MEMAYU HAYUNING BAWONO

0

MEMAYU HAYUNING BAWONO

 
















A.   MAKNA Memayu hanuning bawana (VERSI 1)
      Kata Memayu berasal dari kata hayu/ayu yang berarti cantik, indah atau selamat. hayu/ayumendapat awalan ma menjadi mamayu yang berarti mempercantik, memperindah atau menjadikan keselamatan. Hayuning berasal dari kata hayu/ayu dengan mendapatkan kata ganti kepunyaan ning (nya) yang berarti cantiknya, indahnya atau keselamatannya. Bila kedua kata tersebut dirangkai maka menjadi memayu hayuning yang bermakna mengusahakan suatu kecantikan, keindahan atau kebaikan dan keselamatan (kebahagiaan, kesejahteraan). Sedangkan kata bawana berarti dunia atau bumi. Jadi memayu hayuning bawana berarti kita berkewajiban untuk selalu mempercantik, memperindah dan menyelamatkan hidup dan penghidupan yang serba baik dan indah bagi semua yang ada di bumi ini.

Kata Bawono terdiri dari tiga makna, yaitu :

1.      Bawono Alit/Jagad Gumulung yang bermakna pribadi dan keluarga.

2.      Bawono Agung/Jagad Gumelar yang bermakna masyarakat, Bangsa, Negara/alam semesta secara globalnya.

3.      Bawono Langgeng/Abadi yang maknanya adalah alam akhirat.

Sehingga terjemahan bebasnya dari kalimat Memayu Hayuning Bawono adalah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Menurut interpretasi dari memayu hayuning bawana, Suryo S. Negoro adalah melakukan hal yang benar demi keselamatan dan kesejahteraan dunia beserta seluruh isinya. Suryo mengatakan bahwa persepsi orang Jawa (uwong Jawa) memandang dunia ini cantik, indah. Dunia sebagai alam adalah ciptaan yang bagus yang berguna bagi manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya. Oleh karenanya alam harus diperlakukan, dijaga, dan dilindungi dengan cara sebaik-baiknya.

1.      Keluarga adalah individu yang berasal.

Semua manusia terlahir pastilah memiliki keluarga. Secara sederhana keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak. Kumpulan keluarga yang merupakan kelompok yang dinamakan masyarakat. Perkembangan dari keluarga, masyarakat, berkembang lagi menjadi bangsa dan negara. Dalam skala besar berkembang menjadi bangsa-bangsa atau negara-negara Dunia.

2.      Keluarga adalah cerminan kehidupan manusia.

Semakin tinggi kemampuan seseorang dibidangnya, semakin baik pula dia mengatur kehidupan rumah tangganya. Seseorang yang mengaku memiliki ilmu setinggi gunung tetapi jika kehidupan rumah tangganya digunakan untuk mempergunakan ilmunya untuk memayu hayuning bawono.

3.      Keluarga adalah bukti ketinggian atau ilmu yang dilakukan seseorang.

Orang yang memiliki pengetahuan atau ilmu; adalah ibarat tanaman padi yang semakin tua semakin tebal, yang semakin tua semakin merunduk, yang semakin tua semakin terlihat mata. Hal ini karena padi tersebut selalu dijaga, diakui dan diberi pupuk, udara dan radiasi dari hal hal yang bisa mengganggunya. Demikian juga dengan pengetahuan atau ilmu, Jika selalu dijaga, diasah dan diamalkan akan menghasilkan kemaslahatan bagi para tamu manusia. Apalah artinya pengetahuan atau ketinggian yang tinggi jika kehidupan keluarga rusak, porak-poranda, penuh dengan keributan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain. Oleh karena itu, kehidupan rumah tangga adalah cerminan ketinggian pengetahuan atau ilmu seseorang. Semakin tinggi atau semakin tinggi juga kemampuan untuk membuat, menciptakan dan lebih harmonis. Orang Jawa memiliki pandangan adiluhung dalam falsafah memayu hayuning bawana. Itu merupakan sebuah falsafah kuno yang mengajarkan budi luhur bagi masyarakat Jawa. Dalam kepercayaannya, sebagai bentuk harapan akan harmoni kehidupan yang dapat memberikan kedamaian kepada seluruh alam. Wujud memayu hayuning bawana adalah manusia harus sudah mengerti akan kebaikan yang terdapat pada dirinya, dan juga kebaikan jagat raya. Inilah telos masyarakat Jawa yang menciptakan makna bersosial, dan memberikan keselarasan bagi seluruh kehidupan.

 

B.     MAKNA Memayu hanuning bawana (VERSI 2)

Masyarakat Jawa sering mengunakannya untuk nasihat sosial: “memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”. Artinya, kebajikan manusia atas bantuan-Nya untuk menumpas segala malapetaka dan keburukan.  Biasanya falsafah tersebut terus ditularkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Falsafah inilah yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya, supaya mereka bisa menghargai sesama mahluk hidup. Budaya pitutur memang masih kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kepercayaan bahwa dengan memahami falsafah kehidupan akan membawa hidupan yang lebih indah. Tak usang oleh zaman kalimat Memayu Hayuning Bawana berarti tiga hal.

1.      Pertama, memayu berasal dari kata ‘mayu’ (cantik, indah, atau selamat) mendapat imbuhan ‘ma’ menjadi mamayu (mempercantik, memperindah, atau meningkatkan keselamatan) karena tradisi getok tular masyarakat Jawa kata mamayu menjadi memayu. Di sini mencerminkan perilaku positif dari manusia sosial dengan semangat kerekatan emosional sehingga melahirkan keharmonisan.

2.      Kedua hayuning berasal dari kata ‘hayu atau ha’ dengan mendapatkan kata imbuhan ‘ning atau Ing’ (Allah atau Gusti Pangeran Maha Agung). Dalam falsafah tersebut memiliki arti cantik-Nya, indah-Nya atau keselamatan-Nya. Sehingga masyarakat Jawa dalam memaknai kata hayuning adalah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan tertuju kepada Sang Maha Kuasa.

3.      Ketiga bawana memiliki dua ruang lingkup arti pada wujudnya. Pertama ruang bawah atau dunia dalam yang melingkupi batin, jiwa atau rohani. Sedangkan wujud kedua untuk ruang ragawi atau jasmaniahnya, karena mengunakan kata ‘buwono’ yang berati dunia fisik. Buwono dalam aksioma masyarakat Jawa memiliki tiga makna. Pertama buwono alit (kecil) yang bermakna pribadi dan keluarga, kedua buwono agung (besar) yang berati masyarakat, bangsa, negara dan internasional (global), dan ketiga buwono langgeng (abadi) adalah alam akhirat atau Illah.

Dengan demikian falsafah tersebut memiliki hubungan kerekatan antara sosial budaya dan Tuhan. Bersama-sama masyarakat Jawa mayakini manusia mampu mengilhamkan keselarasan kepada seluruh alam semesta beserta isinya. Karakter masyarakat Jawa bisa terlihat jelas, mereka mengunakan sistem pikiran sebagai fungsi ideologi. Seperti teorinya Baudrillard, suatu ideologi dipahami sebagai representasi pikiran. Orang bisa memiliki keyakinan sosial yang kuat berkat agama, mitos, prinsip moral, atau kebiasaan (Baudrillard, 1970: 135).

Menurut penulis teori ini menjadi titik awal sebuah reproduksi tatanan sosial, “setiap sistem disposisi individu adalah variabel struktural sistem disposisi yang lain, di mana terungkap kekhasan posisinya di dalam kelas dan arah yang dituju. Gaya pribadi, praktik-praktik kehidupan atau hasil karya, tidak lain kecuali suatu jarak terhadap gaya khas suatu zaman atau suatu kelas, sehingga gaya itu mengacu pada gaya umum, tidak hanya melalui keseragaman, tetapi juga melalui perbedaan yang menghasilkan pembawaan tertentu” (Bourdieu, 1980: 101).

Meskipun sudah diterima secara luas manusia memiliki kemampuan dan kesempatan unik dalam merawat alam, mereka juga dipandang sebagai mahluk yang bodoh dan bisa merusak. Manusia adalah mahluk mortal, dan serta perasaan mereka berubah-ubah sebagaimana angin. Sehingga, setiap makna yang bergantung pada opini manusia dengan sendirinya rapuh dan sesaat.

Contohnya dalam (Madan Sarup, 2008: 92), Foucault memaparkan di dalam bukunya Madness and Civilization, bagaimana kegilaan, bersama dengan kemiskinan, pengagguran dan ketidakmapanan kerja, pada abad ke-17 dipandang sebagai “masalah sosial” menjadi tanggungjawab negara.

Bila menghadapi persoalan terssebut, masyarakat Jawa sudah memiliki memayu hayuning bawana. Falsafat tersebut mengajarkan tentang kebenaran absolut, dan makna kehidupan atas alam semesta. Perilaku mereka didasarkan pada suatu hukum abadi yang keluar dari suatu sumber memayu hayuning bawana. Berperilaku dengan cantik, selalu menjaga keharmoisan sesama mahluk hidup dan menyatukan diri kepada Hayuning agar mendapat petunjuk kebenaran.

Hayuning meminta petunjuk kepada Sang Maha Kuasa untuk dibukakannya petunjuk. Melalui falsafah ini, masyarakat Jawa sebelum bertindak memikirkannya dengan perasaan yang bersih. Menanggalkan godaan-godaan dunia sejenak, masuk dalam relung hati paling dalam dan memusatkan daya pikiran (spiritual).

harfiah pengertian memayu hayuning bawono memiliki arti “membuat dunia menjadi indah atau ayu”. Dapat pula diartikan sebagai suatu bentuk atau upaya membangun dengan ramah lingkungan. Pembangunan yang dimaksud ini tentunya sangat memperhatikan pencagaran (conservation) dalam berbagai aset kebudayaan. Karena itu pembangunan ramah lingkungan hidup juga bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang sedang melanda.

4.      Hamemayu dapat diartikan sebagai memayungi yang berarti melindungi dari segala hal yang dapat mengganggu keamanan atau dari ketidaknyamanan akibat sesuatu.Sedangkan yang dipayungi adalah “hayuning bawono”, rahayuning jagad atau keselamatan dan kelestarian dunia seisinya.

Memayu hayuning bawana adalah filosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan Jawa. Memayu hanuning bawana jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi memperindah keindahan dunia. Orang Jawa memandang konsep ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang. Filosofi memayu hayuning bawana juga kental terasa dalam ajaran kejawen.

5.      Memayu hayuning bawana adalah filosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan Jawa. Memayu hanuning bawana jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi memperindah keindahan dunia. Orang Jawa memandang konsep ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang. Filosofi memayu hayuning bawana juga kental terasa dalam ajaran kejawen.

 

C.    MAKNA Memayu hanuning bawana (VERSI 3)

1.      Memayu Hayuning Bawana memiliki relevansi dengan wawasan kosmologi Jawa atau kosmologi kejawen. Kejawen memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana. Memayu hayunig bawana adalah ihwal space culture atau ruang budaya dan sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya.

2.      Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini memuat serentetan ruang atau bawana. Bawana adalah dunia dengan isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi Jawa. Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Bawana merupakan tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame menanamkan kebaikan kelak akan menuai hasilnya.

3.      Selain itu, memayu hayuning bawana juga menjadi spiritualitas budaya. Spiritualitas budaya adalah ekspresi budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di tengah-tengah jagad rame (space culture). Pada tataran ini, orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup. Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercepainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.Suasana demikian oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.

4.      Memayu hayuning bawana memang upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia, hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Di satu fisik secara harafiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

 

D.    Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro

(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

Bagian untuk menjadikan “urip iku urup“, hidup didunia harus senantiasa mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas angkara murka, serakah dan tamak. Sifat angkara murka, serakah dan tamak siapa yang harus kita berantas.

Tentunya mulai dari yang paling dekat, yaitu sifat yang ada dalam diri kita. Sudah menjadi kodrat manusia untuk menjalani kelangsungan hidup dengan bertahan hidup. Apabila kita terbebas dari rasa tamak, maka kebahagiaan hidup itu akan menjadi bonus. Muncul dengan sendirinya, mengalir dalam setiap kehidupan kita. Rasa tamak inilah yang dapat menimbulkan dengki, dengki yang disempurnakan dengan sifat angkara murka adalah malapetaka. Bagi diri sendiri dan bagi orang lain, “uripmu rak bakal iso ngurupi“. Sifat iri itu wajar, ini adalah booster yang dianugerahkan Tuhan agar kita bisa terus bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Iri akan melahirkan motivasi untuk menjadi lebih baik. Yang berbahaya adalah ketika iri dipadukan dengan sifat dengki, malapetaka.

Lalu apabila angkara murka itu muncul dari orang lain, apakah kita diam saja? bukanya harus dibrantas juga. Tetapi tidak dengan angkara murka, melainkan dengan kesabaran dan kehalusan hati. Seperti halnya air yang mengikis batu setetes demi setetes kalau perlu. Menantang sekali tentunya memang untuk menjadi seperti itu, karena kita harus terlebih dahulu ambrasto dur hangkoro yang ada dalam diri kita. Bukanya dalam rasa tenang itu akan muncul pemikiran yang jernih dan solutif, dan ketenangan itu hanya akan bisa kalau kita jauh dari sifat angkara murka, serakah dan tamak.

 

E.     Amar makruf nahi mungkar

Amar makruf nahi mungkar dalam istilah fiqh disebut dengan al Hisbah. Perintah yang ditujukan kepada semua masyarakat untuk mengajak atau menganjurkan perilaku kebaikan dan mencegah perilaku buruk.

Bagi umat Islam, amar makruf nahi mungkar adalah wajib, sebab syariat Islam memang menempatkannya pada hukum dengan level wajib. Dan siapa pun dari kita yang meninggalkannya, maka kita akan berdosa dan mendapatkan hukuman berupa siksa yang sangat pedih dan menyakitkan.

1.      Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits berikut :

"Hendaklah kamu beramar makruf (menyuruh berbuat baik) dan benahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka)." (HR. Abu Dzar).

2.      Selain itu, amar makruf nahi mungkar merupakan prinsip dasar agama Islam yang harus dilakukan oleh setiap muslim.

3.      Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur'an:

 وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)

4.      Dalam ayat lain, Allah SWT juga memerintahkan amar makruf nahi mungkar, karena perilaku ini merupakan perbuatan yang dapat memberikan keuntungan bagi pelakunya. Allah SWT berfirman :

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS al-A'raaf: 157).

5.      Perintah amar makruf nahi mungkar juga banyak dijelaskan dalam hadits. Salah satunya adalah hadits dari Abi Said al-Khudri :

"Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).

6.      Dalam hadits lain, dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Ra, Rasulullah SAW bersabda :

"Tidaklah seorang Nabi pun yang Allah Ta'ala utus di suatu umat sebelumku, kecuali memiliki pengikut-pengikut setia dan sahabat-sahabat. Mereka mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian, datang generasi-generasi setelahnya yang mengatakan hal yang tidak mereka ketahui dan tidak diperintahkan. Maka, barang siapa memerangi mereka dengan tangannya maka ia adalah mukmin. Dan, barang siapa memerangi mereka dengan lisannya maka ia adalah mukmin. Dan, barang siapa memerangi mereka dengan hatinya maka ia adalah mukmin. Dan, tidak pernah ada di belakang itu semua keimanan sebesar biji atom."

7.      Amar makruf nahi mungkar(bahasa Arab :

الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر‎,

al-amr bi-l-maʿrūf wa-n-nahy ʿani-l-munkar adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim. "Amar makruf nahi mungkar" telah dilembagakan di beberapa negara, contohnya adalah di Arab Saudi yang memiliki Komite Amar Makruf Nahi Mungkar (Haiʾat al-amr bi-l-maʿrūf wa-n-nahy ʿani-l-munkar). Di kekhalifahan-kekhalifahan sebelumnya, orang yang ditugaskan menjalankan perintah ini disebut muhtasib. Sementara itu, di Barat, orang-orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi mungkar disebut polisi syariah.

Dalil amar ma'ruf nahi munkar adalah pada surah Luqman, yang berbunyi sebagai berikut:

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan laranglah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)      

Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan sesuai kemampuan, yaitu dengan tangan (kekuasaan) jika dia adalah penguasa/punya jabatan, dengan lisan atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada, dikatakan bahwa ini adalah selemah-lemahnya iman seorang mukmin.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)