NUR MUHAMMAD SAW

0

Nur Muhammad SAW

 












A.     IKHWAL NUR MUHHAMAD SAW

1.  Nur Muhammad adalah suatu ajaran tentang keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Muhammad Saw dari NurNya [Allah SWT]. Sejak semula dari Nur Allah itu dicipta Nur Muhammad, hal ini telah menjadi aqidah para penganut thariqat atau mereka yang bertasawuf dalam Islam. Bila Nabi Muhammad Saw diciptakan berasal dari NurNya, demikian halnya seluruh makhluk juga diciptakan dari Nur Muhammad. Dari NurNya, Allah SWT menciptakan Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad, Allah SWT menciptakan seluruh makhluq. Keyakinan tentang Nur Muhammad mempunyai konsekwensi terhadap wujud yang satu, yaitu wihdatul wujud, kesatuan wujud Khaliq dan makhluq, kesatuan wujud Allah SWT dengan alam semesta. Sebagaimana Al Bushthami mengatakan,” Aku heran kepada orang yang mengenal Allah, bagaimana mungkin dia menyembahNya?” Juga Al Bushthami mengatakan,”Mahasuci aku, mahasuci aku, alangkah agungnya aku.” Jadi siapa yang telah mengenal Allah swt., dia merupakan emanasi dari Allah swt. sehingga melekat padanya sifat-sifat ketuhanan yaitu rububiyah dan uluhiyah. Oleh karenanya mana mungkin Allah menyembah Allah? Itulah wihdatul wujud sebagai salah satu konskwensi dari ajaran tentang Nur Muhammad. Sejak semula dari Nur Allah itu dicipta Nur Muhammad, hal ini telah menjadi aqidah para penganut thariqat atau mereka yang bertasawuf dalam Islam.

 

2.      Disebut sebagai nabi pertama dalam arti bapaknya para ruh (abu al-warh al-wahidah), nabi terakhir karena memang ia sebagai khatam an-nubuwwah wa al-mursalin.

 

3.   Sedangkan, Nabi Adam hanya dikenang sebagai bapak biologis (abu al-jasad). Jika dikatakan Muhammad SAW nabi pertama dan terakhir bagi Allah SWT, tidak ada masalah.

 

4.      Nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang kelihatannya paradoks, seperti al-awwal wa al-akhir, al-dhahir wa al-bathin, al-jalal wa al-jamal, juga tidak ada masalah bagi-Nya, karena itu semua hanya di level puncak (al-tsabitah) atau wujud potensial, tidak dalam wujud aktual (wujud al-kharij).

 

5.      Dasar keberadaan Nur Muhammad dihubungkan dengan sejumlah ayat dan hadits. Di antaranya, "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nur) dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maidah 15).

 

6.      Ayat lainnya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu), bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21). Ada pula hadits, "Saya adalah penghulu keturunan Adam pada hari kiamat."

 

7.      Hadits riwayat Bukhari menjadi dasar lainnya, yaitu "Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berada di antara air dan tanah berlumpur." Ada lagi suatu riwayat panjang yang banyak ditemukan dalam literatur tasawuf dan literatur-literatur Syiah adalah pertanyaan Sayyidina Ali RA kepada Rasulullah. Wahai Rasulullah, mohon dijelaskan apa yang diciptakan Allah sebelum semua makhluk diciptakan? Rasul menjawab, "Sebelum Allah menciptakan yang lain, terlebih dahulu Ia menciptakan nur nabimu (Nur Muhammad). Waktu itu belum ada lauh al-mahfuz, pena (qalam), neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, jin, dan manusia. Kemudian dengan iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Ia membagi Nur itu menjadi empat bagian. Dari bagian pertama, Ia menciptakan qalam, lauh al-mahfuz, dan Arasy. Ketika Ia menciptakan lauh al-mahfuz dan qalam, pada qalam itu terdapat seratus simpul. Jarak antar simpul sejauh dua tahun perjalanan. Lalu, Allah memerintahkan qalam menulis dan qalam bertanya, 'Ya Allah, apa yang harus saya tulis?' Allah menjawab, 'Tulis La Ilaha illa Allah, Muhammadan Rasul Allah.' Qalam menjawab, 'Alangkah agung dan indahnya nama itu, ia disebut bersama asma-Mu Yang Maha Suci.'Allah kemudian berkata agar qalam menjaga perilakunya. Menurut Allah, nama tersebut adalah nama kekasih-Nya. Dari nur-Nya, Allah menciptakan Arasy, qalam, dan lauh al-mahfuz. Jika bukan karena dia, ujar Allah, dirinya tak akan menciptakan apa pun. Saat Allah menyatakan hal itu, qalam terbelah dua karena takutnya kepada Allah."

 

8.      Dalam ilmu tasawuf, Nur Muhammad mempunyai pembahasan mendalam. Nur Muhammad disebut juga hakikat Muhammad.

Sering dihubungkan pula dengan beberapa istilah seperti al-qalam al-a’la (pena tertinggi), al-aql al-awwal (akal utama), amr Allah (urusan Allah), al-ruh, al-malak, al-ruh al-Ilahi, dan al-ruh al-Quddus.

Tentu saja, sebutan lainnya adalah insan kamil. Secara umum istilah-istilah itu berarti makhluk Allah yang paling tinggi, mulia, paling pertama dan utama. Seluruh makhluk berasal dan melalui dirinya. Itulah sebabnya Nur Muhammad pun disebut al-haq al-makhluq bih atau al-syajarah al-baidha' karena seluruh makhluk memancar darinya.

Ia bagaikan pohon yang daripadanya muncul berbagai planet dengan segala kompleksitasnya masing-masing. Nur Muhammad tidak persis identik dengan pribadi Nabi Muhammad SAW. Nur Muhammad sesungguhnya bukanlah persona manusia yang lebih dikenal sebagai nabi dan rasul terakhir.

Namun tak bisa dipisahkan dengan Nabi Muhammad sebagai person, karena representasi Nur Muhammad dan atau insan kamil adalah pribadi Muhammad yang penuh pesona. Manusia sesungguhnya adalah representasi insan kamil. Oleh karena itu, dalam artikel terdahulu, manusia dikenal sebagai makhluk mikrokosmos.

Sebab, manusia merupakan miniatur alam makrokosmos. Posisi Muhammad sebagai nabi dan rasul dapat dikatakan sebagai miniatur makhluk mikrokosmos karena pada diri beliau merupakan tajalli Tuhan paling sempurna. Itu pula sebabnya, mengapa Nabi Muhammad mendapatkan berbagai macam keutamaan dibanding nabi-nabi sebelumnya.

Bahkan hadits-hadits Isra’ Mikraj menyebutkan, Rasulullah pernah mengimami nabi yang pernah hidup sebelumnya. Melalui Nur Muhammad, Tuhan menciptakan segala sesuatu. Dari segi ini, Al-Jilli menganggapnya qadim dan Ibnu ‘Arabi menganggapnya qadim dalam kapasitasnya sebagai ilmu Tuhan dan baharu ketika ia berwujud makhluk.

Namun perlu diingat bahwa konsep keqadiman, menurut Ibnu Arabi, ada dua macam, yaitu qadim dari segi dzat dan qadim dari segi sesuatu itu masuk ke wilayah ilmu Tuhan. Nur Muhammad, menurut Ibnu Arabi, masuk kategori qadim jenis kedua, yaitu bagian dari ilmu Tuhan (qadim al-hukmi) bukan dalam qadim al-dzati.

Dengan demikian, Nur Muhammad dapat dianggap qadim dalam perspektif qadim al-hukmi, namun juga dapat dianggap sebagai baharu dalam perspektif qadim al-dzati. Dalam satu riwayat juga pernah diungkapkan bahwa Nabi Muhammad adalah sebagai nabi pertama dan terakhir.

 

B.     Hakikat Nur Muhammad Saw

1.      Allah Swt berkehendak menciptakan alam semesta, hal mana pada saat itu tidak ada yang wujud selain Allah, maka pertama kali yang Allah lakukan adalah mendesain sebuah ciptaan yang dapat menggambarkan keadaan diri-Nya sejauh, sedalam dan sesempurna yang Dia kehendaki. Desain tersebut ibarat cetakan bagi semua makhluk yang akan Dia ciptakan setelahnya. Oleh karenanya, di sisi Allah, semua makhluk adalah hidup karena mereka dicetak dari cetakan yang merupakan tajalli dari Zat yang maha hidup.

 

2.      Secara maknawi, Ciptaan tersebut mengandung makna-makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sehingga setiap makhluk yang dicetak darinya secara otomatis membawa misi agung yaitu memperkenalkan Allah pada alam semesta. Maka, setiap yang bertafakkur tentang makhluk dengan tafakkur yang benar akan menghasilkan makrifah tentang Allah bukan tentang makhluk itu sendiri. Atas dasar hal tersebut, sebagian sufi berpendapat bahwa setiap eksistensi wujud yang kita saksikan adalah mursyid yang dapat mengantarkan manusia kepada Allah Swt.

 

3.      Secara maknawi, desain ciptaan itu senantiasa menyejarah, menjadi sumber eksistensi semua makhluk yang akan Allah ciptakan, karenanya ia dinamai Hazratul Jam’i wal Wujud, tempat berkumpul dan asal seluruh eksistensi makhluk. Ia juga dinamai akal pertama karena yang pertama kali dapat memahami perintah Allah, Kun. Atau, ia dinamai akal pertama karena ia adalah makhluk pertama yang terikat (‘aqola artinya mengikat) oleh ismil ghoiriyah (nama selain Allah/nama makhluk).

 

4.      Ia juga dinamai al-qolam (pena ketinggian) karena citra/rupa semua yang maujud bersumber dari desain ciptaan tersebut sebagaimana tulisan keluar daripada pena. Tentu saja ia juga dinamai ruh, nur, dan hakikat Muhammad Saw karena seluruh makna yang tersimpan di dalam desain tersebut secara sempurna dan paling sempurna tertampakkan pada diri Muhammad Saw. Hakikat Muhammad yang merupakan desain dan cetakan bagi makhluk di alam semesta ini hanya satu dan bersifat universal. Oleh karena semua makhluk yang ada di alam semesta berasal dari satu desain yang sama, maka walaupun secara lahiriah/penampakan berbeda-beda, namun pada hakikatnya, semua makhluk di alam semesta ini memiliki kesamaan makna. Hanya saja, Allah menjaga mereka tetap berada dalam martabat (kedudukan) yang sesuai dengan fungsi yang telah digariskan, sehingga sunnatullah pada alam semesta berjalan secara sempurna.

 

5.      Allah swt. memiliki sifat hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara. Sifat-sifat tersebut kemudian tertajallikan (tertampakkan) pada hakikat Muhammad Saw. Artinya, sifat-sifat tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari desain makhluk di alam semesta ini. Maka, semua makhluk yang didesain dengan hakikat Muhammad Saw pasti bersifat dengan sifat-sifat Allah diatas.

 

6.      Mereka hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara. Tentu saja, kemudian Allah mengatur sedemikian rupa alam semesta ini sesuai dengan pengetahuan, kehendak dan kekuasaannya. Ada makhluk yang hidupnya Allah tampakkan dalam wujud yang sempurna dan mereka menyadari kesempurnaanya dengan cara yang sangat sempurna. Mereka adalah manusia-manusia sempurna dari kalangan para rasul, nabi dan wali-wali Allah yang mulia.

 

7.      Ada juga makhluk yang Allah tampakkan hidupnya dalam wujud yang sempurna namun mereka tidak mengenali kesempurnaannya secara sempurna. Mereka adalah orang-orang awam pada umumnya. Di sisi lain, ada makhluk yang Allah tampakkan bagi mereka sifat hidup, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka hidup. Mereka adalah hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pada martabat paling bawah, ada makhluk yang Allah tampakkan kehidupannya dalam wujud yang tidak hidup, seperti benda-benda yang dianggap mati oleh manusia. Diferensiasi kehidupan makhluk tersebut sengaja Allah buat, sekali lagi dengan maksud dan tujuan agar sunnatullah berjalan pada alam semesta. Tidak dapat dibayangkan, seandainya semua makhluk di alam semesta ini hidup pada martabat yang sama. Misalnya, benda-benda mati dapat berbicara, melihat dan mendengar layaknya manusia, maka manusia akan merasa sangat malu saat akan buang air kecil (besar), saat akan berhubungan suami istri dan lain sebagainya.

 

8.      Demikian pula, saat manusia berbuat maksiat akan diteriaki, disoraki dan dicaci-maki oleh benda-benda di sekelilingnya, bahkan mungkin saja tembok dan bangunan akan menjatuhkan diri pada orang-orang yang akan berbuat maksiat. Barangkali bumi pun siap membelah diri bagi yang hendak berbuat maksiat sehingga mereka ambles, terkubur hidup-hidup.

 

9.      Nabi Adam AS. tidak akan memakan buah khuldi, karena buah khuldi akan berteriak sekuat tenaga, mengatakan bahwa hal tersebut adalah larangan dari Allah Swt. Saat adam mendekat, buah khuldi akan melarikan diri dari Adam as. sebagaimana manusia melarikan diri dari bahaya. Pada akhirnya, semua manusia tidak akan jadi berbuat maksiat. Jika demikian yang terjadi, apalah fungsi sifat Allah yang maha pengampun dan pemaaf jika tidak ada yang perlu diampuni dan dimaafkan. Apa pula, gunanya Allah menciptakan neraka jika tidak ada makhluk yang akan diazab karena dosa-dosa?.

 

10.  Maka, merupakan kebijaksanaan Allah Swt yang maha bijaksana, Dia menciptakan segala sesuatu dan menempatkannya pada martabat (kedudukan) yang mendukung terselenggaranya sunnatullah pada alam semesta. Namun, pada intinya semua makhluk adalah makhluk hidup yang berilmu, berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat dan berbicara, karena mereka didesain dan dicetak dari hakikat Muhammad Saw.

 

11.  Pemahaman tentang hakikat Muhammad saw sebagai desain/cetakan semua makhluk yang akan diciptakan Allah tidak seperti desain/cetakan produk-produk tertentu yang dibikin manusia, misalnya desain pakaian, gambar-gambar, cetakan kue (roti) dan lain-lain. Dimana, mereka hanyalah desain/cetakan yang fungsinya untuk menyeragamkan bentuk, ukuran dan spesifikasi produk yang dihasilkan. Meskipun, hal tersebut ditinjau dari satu sisi mengandung kebenaran. Artinya, salah satu fungsi hakikat Muhammad memang mencetak makhluk menurut sepesifikasi, kriteria dan makna yang melekat pada hakikat Muhammad. Lebih dari itu, hakikat Muhammad Saw juga merupakan bahan baku bagi segala sesuatu yang akan dicetak tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hakikat Muhammad adalah desain dalam pengertian yang sesungguhnya.

 

12.  Itu sebabnya, menurut Syaikh Abdul Karim Al-Jili dalam kitabnya, Al-Kamalatul Ilahiyah fi Shifatil Muhammadiyah, Di dalam al-qurAan Allah menyebut Muhammad Saw sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah swt berfiman Sesungguhnya, kami mengutus engkau sebagai rahmat bagi alam semesta (QS. 21:107).

 

13.  Hakikat Muhammad Saw adalah rahmat (anugerah) bagi semesta karena segala sesuatu yang ada di alam semesta ini diwujudkan dengan perantara hakikat Muhammad Saw. Rahmat sebagaimana dimaksud pada ayat diatas adalah rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu sebagaimana dalam firman-Nya dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. 7:156).

 

14.  Oleh karena hakikat Muhammad merupakan cetakan sekaligus bahan baku alam semesta, maka Allah swt menciptakannya sebelum alam semesta diciptakan. Jadi, makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah hakikat (nur) Muhammad Saw.

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)