ASMARAGAMA
Asmaragama merupakan pengetahuan yang harus diketahui oleh para pria, agar memperoleh kesempurnaan dalam hidup berumah-tangga. Pengetahuan ini meliputi 2 perkara :
1. Kesempurnaan Rahsa , yang disebabkan karena wanita.
2. Kesempurnaan Jiwa, yang menjadikan sebab akan terlahirnya anak/ keturunan.
Kedua perkara di atas yang menyebabkan kita akan merasa bahagia atau tidak, suka maupun duka. Karena wanita bila sudah merasa cacat hatinya, bisa menyebabkan rumah tangga berantakan.
Seorang wanita akan merasa cacat hatinya/ tersakiti, disebabkan ada 6 perkara, yaitu :
1. Sebab karena kurang pangan.
2. Sebab karena kurang sandang.
3. Sebab kurang puas dalam hubungan suami-istri/ bersanggama.
4. Sebab tertarik dengan laki-laki lain.
5. Sebab kena guna-guna.
6. Sebab karena kekurangan sarana yang menjadi perhiasan hidup.
Untuk itulah pria harus menguasai ilmu Asmaragama untuk menguasai masalah-masalah dalam berumah-tangga.
Kata Asmaragama sendiri berarti, Asmara = cinta kasih ; dan Gama = sanggama. Jadi maksudnya adalah cara bercinta-kasih dalam bersanggama.Kekuatan Asmaragama itu bila seorang pria, telah melaksanakan ilmu ini wanita akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Karena kenikmatan itu bukan disebabkan karena besar- kecilnya atau panjang pendeknya alat vital pria, tapi karena pria sudah melaksanan ilmu Asmaragama. Keterangannya bisa dipaparkan seperti di bawah ini :
1. Walaupun mempunyai alat vital yang besar dan panjang tetapi kalau tidak bisa menggunakan dengan baik dalam bercinta maka hanya akan menimbulkan kekecewaan pada pasangannya.
2. Mempunyai alat vital yang kecil panjang, walaupun bisa bercinta tetapi tidak menguasai ilmu Asmaragama maka pasangan hanya merasakan enak tapi kurang puas.
3. Mempunyai alat vital yang sedang besar panjangnya, walaupun bisa bercinta tapi kurang mengasai ilmu Asmaragama akan menyebabkan kekecewaan pada wanita.
bagian 1 dari ASMARAGAMA yang bersumber pada buku ASMARAGAMA terbitan toko buku SADUBUDI Solo, tahun 1952.
Perkara yang menyebabkan terbukanya Rahsa dalam Asmara dikelompokkan dalam 6 sebab, yaitu :
1. Asmara Sabda, yang artinya tutur kata yang menyebabkan timbulnya rahsa
2. Asmara Turida, yang artinya tingkah laku yang menyebabkan timbulnya rahsa.
3. Asmara Cipta, yang artinya pancaran hati yang menyebabkan timbulnya rahsa.
4. Asmara Wanita yang artinya wadi atau rahasia wanita
5. Asmargama , yang artinya keinginan bercinta-kasih dalam bersanggama.
6. Asmara Tantra, yang artinya keinginan untuk kesemuanya di atas.
Bagian-bagian yang harus dipelajari dalam ilmu Asmaragama, bab- bab sebagai berikut :
BAB 1.
Mempelajari tentang ilmu Asmara-sabda. Keterangannya sebagai berikut : Apabila seorang pria tertarik pada seorang wanita, tetapi belum pernah berkenalan langsung, maka sebaiknya pria tersebut menyuruh seorang comblang, yang pandai bertutur kata indah, agar wanita itu tertarik. Setelah si wanita tertarik bisa diadakan pertemuan, dengan menggunakan ilmu Asmara-sabda, dengan masih didampingi seorang perantara, yang pandai mengolah kata-kata, agar si wanita menjadi yakin.Tetapi bila wanita itu masih merasa takut atau kurang suka maka dipakailah ilmu Asmara-turida.Sepertidalam bab berikut.
BAB 2
Mempraktekan Asmara-turida, untuk mendapatkan hati yang tersanjung. Kalau pria tertarik pada wanita yang sudah mau menerima barang-barang pemberiannya, itu dimaksud untuk memantapkan hati sang wanita. Tetapi bila wanita itu tidak mau menerima pemberian sang pria, maka dipakailah ilmu Asmara-cipta. Menurut kebiasaan wanita yang sudah ketaman asmara (jatuh cinta) maka asmaranya sudah mantap sekali.
BAB 3
Mengamalkan ilmu Asmara-cipta. Seorang pria bila tertaik pada wanita bisa nyirik/ menahan nafsu dahulu. Berdasarkan kulit wanita yang akan dituju, bila wanita berkulit putih maka harus menahan nafsu selama 3 hari, apabila wanita berkulit merah maka, harus menahan nafsu selama 7 hari, bila berkulit hitam menahan nafsu antara 7 sampai 40 hari lamanya. Setelah itu bersuci diri, dan tidak tidur dari sore hingga tengah malam, lalu keluar duduk di halaman, duduknya seperti orang bersamadi, biar bisa lama duduknya bisa bersandaran.Lalu mengheningkan cipta menutup semua panca indera, setelah itu lalu berdoa untukwanita yang dituju, bila bayangan wanita sudah nampak maka bayangkan seolah-olah bersanggama dengan wanita itu, tetapi hanya di dalam cipta saja. Biasanya wanita yang dituju juga akan mimpi bersanggama dengan pria itu. Sehingga wanita itu nantinya akan mencari pria itu atau ngunggah-unggahi. Itulah kekuatan Asmara-cipta.
bagian 2 dari Asmaragama yang bersumber dari buku ASMARAGAMA terbitan Toko Buku SADUBUDI, Solo tahun 1952
BAB 4
Menjabarkan tentang asmara wanita ada 2 perkara, yaitu :
1. Pengasihan untuk menarik wanita, dan.
2. Untuk membuka rahasia wanita, rahasia wanita tidak hanya yang nampak saja, tetapi terhadap seluruh tubuh wanita. Letak kenikmatan pada wanita dipengaruhi oleh tanggal, karena itu seorang pria harus mengetahuinya untuk membuka rahsa sebelum bersanggama.
Letak rahsa pada wanita tanggal dipengaruhi tanggal, adalah sebagai berikut :
Rahsa tadi setiap tanggal (tanggal Jawa) berganti-ganti, berpindah-pindah. Mulai tanggal 1 dasar rahsa ada di ibu jari kaki kanan, tanggal 2 pindah di tengah telapak kaki kanan,begitu seterusnya. Setelah tanggal 16 dasar rahsa pindah ada di tengah alis yang kiri, selanjutnya ke bawah sampai ke ibu jari kaki kiri. Jadi awal rahsa tadi ada di ibu jari kaki kanan, terakhirnya ada di ibu jari kaki kiri, seterusnya begitu.
kalau mau membuktikan tidak usah memilih waktu, tetapi harus tampak apa adanya, pada waktu duduk atau tiduran saling berhadapan, lalu berdoa, menyurutkan panca indera, menutup telinga, pembau , dan penglihatan. Memikir cara sanggama, sampai rahsa sanggama tadi ada dalam cipta. Saat itulah lalu rahsa ada di tempat yang sudah disebutkan di atas. Wanita yang dituju tersebut lalu jingkat/ merasakan walaupun sedang tidur pulas. Terbangun dan ingin bersanggama, itulah yang dinamakan Asmara Cipta.
Kalau sudah pandai menggunakan ilmu Asmara wanita, walaupun sang wanita itu sedang berjalan, bisa diikuti dari belakang, setelah wanita itu berkeinginan karena pengaruh ilmu Asmara wanita tersebut, maka setelah rahsa sanggama itu tertarik di cipta, lalu ditarik lagi rahsa sanggama itu di ujung jari, jari itu disentuhkan pada bagian yang sedang ketempatan rahsa, biasanya wanita itu langsung siap bersanggama, badannya gemetar, ingin segera memulai persanggamaan. Kekuatan ilmu Asmara wanita itu bisa wanita yang sesulit apapun, hingga mau nurut.
Asmaragama Konsep Kama Sutra Warisan Budaya Jawa.
Proses penyebaran agama Hindu hingga ke nusantara juga melebarkan pengaruh tradisi dan budaya India. Salah satunya ajaran seni bercinta atau Kama Sutra yang dikenal sebagai Asmaragama dalam budaya Jawa.
Dalam kamus Bausastra Jawa, kata asmara berarti cinta. Sementara kata gama bermakna agama atau ajaran, yang secara semantis bermakna wajib dipatuhi. Sehingga dalam budaya Jawa, Asmaragama tak sekadar menyoal erotisme tapi juga bagian dari ajaran yang sakral dan sarat etika.
Ajaran Asmaragama banyak diceritakan dalam naskah Jawa kuno sekitar abad-18. Masyarakat Jawa pada saat itu masih sangat kental dengan sinkretisme perpaduan paham dari suatu kepercayaan budaya Hindu-India dan memandang seks sebagai bagian dari laku atau perjalanan kehidupan.
Aspek cinta asmara yang menjadi bagian dari seksualitas dipandang sebagai bentuk kesucian. Tujuannya untuk mencari wiji sejati atau generasi penerus yang mempunyai keyakinan dan kepribadian.
Terlebih pada masa kejayaan keraton Jawa, seksualitas menjadi bagian integral dalam kehidupan dan seni budaya Jawa. Sebagai contoh, Kama Sutra memiliki makna fisolofis dalam dunia pewayangan, di mana kata kama diartikan sebagai sperma.
Orang yang suka bermain sperma digambarkan sebagai tokoh Kama Salah nama kecil tokoh wayang Batara Kala yang berarti sperma yang disalahgunakan. Orang yang seperti Kama Salah memiliki sifat kekanak-kanakan, egois, dan tidak mawas diri dalam hal seksualitas sehiggga bisa merusak harmoni kehidupan.
Para pujangga Jawa klasik juga menulis sumber literasi yang mengungkapkan sisi erotis manusia dan ajarannya agar menjadi referensi dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran seksologi Jawa salah satunya terdapat pada Serat Centhini yang ditulis atas perintah Sunan Paku Buwana V di Surakarta pada pertengahan abad ke-18.
Dalam Serat Centhini, seks menjadi salah satu topik yang dibahas secara lugas, mulai dari cara berhubungan seks dengan letak-letak genital yang sensitif, waktu yang tepat untuk bersenggama dengan sistem kalender Jawa, resep pengobatan seksual, hingga mantra seksual. Sementara naskah-naskah klasik lainnya seperti Serat Candrarini, Serat Wulang Putri, dan Serat Nitisastra berisi informasi tentang seksualitas kewanitaan.
Dalam cerita wayang, tokoh Arjuna salah satu tokoh Pandawa, putra Raja Pandu Dewanata dan Dewi Kunthi Talibarata memiliki kekuatan memikat hati wanita yaitu Aji Asmaragama. Kekuatan ini merupakan bagian terakhir dari 5 tahapan yang harus dilakukan sebelum menggunakan Aji Asmaragama, sehingga memiliki nilai filosofis sebagai panduan dalam berumah tangga.
Berikut penjelasannya :
1. Asmaranala, yang bermakna kedua insan yang bercinta sebaiknya dilandasi rasa cinta kasih dari lubuk hati masing-masing. Hal ini mengajarkan seks bukan sekadar menyalurkan hasrat birahi, tapi perpaduan dua hati yang saling mencinta.
2. Asmaratura, maksudnya pasangan yang saling mencintai harus saling memiliki rasa kebanggaan terhadap pasangannya. Ini bisa dilihat salah satunya dari ketertarikan kepada kecantikan dan ketampanan kedua belah pihak.
3. Asmaraturida, yang menyimbolkan dalam kehidupan suami istri, harus diselingi dengan gurau dan canda selama tidak berlebihan. Tak jarang guyonan dalam berumah tangga bisa menjadi jalan awal untuk bercinta.
4. Asmaradana, tahapan yang kekuatannya terletak pada kata-kata indah atau sesuatu yang menyentuh hati. Maksudnya, bisa saja memberikan puisi, lagu, atau syair untuk pasangan, atau bila tak terbiasa dengan kata-kata romantis, bisa saja memperlakukan pasangan secara istimewa.
5. Asmaratantra, tahap ini mengajarkan dalam berumah tangga harus konsisten dalam memberikan sentuhan kasih sayang, terutama saat melakukan hubungan seks. Apalagi setelah memiliki keturunan, kebiasaan yang memantik gairah harus dipertahankan.
6. Asmaragama, konon dalam tahap ini para raja dahulu harus bersemedi dan membersihkan diri sebelum berhubungan intim, sementara permaisuri mereka mandi, berdandan, dan wangi. Dalam konteks sekarang, tahap ini mengajarkan suami istri mesti membersihkan diri sebelumnya berhubungan intim, seperti dalam agama Islam disunahkan wudu, salat sunah berjamaah, dan berdoa agar diberikan keturunan saleh.
Sumber Referensi :
Purwadi. 2011. Tata Hubungan Pria Wanita dalam Pandangan Budaya Jawa. Universitas Negeri Yogyakarta.
Purwanto, Sugeng. 2016. Makna Simbolisme dalam Mantra Asmaragama Sang Arjuna. Semarang: Unisbank.


