HONG WILAHENG SEKARING BAWONO LANGGENG

0

 HONG WILAHENG SEKARING BAWONO LANGGENG




Hong, Unine tawon Gumana// Bunyi Lebah Gumana, sebuah sloka yang menjelaskan vibrasi bunyi kosmik, bermakna suwung, tenang, tentram, awal, atau damai.

Wilaheng, Semburat ring Jagadnata// Terpancar ke seluruh wahana semesta berarti menyebar memberadakan jagad raya/ melingkupi segala yang ngejawantah/ manifestasi. Juga bisa di ibaratkan sebuah bilah yang menempati wadahnya atau biasa disebut curigo manjing warongko atau keris bersarung warangka. Curiga manjing warangka; dapat bermakna Roh yang mempribadi merasuk kepada Badan Sarira, berbusana lima anasir/elemen : Tanah (pratiwi), api (Agni), angin (Bayu), air (Tirtha) dan ruang (Kahanan); (Pancamahabhuta; 5 elemen baku pendesain jagad ageng dan jagad alit).

Sekaring Bawana Langgeng; Mekarlah Jagad Yang Nyata Abadi yang berarti sempurnalah segala penciptaan atas realitas yang ada.  Dimana kesempurnaan ciptaan itu kini mampu kita saksikan dengan nyata. "Hingsung anekseni Hora Ana Pangeran Anging Hingsun, lan Hingsun anekseni satuhuning amung Hingsun Kang Angliputi Kahanan Djati.

Ungkapan tersebut menjelaskan tentang meleburnya dimensi Kawulo dan Gusti, dimana ketika manusia / kawulo telah mencapai persaksian utuh  maka tiadalah sekat antara Kawulo dan Gusti; antara keris dan warangkanya. Inilah yang menyatakan "Sekaring Bawana Langgeng" karena manusia telah terserap sepenuhnya kepada kualitas Sang Hurip/ Gusti- Yang Langgeng. Manunggaling Kawulo Gusti. 


Hong Wilaheng Sekaring Bawana Langgeng.

Kalimat yang disakralkan penganut ajaran kejawen, biasanya tersurat dalam mantra mantra kuno, namun memiliki makna yang dalam tersirat dari kalimat tersebut.

Hong bermakna suwung, tenang, tentram atau damai

Wilaheng berarti bilah yang menempati wadahnya atau biasa disebut curigo manjing warongko atau keris bersarung warangka

curiga manjing warangka, dapat bermakna

Roh Suci jiwa manusia merasuk ke busana lima anasir : tanah, api, angin, air dan ruang

Seperti terciptalah kehidupan di jagat raya.

Curiga manjing warongko juga bermakna : empat anasir menyatu dengan ruang untuk memahami asal mula dahulu diciptakannya, dan Roh Suci kembali manunggal marang Gusti Pengeran. Atau lebih sederhananya keris didalam warangka mampu menjadi pelengkap keindahan berbusana


Sekaring Bawono langgeng atau bunga dijagad abadi, keabadian hanya milik Gusti Pengeran dan bunganya adalah doa manusia yang memperoleh restu atau ridho ilahi atau doa yang sampai dihadapanNya

Dapat pula diartikan keris masuk ke dalam sarungnya, menggambarkan hubungan yang tepat atau ideal sehingga tidak terjadi konflik di dalam membangun ketenteraman dan kemakmuran. Peribahasa ini ditujukan kepada para pemimpin (yang berkuasa) dengan rakyatnya. Antara yang memimpin dengan yang dipimpin harus dapat melaksanakan peran masing-masing dan juga harus mampu membangun kerja sama yang baik.

Andaikan pemimpin diibaratkan dengan sebilah keris, dia harus bisa menjaga, mengayomi, menata, dan menghidupkan semangat rakyat agar mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, rakyat yang diibaratkan dengan warangka (sarung keris) pun harus bersedia mendukung semua hal yang telah ditetapkan oleh para pemimpinnya. Dengan hubungan serta kerja sama yang baik seperti itu, akan terwujud segala sesuatu yang dicita-citakan oleh masyarakat.

Pada umumnya dipahami hubungan antara pemimpin yang bertindak sebagai penguasa dengan bawahannya, sebagai rakyat jelata,

ada saling memperlakukan dengan benar sesuai dengan tugas di antara mereka, timbal balik sepadan yang senantiasa terjaga, tidak saling curiga mencurigai, tetapi saling percaya,

akan hak dan kewajiban yang diperankannya.

Dan melalui doa kepada Sang Maha Pencipta, jalinan antara pemimpin yang mendoakan rakyatnya dan rakyat yang mendoakan pemimpinnya dalam Jawa disebut Donga dinonga maka kejayaan Nusantara dapat diraih bersama

Mugi Rahayu Sagung dumadi, hayu hayu Rahayu atau semoga seluruh mahluk hidup berbahagia

Selamat selamat semua memperoleh keselamatan


Hong Wilaheng (Lagu Gombloh).

Mingkar mingkuring angkoro

Akarono karnan mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinubo sinukato


Aduh Gusti pakertining ngilmu

Ingkang tumrap ning ngalam dunyo

Agomo ageming aji


Sopo entuk wahyuning Allah

Gyoh dumilah mangulah ngilmu bangkit

Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning jiwanggo


Yen mangkono

Keno sinebut wong sepuh

Liring sepuh

Sepi howo

Awas loro ning atunggil


Hong wilaheng sekareng bawono langgeng

Sekar mayang

Hong wilaheng sekareng bawono langgeng

Sekar kajang

Hong wilaheng sekareng bawono

Hong wilaheng sekareng bawono


Hong wilaheng sekareng bawono langgeng

Sekar mayang

Hong wilaheng sekareng bawono langgeng

Sekar kajang

Hong wilaheng sekareng bawono

Hong wilaheng sekareng bawono


Sopo entuk wahyuning Allah

Gyoh dumilah mangulah ngilmu bangkit

Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning jiwanggo


Yen mangkono

Keno sinebut wong sepuh

Liring sepuh

Sepi howo

Awas loro ning atunggil

Awas loro ning atunggil

Hm

Awas loro ning atunggil


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)