan Batara Wisnu kepadanya. Pendeta Usmanaji berkenan menerimanya sebagai murid dan mengajarinya berbagai macam ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran.

 

Setelah mempelajari semua ilmu dari sang guru, Jaka Sengkala berubah menjadi sosok rendah hati dan tidak lagi angkuh seperti sebelumnya. Pendeta Usmanaji meramalkan bahwa kelak Jaka Sengkala akan menjadi manusia yang dipilih Tuhan untuk mengisi Pulau Jawa dengan penduduk manusia. Jaka Sengkala juga diramalkan kelak berhasil memperoleh keabadian berkat meminum Tirtamarta Kamandanu di Tanah Lulmat, namun waktunya masih lama.

 

Pendeta Usmanaji menyarankan agar saat ini Jaka Sengkala pergi ke Kerajaan Surati untuk bertemu ayahnya sambil menunggu takdir Tuhan lebih lanjut. Rupanya Pendeta Usmanaji mendapatkan berita bahwa Batara Guru sangat senang melihat hasil kerja Batara Anggajali dalam menciptakan senjata-senjata kahyangan, sehingga ayah Jaka Sengkala itu pun mendapatkan hadiah berupa Kerajaan Surati.

 

Jaka Sengkala menuruti nasihat sang guru. Dengan berat hati ia pun mohon pamit. Pendeta Usmanaji melepas kepergian muridnya itu dan meramalkan kelak mereka akan bertemu lagi di Pulau Jawa yang terletak di seberang tenggara.

 

 

JAKA SENGKALA TIBA DI KERAJAAN SURATI

Dari Kerajaan Bani Israil menuju Kerajaan Surati, Jaka Sengkala tidak lagi terbang di angkasa seperti yang sudah-sudah, tetapi lebih memilih berjalan kaki menyusuri jalur darat. Sesampainya di tempat yang dituju, ia disambut dengan hangat oleh sang ayah, yaitu Batara Anggajali. Adapun saat itu Batara Anggajali telah menjadi raja dengan bergelar Prabu Iwasaka.

 

Jaka Sengkala pun diangkat sebagai pangeran mahkota Kerajaan Surati dengan bergelar Raden Ajisaka.

 


Koleksi Artikel Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)