RUWATAN MURWAKALA

0

RUWATAN MURWAKALA 







Tradisi ruwatan adalah tradisi untuk melepaskan marabahaya atau kesialan seseorang. Tradisi ini bermula dari kisah pewayangan.
Pada masyarakat Jawa, dikenal tradisi ruwatan. Ruwatan adalah salah satu ritual penyucian yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakatJawa. Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan media wayang kulit. Tradisi ini dapat dilakukan oleh orang Jawa ketika mengalami kesialan dalam hidup. Dalam bahasa Jawa, ruwat sama dengan kata luwar yang artinya lepas atau terlepas.
Diruwat artinya dilepaskan ataupun dibebaskan. Sampai saat ini, banyak orang melakukan upacara ruwat agar terhindar dari marabahaya yang diramalkan akan menimpa diri seseorang. Ngruwat artinya menetralisir kekuatan gaib yang bisa mendatangkan bencana untuk diri seseorang ataupun lingkungannya. Tradisi ini dipimpin oleh dalang yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang ruwat.
Seorang dalang bertanggungjawab atas kesialan serta kemalangan karena orang yang diruwat sudah menjadi anak si dalang. Ruwatan semula berkembang dalam cerita Jawa kuno yang intinya memuat masalah penyucian diri. Penyucian ini berhubungan dengan pembebasan yang tidak suci.
Masyarakat Jawa selain dikenal sebagai masyarakat yang lemah lembut dan berpitutur luhur juga dikenal dengan ritual mistisnya. Pengaruh kepercayaan Hindu-Budha seringkali mewarnai adat istiadat dan kebudayaan mereka. Meski begitu, beberapa warisan tradisi telah diadaptasi dengan ajaran agama Islam yang mulai banyak dianut di Pulau Jawa semenjak abad ke-17. Hal ini tentu tak luput dari kiprah Sultan Agung (1613-1646), raja terbesar pasca Majapahit yang mempertemukan dan mendamaikan kraton dengan tradisi-tradisi Islam. Untuk melakukannya tentu tidak mudah mengingat masyarakat Jawa pada masa itu memiliki kepercayaan bahwa penguasa tertinggi adalah Nyi Roro Kidul, sang penguasa Laut Selatan.
Di antara kebudayaan yang masih dilestarikan di beberapa tempat di Pulau Jawa hingga kini adalah tradisi ruwatan. Kata ruwat dalam bahasa Jawa berarti lepas atau terlepas. Orang yang diruwat berarti orang yang dilepaskan atau dibebaskan dari kutukan dewa, malapetaka dan keadaan yang menyedihkan. Ngruwat berarti menetralisir kekuatan gaib yang dapat mendatangkan bencana bagi diri seseorang ataupun lingkungannya. Tradisi ngruwat dipimpin oleh seorang dalang yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang ruwat. Dalam hal ini, seorang dalang memiliki tanggung jawab atas kesialan dan kemalangan karena orang yang diruwat sudah menjadi anak dalang.
Tradisi ruwatan tidak terlepas dari pertunjukan wayang yang menceritakan tentang Murwakala yang menjadi muasal sejarah tradisi tersebut. Karena untuk melaksanakan pertunjukan wayang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tradisi ngruwat biasa dilakukan secara bersama-sama dalam lingkup pedukuhan atau desa.
Dalam konteks zaman sekarang, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil darai tradisi ruwatan. Jika dalam ruwatan seseorang yang akan diruwat membutuhkan dalang yang ahli dalam bidang ruwat, maka untuk membersihkan diri kita dapat memulainya dari diri kita sendiri. Menjadi pribadi yang berkepribadian luhur serta menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma di lingkungannya secara tidak langsung mampu memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan di sekitarnya. 
Ruwat adalah salah satu upacara dalam kebudayaan Jawa yang ditujukan untuk membuang keburukan atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan. Seseorang atau sesuatu yang telah diruwat diharapkan mendapat keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman kembali. Gangguan dalam hal ini dapat berupa banyak hal, seperti nasib buruk, terkena ilmu hitam, atau makhluk gaib.

Ruwat dalam keratabasa Jawa dapat diartikan kudu bisa luru lan bisa ngrawat yang bermakna harus bisa mencari dan merawat.
Dalam masyarakat Jawa, ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar yaitu :
1. Ritual ruwat untuk diri sendiri.
2. Ritual ruwat untuk lingkungan.
3. Ritual ruwat untuk wilayah.

Pada umumnya, pangruwatan Murwa Kala, dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang membawa cerita Murwa Kala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan. Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya, dan menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Karena pagelaran wayang merupakan acara yang dianggap sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini dengan pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.
Proses ruwatan seperti yang diterangkan ini bisa ditujukan untuk seseorang yang akan diruwat, namun pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkang untuk meruwat lingkup lingkungan, biasanya dilakukan pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.
Tradisi upacara /ritual ruwatan hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Dalam cerita wayang dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa (Jawa Tengah) awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut Kama salah kendang gumulung. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran: atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sebagai berikut :
1. Alat musik jawa (Gamelan)
2. Wayang kulit satu kotak (komplet)
3. Kelir atau layar kain.
4. Blencong atau lampu dari minyak.


MAKNA RUWATAN MURWAKALA 
Dalam hidup bermasyarakat, manusia diatur oleh suatu aturan, norma, pandangan, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang mengikatnya, sekaligus merupakan cita-cita yang diharapkan untuk memperoleh maksud dan tujuan tertentu yang sangat didambakannya. Aturan, norma, pandangan, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan itulah yang mewujudkan sistem tata nilai untuk dilaksanakan masyarakat pendukungnya, yang kemudian membentuk adat-istiadat. Koentjaraningrat (2002) mengatakan bahwa adat-istiadat sebagai suatu kompleks norma-norma yang oleh individu-individu yang menganutnya dianggap ada di atas manusia yang hidup bersama dalam kenyataan suatu masyarakat.
Tanah air Indonesia, yang terdiri dari pulau-pulau, suku-suku bangsa, dan bahasa-bahasa daerah terdapat berbagai adat-istiadat yang kemudian diatur dan ditata oleh masyarakat pendukungnya, sesuai dengan tujuan dan harapan yang didambakannya. Di dalam masyarakat Jawa misalnya, adat-istiadat yang kini masih dipertahankan, dilestarikan, diyakini, dan dikembangkan, benar-benar dapat memberikan pengaruh terhadap sikap, pandangan, dan pola pemikiran bagi masyarakat yang menganutnya. Adat-istiadat Jawa tersebut sangat menarik sebagai bahan kajian budaya, karena didalamnya memuat hal-hal yang bersifat unik. Dianalisa dari segi historis, adat-istiadat Jawa telah tumbuh dan berkembang lama, baik di lingkungan kraton maupun di luar kraton. Adat- istiadat Jawa tersebut memuat sistem tata nilai, norma, pandangan maupun aturan kehidupan masyarakat, yang kini masih diakrabi dan dipatuhi oleh orang Jawa yang masih ingin melestarikannya sebagai warisan kebudayaan yang dianggap luhur dan agung. Dalam usahanya untuk melestarikan adat-istiadat, masyarakat Jawa melaksanakan tata upacara tradisi sebagai wujud perencanaan, tindakan, dan perbuatan dari tata nilai yang telah teratur rapi (Koentjaraningrat, 1984).
Niels Mulder (1984) berpendapat bahwa bangsa Indonesia, khususnya suku bangsa Jawa mempunyai sifat seremonial. Hampir pada tiap peristiwa yang dianggap penting, baik yang menyangkut segi kehidupan seseorang, baik yang bersifat keagamaan atau kepercayaan, maupun yang mengenai usaha seseorang dalam mencari penghidupan, pelaksanaanya selalu disertai upacara.
Dalam perjalanan hidup seseorang, mulai dari dalam kandungan ibunya sampai pada waktu ia meninggal dunia, pada saat-saat tertentu orang akan mengadakan berbagai upacara yang diperuntukkan baginya, seperti upacara tingkeban, kelahiran, selapanan, tedhak siten, khitanan, perkawinan, kematian, dan lain-lain. Di dalam antropologi upacara-upacara semacam itu lazim disebut ritus peralihan. Dalam bulan-bulan tertentu orang mengadakan upacara yang bersifat keagamaan, misalnya ruwahan, selikuran, lebaran, syawalan, besaran, suran, saparan, muludan dan lain-lain. Sedangkan di dalam mencari penghidupan, terutama bagi golongan petani, dikenal upacara-upacara yang bersangkutan dengan bercocok tanam, seperti upacara wiwit, tandur, entas-entas, methik, bersih desa dan lain-lain.
Di samping berbagai upacara tersebut, ada lagi jenis upacara yang sedikit banyak berhubungan dengan kepercayaan, yang sumbernya berasal dari jaman sebelum agama Islam mempengaruhi kehidupan kebudayaan orang Jawa, terutama pada waktu lampau, ialah upacara ruwat atau disebut Ruwatan.

Ruwat dalam bahasa Jawa sama dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan. Pelaksanaan upacara itu disebut ngruwat atau ruwatan, berarti melepaskan atau membebaskan, ialah membebaskan atau melepaskan dari hukuman atau kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka atau keadaan yang menyedihkan. Ngruwat dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, tetapi juga menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib yang akan membahayakan. Upacara ruwat yang biasa dilakukan orang hingga sekarang termasuk dalam arti yang kedua, yaitu suatu upacara yang diadakan sebagai sarana yang dijalankan oleh seseorang supaya dapat terhindar dari marabahaya yang diramalkan akan menimpa diri seseorang.
Dalam upacara ruwatan sering dipergelarkan pertunjukan wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan (Wibisono 1983). Dalam pertunjukan wayang ini disajikan lakon wayang secara khusus. Lakon wayang yang disajikan sebagai sarana upacara ruwatan ini biasanya Murwakala dan Sudamala.


RUWATAN MURWAKALA 
Ritual tradisional ini dilaksanakan dengan pergelaran Wayang Kulit dengan cerita Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek. Dalam cerita wayang, konon Kala yang putra ‘salah kedaden’ (berasal dari kama, bibit Batara Guru yang tumpah ke laut, karena didorong Batari Uma) dan menjadi raksasa jahat, memang diberi hak memangsa manusia yang termasuk kategori sukerta.
Sukerta berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atau dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala (Endraswara, 2003). Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) yakni mengendalikan atau menguasai kala (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram.
Bratawijaya (1988) menyebutkan orang-orang yang termasuk golongan Sukerta, antara lain : 
1. Ontang-anting: anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung. 
2. Unting-unting: anak perempuan tunggal dalam keluarga. 
3. Gedhana-gedhini : dua anak dalam keluarga, laki-laki dan perempuan.
4. Uger-uger lawang: dua anak laki-laki dalam keluarga.
5. Kembar sepasang: dua anak perempuan dalam keluarga.
6. Pendhawa: lima anak laki-laki dalam keluarga.
7. Ngayomi: lima anak perempuan dalam keluarga.
8. Julungwangi: anak lahir pada saat matahari terbenam dan.
9. Pangayam-ayam: anak lahir saat tengah hari.


SUKERTO 
Tradisi ruwatan hingga kini masih hidup dalam masyarakat Jawa. Inilah ritual yang memiliki makna pembebasan sekaligus penyucian manusia sukerto dari  dosa bawaan.  Tradisi ruwatan akan dilengkapi dengan pertunjukan wayang kulit yang menampilkan lakon Murwakala.
Ruwatan dilakukan terhadap  para sukerto yang karena dosa bawaannya akan menjadi santapan Batara Kala. Kisah ini berawal dari janji sang ayah, Batara Guru, yang hanya membolehkan Batara Kala memangsa anak-anak sukerto, yakni anak-anak yang berdosa karena takdirnya.
Namun, pada saat yang sama Batara Guru memberi jalan keluar kepada para sukerto agar tidak dimenjadi mangsa Batara Kala, yaitu dengan cara menggelar ritual ruwatan. Lakon Murwakala sebenarnya memberi pesan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dengan kata lain manusia selalu terlibat dalam kesalahan.


KELOMPOK SUKERTO 
1. Pertama adalah sukerto karena kelahiran, antara lain :
Ontang-anting : Anak tunggal laki-laki.Unting-unting : Anak tunggal wanita. Gedhana-gedhini : Satu anak laki-laki dan satu anak wanita dalam keluarga. Uger-uger lawang : Dua anak laki-laki dalam keluarga.Kembar sepasang : Dua anak wanita dalam keluarga. Pendhawa : Lima anak laki-laki dalam keluarga. Pendhawa pancala putri : Lima anak perempuan dalam keluarga.Kembar : Dua anak laki-laki atau wanita lahir bersamaan.Gotong Mayit : Tiga anak wanita semua. Cukil dulit : Tiga anak laki-laki semua. Serimpi : Empat anak wanita semua.Sarambah : Empat anak laki-laki semua.Sendang kapit pancuran: Anak tiga, dua laki-laki, yang tengah wanita. Pancuran kapit sendang : Anak tiga, dua wanita, yang tengah laki-laki.Sumala : Anak cacat sejak lahir. Wungle : Anak lahir bule. Margana : Anak lahir sewaktu ibunya dalam perjalanan. Wahana : Anak lahir sewaktu ibunya sedang pesta. Wuyungan : Anak lahir diwaktu perang atau lagi ada bencana. Julung sungsang : Anak lahir ditengah hari. Julung sarab : Anak lahir waktu matahari terbenam.Julung caplok : Anak lahir disenja hari.Julung kembang : Anak lahir saat fajar.
2. Kelompok kedua adalah sukerto karena kesalahan, meski tidak disengaja, seperti: memecahkan gandhik (alat untuk membuat jamu), menjatuhkan dandang (tempat untuk menanak nasi) saat masak nasi, serta orang yang bersiul pada tengah hari
3. Terakhir adalah sukerto karena sering tmendapat musibah, seperti sakit-sakitan, sering sial, sering mendapat nasib buruk, dan sebagainya.
Sebenarnya mengenai kelompok sukerto ini ada beberapa versi. Pakem Pangruwatan Murwakala menyebut ada 60 macam sukerto, sedangkan menurut Pustaka Raja Purwa terdapat 136 sukerto. Sementara itu Sarasilah Wayang Purwa menyebut 22 sukerto, dan dalam Buku Murwokolo tertulis ada 147 macam sukerto.


PROSESI RUWATAN 
Prosesi ruwatan biasanya menggunakan perlengkapan kain mori (putih) sepanjang tiga meter, kembang tujuh ruopa, minyak tiga macam), serta air yang diambil dari tujuh mata air. Semua  perlengkapan, kecuali kain mori, dicampur dalam bak mandi. Tempayam drum atau lainnya.
Peserta ruwatan atau para sukerto mengenakan kemben dari kain mori, dan tanpa mengenakan perhiasan apa pun. Khusus untuk sukerto wanita harus dalam kondisi bersih atau tidak sedang datang bulan.
Selanjutnya, para sukerto melakukan siraman di halaman rumah tanpa atap. Prosesi biasanya dipimpin oleh dalang ruwat yang nantinya akan menggelar pertunjukan wayang dengan lakon Murwakala.

Termasuk juga dalam daftar Sukerta, mereka yang dianggap melakukan kesalahan karena menjatuhkan dandang, ketika menanak nasi dan mematahkan gandhik, alat pemipis jamu. Pada perkembangannya sukerta yang diruwat tidak hanya anak-anak. Dapat juga orang dewasa yang dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian berat, sehingga membuat orang lain menderita. Mereka yang masuk dalam daftar Sukerta harus diruwat dengan Ruwatan Murwakala supaya tidak menjadi mangsa Kala. Upacara ini dianggap sangat sakral, sehingga harus dilakukan dengan cermat.


KISAH CERITA RUWATAN MURWAKALA 
Diruwat (Jawa) atau diruat (Sunda) berasal dari adat istiadat Jawa, istilah ruwat berasal dari istilah Ngaruati artinya menjaga dari kecelakaan Dewa Batara. Biasanya ruwat dilaksanakan ketika: anak yang sedang sakit, anak tunggal yang tidak memiliki adik maupun kakak, terkena sial, jauh jodoh, susah mencari kehidupan, mempunyai tanda Wisnu (tanda putih pada badannya, dll.


KISAH DAN SEJARAH RUWATAN 
Sejarah ruwatan ini berasal dari cerita pewayangan. Dikisahkan ada tokoh bernama Batara Guru yang memiliki istri dua orang yaitu Pademi dan Selir. Batara Guru memiliki anak dari Pademi bernama Wisnu. Anak ini tumbuh menjadi orang yang memiliki budi pekerti yang baik sedangkan anak Batara Guru dari Selir bernama Batarakala. Berbeda dengan sifat Wisnu, sifat Batarakala ini jahat sekali. Dia sering kesurupan setan dan bahkan mengganggu anak manusia lalu memakannya.
Ruwatan ini berkembang dalam cerita Jawa yang intinya masalah penyucian diri. Maksudnya yaitu menyangkut pembebasan diri dari bahaya dan kesialan.
Batarakala terlahir dari nafsu Batara Guru yang tak bisa dikendalikan. Suatu ketika, Batara Guru dan istrinya sedang menaiki punggung seekor lembu dan dia tiba-tiba ingin menyetubuhi sang istri. Karena menolak, maka sperma Batara Guru terjatuh ke tengah samudera.
Kemudian, sperma ini menjelma menjadi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala. Sperma yang jatuh ini disebut sebagai kama salah dalam bahasa Jawa. Batara Kala ini adalah perwujudan dari kama salah tersebut.
Batarakala pun meminta makanan berwujud manusia kepada ayahnya. Ayahnya mengizinkannya asalkan yang dimakan adalah manusia yang tergolong dalam kategori wong sukerta yaitu yang mendapatkan kesialan dalam hidup seperti anak tunggal tanpa saudara.
Anak tunggal harus diruwat dengan baik agar terhindar dari kesialan dalam hidup. Dari cerita pewayangan ini, masyarakat Jawa meyakini bahwa tradisi ruwatan sangat penting untuk mereka yang menginginkan keselamatan.

Di Jawa, ada banyak jenis upacara yang sedikit banyak berhubungan denagn kepercayaan. Yang sumbernya berasal dari jaman sebelum agama Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa.
Satu diantaranya yang dapat dikatakan penting di dalam kehidupan orang Jawa, terutama pada waktu yang lampau, ialah ucapaya Ruwat atau juga disebut Ruwatan.
Menurut keyakinan orang Jawa dahulu banyak sekali hal atau peristiwa yang akan dapat mendatangkan malapetaka, apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka agar dapat terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.
Syarat itu ialah kewajiban orang untuk mengadakan upacara ruwat. 

Hal-hal yang dianggap memerlukan adanya ucapara itu paling sedikit dapat digolongkan dalam tiga jenis, yakni :
1. Upacara ruwat bagi orang atau anak yang dianggap mempunyai nasib buruk, disebabkan kelahirannya (anak sukerta).
2. Ucapara ruwat bagi orang atau anak yang cacat tubuhnya.
3. Ucapara ruwat bagi orang yang dianggap bersalah, karena telah melanggar pantagan atau merusak benda-benda tertentu.
Kepercayaan tentang datangnya malapetaka yang akan menimpa anak sukerta dan orang-orang yang bernasib sial lainnya itu pada dasarnya berasal dari keyakinan cerita lama, yaitu dari sebuah cerita wayang purwa, yang disebut Murwakala atau Purwakala.

Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana. Di daerah lain lakon itu disebut juga Dalang Karungrungan atau Dalang Kalunglungan.
Pada dasarnya cerita itu mengisahkan tentang asal dari lahirnya dewa raksasa bernama Kala dan mengenai kehidupannya selanjutnya. Mengenai cerita di daerah satu dengan lainnya ada berbagai variasi, meskipun tidak prinsipal, karena pada dasarnya berasal dari sumber yang sama.

Menurut Pakem Pedhalangan, dalam garis besarnya cerita itu adalah sebagai berikut :
Pada suatu ketika Dewa Siwa bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu tunggangannya bernama Lembu Andhini.
Di atas samudera itu Siwa melihat permaisurinya sangat menggairahkan, sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Akan tetapi Dewi Uma tidak berkenan dihati, maka benih Siwa jatuh di tengah lautan.
Setelah masa benihnya itu berubah menjadi makhluku, kian lama kian besar. Akhirnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti. Ia naik ke Suralaya, tempat bersemayam para dewa, bermaksud untuk menemui Siwa.
Setelah sampai ditempat yang dituju dan bertemu dengan Siwa, ia bertanya siapakah yang menurunkannya dan ia minta agar ditunjukkan manusia-manusia yang bagaimanakah yang diperkenankan untuk menjadi mangsanya.
Dewa Siwa mengakui bahwa ia adalah putera Siwa sendiri, dan diberi nama Bathara Kala. Untuk makannya, Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak sukerta.
Maka Dewa Kala segera minta diri turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda. Sepeninggal Dewa Kala, Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, sehingga apabila tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi.
Ia lalu memerintahkan kepada Dewa Narada agar menugaskan Dewa Wisnu untuk menjadi dalang membatalkan perintah yang telah diberikan kepada Dewa Kala. Dewa Narada ditugaskan menjadi panjak (penyanyi), Dewa Brahma menjadi penabuh gender (semacam gamelan).
Dewa Wisnu kemudian memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Dengan demikian mereka dapat diselamatkan.
Diceritakan pula, bahwa pada waktu itu ada seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya pergi mandi di Danau Madirda.
Patuh pada perintahnya, ia lalu pergi ke danau tersebut. Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk manusia yang menjadi mangsanya.
Sadar ada bahaya mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang mendirikan rumah. Tapi akhirnya diketahui oleh Dewa Kala, maka kejar-kejaran terjadi dirumahitu.
Akhirnya rumah menjadi roboh. Pemuda itu lalu bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat obat yang menggunakan pipisan. Disini pun ia diketahui oleh Dewa Kala.
Dalam usahanya untuk menghindarkan diri, ia terantuk pada pipihan sehingga benda itu patah. Selanjutnya ia bersembunyi di dapur yang kebetulan sedang dipakai memasak nasi. Di sini pun terjadi kejar-kejaran pula, sehingga menyebabkan dandang (tempat untuk menanak nasi) roboh.
Joko Jatusmati melarikan diri ke luar melalui halaman depan rumah. Di dalam usahanya mengejar pemuda itu di tengah halaman, Dewa Kala terjatuh, karena terlilit batang waluh (cucurbita pepo) yang kebetulan ditanam di halaman tersebut.
Akibatnya ia kehilangan arah ke mana mangsanya melarikan diri. Bersamaan dengan itu, di desa Medang Kamulan terdapat seorang laki-laki bernama Buyut Wangkeng. Ia memiliki anak perempuan tunggal bernama Rara Pripih yang baru saja dinikahkan.
Akan tetapi pengantin baru itu belum rukun, bahkan sang isteri minta kepada ayahnya agar diceraikan dari suaminya. Namun keinginannya tidak disetujui oleh ayahnya. Akhirnya ia membatalkan niatnya setelah ayahnya mengabulkan permintaannya untuk mengadakan ruwat dengan tertunjukan wayang.
Buyut Wangkeng segera menyuruh menantunya mencarikan dalang yang bersedia mempergelarkan pertunjukkan wayang untuk meruwat anaknya. Maka dipanggilah Dalang Kandhabuana.
Pada waktu yang telah ditetapkan pergelaran wang terus dimulai. Banyak sekali orang yang melihat. Diantara penonton itu terdsapat pula Joko Jatusmati, demikian juga Dewa Kala. Akhirnya Dalang Kandhabuana dapat menyelesaikan tugasnya.
Dalang penjelmaan Dewa Wisnu itu berhasil menghalang-halangi Dewa Kala dalam hal mengejar manusia yang menjadi mangsanya. Batara Kala dapat dihalau ketempat asalnya. Demikian pula anak buah dan pengikutnya, seperti kelabang, kalajengking dan lain-lainnya. Setelah itu bumi menjadi aman kembali.
Waktu hendak kembali ke tempat asalnya, baik Dewa Kala, Durga dan lainnya minta bagian dari sajian yang telah disediakan. Dewa Kala minta batang pisang, itik dan burung merpati. Durga minta kain sindur dan bangun tulak.
Kecuali itu tokoh lain seperti Dewi Sri dan Sadana, Kebo Gegeg dan Kebo Celeg dan lain-lain (mereka bukan tokoh jahat) minta bagian pula. Mereka berperan dan memberi petuah agar mereka yang diruwat memperoleh keselamatan.
Dengan demikian maka sebagai unsur pokok di dalam upacara ruwatan selanjutnya, di samping orang menyediakan berbagai macam sajen dan syarat lainnya yang harus dipenuhi, orang harus mengadakan pergelaran wayang purwa, dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.


RUWATAN DALANG KANDHA
Pada dasarnya pelaksanaan upacara ruwat bagi orang yang kurang mampu tidak berbeda dengan upacara ruwat lengkap, hanya sifatnya lebih sederhana.
Dengan demikian biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar, sehingga terjangkau oleh mereka. Adapun mengenai unsur-unsur sajian yang diperlukan di dalam upacara itu, tetap harus sama seperti pada upacara lengkap, perbedaannya hanya terletak pada acara pementasan wayangnya.
Di atas telah diutarakan, bahwa pementasan wayang merupakan unsur pokok dalam upacara ruwatan. Untuk keperluan itu orang harus menyediakan biaya yang tidak sedikit, terutama apabila orang mendatangkan dalang yang terkenal.
Maka bagi orang yang kurang mampu dimungkinkan untuk mengadakan ruwat, hanya dengan mengundang dalangnya saja, tanpa membawa wayang dan gamelan. Di dalam upacara itu dalang hanya bertugas sekedar bercerita saja tentang riwayat Dewa Kala seperti yang terdapat di dalam lakon Murwakala.
Sesudah bercerita, maka diadakan upacara pengguntingan rambut anak yang ruwat dan dengan itu selesailah upacaranya. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan untuk dalang tidak semahal biaya pergelaran wayang yang lengkap.
Upacara semacam itu disebut ruwatan dalang kendha (karena dalang hanya bercerita saja).


TATA CARA RUWATAN 
Ruwatan  sangat  penting khususnya  masyarakat   kejawen. Kejawen merupakan kepercayaan asli Jawa atau kebatinan. Kebatinan  merupakan sistem   kepercayaan  yang berakar pada  kebudayaan. Kepercayaan yang   memberikan dorongan orang yang melaksanakan ruwatan  adalah  bagi anak-anak yang mempunyai nasib buruk.
Tradisi  ruwatan mempunyai makna filosofis dalam  tahapan  prosesi upacaranya yaitu sebagai berikut :
Prosesi siraman  secara filosofis  mengandung nilai pembersih  badan agar manusia yang diruwat dengan menggunakan air  kembang setaman yang   terdiri atas kembang   kenanga, kembang melati, dan kembang mawar. Sesaji dan selamatan secara   filosofis memiliki nilai agar orang yang diruwat dalam keadaan selalu selamat. Nilai filosofis yang terkandung dalam upacara penyerahan sarana adalah memberikan perlindungan terhadap orang yang tergolong sukerta. Upacara potong rambut memiliki   nilai filosofis yaitu bahwa segala yang kotor harus di potong dan di buang. Nilai filosofis dalam tirakatan merupakan ungkapan rasa syukur dan ungkapan  rasa   terima kasih terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan dan anugerahnya.Wayang juga membawa makna filosofis bagi  kehidupan manusia. Manusia  pada umumnya menginginkan kebaikan, maka kisah wayang itu banyak yang bisa sampai masuk ke hati. 
Makna wayang dalam ruwatan juga membawa makna kehidupan. Pelaksanaan ruwatan ini ada hubungannya  dengan makna dari kesucian jiwa dan raga dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Oleh karena  itu sebelum pelaksanaan ruwatan harus   melaksanakan tapa brata (ngelakone tapa). Kesucian jiwa raga adalah mencapai ketentraman dan kesucian lahir dan batin.  
Selain itu juga mencapai kehidupan yang lebih baik dan suci lahir batin. Pelaksanaan ruwatan juga bermakna untuk mencapai tujuan hidup manusia Jawa tersimpul dalam unen-unen, mati sajroning urip, urip sajroning pejah artinya bahwa yang hidup tetap hidup tetapi yang mati adalah nafsu lahirnya. 
Unen-unen ini mengandung pesan bahwa hidup manusia hendaknya bisa mengendalikan hawa nafsu. Orang yang tidak bisa menguasai nafsu berarti mati.  Sebaliknya jika  
orang hidup tanpa nafsu adalah mati juga. Hidup manusia itu silih berganti seperti halnya perputaran roda.


CERITA MURWAKALA 
Sak wijining dina, pada suatu sore hari, Batara Guru dan sang istri Batari Uma berkeliling jagat raya dengan menunggang Lembu Andhini. Pemandangan terlihat begitu indah. Batara Guru pun terkesima melihat kecantikan sang Batari. Di bawah siraman semburat jingga cahaya surya sore itu, Batari Uma nampak begitu menawan. Paling tidak dalam pandangan Batara Guru, sang suami tercinta. Tak pelak lagi, berahi Batara Guru pun bangkit dan serta-merta mengajak sang istri untuk bercinta. Batari Uma mencoba menolak secara halus karena ini bukanlah saat yang tepat. Apalagi di awang-awang, tempat terbuka seperti itu. Namun apa daya, Batara Guru yang sudah berada dalam suasana berahi memaksakan kehendaknya. Terjadilah pergumulan hebat hingga Batari Uma mendorong dan melepaskan diri dari pelukan Batara Guru yang penuh gejolak nafsu. Akibatnya, kama buah cinta sang Batara Guru tumpah ke dalam lautan, dan menjelma jadi raksasa besar yang dinamakan Kala. Jadi, Kala adalah satu produk yang salah, dan lantaran kesalahan itu, meskipun anak Dewa, Kala tumbuh menjadi raksasa sangat jahat, yang selalu ingin memangsa daging manusia.
Sebagai seorang ayah, Batara Guru memberi izin kepadanya untuk memangsa orang-orang sukerta. Akan tetapi, setelah dibicarakan dengan Batara Narada, patihnya, Batara Guru menyadari bahwa santapan untuk sang Kala akan terlalu banyak. Batara Guru kemudian menulis sebuah mantra di dada Kala. Ketentuannya, siapa saja yang dapat membaca mantra tersebut oleh Kala harus dianggap sebagai ayahnya.Ternyata hanya sedikit orang yang mengetahui dan bisa membaca mantra di dada Kala. Kurban yang menjadi mangsa Kala masih cukup banyak.
Batara Guru lalu memutuskan turun ke dunia, menyamar sebagai dalang dengan nama Ki Dalang Kandhabuwana. Kala pun menyerah pada Ki Dalang, dan dia diperintah tinggal di hutan Krendhawahana. Kala setuju dan tunduk, tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diangkat anak oleh Ki Dalang. Mereka itu para sukerta yang telah menjalani Ruwatan Murwakala.
Kala memohon diberkati dengan Santi Puja Mantra, Ki Dalang pun mengabulkan lalu memandikannya dengan air dan bunga-bunga. Sebelum pergi ke hutan, Kala minta bekal sesaji berupa alat-alat pertanian dan hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan sebangsanya. Masih ditambah kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar-bantal dan selimut, yang akan dipakai selama perjalanannya menuju ke hutan. Sepeninggal Kala, Ki Dalang memerintahkan kepada Bima dan Batara Bayu untuk mengusir semua bala tentara Kala dengan menggunakan pecut dan sapu lidi yang diikat dengan tali perak.
Pada saat meruwat digunakan Rajah kalacakra. Rajah berarti tulisan, kala artinya waktu, dan cakra adalah perputaran. Rajah kalacakra berarti tulisan atau ngelmu tentang perputaran waktu. Orang yang mengetahui perpuataran waktu, berarti akan mempertimbangkan empan papan dalam bersikap dan bertindak.

Rajah Kalacakra biasanya diucapkan oleh Ki Dalang Kandhabuwana, yang bunyi dan maknanya kurang lebih sebagai berikut :
…Aum. Ya maraja jaramaya. Ya marani niramaya. Ya silapa palasiya Ya dayudi diyudaya Ya sihama mahasiya Ya siyaca cayasiya Ya midosa sadomiya…
Maknanya kurang lebih, wahai orang yang akan berbuat jelek, hilanglah kesaktiannya. Wahai orang yang akan menjadi perusuh, hilanglah kelebihannya. Wahai orang yang lapar, berikanlah mereka kenyang. Wahai orang yang miskin, jadikanlah mereka kaya. Wahai orang yang datang menyerang, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilangkanlah dosanya. Dari makna demikian, sesungguhnya mantra ruwatan mengandung nilai budi pekerti Jawa yang luar biasa. Budi pekerti tersebut menghendaki agar seseorang berwatak dan bersikap: berbuat baik kepada sesama dan bersedialah menjadi penolong orang lain.


RITUAL MURWAKALA 
Murwakala, Ki Dalang memotong rambut para sukerta dan memandikan mereka dengan air yang dicampur beberapa macam bunga.
Hal-hal penting dalam ritual Ruwatan antara lain: pertama, dalang yang membawakan lakon Ruwatan Murwakala harus memenuhi kriteria dalang yang bijak, mumpuni dalam seni pedalangan. Secara simbolis, dia akan menjadi ayah angkat para sukerta. Kedua, Upacaranya harus dilakukan dengan baik, cermat dan benar. Para sukerta dan keluarganya hendaknya bisa terlibat dan menghayati dengan perasaan mendalam. Dengan demikian akan mengerti dan memahami makna kidung, berupa tembang dan mantra suci, yang dibawakan Ki Dalang. Dalam upacara ini, lazimnya para sukerta dan orangtuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Sebelum pergelaran Wayang kulit, para sukerta mohon restu dari orangtuanya masing-masing. Selama pergelaran Wayang kulit yang akan dilanjutkan dengan ritual, pemotongan rambut dan mandi suci, para sukerta mengenakan pakaian kain putih. Secara mistis, putih menunjukkan kesucian. Ketiga, air suci untuk memandikan para sukerta berasal dari 7 (tujuh) sumber air.


MAKNA SIMBOLIS RUWATAN MURWAKALA 
Kata Kala harfiah berarti waktu. Ada waktu baik dan ada waktu jelek bagi setiap orang. Bila seseorang menderita karena berbagai alasan, seperti musibah kecelakaan, sakit, berbuat salah dan seterusnya, dikatakan orang itu mengalami waktu jelek atau naas. Setiap orang akan selalu berusaha membuang sial, menghindari waktu naas, dan berusaha hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan.
Pada masa krisis multidimensi seperti sekarang ini, banyak orang dewasa merasa tidak aman. Karena itu semakin banyak saja orang ikut dalam Ruwatan, agar tidak menjadi sasaran Kala dengan membuang nasib jelek atau sial. Batara Guru sebagai penguasa Jagat Raya, turun ke dunia menyamar sebagai dalang untuk memberitahu para sukerta dan orang-orang yang lain, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi mangsa Batara Kala. Nama Kandhabuwana (kandha artinya mengatakan, memberi nasihat, buwana berarti dunia), menyiratkan siapa yang menuruti nasihat Ki Dalang akan selamat dan bahagia.
Tradisi ruwatan dilakukan sebagai suatu permohonan agar manusia diselamatkan dari gangguan dan bencana yang mengancam hidup dan kehidupannya. Melalui ruwatan, manusia merasa terlindungi oleh kekuatan besar yang dipercaya sebagai kekuatan penyelamat sehingga dalam dirinya muncul hasrat untuk selalu eling, bertobat, mendekat, bermohon, berserah diri dan semacamnya kepada kekuatan penyelamat yang dimaksud. Dalam ruwatan tersebut terdapat peralatan, sajian, korban, atau mantera yang dijadikan sarana untuk menjembatani komunikasi antara manusia dengan kekuatan penyelamat yang diinginkan. Dalam masyarakat Jawa, ruwatan diejawantahkan dalam berbagai kegiatan spiritual seperti selamatan, bancakan, memetri, bersih desa, pethik laut, sedekah bumi, ider bumi, menggelar pertunjukan, dan lain sebagainya. Maksud ruwatan adalah memuja dan meminta dengan sepenuh hati agar pelakunya lepas dari petaka dan memperoleh keselamatan.
Van Baal (1988) mengungkapkan bahwa sajian merupakan pemberian atau persembahan kepada dewa dan roh, hal tersebut bukan saja apa yang digemari oleh para dewa dan roh tetapi mengandung lambang-lambang guna berkomunikasi dengan dewa tersebut. Misalnya itik, menthog, dan burung merpati menjadi kegemaran Betara Kala, kain bangun tulak adalah kain kegemaran Batari Durga, kain pandhan binethot kegemaran Batari Sri dan lain-lain.
Dewasa ini sudah jarang orang yang dapat menafsirkan seluruh jenis sajian yang dihidangkan dalam upacara ruwat itu, tetapi meskipun demikian orang taat dalam mengusahakannya dan menyediakan barang-barang itu, karena kalau kurang lengkap kemungkinan besar upacara itu tidak mencapai maksud yang dikehendaki, bahkan dapat mendatangkan bencana.
Dalam Ruwatan Murwakala disimbolkan bahwa Kala adalah produk dari kama-salah, yaitu mani yang salah. Jadi semacam pemberitahuan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, pada waktu dan tempat yang layak. Dan tidak hanya menonjolkan nafsu badaniah, sehingga akan membuahkan anak yang wataknya kurang baik. Selain itu bekal dan sesaji yang diminta Kala itu merupakan barang-barang kebutuhan hidup manusia, sebagai simbol kecintaan kepada Ibu Pertiwi, dengan segala hasil buminya.


MAKNA BUDAYA 
Meski telah memasuki era modern, Ruwatan, masih dilakukan karena alasan merasa belum sreg kalau belum melaksanakan tradisi para leluhurnya, khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, atau karena musibah yang bertubi-tubi menimpa walaupun secara sosial religius telah menjalankan semua syariat agamanya. Atau karena alasan ingin melestarikan adat istiadat leluhurnya. Ruwatan tetap dilestarikan karena mampu menjawab kerinduan orang-orang yang hidup di zaman ini dalam mengekspresikan syukur atas kehidupan yang dialaminya, tapi juga sekaligus mengekspresikan permohonan dan harapan untuk memperoleh rahmat dan berkat kehidupan yang terbebas dari malapetaka.
Istilah modern perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian kebarat-baratan. Modern di sini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu tentang rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebaikan.
Berbicara mengenai belajar dan mencari ilmu mempunyai kaitan dengan dunia pendidikan. Demikian pula dengan ruwatan, sebenarnya adalah identik dengan arti pendidikan atau dengan kata lain, ruwatan bisa diganti dengan pendidikan. Maksudnya, jika seseorang mampu mendidik anak-anaknya, entah itu pandawa, tunggal atau entah yang lain lagi secara tepat dan benar sejak kecil sampai dewasa hingga memiliki kearifan dan kebajikan, maka anak itu akan terawat dari sukerta. Apakah itu berarti sudah tidak perlu lagi mengadakan ruwatan apabila seseorang itu telah mendidik anaknya dengan benar? Bagaimanapun juga ruwatan adalah budaya bangsa sendiri, jadi tidak salah bila kita perlu untuk melestarikannya.
Ngruwat dipandang dari segi pendidikan mempunyai dua sisi pandang, yaitu dari sisi secara horisontal dan sisi vertikal. Secara horisontal ngruwat adalah pendidikan yang sifatnya praktis. Jadi lewat upacara itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Dalam lakon Murwakala banyak sekali ajaran-ajaran maupun nasihat-nasihat dapat disampaikan pada masyarakat, terutama yang berhubungan dengan sikap harus berhati-hati dan menjaga etika. Peristiwa lahirnya Batara Kala, memberikan pelajaran pada orang Jawa, bahwa seseorang harus mengerti kedudukannya serta tahu menempatkan dirinya bila akan melakukan sesuatu, serta menggambarkan pada khalayak ramai bahwa betapa buruknya peristiwa pemaksaan seksual atau lebih tepat perzinahan atau pelacuran hingga lahirnya si Jabang bayi. Selain itu, pada lakon Murwakala memberikan pelajaran pada manusia untuk selalu menjaga kesopanan, menjaga nama baik keluarga, bertingkah laku sesuai norma yang terdapat pada masyarakat. Pada upacara ruwatan yang bertepatan dengan acara pernikahan banyak ditekankan pada bagaimana seseorang itu dalam kehidupan berumahtangga.
Pengakuan Batara Kala terhadap keunggulan dan keluhuran Ki Dalang Kandhabuwana menunjukkan pada lambang sportifitas seseorang. Jujur mengakui keunggulan orang lain dan yang harus dilakukan sejak masa kanak-kanak. Sedangkan pengakuan Batara Kala pada Ki Dalang Kandhabuwana sebagai ayahnya, adalah penggambaran pada lambang kedisiplinan, dalam arti kata, segala kehendak Ki Dalang akan selalu dituruti (disiplin pada segala janji yang telah diucapkan). Sebenarnya tidak semua Batara Kala dikatakan atau dicap negatif, sebab adanya sikap mau mengakui dan mentaati janji, adalah sudah merupakan suatu sikap yang dijunjung pada masyarakat Jawa. Namun karena Batara Kala kurang dapat membawa diri sebagai keturunan Batara yang baik-haus darah manusia, tidak dapat mengontrol diri dan kasar serta ancaman-ancamannya, membuat manusia jadi takut, maka kelakuan Batara Kala cenderung dinilai buruk dan kejam oleh masyarakat.
Secara vertikal, ngruwat menampakkan perbedaannya dengan pendidikan, yakni bahwa ngruwat bersifat religio seremonial yang mengandung daya kekuatan sakral yang menyatukan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang menimbulkan dampak psikologis bagi yang percaya setelah menjalani ruwatan. Ia merasa tentram, aman dan mempertebal rasa percaya dirinya. Lain bagi seseorang yang tidak mempercayainya. Inilah yang menjadikan perbedaannya pada masing-masing orang. Pengetahuan serta kemampuan Ki Dalang untuk menerangkan rahasia kehidupan itu, membuat sifat fatalistik dari masyarakat Jawa, yaitu menyerahkan segala urusan penyelenggaraan hajat meruwat.
Melalui sarana upacara ruwatan itu seseorang bisa mengambil inti sari nilai-nilai moral yang dikandung di dalamnya. Hanya saja pada kenyataannya berapa persenkah orang-orang pada jaman sekarang yang benar-benar memperhatikan pendidikan. Gejala menurunnya moralitas kini sudah menjamur di mana-mana. Ini berarti dunia pendidikan mengalami kemelut krisis. Jadi, meskipun pendidikan sifatnya praktis, namun kenyataannya masih banyak yang belum mampu mempraktikkannya.






RUWATAN DENGAN PAGELARAN WAYANG KULIT

Wayang Kulit merupakan seni tradisional Jawa khususnya, yang erat hubungannya dengan tingkatan-tingkatan hidup manusia atau daur hidup. Manusia dalam hidupnya akan terikat dengan norma-norma atau sistem nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Adapun norma yang masih berlaku di masyarakat Jawa antara lain upacara ruwatan yang mengandung unsur-unsur penyelamatan atau pembersihan manusia dari dosa dan malapetaka. Orang yang tergolong sukerta (kotor, dosa) menurut kepercayaan masyarakat Jawa harus diruwat. Sebab kalau tidak diruwat akan menjadi mangsanya Batara Kala. Maka melalui ruwatan dengan mempergelarkan wayang kulit cerita Murwakala dan pembacaan doa-doa / mantra-mantra ruwatan masyarakat Jawa percaya tidak akan takut dan sial dalam kehidupannya.

Dunia wayang bagi masyarakat Jawa merupakan suatu hal yang tidak asing lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya dalang-dalang yang mempergelarkan wayang di daerah-daerah tertentu. Sejak jaman para wali pertunjukan wayang digunakan sebagai media dakwah agama Islam. Pada akhirnya fungsi pertunjukan wayang berkembang  dari media tuntunan, tontonan, alat penyampai informasi, hingga media promosi suatu produk tertentu. Selain itu pewayangan merupakan alat komunikasi dan sarana memahami kehidupan manusia. Dalam pertunjukan wayang kita tidak berhadapan dengan teori-teori umum, melainkan dengan model-model tentang hidup dan kelakuan manusia (Magnis Suseno, 1982: 7). Model-model tersebut merupakan hasil dari konsepsi yang tersusun menjadi sistem nilai budaya yang tersirat dalam pertunjukan wayang. Konsepsi tersebut antara lain adalah sikap dan pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan-nya, hubungan manusia dengan lingkungannya, dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablu minnalaah dan hablu minnanas).

Kehidupan pewayangan dari jaman ke jaman mengalami perkembangan baik mencakup bentuk, teknik cerita, dan bahasanya. Dalam hal ini kita mengenal adanya wayang purwa/kulit, wayang madya, wayang, gedhog, wayang klithik, wayang dupara, wayang kancil, wayang beber, wayang pancasila, wayang Budha, wayang wong hingga wayang berbahasa Indonesia/wayang modern. Cerita dalam pewayangan-pun sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan manusia atau perjalanan hidup manusia (rite de passage). Misalnya, dalam upacara perkawinan, selamatan kelahiran, tetesan, supitan, pindah rumah, bersih desa, dan lain-lain.

Sesuai dengan keperluan tersebut, maka dalam penyajian wayang biasanya menampilkan cerita yang dapat memberikan berkat atau mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan hidup manusia. Misalnya dalam upacara perkawinan disajikan cerita Parta Krama (perkawinan Arjuna), cerita Laire Abimanyu (Abimanyu Lahir) dalam upacara kelahiran, cerita Baratayuda dalam upacara bersih desa, cerita Murwakala dalam upacara ruwatan (pembersihan sukerta), dan sebagainya.

Seiring perkembangan jaman seperti sekarang dengan ditandai adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba mutakhir, pemikiran yang rasionalis, logis, namun dikalangan masyarakat Jawa kebiasaan dan keyakinan pembersihan dosa bagi orang yang nandang sukerta masih sering dilakukan. Upacara pembersihan dosa atau sukerta tersebut sering disebut dengan Ruwatan. Pada upacara tersebut masyarakat Jawa biasa menyelenggarakan pergelaran wayang kulit dengan cerita Murwakala ditambah dengan pembacaan mantra-mantra tertentu khususnya mantra untuk ruwatan oleh sang dalang. Namun selaras dengan perkembangan jaman tersebut pergelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala tentunya juga mengalami perubahan berdasarkan kondisi, kebiasaan dan kepercayaan, serta teknik penyajiannya.

Tradisi Jawa yang satu ini sering kali membawa mereka yang percaya pada keadaan dilematis psikologis. Kegelisahan batin akan mengusik jiwa mereka jika upacara ruwatan untuk keselamatan anaknya tidak dilaksanakan. Sementara pelaksanaannya butuh biaya tidak sedikit. Masih perlukah tradisi Jawa ruwatan dengan pergelaran wayang kulit ini dilestarikan?

Orang yang tak mengenal tradisi Jawa pasti bingung lalu geleng-geleng kepala menyaksikan sekitar 53 anak sukerto berbaris rapi, duduk khusyuk di belakang kelir (layar) mendengarkan wejangan ki dalang yang sedang menyuguhkan pergelaran wayang kulit. Pakaian mereka seragam, berupa kain putih polos yang dililitkan di tubuh, disebut kopohan.

Nampak seorang bocah berumur 6 tahun duduk terkantuk-kantuk, lalu diperingatkan oleh orang tuanya. Maklum, dalam proses ritual ruwatan ini memang banyak pantangannya, salah satunya mereka tak boleh tertidur bila tak ingin disambar Betara Kala. Apalagi ketika sang dalang sedang merapal mantra wringin sungsang dan rajah kala cakra, semua yang hadir dalam upacara itu termasuk para sukerto dilarang berbicara, apalagi mengantuk. Pada kesempatan itu pula penonton wanita yang sedang hamil dimohon untuk sementara meninggalkan tempat upacara. Sementara penonton anak-anak dilarang memanjat pohon atau pagar. Semua diminta hening, sebab Betara Kala sedang berkeliaran dan nyaris berhasil ditangkap dan dikalahkan sang dalang. Tiba pada puncak upacara ruwatan, ki dalang akan memotong sedikit rambut para sukerto sebelum dilanjutkan dengan upacara siraman, mandi dengan air dari tujuh sumber. Siraman yang juga dilakukan oleh ki dalang, itu simbol terbebasnya Kala dari tubuh sukerto.

Di dalam pengembangan kebudayaan kita tidak menutup diri, terbuka terhadap pengaruh budaya asing dengan dibarengi pula oleh kemajuan teknologi yang makin pesat. Sejalan dengan hal tersebut penyerapan nilai-nilai budaya dari luar sering melupakan nilai-nilai lama yang mengakibatkan masyarakat sering kehilangan pegangan dalam menempuh arah dan tujuan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perongrongan terhadap warisan budaya tradisional menyebabkan pergeseran fundamental dibidang norma dan nilai (Notosusanto, 1984: 46). Dalam rangka proses pembangunan nasional (modernisasi) perlu meberikan makna pada nilai-nilai budaya yang lahir dan terkandung dalam kebudayaan lama agar tidak mengalami kepunahan. Salah satunya adalah ritual ruwatan dengan pertunjukan wayang kulit yang relevan dengan pembangunan mentalitas khususnya, yaitu sebagai pegangan hidup bagi warga masyarakatnya.

Suatu unsur kebudayaan tidak akan bertahan lama jika tidak memiliki fungsi dan peran dalam masyarakat. Sebaliknya suatu unsur kebudayaan akan tetap bertahan apabila memiliki fungsi dalam kehidupan. Demikian pula upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang kulit cerita murwakala dan unsur-unsur kebudayaannya tidak mungkin dipertahankan jika pendukungnya sudah tidak merasakan manfaatnya lagi.



RITUAL RUWATAN 

Ruwatan merupakan kebudayaan yang berasal dari jaman pra-Hindu, yaitu upacara penyembahan terhadap roh nenek moyang atau upacara inisiasi (Soedarsono, 1985: 12). Adapun cerita Murwakala dan ruwatan di Jawa menurut Subalidinata (dalam Soedarsono, 1985: 3-48) ruwatan semula berkembang di dalam cerita Jawa Kuna yang isi pokoknya memuat masalah penyucian, yaitu pembebasan dewa bernoda menjadi suci. Dengan kata lain dewa tersebut bernoda yang hidup sengsara dan akan menjadi dewa yang hidup bahagia setelah melalui tahap penyucian. Ngruwat berarti mengatasi atau menghindarkan suatu kesulitan batin (ngudari ruwet renteng) dengan jalan mengadakan pertunjukan wayang kulit dan mengambil cerita tertentu. Pada hakekatnya ruwatan merupakan suatu bentuk atau siasat mencapai kesenangan atau hiburan guna melupakan keruwetan batin (Sastroamidjaja, 1964: 145-163).

Golongan orang-orang yang harus diruwat dalam tradisi Jawa disebut sebagai orang sukerta (berada dalam dosa). Golongan sukerta tersebut kalau tidak diruwat maka hidupnya akan sengsara dan membahayakan lingkungan bahkan keluarganya. Orang-orang yang nandang sukerta tersebut menurut orang Jawa akan menjadi mangsanya (makanannya) Batara Kala, yaitu tokoh anak Batara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak dapat dikendalikan. Ketika Batara Guru menginginkan untuk bersenggama pada senja hari, Dewi Uma menolak dan jatuhlah kama Batara Guru di tengah-tengah lautan hingga akhirnya menjadi raksasa. Dalam tradisi pewayangan hal itu disebut sebagai kama salah kendhang gumulung. Raksasa tersebut kemudian menghadap ayahnya (Batara Guru) untuk minta makan. Batara Guru memberitahukan bahwa Kala boleh makan manusia yang termasuk dalam golongan wong sukerta atau manusia yang sial keberadaannya di dunia.


Banyak karya sastra Jawa yang memuat cerita tentang kelahiran Batara Kala dan wong sukerta, antara lain :

1. Kitab Parthayajna.

2. Kitab Sudamala.

3. Kitab Smaradahana.

4. Kitab Kresna Kalantaka.

5. Pakem Kandhaning Ringgit Purwa.

6. Serat Manikmaya.

7. Serat Centhini dan.

8. Pakem Pangruwatan Murwakala. 


Dalam kepustakaan Pakem Pangruwatan Murwakala tersebut disebutkan mengenai 60 jenis kategori orang yang harus diruwat, antara lain :

1. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan dandang (tempat menanak nasi). 

2. Memecahkan pipisan dan mematahkan gandhik (alat penggilas ramuan obat tradisional). 

3. Uger-uger lawang, yaitu dua anak laki-laki dengan catatan tidak ada yang meninggal.

4. Anak bungkus, yaitu anak yang ketika lahir masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).

5. Anak kembar, yaitu dua orang anak kembar putra atau putri atau kembar dhampit (satu laki-laki satunya perempuan) yang lahir bersamaan.

6. Kembang sepasang, atau sepasang bunga yaitu dua anak yang kedua-duanya perempuan.

7. Kedhana-kedhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang seorang laki-laki dan seorang seorang perempuan.

8. Ontang-anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

9. Sendhang kapit pancuran, yaitu tiga orang anak yang sulung dan bungsu laki-laki, sedang anak kedua perempuan.

10. Pancuran kapit sendhang, yaitu tiga orang anak yang sulung dan bungsu perempuan, sedang anak kedua laki-laki.

11. Saramba, yaitu empat orang anak semua laki-laki.

12. Srimpi, yaitu empat orang anak semua perempuan.mancala putra atau pandhawa, yaitu lima orang anak laki-laki.

13. Mancala putri atau pandhawi, yaitu lima orang anak perempuan.

14. Padhangan, yaitu lima orang anak terdiri dari empat orang laki-laki dan seorang perempuan.

15. Pipilan, yaitu lima orang anak yang terdiri empat orang perempuan dan seorang laki-laki.

16. Julung pujud, yaitu anak yang lahir pada saat matahari terbenam.

17. Julung sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

18. Julung wang, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

19. Tiba ungker, yaitu anak yang lahir kemudian meninggal.

20. Nyempina, yaitu anak yang baru berumur tujuh bulan dalam kandungan tetapi sudah lahir.

21. Tiba sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus.

22. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

23. Wahana, yaitu anak yang lahir di halaman atau pekarangan rumah.

24. Siwah / salewah, yaitu anak yang dilahirkan memiliki dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

25. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut bule.

26. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan berkulit hitam.

27. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang (kerdil).

28. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.

29. Dengkok, yaitu anak yang dilahirkan punggungnya menonjol seperti punggung unta.

30. Lawang mengu, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan dengan ‘candhik ala’ atau ketika

warna langit merah kekuning-kuningan (sore hari).

31. Wujil, yaitu anak ytang lahir dengan badan cebol atau pendek.

32. Made, yaitu anak yang dilahirkan tanpa alas.

33. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada tutup keyongnya (atap).

34. Orang tidur diatas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

35. Orang yang membuat pujingan (dekorasi) tanpa samir / daun pisang.

36. Orang yang memiliki lumbung (gudang) tempat penyimpanan padi tanpa diberi alas dan atap.

37. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandang misalnya) tanpa ada tempatnya.

38. Orang yang membuang kutu yang masih hidup.

39. Orang yang membuang kotoran / sampah dibawah tempat tidur (kolong).

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan pintu.orang yang selalu bertopang dagu.

42. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

43. Orang yang mengadu suatu wadah(misal, dandang dengan dandang).

44. Orang yang membakar / sedang membakar rambut.

44. Orang yang senang membakar tikar dari bambu (galar).

45. Orang yang senang membakar kayu pohon kelor.

46. Orang yang senang membakar tulang.

47. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang / dibakar sekaligus.

48. Orang yang membuang sampah lewat jendela.

49. Orang tidur pada waktu matahari terbit.

50. Orang tidur pada waktu matahari terbenam.

51. Orang yang memanjat pohon kelapa di siang haribolong (jam 12 siang).

52. Orang yang tidur waktu siang hari bolong (jam 12 siang).

53. Orang yang menanak nasi kemudian ditinggal pergi ke tetangga.

54. Orang yang suka mengakui hak orang lain.

55. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam lesung (tempat menumbuk padi).

56. Orang yang lengah sehingga merobohkan jemuran wijen / biji-bijian.

57. Orang yang suka membuang garam, menurut (Mulyono, 1979: 34-36).


Demikianlah tersebut diatas jenis orang yang dijanjikan Batara Guru pada Batara Kala yang dapat dijadikan makanannya. 

Adapun lakon ruwatan yang sering dipergelarkan dalam wayang kulit adalah cerita Murwakala atau Purwakala atau sering disebut lakon Dalang Karurungan. Kata Purwa yang dapat diartikan sebagai purwaning dumadi atau asal mula kehidupan, asal mula kejadian manusia. Dikatakan Murwakala karena memuat penghayatan kejawen atas eksistensi manusia, adanya di duania beserta segala hal yang berakibat di dalamnya (Wirya Martono: 57). Dalam lakon ini yang menjadi titik pandangan manusia akan dirinya bukanlah manusia yang baik dan sempurna, melainkan keadaan manusia yang terlibat bencana atau salah kedaden. Keadaan demikian itu dipandang sebagai keadaan yang sukerta, kotor, sengsara, yang memerlukan peruwatan, pelepasan, pembersihan sehingga dapat mengantarkan ke alam sempurna. Dengan demikian manusia itu akan mampu mengarahkan kehidupannya dalam kedudukan sewajarnya.



PAGELARAN WAYANG LAKON RUWATAN MURWAKALA 

Garis besar cerita atau adegan yang dipentaskan pada upacara ruwatan adalah sebagai berikut:

Adegan di Kahyangan Batara Guru dengan Dewi Uma dihadap Narada, Panyarikan dan Hyang Kala. Setelah dijantur (dalang mendeskripsikan suasana dan keadaan di Jonggring Saloka), maka dialog dimulai. Inti pembicaraan adalah Kala mengutarakan tentang makanan yang dimakan membuatnya sakit perut, tetapi setelah memakan orang yang sedang mencari getah karet (nderes) yang jatuh ditanah tandus membuat badannya segar. Untuk itu Kala mohon ijin supaya diperbolehkan memakan manusia. Batara Guru memenuhi permintaan Kala dengan catatan boleh makan manusia tetapi hanya orang-orang yang termasuk kategori sukerta. Kala bertemu dengan istrinya Batari Durga, memberitahukan mengenai permintaannya yang hanya diperbolehkan makan manusia golongan sukerta yang dicatat oleh Batara Panyarikan. Kemudian keduanya berangkat mencari mangsa. Di Nguntaralaya Sang Hyang Wisnu, Hyang Brahma menerima kedatangan Resi Kanekaputra yang memberitahukan mengenai Kala yang diijinkan oleh Batara Guru untuk memakan manusia golongan sukerta. Maka Wisnu sebagai dewa pemelihara dunia, mengajak turun ke dunia dengan berubah wujud. Wisnu menyamar sebagai Dalang Kandhabuwana, Brahma menjadi penabuh gender dengan nama Penggender Saruni, dan Narada menjadi pengendang dengan nama Kalunglungan. Ketiga dewa itu turun menuju desa Mendang Kawit tempat kediamannya Nyai Randha Sumampir. Kala, Durga dan Panyarikan dalam perjalanan yang melelahkan dengan naik gunung, masuk hutan dan sebagainya. Kala lelah dan tertidur dibawah pohon asam (kayu kamal). Kala kemudian melanjutkan perjalanannya lagi dan ketika tengah hari bertemu dengan Hyang Guru dan Dewi Uma yang sedang naik lembu Andini. Hyang Guru minta pada Kala supaya jangan ragu-ragu memangsanya. Namun sebelum memangsanya Kala harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya, antara lain :


“Apakah; Hong Eka, egul wancahe, dwi bogem, dwi purusa, dwi sregi, tri nabi sapta trisu”. Kala tidak dapat menjawab pertanyaan itu, dan Guru menjelaskannya:

‘Eka’ satu dan egul itu ekor, ekornya lembu Andini adalah satu. Wancah itu lubang hidung dan lubang hidung Andini juga satu. ‘Dwi’ dua, ‘bogem’ adalah nama kelamin wanita yang berarti Andini mempunyai dua kelamin (purus). ‘Dwi’ dua, ‘sregi’ adalah tanduk, tanduk Andini ada dua. ‘Tri’ tiga, ‘nabi’ adalah pusar (udel), berarti pusarnya Guru, Uma dan Andini. ‘Sapta’ tujuh, ‘trisu’ adalah pandangan mata atau cahaya mata yang berarti pandangan mata Guru, Uma dan Andini ada tujuh dimana Guru mempunyai tiga mata. Asta= tangan, catur= empat, guto= pelir, berarti tangannya Guru empat, catur guto berarti pelirnya Guru dan Andini adalah empat.

Demikian penjelasan Guru, setelah itu Guru memerintahkan agar memakan-nya, namun sebelum makan supaya melihat ke atas dahulu. Ternyata lewat tengah hari maka gagallah keinginan Kala. Setelah itu Guru berpesan kepada Kala agar berhati-hati terhadap orang yang dapat mengerti/ tahu apa yang dititipkan Guru pada Kala, yakni; caraka balik pada dahi, sastra telak pada kedua langit-langit mulutnya, sastra pedati yang berada pada dada, sastra gigir pada punggung. Jika ada orang yang mengetahui seluk beluk apa yang ada pada badan Kala, agar ia taat dan patuh terhadap segala yang diperintahkannya. Setelah memberikan pesan, maka pergilah Batara Guru.

Di Mendang Gati Nyi Randha merasa prihatin dengan anak tunggalnya yang bernama Jatusmati Jaka Mulya. Pada suatu hari Nyi Randha menerima ilham dari dewa bahwa anaknya dapat lepas dari dosa (sukerta) jikalau mandi di telaga Madirda. Maka Nyi Randha membujuk anaknya dan Jaka Mulya-pun melaksanakan perintah tersebut. Sesampainya di telaga tersebut kemudian Jatusmati masuk ke dalam telaga, dan ternyata Kala sudah lebih dulu ada dan berendam di telaga tersebut. Kala bertanya mengenai maksud Jatusmati merendam di telaga itu. Jaka Mulya menjawab bahwa ia anak ontang-anting dan atas perintah ibunya supaya mandi di telaga itu untuk menghilangkan dosa yang ada pada dirinya. Kala sangat gembira maka berkatalah: Dosamu akan hilang bersama nyawamu (jiwamu) untuk itu lebih baik kau kumakan. Mendengar itu, maka Jatusmati lari namun Kala mengikuti dan mengejar kemana Jatusmati lari. Dalam pelarian itu Jatusmati berusaha bersembunyi antara lain pada bambu yang berlubang, masuk pada tempat orang yang sedang membangun rumah yang belum ada tutup keyongnya (atap) dan rumah itu roboh. Ketika Jatusmati mendekati orang yang sedang meramu jamu dan diketahui Kala, maka ditangkaplah Jatusmati namun gagal dan tempat meramu obat itu patah. Jatusmati kemudian lari masuk rumah dan berada disamping tempat menanak nasi (dandang), Kala menangkapnya tapi luput dan dandang itu roboh. Demikianlah, maka setiap orang yang mengalami peristiwa tersebut harus diruwat. Di Mendang Tamtu, Buyut Wangkeng menerima putra menantu Rara Primpen dan suaminya yang bernama Joko Sondong atau Buyut Geduwal. Buyut Geduwal memberitahukan kepada Buyut Wangkeng bahwa perkawinannya tidak bahagia sehingga keduanya belum melakukan hubungan layaknya suami istri. Atas petunjuk Buyut Wangkeng, maka Joko Sondong diminta pergi ke Mendang Kawit menemui Dalang Kandhabuwana dan memintanya supaya mempergelarkan wayang di Mendang Tamtu. Di Mendang Kawit, Nyi Randha Sumampir berbincang-bincang dengan Dalang Kandhabuwana, pemain gender Nyi Saruni, dan pemain kendhang Kyai Kalunglungan yang bertempat tinggal di rumahnya. Nyi Randha mengatakan bahwa selama rombongan itu tinggal di rumahnya desa Mendang Kawit menjadi tentram aman dan sejahtera. Maka Nyi Randha menyampaikan ucapan terima kasih dan selanjutnya dalang Kandhabuwana mengganti nama Nyi Randha Sumampir dengan nama Randha Asem Sore serta memberikan bermacam-macam petuah kepada Nyi Asem Sore. Setelah itu datanglah Buyut Geduwal menghadap Dalang Kandhabuwana dan memberitahukan maksudnya untuk memintanya supaya mempergelarkan wayang kulit di Mendang Tamtu. Permintaannya disanggupi dan berangkatlah mereka ke Mendang Tamtu dengan membawa peralatan gamelan.Buyut Wangkeng di Mendang Tamtu menerima Dalang Kandhabuwana dan rombongannya. Buyut wangkeng mengutarakan niatnya untuk meruwat Rara Primpen yang tidak bahagia dalam perkawinannya. Maka dalang Kandhabuwana mulai mempergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwa Kala. Pergelaran wayang itu menarik perhatian penonton dan pada pertengahan pertunjukan wayang datanglah Jatusmati yang lari dikejar-kejar oleh Kala. Jatusmati masuk dalam rombongan penabuh gamelan dan ia menabuh kethuk. Ketika Kala sampai pada tempat pergelaran wayang itu, Kala berhenti dan bersandar pada pohon kelapa. Kala tertarik dan terpingkal-pingkal oleh humor yang ditampilkan oleh sang dhalang. Mendengar tawa Kala, penonton takut dan meninggalkan tempat itu sehingga pergelaran wayang terhenti. Kala meminta supaya pergelaran itu dilanjutkan dan terjadilah dialog antara Dalang Kandhabuwana dan Batara Kala. Jika dilanjutkan Kala akan memberikan hadiah uang pada Ki Dalang, namun Kandhabuwana menolak dan meminta upah yang dibawa Kala saja. Yaitu Bedama Paesan, dan Kala-pun memberikannya. Dalang Kandhabuwana kemudian melanjutkan pergelaran wayangnya lagi, namun tiba-tiba datanglah empat pencuri yang melarikan diri dan masuk tempat penabuh gamelan ikut memainkan kecer dan kempyang. Sementara itu Kala mengantuk dan mulutnya menganga, ketika dilempar telor ayam oleh Ki Dalang ia terbangun dan merasa segar kembali. Karena sudah pagi dan takut ketahuan orang maka Kala pamit untuk pergi dari tempat itu. Ketika pergi Kala mendengar tangis bayi yang sedang dilahirkan, dan Kala segera mendekat lalu ditangkapnya. Jatusmati tahu jika Kala sudah pergi, maka iapun keluar dari tempat itu. Ketika sampai diluar ia bertemu Kala dan iapun ditangkapnya. Pada waktu akan memakan mangsanya, ia teringat senjata bedama paesan yang diberikannya pada Ki Dalang. Kala segera menemui Ki Dalang dan meminta senjatanya kembali. Ki Dalang mau menyerahkan asal ia juga menyerahkan bayi dan Jatusmati yang ditangkapnya itu. Dan terjadilah tukar-menukar serta dialog antara Kala dengan Ki Dalang. Dalam dialog itu Dalang Kandhabuwana menanyakan siapa yang lebih tua antara Kala dan Ki Dalang. Karena mengetahui asal-usulnya maka Kala merasa ialah yang lebih tua. 

Kemudian Ki Dalang menjelaskan kepada Kala dengan beberapa mantram (doa) dengan urutan :

1. Jantur Wa Kala Mur.

2. Sampurnaning Puja.

3. Santi Purwa.

4. Membaca caraka balik, yakni huruf di dahi.

5. Membaca satra telak, yakni huruf di langit-langit mulut.

6. Membaca sastra pinedati, yakni huruf di dada.

7. Membaca sastra  trusing gigir, yakni huruf di punggung.

8. Santi Kukus.

9. Bala Srewu.

10. Banyak Dhalang.

11. Wisikaning Kala, 

12. Padusaning Kala.

13. Kudanganing Kala.

14. Kumbala Geni.

15. Padusan Jatusmati.

16. Padusan Dhalang lan Panjak.

17. Sumbar.

18. Sebet.

Dengan demikian maka selesailah upacara ruwatan.



DOA DALAM RITUAL RUWATAN 

Mantram atau mantra merupakan aspek yang terpenting dalam upacara ruwatan. Mantra dapat diartikan sebagai perkataan atau kalimat yang dapat mendatangkan daya ghaib. Mantra yang diiringi dengan bunyi-bunyian aatau alat musik menurut masyarakat pendukungnya akan mampu membersihkan dosa seseorang yang akhirnya kembali menjadi suci seperti manusia lainnya. Itulah sebabnya setiap upacara ruwatan pembacaan mantram merupakan hal yang pokok dan sakral.

Ada berbagai macam versi mantram dalam upacara ruwatan. Namun babon pangruwatan yang sering digunakan oleh para dalang adalah Murwakala, menurut babon pedhalangan Kyai Panjangmas seperti yang ditulis dalam Cebolang atau Suluk Tambangraras pada jaman Paku Buwana V (1820 – 1823) di Surakarta. Dalam serat Cebolang itu menyebutkan jumlah mantram yang diucapkan  oleh Ki Dalang terdiri dari 13 macam. Dari berbagai versi mantra ruwatan, mantra pokok yang harus diucapkan adalah; sastra dahi (caraka balik), sastra pedati (sastra dada), sastra telak, dan sastra gigir.


Dibawah ini doa/ mantra /mantram ruwatan versi Panjangmas :

Punika Djantur Wa Kala Mur

Awighnam astu namas idem

Kala awang-awang ana bumi langit, nanging Sang Hjang Wisesa ingkang kotjap sarta djumeneng samadi satengahing djagad. Sang Hjang Wisesa mireng swara kadi genta, sarta anon tigan, gumantung neng awang-awang, sinangga ngasta pinusti dadi telung prakara, saprakara dadi bumi langit, rong prakarane dadi tedja lan tjahja, katigane Manik Maja. Mangka Manik dadi papat. Mangka papat iku ming Batara Guru uger-ugere, kang pinangka gegentene Sang Hjang Wisesa, Winenang andadekake isining bumi, sarta Winesik saliring Wadi.


Mangka sasirnaning (samuksane) Sang Hjang Wisesa, Batara Guru akarja tetimbangan garwa wasta Dewi Uma, nunten ajoga para dewa 30 lan sarta sadjodone. Nunten bumi pisah lan akasa. Hjang Pramesti nunten amatah dewa nawa sanga amrih djedjeging bumi, sarta gunung Djamurdipa wus warata. Nunten Batara Guru ajasa kahjangan lan kaswargan, lan saisine. Mangka Sang Hjang Pramesti anjatekaken djenenging lanang lan wadon, lan garwa Dewi Uma, reta kerut tan ketadhahan, mila wonten Batara Kala Hjang Pramesti adeduka mring garwa Dewi Uma, mila wonten Batari Durga djodo lan Kala. Nunten Hjang Guru anitahaken redjaki Martjapada Mendang Kamulan. Mila Batara kala minggah mring Suralaya saputra garwa balane.


Iki Sampurnaning Pudja

Hong prajoganira Sang Hjang, Akasara lawan Pratiwi; midjil joganira Sang Hjang, agilang-gilang ing siti; binu aneng samodra, kumanang alembak-lembak; ana daging dudu daging, ana getih dudu getih; murub mangarab-arab; anekaken prabawa, ketug lindhu lan prahara; lesus agung aliweran, geter pater tanpa tara; murub ingkang Kala Rodra, gumesang aneng Triloka; nguniwah Batara Guru, Awignam astu na purnama sidi, Hong na muna maswahah.


Iki Santi Purwa

Hong Ilaheng dinuk aku, purwanira ring pustaka. Ginutuk ing Padmackra, ja ta pinangka sirahmu. Ginutuk ing Kuramejan, ja ta kang dadi rambutmu. Ginutuk sireng Panelan, ja ta pinangka bathukmu. Ginutuk ing Rengaswastra, ja ta kang dadi aslimu. Ginutuk ing Rengaswastra ja ta kang dadi idepmu. Ginutuk ing Surjakanta, ja ta kang dadi netramu. Ginutuk sireng ing Kilat, ja ta pinangka kedepmu. Ginutuk sireng Manila, ja ta kang dadi kupingmu. Ginutuk sireng Momaka, ja ta kang dadi pipimu. Ginutuk sireng Penojan, ja ta pinangka pasumu. Ginutuk ing Langkapwastra, ja ta kang dadi tutukmu. Ginutuk ing Redjawastra, ja ta kang dadi untumu. Ginutuk ing Wadjalidah, ja ta kang dadi ilatmu. Ginutuk sireng Penawan, ja ta pinangka telakmu. Ginutuk ing Wadjasumeh, ja ta pinangka djanggutmu. Ginutuk Sidang penawan, ja ta pinangka uwangmu. Ginutuk ing Wesipanggak, ja ta kang dadi gulumu. Ginutuk Wesigulmara, ja ta kang dadi baumu. Ginutuk sireng Tjandrasa, ja ta pinangka tanganmu. Ginutuk ing Palempengan, ja ta pinangka salangmu. Ginutuk ing Ambalwastra, ja ta pinangka dadamu. Ginutuk Sarwasendjata, ja ta kang dadi igamu. Ginutuk  sireng Padupan, ja ta pinangka atimu. Ginutuk sireng Genitri, ja ta kang dadi amperumu. Ginutuk ing Sandiwidi, ja ta kang dadi djantungmu. Ginutuk Segara rampenan, ja ta pinangka wetengmu. Ginutuk sireng Lulita  ja ta pinangka ususmu. Ginutuk ing Rantjangwastra ja ta pinangka ototmu. Ginutuk ing Wadjasari, ja ta pinangka balungmu.


Ginutuk Pantjurantjah, ja ta pinangka dakarmu. Ginutuk ing Bakawastra, ja ta kang pinangka wangkongmu. Ginutuk sireng Deksana, ja ta kang dadi pupumu. Ginutuk ing Bindiwastra, ja ta pinangka garesmu. Ginutuk ing wadjakiwal, ja ta kang dadi sikilmu. Ginutuk ing gunung wadja, ja ta pinangka awakmu. Ginutuk ing Gorawastra, ingkang pinangka gedhemu. Ginutuk ing Bramawastra, ja ta pinangka napsumu. Kumedjot molah ambekan, angdeg-kagiri-giri; awakmu wegah anuger, asalit adjata gimbal; angerik anguwuh-uwuh, sira mulat amangetan; sakjehning para djawata, kagegeran dening sira, awedi ndeleng rupamu, aranmu si Kama Salah. Awighnam astu na purnama sidi. Hong na muna maswahah.


Iki Aksara ing Bathuk

Nga    Tha    

Ba       Ga       Ma

Nja      Ja      

Dja      Dha      Pa

La        Wa     

Sa        Ta        Da

Ka        Ra                   

Tja        Na      Ha


Iki Aksara ing Telak

Sang Kala Lumerang, sangkaning lara, Wisnu kena ing lara, lungguh ing otot ngarepmu, kang alara mulja, mulja dening Batara Guru, Guru kena ing lara, lungguh ing tutuk, turune lumamah, lan saranduning awak, kang alara mulja, mulja dening Sang Hjang Wenang, Sang Hjang Wenang tan kena ing lara, maring Sang Hjang Tunggal, kumpul panunggaling rasa, rasa tunggal lan djati, djati tunggal lan rasa, rasa djati mulja, mulja saking ingkang Wisesa. Hong awignam astu namas idem.


Iki Sastra kang Ana Dhadha

(aran: Sastra Pinedati)

Hong Ilaheng, saweddana Durga Kala; saweddana Kretidara, tumurun aku ring madya; awor ring dewata mudja, adji Sang ati-ati; Amaradjata adjiku,  Aamaradja ta wuwusku; Amaradja Djaramaja, Aamarni Rinumaja, Jasiraja Pararasija, Amidosa Sadumedja; Amidoro Rodomeja, Jami dosa sadumeja, Jasijaja Palasija, Jasirapa Rahasija, Jasipapa Parasija, Amidosa Sadumeja, Nawanggana Nawanggeni, si Kutara si kulari; si Brenggala si Brenggali, si Bitapa si Betapi, si Bintaka si Bintaki, si Durbala si Durbali, si Rumaja si Rumaji, si Udjaja si Udjaji; si Srimaja Gedahmaja, si Dajudi si Dajuda; Adijoda Anijoda, Andajudi Niudaja, Hong na muna waswahah.


Iki Sastra Trusing Gigir

Hong joganira, Sang Hyang Pratiwi midjil, kumala Batari Uma, midjil saking ilmu-ilmu; angusap sariranira, midjil ta Sang Hjang kusika, midjil ta Batara Gagra, saking balung kamulanja, ana kang Batara Metri, saking otot kamulanja, midjil Sang Hjang Pritandjaja, saking sungsum mulanira.


Kinen agawe lokasa, Kusika mila alumeh, tinut denira Sang Gagra, Hjang Gagra milu alumeh, tinuti Sang Hjang Kurusa, Kurusa milu alumeh, tinut dene Sang Hjang Metri, Hjang Metri milu alumeh teher midjil ta wikalpa, neher ingapat-ipatan; Kusika mesat mangetan, atemahan dadi emong, Hjang Gagra mesat mangidul, atemahan dadi sarpa, Kurusa mesat mangulon, atemahan dadi buta; Hjang Metri mesat mengalor, atemahan dadi dengen, Kuneng Sang Hjang Pritadjala, ingkang kinen gawe loka; angendjali ring Batara kang riwe arerewejan; dinilat arasa asin, atemahan dadi ujah, Kuneng tang Batari Uma, singangsa sinungsang; andjerit angrik anguwuh, aselit adjata gimbal; nguniweh Batari Durga. Hong na muna maswahah.


Iki Santi Kukus

Hong, Purwa janti jogja janti, kaget Hjang Mandalagiri, sinurak para djawata, amidjilaken kasakten; ana banju teka wetan, aputih mili mangulon, angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget hjang Mandalagiri; sinuruk para djawata, amdjilaken kasekten; ana banju teka kidul, abang mili mangalor; Batari Sri. Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget Hjang Mandalagiri; sinurak para djawata, amidjilaken kasekten, ana banju teka kulon, kuning amili mangetan, angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget, kaget Hjang Mandalagiri; sinuruk para djawata, amidjilaken kasekten; ana banju teka elor, ireng amili mangidul; angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong na muna maswahah.


Iki Bala Srewu

Hong, Ilaheng pinangka ranku, ija Sang Hjang Tjandusekti; ija Sang ila-ila, santi guna ila warna; Sang Hjang Aju palungguhku, sang Hjang Taja pangadegku, naga radja ing dhadhaku, naga milet ing guluku guwa rungsit ing tjangkemku geter-geter panabdaku, gelap ngampar suwaraku, iduku tawa sakalir, netraku sang surya kembar, kilat barung ing tjahjaku, Durga Durgi ngiring aku, Sang Kala rumekseng aku; buta kabeh ring omahku kaomahan dengen kabeh; kang sun deleng padha lengleng, sik tak pandeng teka bengeng. Hong na muna maswahah.


Iki Banjak Dhalang

Hong, Pasang tabe, sun angidung, kidungku si Banjak dhalang, ngendi nggonira alinggih, Radja sang Kumintir-kitir, amreteng sira praknja, angupita nara wangsa, gendera pinatu barang, ulung kenjaring prasada, sira kaki atang hija, angadega wringin sungsang ameranga ampel gadhing tugelen gawenen sanggar, sanggar-sanggar pangruwatan, pangruwatan udjar ala, angruwat sara supata, sapataning sanak tuwa, angruwatan supataning wong atuwa, angruwata sagunging mala tjintraka, angruwata lara raga, laragung lara wigena, gelah telutuh ilangah, katuta ing barat lesus, lebur adjur muksa ilang, ilang, saking tan ana. Hong na muna maswahah.


Hong, Latak rowang marang sendhang, sendhang si Manadala, manadalane wong mengari, anake Ki Ulangkembang, kudu bisa ngadji, dukuhe Ki empu ana, bale tanpa galar, ana ta kang sumur bandung, timba kepala, tetali ususing maling, siwur burut tanpa kantjing, garane winado-adji, sulur kamudi waringin, banjune ludira muntjar, iline mangetan, ala-ele katuta ing banju mele, lebur adjur musna ilang.


Hong, Latak rowang, ana djaka amet kembang, amemenek angutapel den kebaki djedjompange anon si perawan liwat, dinulu rupane aju, perawan angaku rara, lah ta mara ing rerawan, anonton kintel muni, ting tjeremplang ting tjeremplung, agiro kang kodhok wijo, tingkahe srangkal-srangkal, sedyane arep mauta, anuata lara roga, laragung wigena, tetangga jen angrungokna, wong angidung Banjak dhalang saben dina tampa dadar, jen ana perawan tuwa, utawa djedjaka tuwa, dumadakan gelis krama, jen ana wong gering kedadak, dumadakan gelis mulja, jen ana kang nedja, amundur tanpa karana, sampurna ing Banjak dhalang, kang angidung temah sampurna.


Hong, Latak rowang mring bengawan, anontonlarung keli, larunge si banjak dhalang, loro sanake den larung, ing bendjang ing Djamurdipa, akuta ing Kurajana, ana manuk tjutjuk wadja, anutjuka larung keli, iberna gawanen lunga, awighnam astu na purnama sidi. Hong na muna maswahah.


Iki Padusaning Kala

Tandjung adus banju ning, banju midjil ing talaga manik, Uma kang ngedusi, Durga kang ngosoki, Wisnu kang angentas.


Iki Wisikaning Kala

Kala den eling sira, sira muliha mring Djati-sorangan; asalira teka ngora, sira muliha menjang ngora; asalira teka ing djati, ija muliha maring djati; Ingsun Sadjatining Wisesa.


Iki Kudanganing Kala

Hong, Anake Bi Kuramejan. Agedhe asesedepah, Bang bang bus, pastika maja-maja, ana maja-maja katon, kang anonton milu katon kang tinonton ora katon.

Bjang-bjang bjos, golong-golong gumelompong, gulung-gulung gumelumpung. Hong na muna maswahah.

Demikianlah mantra ruwatan yang digunakan untuk meruwat (membersihkan dosa) seseorang yang termasuk dalam golongan orang sukerta

 


RUWATAN

Ruwatan yang paling terkenal yang sejak zaman kuno diselenggarakan oleh nenek moyang adalah Ruwatan Murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala, dimana orang-orang yang termasuk kategori sukerto diruwat/disucikan supaya terbebas dari ancaman Betara Kala, raksasa besar yang kejam dan menakutkan, yang suka memangsa para sukerto.


PERSIAPAN PELAKSANAAN RUWATAN 

Sebelum pelaksanaan upacara ruwat, beberapa hal berikut sudah ada ditempat upacara.

Para sukerto yang berpakaian serba putih bersih. Warna putih adalah lambang dari suci.

Orang tua dari para sukerto berpakaian adat dengan apik. Seorang dalang sepuh yang mumpuni untuk melakukan upacara ruwatan sukerto, lengkap

dengan seperangkat panggung wayang kulit dengan gamelan dan para penabuh dan pesindennya.

Tempat untuk pelaksanaan ruwatan yang cukup luas untuk panggung wayang kulit, tempat duduk para sukerto dan orang tuanya dan tempat-tempat air untuk memandikan sukerto.

Sesaji yang diperlukan yang cukup banyak macamnya.


PELAKSANAAN RUWATAN 

Para sukerto diantar oleh para orang tuanya diterima oleh Ki Dalang yang akan meruwat. Salah seorang orang tua sukerto atau seseorang yang ditunjuk menyerahkan para sukerto kepada Ki Dalang untuk diruwat. Serah terima sukerto berjalan dengan khusuk, dibarengi aroma ratus dupa yang lembut harum. Suasana sakral terasa.Para sukerto duduk bersila dibelakang kelir wayang dan selama pagelaran bersikap santun dan memperhatikan cerita wayang dan nasihat, kidung dan doa-doa/mantra yang diucapkan oleh Ki Dalang. Para orang tua sukerto duduk ditempat yang telah disediakan, dekat dengan putra-putrinya. Ki Dalang duduk ditempatnya didepan kelir dan mulai mendalang wayang dengan cerita Murwakala.


CERITA MURWAKALA 

Pagelaran wayang kulit dimulai dengan adegan jejer di Jonggring Salaka, Betara Guru, ratunya para dewa, didampingi oleh Betari Durga, istrinya, dihadap oleh Betara Narada, Sang Patih dan para dewa yang lain.

Sesudah para dewa menghaturkan sembah kepada Betara Guru, Narada melaporkan keadaan didunia, dimana kawula sangat risau, karena banyak orang yang menjadi mangsa Kala, raksasa seram, tinggi besar. Kala itu sangat rakus, banyak anak-anak, orang tua,lelaki, wanita ,dia tangkap dan makan.

Dengan emosional Narada memohon supaya perbuatan raksasa Kala dihentikan segera.

Guru bertanya : “ Siapa yang dimangsa oleh Kala?”

Narada menjawab : “ Sekarang ini, Kala memangsa siapapun yang ketemu dia. Dia bertindak ngawur dan serakah. Dia melanggar peraturan yang telah ditetapkan dewa.

Betara Guru menyela :”Apa ketentuan dewa itu?”

Narada menjawab : “Yang boleh dimangsa Kala adalah manusia yang masuk kategori sukerto. Itu sebenarnya sudah lebih dari cukup,karena jenis sukerto itu banyak sekali. Jadi banyak orang yang  ketakutan dikejar-kejar oleh Kala. Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kala harus segera dikendalikan, kasihan penduduk bumi”.

Betara Guru setelah mendengarkan pendapat para dewa, memerintahkan supaya Kala dipanggil. Sidang para dewa juga memutuskan bahwa Betara Guru sendiri yang akan turun tangan mengendalikan Kala, karena Kala punya watak sulit dan punya kesaktian tinggi.

Siapa sebenarnya Betara Kala?

Para dewa tidak tahu siapa sebenarnya Kala. Seperti orang-orang bumi mereka tahunya Kala adalah raksasa seram tinggi besar yang suka makan daging manusia.

Hanya Guru dan Durga yang tahu siapa Kala sebenarnya,karena dia adalah anak Guru dan Durga. Kala adalah anak yang terjadi dari kama salah, sehingga menjadi mahluk yang berwatak jahat, yang hanya mementingkan diri sendiri.


KISAH KELAHIRAN KALA 

Disatu hari yang cerah, diawang-awang biru muda nan cerah, Guru  bersama istrinya, Durga, dengan menaiki lembu Andini, bercengkerama mengelilingi dunia. Pemandangan begitu indah.langit bersih tiada awan, dari atas bumi kelihatan begitu jelas, sangat indah menawan.

Betara Guru melihat wajah istrinya berseri-seri, sangat cantik dengan tubuhnya yang gemulai. Tiba-tiba Guru kepingin bermain cinta dengan istrinya, hasratnya tak bisa dicegah. Istrinya berusaha menolak , tetapi tak kuasa.

Dengan nafsu berkobar Guru menggauli istrinya. Durga mengingatkan bahwa ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk bercinta. Guru tak peduli.

Ketika nafsu Guru memuncak dan mencapai orgasme, Durga mendorong  dan melepaskan diri dari cengkeraman suaminya. Buah  cinta Guru jatuh kebumi dan masuk kelaut ,lalu benih itu tumbuh menjadi raksasa jahat yang bernama Kala. Jadi Kala adalah produk yang salah, kama salah, yang dilahirkan dalam keadaan dan waktu yang tidak tepat. Kala, yang adalah putra dewa-dewi menjadi raksasa jahat yang maunya memakan daging manusia.

Sebelum Kala datang di Jonggring Salaka, Guru meminta supaya usahanya untuk menjinakkan Kala dibantu oleh Durga, karena bagaimanapun Durga adalah ibu dari Kala. Sejelek-jeleknya anak tentu akan mendengarkan nasihat ayahanda dan ibundanya. Guru juga memberitahu Narada, patihnya, bahwa Kala adalah anak Guru dan Durga, tetapi Kala sendiri sampai saat ini tidak tahu.


Kala menghadap Betara Guru

Dijemput para dewa, Kala datang di Suralaya dan langsung menghadap Betara Guru yang didampingi oleh Durga dan beberapa petinggi dewa. Sikapnya tidak sopan, tidak punya tata krama, bicaranya kasar dan seenaknya sendiri.Dia berdiri didepan Guru dan langsung berteriak-teriak : “Aku mau makan yang didepanku ini, sambil menunjuk-nunjuk Guru”.

Narada bicara dengan nada tinggi : “E, jangan ngawur kamu, beliau itu rajanya para dewa dan bapakmu sendiri”.

Sambil menguap keras, Kala berkata : “Tidak peduli bapakku sendiri, tetap mau aku makan karena aku lapar”.

Durga tak tahan melihat kebringasan Kala dan malu hati atas kelakuan putranya yang sama sekali tak menghormati ayahnya, Durga maju mendekati Kala dan berkata dengan iba : “Wahai Kala, hormatilah ayahmu, hormatilah orang tuamu”. Dengan nada welas asih ,Durga memberi tahu Kala ,siapa dia sebenarnya”.

“Kini Kala, kamu sudah tahu siapa kamu. Meskipun bentukmu raksasa, tetapi kamu itu putranyanya Betara Guru yang rajanya para dewa dan aku adalah ibumu. Oleh karena itu anakku, kamu wajib bersikap santun dan memegang tata karma”.

Agak kaget Kala menjawab : “Kalau Guru memang bapakku, tentulah dia pandai . Aku akan berdialog dengannya, kalau dia lebih pintar dari aku, baru aku  akui bahwa dia adalah bapakku”.

Dalam dialog panjang lebar antara Guru dan Kala, Guru bisa menjawab semua pertanyaan Kala. Akhirnya Kala mengaku kalah dalam perdebatan, sehingga dia mau mengakui Guru sebagai bapaknya. Sambil duduk bersila, dia berjanji menurut apapun perintahnya.

Dengan penuh wibawa Guru bersabda : “Wahai Kala, kau ku izinkan kembali kebumi dan disana kau boleh memangsa manusia yang termasuk kategori sukerto. Tetapi kau tidak boleh memangsa orang yang didadanya ada tulisan mantra Kalacakra dan dikepalanya ada tulisan mantra Sastra Balik. Ini adalah ketentuan dewa dan tidak boleh dilanggar, kalau kau melanggar kau akan menerima hukuman berat yang tidak akan bisa kau hindari”.

Kala mengangguk, termenung, dalam batin berkata : “Aduh, tentu aku akan hidup kelaparan karena aku hanya boleh makan sukerto”. Dia mau tanya apa sukerto itu, tetapi dia tidak berani. Dalam keputus asaan dia melihat ibunya, maksudnya mau minta tolong.

Durga yang ibunya tanggap, dia mendekat ke anaknya dan mengatakan bahwa manusia yang termasuk kategori sukerto itu banyak sekali, jadi Kala tak akan kelaparan, jatah makanannya sangat berlimpah. Mendengar penjelasan ibunya Kala tersenyum dan mohon pamit  untuk kembali kebumi, karena dia sudah lapar sekali.


KATEGORI SUKERTO 

Pada garis besarnya ada 3 (tiga) macam kelompok sukerto, yaitu :

Sukerto karena kelahiran seperti anak tunggal, kembar; berdasarkan waktu kelahiran, misalnya anak yang dilahirkan tengah hari atau saat matahari terbenam dll. Sukerto kelompok ini adalah anak-anak yang sangat dicintai oleh orang tua mereka, keselamatan dan kebahagiaan mereka selalu dipikirkan oleh orang tua mereka.Terlebih para orang tua tersebut mengetahui bahwa anak-anak tersebut termasuk dalam daftar sukerto. Sukerto karena berbuat kesalahan meski tidak sengaja seperti : seperti memecahkan gandhik, alat pembuat jamu; menjatuhkan dandang ( tempat untuk menanak nasi) waktu sedang masak nasi.Sukerto karena dalam hidupnya terkena banyak musibah, sial, penyakit dan sering diancam bahaya.


Mengenai berapa macam sukerto, itu ada beberapa versi. 

Menurut versi Pakem Pangruwatan Murwakala ada 60 macam sukerto, Pustaka Raja Purwa ada 136 sukerto, Sarasilah Wayang Purwa ada 22 sukerto, sedangkan menurut Buku Murwokolo  ada 147 macam sukerto.

Sukerto yang berhubungan dengan kelahiran antara lain :

1. Ontang-anting : Anak tunggal laki-laki.

2. Unting-unting : Anak tunggal wanita.

3. Gedhana-gedhini : Satu anak laki-laki dan satu anak wanita dalam keluarga.

4. Uger-uger lawang : Dua anak laki-laki dalam keluarga.

5. Kembar sepasang : Dua anak wanita dalam keluarga.

6. Pendhawa : Lima anak laki-laki dalam keluarga.

7. Pendhawa pancala putri : Lima anak perempuan dalam keluarga.

8. Kembar : Dua anak laki-laki atau wanita lahir bersamaan.

9. Gotong Mayit : Tiga anak wanita semua.

10. Cukil dulit : Tiga anak laki-laki semua.

11. Serimpi : Empat anak wanita semua.

12. Sarambah : Empat anak laki-laki semua.

13. Sendang kapit pancuran : Anak tiga, dua laki-laki, yang tengah wanita.

14. Pancuran kapit sendang : Anak tiga, dua wanita, yang tengah laki-laki.

15. Sumala : Anak cacat sejak lahir.

16. Wungle : Anak lahir bule.

17. Margana : Anak lahir sewaktu ibunya dalam perjalanan.

18. Wahana : Anak lahir sewaktu ibunya sedang pesta.19.  Wuyungan : Anak lahir diwaktu perang atau lagi ada bencana.

20. Julung sungsang : Anak lahir ditengah hari.

21. Julung sarab : Anak lahir waktu matahari terbenam.

22. Julung caplok : Anak lahir disenja hari.

23. Julung kembang : Anak lahir saat fajar.


Sukerto karena perbuatan salah atau tidak patut (Ora ilok) :

Orang yang bersiul saat tengah hari, itu tidak patut/ ora ilok. Orang yang memecahkan gandhik, alat dari batu untuk membuat jamu. Orang yang menjatuhkan dhandhang sewaktu menanak nasi.

Sukerto yang dalam hidupnya mengalami banyak musibah, bencana dan sering sekali diancam bahaya.

Ada orang yang dalam menjalani hidup ini selalu tertimpa sial. Dalam melakukan pekerjaan  banyak salah, dalam usaha mengalami kegagalan. Terlibat banyak urusan yang tidak enak, terkena macam-macam penyakit, boleh dikata hidupnya tidak menyenangkan.

Ada yang bilang bahwa waktu dan kondisi selalu tidak berpihak kepadanya. Ada sesuatu yang salah, sehingga orang tersebut perlu diruwat.

Dalam pemahaman kuno, orang-orang yang termasuk tiga kelompok sukerto itu perlu diruwat secara tradisional. Mereka diruwat supaya tidak menjadi mangsa Kala, terbebas dari gangguan dan bencana yang merupakan ancaman Kala.

Kita mengerti bahwa Kala artinya waktu dan waktu yang mengancam dan menimbulkan bencana adalah waktu yang tidak baik, tidak tepat. Orang normal tentu berharap perjalanan waktu hendaknya dan selalu diusahakan untuk berpihak kepada kita. Sehingga hidup kita selamat, sehat, berkecukupan dalam bidang materi, tentram jiwa kita , maju pekerjaan dan usaha, sukses dalam menjalani hidup ini, selalu mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.


GAMBARAN ILUSTRASI TRADISI RUWATAN MURWAKALA 

Disebuah desa diadakan rapat warga yang diadakan di Balai Desa. Rapat dipimpin langsung oleh kepala desa yang dipanggil Ki Ageng oleh rakyatnya. Seluruh aparat desa dan kepala keluarga hadir dipertemuan yang penting tersebut. Ini disebabkan, warga desa kehilangan rasa tentramnya pada akhir-akhir ini, karena ada gangguan yang sangat menggelisahkan.

Penanggung jawab keamanan, Jagabaya melaporkan bahwa gangguan maling bisa diatasi, kriminalitas sifatnya ringan-ringan saja dan tidak banyak.

Yang ditakutkan para orang tua adalah hilangnya beberapa anak dan remaja, yang diculik oleh raksasa besar yang menakutkan. Ini terjadi mulanya terjadi didesa-desa tetangga, tetapi kini mulai terjadi juga didesa ini. Petugas Jagabaya dan anggota-anggota keamanan tidak mampu menangkap raksasa ganas tersebut. Warga mohon kepada Ki Ageng untuk menemukan solusi segera.


Mengundang Ki Dalang Kandabuwono

Ki Ageng bertanya kepada seorang pinisepuh desa yang dihormati dan tinggi ngelmu spiritualnya yang oleh orang-orang disebut Romo.

Ki Ageng bertanya :”Romo, siapa sebenarnya raksasa buas itu dan sebenarnya apa yang terjadi?”

Romo menjawab dengan serius : “Begini KI Ageng, keadaan desa sangat serius,oleh karena itu harus dihadapi dengan cermat. Seluruh warga desa harus siap siang dan malam dalam keadaan siaga. Menurut pengamatan batin saya, raksasa itu adalah Kala. Dia bukan sembarang raksasa, dia itu sangat sakti.

Ki Ageng menyela : ”Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Romo menjelaskan secara detail dan gamblang apa yang terbaik untuk dilakukan.

Ki Ageng mengumumkan keputusan musyawarah warga desa, yaitu : ”Saudara-saudara sekalian, kita akan nanggap wayang. Kita akan mengundang seorang dalang yang berbobot dan mumpuni untuk mengadakan pagelaran wayang kulit dengan cerita Murwakala. Dalang tersebut adalah Ki Dalang Kandabuwono yang kita percaya mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Selain seorang dalang sepuh, beliau juga tinggi ngelmu spiritualnya. Semua hadirin setuju, lalu ditunjuk delegasi untuk menghubungi Ki Dalang.


Siapa Ki Dalang Kandabuwono ?

Setelah berunding dengan Narada, patihnya yang terpercaya, Betara Guru sependapat bahwa makanan yang boleh dimangsa Kala, terlalu banyak. Tentu penduduk bumi akan ribut.

Untuk itu Guru memutuskan untuk sementara turun kebumi untuk mengendalikan Kala. Dia didampingi oleh Durga, Narada dan beberapa pengawal.

Begitu sampai bumi, mereka menyamar sebagai manusia. Guru menjadi seorang yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit yang bernama Ki Dalang Kandabuwono. Hal pertama yang dilakukan rombongan dalang adalah menemui KI Lurah Semar yang sebenarnya adalah seorang dewa sepuh, kakak Betara Guru, yang turun hidup di mayapada/dunia untuk mengawal para satria yang berjuang demi kebaikan, kemakmuran dan keadilan dunia berdasarkan kebenaran. Guru dan semua dewa sangat hormat kepada Semar.



SYARAT PAGELARAN WAYANG 

Terjadi pertemuan antara Ki Ageng yang didampingi pinisepuh dan pengurus desa dengan Ki Dalang Kandabuwono yang didampingi istrinya, Semar dan beberapa pengawal. Ki Ageng sebagai kepala desa yang bijak dan berpengalaman, begitu ketemu Ki Dalang, langsung merasakan daya dan wibawanya yang kuat. Ki Ageng yakin bahwa Ki Dalang adalah orang berkemampuan tinggi dan tentu akan sanggup mengatasi kekacauan yang tengah terjadi.

Dengan ramah, sopan, tegas Ki Dalang menerima permintaan Ki Ageng dan warga desa untuk mendalang dengan cerita Murwakala yang dimaksudkan untuk meruwat para sukerto supaya tidak lagi diganggu Kala. Ki Dalang menyatakan bahwa semua sukerto yang diruwat akan dibersihkan segala kotoran fisik dan jiwanya, akan dihapus segala sial dan malapetaka sehingga tidak lagi diancam Kala dan sang waktu jahat yang mengganggu kehidupan manusia. Ini juga disebut ruwat sengkolo.

Ki Dalang sanggup melakukan tugas mulia ini, tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Ki Ageng agak kaget karena Ki Dalang punya syarat dan dia bertanya dengan sopan :”Lalu apa syaratnya-syaratnya?”.

Dengan santun tetapi tegas KI Dalang berkata : “Semua anak, semua orang yang saya ruwat menjadi anak KI Dalang, anak saya, sehingga Kala tidak lagi berani mengganggu mereka karena mereka adalah anak Dalang Kandabuwono.”

Selanjutnya Ki Dalang berujar dengan jelas : “Anak-anak yang telah saya ruwat, untuk Kala sudah bukan lagi merupakan sukerto, mereka bukan lagi sukerto karena sukerto-nya telah sirna”. “Apa Ki Ageng dan para sukerto dan para orang tua sukerto setuju?, tanya Ki Dalang. Semua menjawab setuju.

Selain itu para pinisepuh desa agar menyiapkan uborampe hal-hal yang diperlukan untuk ruwatan seperti sesaji.


Esensi Sesaji

Pada masa kini banyak orang terutama generasi muda yang tidak mengerti esensi sesaji. Sesaji yang bermacam-macam itu bermaksud baik, bila diurai berarti :

Panembah dan ungkapan terimakasih kepada Gusti, Tuhan Sang Pencipta. Permohonan kepada Tuhan supaya upacara dan tujuannya yang mulia mendapat berkah dan perlindungan Tuhan.

Mendapatkan restu para pinisepuh. Berisi petuah-petuah. bijak untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar. Supaya tidak ada gangguan  berupa apapun dari mahluk yang kelihatan dan tidak kelihatan.

Itulah daya atau enerji yang diharapkan dari serangkaian sesaji yang komplit, yang dirangkai dari berbagai hasil bumi, yang sudah sejak zaman kuno makuno merupakan tradisi. Jadi inti dari sesaji adalah sebuah harapan, sebuah doa terbaik.

Selain itu harus disediakan air suci dari tujuh sumber mata air yang berbeda.

Supaya tujuan ruwatan berjalan sebagaimana mestinya, upacara harus dilaksanakan secara runut, cermat dan benar.

Selain Ki Dalang yang telah menyiapkan diri lahir batin, para sukerto dan orang tuanya  diwajibkan menghayati ruwatan yang berjalan. Ki Dalang ,para sukerto dan orang tuanya berpakaian tradisional. Sebelum upacara para sukerto mohon restu dari orang tuanya. Semua pihak yang terlibat memohon berkah Tuhan, karena hanya dengan palilah Beliau segalanya berjalan lancar dan baik.


Oborampe/ peralatan yang dipergunakan dalang dan sukerto

Sepotong kain putih yang disebut mori, panjang 3 meter dibagi dua, yang sebelah diduduki dalang, potongan lainnya diduduki sukerto. Diatas mori ditaburi bunga mawar, melati, gambir. Blencong, lampu untuk menerangi pagelaran wayang, digantungkan diatas dalang. Memakai bahan  minyak kelapa bukan dari penerangan listrik.Pakaian para sukerto pada waktu upacara, sesudah selesai upacara diberikan kepada Ki Dalang.Disediakan nasi kuning dicampur uang logam, nantinya disebar oleh dalang. Pengaron baru, tempat air terbuat dari tanah liat yang diisi air dari tujuh sumber dicampur dengan kembang setaman dari mawar, melati, kenanga dan dua buah telor ayam. Gayung yang dipakai untuk memandikan sukerto terbuat dari buah kelapa dibagi dua, daging kelapanya tidak dibuang.



SESAJI RUWATAN 

Dua ranting kayu dadap srep lengkap dengan daunnya.

Dua batang tebu dengan daunnya. Sepasang kelapa muda. Dua ikat padi. Dua tandan buah kelapa. Dua tandan buah pisang.Alat dapur seperti penggorengan, centong dll. 

Alat pertanian : cangkul, arit,caping dll.Sepasang merpati, bebek, angsa dll. 

Disedikan sejumlah ayam, satu sukerto satu ayam. Ayam jago untuk sukerto lelaki dewasa, ayam betina untuk sukerto wanita. Ayam jago muda untuk sukerto lelaki remaja, ayam betina muda untuk sukerto putri remaja.

7/ tujuh lembar batik dengan motif : bangun tulak, sindur, gading melati, poleng semen, truntum, sulur ringin dan tuwuh watu.

Kendil baru diisi beras dan sebuah telor, dua sisir pisang raja, suruh ayu yang belum jadi, kembang boreh, tepung beras dicampur kembang, uang dengan nilai Rp.25 atau Rp.250 atau Rp.2500.

Tikar dan bantal baru, minyak wangi, sisir, bedak, cermin dan kendil.

Sekul among nasi dengan sayuran dan telur, biasanya untuk bancakan, syukuran anak kecil.

Sekul liwet- nasi dengan lauk sambal gepeng.

Sepasang golong lulut dua bulatan nasi ketan dengan telur goreng.

Beberapa buah ketupat, salah satunya diisi ikan lele atau wader goreng.

Golong orean untuk setiap sukerto ( bulatan nasi dengan ayam panggang). Untuk setiap sukerto jumlahnya sesuai dengan wetonnya.


Misal sukerto yang wetonnya Minggu Legi, golong oreannya 10 biji, yang Sabtu Paing jumlah oreannya 18, begitu seterusnya.

Tumpeng robyong, nasi tumpeng yang diatasnya ditaruh cabe merah dicampur sayur gudangan dan telur rebus mengitari tumpeng.

Sekul gebuli, nasi kebuli dengan lauk ikan. 

Rasulan, nasi dengan lauk daging kambing dan sayuran.

Jajan pasar, beberapa kue yang biasa dijual dipasar.

Kala/polo kependem, seperti ketela, kacang  dsb.

Empat tumpeng nasi, warnanya : merah, putih, hitam dan kuning.


7 macam rujak dan 7 macam bubur. 

Jangan menir yang dibuat dari daun kelor, arang-arang kembang, nasi goreng sangan dengan air gula, gethok-potongan daging segar dengan santan dan air gula, edan-potongan kunyit dari papah lompong/batang talas dengan air gula, ulek, degan, irisan berbagai buah dengan cabai dan air gula, irisan kelapa dicampur air kelapa ditambah gula kelapa.

Berbagai bubur jenang : merah putih, pliringan, garis-garis merah putih dengan sedikit merah ditengah, bulus angrem dalam bentuk bulus sedang mengeram, palang diatas bubur merah ada palang putih, sungsum bubur tepung beras diberi air gula Jawa.

Tuak dan badek/ legen minuman segar dari pohon aren.

Klepat-klepet daun gadungsari dan dadap srep dibungkus dengan daun kelapa.

Klepon serabi merah putih, uler-uler, jadah dan wajik.

Sepasang kembar mayang yang dipayungi.Sebuah pecut baru.

Sebuah sapu lidi yang diikat dengan gelang perak.



PAGELARAN WAYANG MURWAKALA 

Diiringi alunan gending lembut, Ki Dalang duduk bersila didepan kelir. Secara pelan dan hati-hati diangkatnya wayang gunungan dan digetarkan pelan-pelan.

Itu adalah perlambang mulai bergulirnya kehidupan didunia yang berjalan pasti sesuai dengan hukum alam. Sinar lampu blencong yang merupakan representasi sinar kehidupan dari Gusti, Tuhan Yang Maha Agung menyinari Jagat Raya.

Pagelaran berjalan lancar dengan dihadiri KI Ageng, Romo, Semar, para pejabat desa, para sukerto beserta orang tuanya dan hampir semua penduduk desa.

Suasana desa jadi sepi, yang menjaga secara fisik adalah Jagabaya dengan beberapa anggota keamanan. Sedangkan Romo yang orang pintar/ paranormal, membantu dengan pengamanan gaib dengan cara melafalkan mantra saktinya.

Ada maling yang mencoba memanfaatkan saat sepi untuk membobol rumah, tetapi dengan mudah bisa ditangkap oleh petugas keamanan.

Sementara itu diluar, Kala sedang mengejar-ngejar sepasang kedhono-kedhini( kakak beradik laki-laki dan wanita) dan ontang-anting (anak tunggal laki-laki).

Untuk menghindari Kala, ketiga sukerto tersebut masuk ketempat pagelaran wayang dan bersembunyi.

Kala yang beringas ,begitu mendekat tempat pagelaran sepertinya jadi lemas dan kehilangan nyali. Dia tidak kuat menerobos pagar gaib yang memagari tempat pagelaran. Dia memilih untuk menunggu diluar sampai selesainya pertunjukan, lalu ketigo sukerto mau dia tangkap.

Sewaktu menunggu Kala jatuh tertidur, lalu mendengkur. Semakin lama dengkurannya semakin keras dan terus menerus. Para penonton yang dibaris belakang mulai terganggu. Mereka mencari tahu, siapa yang mendengkur begitu keras sehingga mengganggu pagelaran. Beberapa orang terkejut menemukan ada raksasa besar sedang tidur dibalik semak-semak. Orang-orang itu berteriak: “ Ada buto, ada buto ( raksasa)!” Romo tahu bahwa raksasa itu Kala.  Bersama Semar, Romo membangunkan Kala. Kala merasa kalah wibawa dan menurut saja diajak menghadap Ki Dalang Kandabuwono.


Dialog  Ki Dalang dengan Kala

Kala ditanya oleh Ki Dalang kenapa dia ribut dan mengganggu pagelaran wayang.

Dengan nada marah dan tidak sabar Kala menjawab bahwa dia sedang mengejar 3 sukerto yang sembunyi diantara penonton. Sukerto itu jatah makanannya dan siapapun tak boleh menghalangi, kalau menghalangi mau dia makan juga.Kala yang sudah lapar sekali semakin menunjukkan watak sombongnya, dia meremehkan semua orang disitu. Dia pikir tak ada satu orangpun yang mampu mengalahkannya.

Ki Dalang dengan sabar meminta Kala tenang dan menjelaskan maksudnya. Kata-kata Ki Dalang  sangatlah berwibawa. Suasananya mencekam, apalagi disitu ada Semar, Romo. Kala yang garang jadi menyusut nyalinya. Ki Dalang bilang bahwa Kala harus mendengarkan kata-kata dari orang yang lebih tua dari dia.Kala bilang bahwa dia lebih tua dari semua manusia, artinya dia  juga lebih tua dari Ki Dalang, sehingga Ki Dalang yang harus menurut.

Terjadi perdebatan yang ramai, keduanya mengaku lebih tua. 

Sebagai jalan keluar mereka sepakat, Kala akan mengajukan teka-teki (cangkriman dalam bahasa Jawa) dan pertanyaan. Bila Ki Dalang bisa  menjawab, Kala akan mengakui kalah tua, sebaliknya kalau Ki Dalang tak mampu menjawab, maka Kala lebih tua.

Dengan disaksikan para pinisepuh dan segenap hadirin terjadilah tanya jawab mengenai berbagai hal yang meliputi seni budaya, terjadinya jagat raya dan manusia, juga mengenai hidup sejati. Semua pertanyaan Kala dijawab dengan lugas dan benar oleh Ki Dalang. Kala heran dengan kemampuan Ki Dalang yang begitu luas pengetahuannya termasuk kebatinan.

Dia menduga KI Dalang tentulah orang yang sangat hebat. Kala terpaksa mengakui bahwa dia kalah dalam perdebatan dengan Ki Dalang dan oleh karena itu dia bersedia mendengarkan nasihat Ki Dalang.

Ki Dalang bertanya : “ Bagaimana, apakah kamu masih ada pertanyaan?’

Kala menjawab tidak, karena pertanyaan yang sulitpun bisa  dijawab oleh Ki Dalang. Karena penasaran Kala bertanya :” Kalau boleh aku tahu, siapa sebenarnya KI Dalang ini?’

Dijawab: “ Aku KI Dalang Kandabuwono.yang memerintah kamu dan semua perintah itu harus kamu turuti. Kalau tidak kamu akan celaka.

Kala bersedia memenuhi semua perintah Ki Dalang.

(Sampai saat adegan dialog diatas,  Ki Dalang yang mendalang masih memakai ikat kepala/topi yang berupa blangkon. Kini ketika adegan dalang mau memberi nasihat dan perintah kepada Kala  artinya ini saat penting bagi Kala dan sukerto, maka dalang mengganti blangkonnya dengan memakai udheng. Seorang Jawa tradisional pada masa dulu, kalau sedang samadi atau nayuh, memohon jawaban dari Gusti, Tuhan, ikat kepala yang dipakai adalah udheng, artinya supaya mudheng- mengerti dengan benar kehendak Tuhan).


Mantram Sakti

Dengan penuh wibawa Ki Dalang Kandabuwono bersabda kepada Kala:” Wahai Kala, aku akan menuliskan sebuah mantram sakti didadamu. Siapapun yang bisa membaca mantram  dan siapa saja yang bisa mengucapkan mantram ini, tidak boleh kamu jadikan korbanmu, bahkan tidak boleh kamu ganggu. Mengerti?”

“ Kalau kamu nekad melanggar, kamu akan mendapat hukuman berat dari Sang Hyang Jagadnata, Gusti, Tuhan”.


Kala menunduk dan berkata lirih bahwa dia menurut perintah Ki Dalang.

Nama mantram itu adalah Rajah Kalacakra sebagai berikut :

Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya; Yamidosa-Sadomiya; Yadayuda-Dayudaya; Yasiyaca- Cayasiya; Yasihama- Mahasiya.


Artinya : Siapapun yang menimbulkan keributan, hilang kekuatannya. Siapa yang datang untuk membuat celaka, hilang dayanya. Siapa yang membuat kelaparan, mulai sekarang harus memberi banyak makanan. Siapa yang membikin kemelaratan , harus membangun kemakmuran. Siapa yang berbuat dosa , wajib menghentikan nafsu jahatnya. Siapa yang mengobarkan perang, pasti sirna kekuatannya. Siapa yang berkhianat dan kejam, harus berbuat welas asih. Siapa yang suka merongrong, menjadi parasit, harus merobah sikap  dengan menghormat dan kasih kepada sesama.


Perbawa mantram itu sangat kuat membuat Kala gemetar dan miris. Dengan sangat hormat Kala berkata kepada Ki Dal;ang : “ Saya amat miris mendengar mantram ini, siapapun yang bisa membaca dan mengucapkan mantram Rajah Kalacakra, tidak akan saya ganggu”.


Masih ada satu mantram lagi yang diucapkan Ki Dalang. Siapapun yang mengucapkan mantram ini tidak akan diganggu Kala. Nama mantram : Hanacaraka Kebalik, bunyinya :Ngathabagama, nyayajadhapa, lawasatada, karacanaha.

Mendengar mantram itu lunglai tubuh Kala tidak punya daya.

Kini Kala benar-benar tunduk kepada Ki Dalang Kandabuwono, orang mahasakti, mahabijak.


Sukerto yang diruwat

Pada waktu Ki Dalang melafalkan kedua mantram sakti, para sukerto dengan sadar dan penuh perhatian mendengarkan dan menghayatinya. Sehingga secara alami daya mantram bekerja dan dengan berkah Gusti, Tuhan akan mengusir siapa saja yang mau menjahati sukerto yang diruwat, dimanapun dan kapanpun.

Ki Dalang memberitahu Kala bahwa setiap sukerto yang telah diruwat oleh Ki Dalang telah menjadi anak Ki Dalang, mereka tidak boleh diganggu dan dimangsa oleh Kala. Kala setuju.

Ki Dalang mulai menyebut nama sukerto satu per satu dengan jelas, sebagai berikut :

Pramananing jabang bayi ( hidup sejati dari si bayi) ( lalu sebut namanya) misalnya Utami, unting-unting, anak perempuan tunggal.

Pramananing jabang bayi Basuki,ontang-anting, anak laki-laki tunggal.


Setalah semua sukerto yang diruwat disebut namanya, Ki Dalang berkata kepada Kala : “ Itu tadi yang saya sebut nama-namanya adalah sukerto yang telah saya ruwat. Meraka adalah anak-anakku. Kamu tidak boleh mengganggu mereka”.

Kala menurut, setuju.


Kala mohon diberkati

Ki Dalang Kandabuwono menetapkan Kala menjadi penghuni hutan Krendowahono. Sebelum berangkat kesana, Kala mohon diberkati dengan Santi Puja Mantra supaya hidupnya selamat.  Ki Dalang setuju, lalu Kala dimandikan dengan berbagai air bunga.

Kala juga meminta sesaji untuk bekal hidupnya, berupa : alat-alat pertanian, hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dll., kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar, bantal dan selimut.

Ki Dalang memanggil Bima supaya mengusir semua anak buah Kala yang berupa berbagai jenis mahluk halus jahat dan bekasaan untuk juga pergi kehutan. Bima mengusir mereka semua dengan menggunakan pecut dan sapu lidi yang diikat dengan tali perak.


Prosesi ruwat tahap akhir

Sesudah Kala dan semua anak buahnya pergi, Ki Dalang melanjutkan prosesi ruwat.

Dengan mantap dan penuh perbawa Ki Dalang berkata :


Yo aku dalang sejati, yo aku sing menang miseso ing siro, sukerto wis lebur ilang dadi banyu. Mung gari rahayune. 

Artinya : Ya akulah dalang sejati, akulah yang berwenang mengurusi kalian. Sukerto kalian hilang, sudah menjadi air. Yang ada hanyalah keselamatan kalian.

Lalu Ki Dalang akan membuka jatidirinya sendiri dengan mengatakan :

Ya aku dalang Kandabuwono, ya aku dalang ( sebut namanya sendiri) misalnya Ki Timbul Hadiprayitno.


 Anak-anak yang diruwat rambutnya sedikit digunting oleh Ki Dalang. Sesudah itu semua yang sudah diruwat sowan kepada Ki Dalang untuk mohon pangestu/berkah.Beberapa wayang kulit yang berperan sebagai sukerto diruwat juga dengan cara kakinya dimasukkan kedalam pengaron/tempat air dan dicuci dengan air kembang, mereka sudah lagi bukan sukerto.

Ki Dalang Kandabuwono setelah menyelesaikan tugas, berubah wujud lagi jadi Betara Guru, demikian juga pengiring yang lain, berubah jadi Durga dan dewa-dewa. Setelah berpamitan kepada Ki Lurah Semar, Ki Ageng, Romo dan semua warga desa , rombongan dewa kembali lagi naik ke Swargaloka.

Ki Dalang mencopot udheng dan memakai blangkon lagi.

Mereka yang diruwat dimandi sucikan satu per satu oleh Ki Dalang.

Upacara ritual ruwatan paripurna. Semua yang diruwat mendapatkan jalan kehidupan yang baik, terang. Dengan berkah Gusti, Tuhan, semoga selalu selamat, sehat, sejahtera, sukses lahir batin.



ESTETIKA PEDALANGAN Ruwatan Murwakala Kajian Estetika dan Etika Budaya Jawa



   




Imajiner Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)