BATHARA KATONG (Lembu Kanigoro) ye

0

Bathara Katong 

(Lembu Kanigoro)

 

Foto : gapura pintu masuk makam Bathara Katong diambil dari Googling untuk menambah pemanis artikel 


A.   Raden Katong (versi 1)

Kemudian lazim disebut Batoro Katong, bagi masyarakat Ponorogo mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi di kalangan santri yang meyakini bahwa Batoro Katong-lah penguasa pertama Ponorogo, sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Ponorogo. Batoro Katong, memiliki nama asli Lembu Kanigoro, tidak lain adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari selir yakni Putri Campa yang beragama Islam. Mulai redupnya kekuasaan Majapahit, saat kakak tertuanya, Lembu Kenongo yang berganti nama sebagai Raden Fatah, mendirikan kesultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro mengikut jejaknya, untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Prabu Brawijaya V yang pada masa hidupnya berusaha di-Islamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya V dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya. Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 beliau yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Batoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya). Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk di-Islamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya V memunculkan reaksi dari elit istana yang lain.

1.      Pujangga Anom Ketut Suryongalam (ki ageng kutu)

Reyog symbol kritik terhadap majapahit

Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam. Seorang penganut Hindu, yang berasal dari Bali.Tokoh yang terakhir ini, kemudian keluar dari Majapahit, dan membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu sampai lereng barat Gunung Wilis, yang kemudian dikenal dengan nama Wengker (atau Ponorogo saat ini). Ki Ageng Ketut Suryangalam ini kemudian di kenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Demang Kutu. Dan daerah yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Kutu ini dinamakan Kutu, kini merupakan daerah yang terdiri dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Jetis.

Ki Ageng Kutu-lah yang kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog. Dan reog tidak lain merupakan artikulasi kritik simbolik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak). Dan Ki Ageng Kutu sendiri disimbolkan sebagai Pujangga Anom atau sering di sebut sebagai Bujang Ganong, yang bijaksana walaupun berwajah buruk.

Pada akhirnya, upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat basis di Ponorogo inilah yang pada masa selanjutnya dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit. Dan selanjutnya pandangan yang sama dimiliki juga dengan kasultanan Demak, yang nota bene sebagai penerus  kejayaan  Majapahit walaupun dengan warna Islamnya. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan  investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu.

2.      Batoto Katong Putra terbaik kerajaan Demak

Ekspansi Islamisasi

Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya  yakni yang kemudian dikenal luas dengan Batoro Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.

Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Batoro Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Budha, animisme dan dinamisme.

3.      Cinta Niken Gandini  yang berakhir kemenangan

Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Batoro Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Batoro Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan  akal cerdasnya Batoro Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di  iming-imingi akan dijadikan istri.

Kemudian Niken Gandini inilah yang  dimanfaatkan  Batoro Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringin-Anom Sambit Ponorogo. Hari ini oleh para pengikut Kutu dan masyarakat Ponorogo (terutama dari abangan), menganggap hari itu sebagai hari naas-nya Ponorogo.

Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu ini disebut sebagai Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Batoro Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini dimungkinkan dilakukan untuk       meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

4.      Batoro Katong  Sang Manusia Setengah Dewa

Setelah  dihilangkannya  Ki Ageng Kutu, Batoro Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Dari pintu inilah Katong kukuh menjadi penguasa Ponorogo, mendirikan istana, dan pusat Kota, dan kemudian melakukan Islamisasi Ponorogo secara perlahan namun pasti.

Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Batara Katong, tentu bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.

Lantas, bangunan-bangunan didirikan sehingga kemudian penduduk pun berdatangan. Setelah menjadi sebuah Istana kadipaten, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, yakni Niken Sulastri, sedang adiknya, Suromenggolo, tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel.

Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo. Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai di eliminasi dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Membuat kesenian tandingan, semacam jemblungan dan lain sebagainya. Para punggawa dan anak cucu Batoro Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam. Dalam konteks inilah, keberadaan Islam sebagai sebuah ajaran, kemudian bersilang sengkarut dengan kekuasaan politik. Perluasan agama Islam, membawa dampak secara langsung terhadap perluasan pengaruh, dan berarti juga kekuasaan. Dan Batoro Katong-lah yang menjadi figur yang diidealkan, penguasa sekaligus  ulama.

5.      Ponorogo lahir 11 Agustus 1496

Beliau kemudian dikenal sebagai Adipati Sri Batoro Katong yang membawa kejayaan bagi Ponorogo pada saat itu, ditandai dengan adanya prasasti berupa epasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batoro Katong dimana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung (Garuda) dan gajah yang melambangkan angka 1418 saka atau tahun 1496 M.

Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti "Penobatan" yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda pubakala tersebut dengan menggunakan referensi Handbook of Oriental History dapat ditemukan hari wisuda Batoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar, Tahun 1418 saka bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.


Foto : gapura pintu masuk makam Bathara Katong diambil dari Googling untuk menambah pemanis artikel 
 


Foto : ilustrasi Bethara Katong 





B.     Bathara Katong (versi 2)

Bathara Katong adalah pendiri Kabupaten Ponorogo dan juga merupakan adipati pertama di Ponorogo. Bathara Katong merupakan utusan Kesultanan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo. Bathara Katong, memiliki nama Asli Lembu Kanigoro, salah seorang putra Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi dari selirnya yaitu Putri Campa yang beragama Islam. Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 ia yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Bathara Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Ia adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya). Mulai redupnya kekuasaan Majapahit dan saat kakak tertuanya "Lembu Kenongo" yang berganti nama menjadi Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak Bintoro, Lembu Kanigoro mengikut jejak kakaknya untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Prabu Brawijaya pada masa hidupnya berusaha diislamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya. Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk diislamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya memunculkan reaksi protes dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Kutu, Ki Ageng Kutu kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog. Dan Reog tidak lain merupakan simbol kritik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak). Upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat Basis di Ponorogo (Wengker) dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit dan Kesultanan Demak. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain. Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Buddha, animisme dan dinamisme. Setelah Bathara Katong memasuki Ponorogo terjadilah pertarungan antara Bathara Katong dengan Ki Ageng Kutu. Di tengah kondisi yang sama sama kuat, Bathara Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan akal cerdasnya Bathara Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di iming-imingi akan dijadikan istri. Niken Gandini dimanfaatkan Bathara Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringinanom Sambit Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu disebut dengan Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Bathara Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini mungkin dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu. Setelah Ki Ageng Kutu menghilang, Bathara Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bathara Katong. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena Bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar. Setelah hutan selesai dibabat, bangunan-bangunan didirikan sehingga penduduk pun berdatangan. Setelah istana kadipaten didirikan, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, Niken Sulastri ke istana kadipaten, sedang adiknya, Suromenggolo tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah Babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo. Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo. Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai dihilangkan dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantarangin sebagai sejarah Reog. Para punggawa dan anak cucu Bathara Katong inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.

 


C.    Sejarah Ponorogo Lahir Dari Perang Segitiga Wengker, Majapahit dan Demak

Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, adalah keturunan bangsawan Majapahit yang pro pada kekuasaan Bhre Kertabhumi di Trowulan, Kotaraja Majapahit. Kertabhumi sendiri naik tahta pada tahun 1474 setelah menggulingkan Suraprabhawa Singhawikramawardhana pamanya. Suraprabhawa kemudian menyingkir ke wilayah Daha, Kediri menjadi adipati sampai wafat. Dia punya anak bernama Ranawijaya. Tahun 1478, Ranawijaya membalas dendam pada Kertabhumi. Selain berhasil mengalahkannya dan merebut mahkota Raja Majapahit, dia juga menghancurkan Kota Trowulan dan memindahkan ibukota Majapahit ke Daha, Kediri. Ki Ageng Kutu, yang menjadi Adipati Wengker dan membawahi pasukan Warok benar-benar marah dengan keadaan ini. Dia bersiap untuk menyerbu dan menggulingkan Ranawijaya sebagai balas dendam. Bagi Ki Ageng Kutu, Ranawijaya tidak berhak atas tahta Majapahit, dan Majapahit yang sekarang beribu kota di Daha bukanlah keturunan Wangsa Rajasa. Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang dengan Ranawijaya, Raja Majapahit di Kediri. Tantangan itu dijawab oleh Ranawijaya dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur dibawah pimpinan Raden Bathara Katong, putra selir beliau. Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurit Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker karena menganggap Ki Ageng Kutu adalah benar membela Bhre Kertabhumi, menuntut balas kehancuran Trowulan.

 


D.    Pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir, kalah.

Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas, tidak mau pulang ke Daha Kediri, Ibukota Majapahit yang baru. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan. Konflik ini dimanfaatkan oleh Ki Ageng Mirah dari Giriwana. Giriwana atau Wonogiri saat ini sudah dikuasai pengaruh Islam Demak. Ki Ageng Mirah adalah salah satu orang penting Demak di wilayah Giriwana. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencarinya, dan berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong. Demak terus meluaskan kekuasaanya dengan target menaklukan kawasan kadipaten di bawah Majapahit yang berstatus quo, yang menolak mengakui Ranawijaya sebagai raja. Salah satunya adalah Wengker. Satu per satu menaklukan kadipaten yang seperti ini lebih mudah daripada menyerang langsung ke Daha, Majapahit. Posisi Wengker yang berada di sebelah barat daya dari Kediri juga dianggap sangat strategis untuk menjadi pertahanan wilayah kekuasaan Demak. Demak sendiri dipimpin oleh Raden Fatah, putra dari Bhre Kertabhumi dari istri selir putri Champa. Dia pun masih ada garis saudara dengan Raden Bathara Katong. Raden Fatah berambisi menggulingkan Ranawijaya untuk menjadi Raja Jawa dari Trah Majapahit dan mendapat pengakuan dari rakyat Jawa sebagai penerus Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V. Ki Ageng Mirah menawarkan solusi dengan memanfaatkan Bathara Katong untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Bathara Katong masuk Islam agar mendapat sokongan militer dari Demak. Dia telah malu untuk meminta bantuan militer lagi dari Daha. Reputasinya sudah hancur di sana. Dia berfikir posisi Majapahit di Kediri sudah melemah karena kekalahanya, gak mungkin meladeni kekuatan para Ksatria Warok Wengker. Ki Ageng Mirah juga berhasil meyakinkan Demak, jika berhasil menguasai Wengker, pengislaman tanah Jawa akan semakin mudah, kekuasaany juga aman. Atas nasehat Ki Ageng Mirah. Raden Bathara Katong pura-pura membelot memihak Wengker, berpaling dari pihak Ranawijaya sebagai Raja Majapahit . Ki Ageng Kutu menerima sumpah setia Raden Bathara Katong. Bathara Katong lalu mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri. Mengingat status Raden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu diaambut gembira oleh Ki Ageng Kutu Pernikahan ini hanya sekedar taktinya untuk mencari kelemahan Wengker dan Ki Ageng Kutu. Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu. Raden Bathara Katong menuruti semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah. Dan semua berjalan lancar. Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan Sura Handaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka). Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong, sedangkan Sura Handaka tidak. Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong. Saat dirasa sudah tepat waktunya, Ki Ageng Mirah mengundang pasukan Demak menyerbu Wengker. Bathara Katong dan Ki Ageng Kutu diadu! Demak sebagai pihak ketiga bermain disana dengan pasukanya. Peperangan kembali pecah. Ki Ageng Kutu yang benar-benar merasa kecolongan, dengan marah mengamuk dimedan laga bagai bantheng ketaton, bagai banteng yang terluka. Pasukan Wengker, maju terus pantang mundur!

Namun bagaimanapun, seluruh struktur kekuatan Wengker telah diketahui oleh Raden Bathara Katong. Pasukan Wengker, yang terkenal dengan nama Pasukan Warok itu terdesak hebat! Namun, Ki Ageng Kutu beserta seluruh pasukannya telah siap untuk mati. Pasukan ksatria ini terus merangsak maju, melawan pasukan Demak.

Demak akhirnya berhasil mengalahkan Wengker. Wilayah ini kemudian diberikan pada Bathara Katong sebagai adipati. Ki Ageng Mirah menjadi pemimpin spiritual di wilayah selatan. Bathara Katong tetap menghormati Ranawijaya sebagai seorang Raja Majapahit di Daha, Kediri. Dia telah telah sukses menjalankan dua misi, sekali dayung dua pulau terlampaui. Pertama dia telah berhasil menghilangkan kekuatan Ki Ageng Kutu yang menjadi ancaman bagi kelangsungan tahta Ranawijaya, sepupunya. Sebagai bentuk penghormatan bagi “mantan” rajanya itu, pusat pemerintahan di Ponorogo diberi nama Kelurahan Ranawijayan (Ronowijayan).

Kedua, meskipun sekarang harus masuk Islam dan menjadi bawahan Demak. Namun sekarang dia telah berhasil menjadi penguasa wilayah Kadipatenya sendiri, mengalahkan musuhnya Ki Ageng Kutu. Kadipaten Wengker diubahnya menjadi Kadipaten Ponorogo pada tahun 1496 Masehi. Dan dia resmi bertahta menjadi seorang Adipati pertamanya. Sedangkan bagi Demak, jatuhnya Wengker juga berarti hilangnya ancaman, karena Wengker anti Demak dengan kekuatan prajurit Warok yang menakutkan. Manfaat lainya, Wengker cukup dekat dengan Daha, Kediri yang menjadi Ibukota baru Majapahit. Raden Fatah masih menyimpan dendam atas kematian Ayahnya Bhre Kertabhumi yang dibunuh Ranawijaya. Namun para Sunan Wali Songo masih terus mencegahnya menyerang Demak sebagaimana wasiat Sunan Ampel.

 




Koleksi artikel Imajiner Nuswantoro 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)