BABAD MANGKUBUMI

0

 BABAD MANGKUBUMI

 

 

https://syehhakediri.blogspot.com/2024/06/babad-mangkubumi.html



Mangkubumi (juga disebut sebagai Rijksbestierder dalam bahasa Belanda, Bendahara, Pepatih Dalem, Perdipati, Pabbicara Butta, Tuan Bicara, Raja Bicara, atau Tomarilaleng) adalah sebutan untuk perdana menteri yang pernah dipakai pada kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

 

Yang menjabat mangkubumi biasanya bukan dari kalangan bangsawan, tetapi lama-kelamaan jabatan mangkubumi dijabat pula oleh para Paduka Raja/Pangeran Dipati Anom (saudara Sultan atau putera ke-2 dari Sultan yang bertahta), dengan sebutan Pangeran Mangkubumi yang merupakan jabatan paling tinggi di bawah raja.

 

Istilah mangkubumi adalah istilah yang terdapat dalam bahasa-bahasa di Nusantara, misalnya dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang berbahasa Sunda Kuno, terdapat penggalan kalimat sebagai berikut:

 

      ...wang tani bakti di wado, wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di déwata, déwata bakti di hyang...

Terjemahan:

 

...petani berbakti (tunduk) kepada Wado, Wado berbakti kepada Mantri, Mantri berbakti kepada Nu Nangganan. Nu Nangganan berbakti kepada Mangkubumi, Mangkubumi berbakti kepada Raja, Raja berbakti kepada Dewata, Dewata berbakti kepada Hyang...

 

” Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), II: 17--9

Dalam konsep tata negara di Kerajaan Sunda, mangkubumi adalah jabatan setingkat perdana menteri, selain itu mangkubumi juga bisa berarti syahbandar, dalam pelaksanaan tugasnya, mangkubumi membantu tugas Prebu atau Raja Kerajaan Sunda, Mangkubumi dibantu oleh Nu nangganan, Nu nangganan dibantu oleh Mantri dan Mantri dibantu oleh Wado yang berhubungan langsung dengan rakyat.

 

Mangkubumi juga terdapat dalam bahasa Jawa, selengkapnya "Mahapatih Hamengkubumi" sering disingkat Patih atau Mangkubumi saja.

 

Maharaja mangkubumi

Perdana Menteri di Kesultanan Aceh disebut Maharaja Mangkubumi, yang menggabungkan istilah maharaja dan mangkubumi.

 

Wazir

Wazir Mu'adham (Grand Wazir)berasal dari bahasa Arab. juga berarti Perdana Menteri

 

Perdana menteri

Perdana menteri adalah ketua menteri atau seseorang yang mengepalai sebuah kabinet pada sebuah negara dengan sistem parlementer. Biasanya dijabat oleh seorang politikus, walaupun di beberapa negara, perdana menteri dijabat oleh militer. Dalam banyak sistem, perdana menteri berhak memilih dan memberhentikan anggota kabinetnya, dan memberikan alokasi jabatan tersebut ke orang yang dipilihnya, baik itu karena kesamaan partai maupun faksi politik.

 

Jabatan yang setara dengan Perdana Menteri yakni Presiden Dewan Menteri, Presiden Pemerintahan, Menteri Pertama, Ketua Menteri, Kanselir, Premier, Taoiseach, Menteri Negara, Sekretaris Negara atau Ulu. Beberapa sebutan kuno seperti Wazir Agung dan Mahapatih juga disetarakan seperti Perdana Menteri. Jabatan Wazir Mu'adham juga pernah dipakai di Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan.

 

Gelar Pangeran Mangkubumi ini sering dipakai di pulau Jawa, Kalimantan dan lain-lain.Para Pangeran Mangkubumi Pangeran yang menyandang gelar Pangeran Mangkubumi :

 

·       Hamengkubuwana II. Ia adalah salah seorang putra dari Hamengkubuwana I.

·       Rakyatullah dari Banjar Pangeran Dipati Mangkubumi (Raden Halit), mangkubumi Banjar pada masa Sultan Saidullah dari Banjar Saidullah 1657-1660

·       Pangeran Mas Dipati, mangkubumi Banjar tahun 1660-1663.

·       Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidullah 1734-1758 Sepuh dari Banjar

·       Pangeran Nata Mangkoe Boemi 1761-1801 Sunan Nata Alam

·       Pangeran Ismail Ratu Anum Mangku Dilaga Sukma Dilaga Ratoe Anom Mangkoe Boemi Ismail dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda,ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta.Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husein dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri

·       Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin), mangkubumi Banjar 1823-1842

·       Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Husin Pangeran Mangkubumi Nata .

·       Pangeran Tamjidillah II dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda berdasarkan besluit per tanggal 13 November 1851 No. 2 untuk menggantikan Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana

·       Hidayatullah II dari Banjar , dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Tamjidillah II 1856 -`1860 sebagai pangeran Mangkubumi namun 1857 -September 1859 pecah Perang Gerilya berakhir September 1859 Dinobatkan Jadi Sultan Banjar. untuk Pemerintahan Mangkubumi Pangeran Wira Kasoema

·       Pangeran Wira Kasoema dilantik oleh oleh sultan Hidayatullah II dari Banjar memerintah:1859 -1862 (memerintah: 1857-1862)

·       Pangeran Muhammad Said adalah mangkubumi Kesultanan Banjar (Pagustian) dan sekaligus seorang pejuang perang Banjar(memerintah: 1862-1875)

·       Pangeran Perbatasari adalah mangkubumi Kesultanan Banjar (Pagustian) dan sekaligus seorang pejuang perang Banjar. (memerintah: 1875-1885)

 

Kontrak Perjanjian Kesultanan Banjar dengan Hindia Belanda

Kontrak Perjanjian Karang Intan II tanggal 13 September 1823 Masehi (7 Muharam 1239 Hijriyah) memuat tentang penamaan Pangeran Mangkubumi untuk Raja Bicara (Rijksbestierder, kepala administrasi pemerintahan).

 

 

Pangeran Mangkoe Boemi Nata

Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata atau Pangeran Mangkoe Boemi atau Pangerang Mangkoe Boemie atau Pangeran Mangkubumi Nata Kasuma (bin Sultan Sulaiman) adalah mangkubumi Kesultanan Banjar yang dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia adalah adik Pangeran Sultan Adam yang telah ditetapkan sebagai pengganti Sultan Sulaiman.

 

Pangeran Mangkubumi Nata Kasuma merupakan anak laki-laki yang kedua Sultan Sulaiman. Ia menjabat mangkubumi mendampingi ayahandanya Sultan Sultan Sulaiman.Pangeran Mangkoe Boemi Nata memperisteri sepupunya Nyai Intan, adik Adipati Danu Raja (anak Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari) yang melahirkan Ratu Siti (ibu Pangeran Hidayatullah)

 

Sedangkan anak laki-laki tertua Sultan Sulaiman yaitu Pangeran Adam menjadi Sultan Muda (Pangeran Ratu). Sebenarnya anak pertama Sultan Sulaiman merupakan seorang perempuan yakni Ratu Umi yang dilahirkan oleh Nyai Siti Gading. Sultan Adam merupakan anak kedua Sultan Sulaiman yang dilahirkan oleh Nyai Ratu Intan Sari.

 

Menurut tradisi kesultanan Banjar yang berlaku pada saat itu, di antara putera-putera dari seorang Sultan yang sedang berkuasa, maka anak laki-laki tertua dari permaisuri akan dilantik sebagai Sultan Muda dan putera kedua dari permaisuri akan dilantik sebagai Raden Dipati atau Pangeran Dipati atau Pangeran Dipati Anom yaitu calon mangkubumi untuk menggantikan mangkubumi atau Pangeran Mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.

 

Semenjak dibuatnya perjanjian 4 Mei 1826, pihak kolonial Hindia Belanda dapat mencampuri pengaturan permasalahan mengenai pengangkatan Pangeran Mangkubumi atau Sultan Muda, yang mengakibatkan rusaknya adat istiadat kerajaan dalam bidang ini.

 

Sebelum menjabat mangkubumi namanya adalah Pangeran Husin. Ia wafat tahun 1842. Ia mengantikan mangkubumi sebelumnya Ratoe Anom Ismail yang dihukum bunuh pada tahun 1805 karena didakwa akan melakukan kudeta terhadap Sultan Sulaiman. Pangeran Mangkoe Boemi Nata merupakan kakek dari pihak ibu Pangeran Hidayatullah II, sebab ibundanya yang bernama Ratu Siti Maryamah merupakan puteri dari Nyai Intan dengan Pangeran Mangkoe Boemi Nata .

 

Gubernur pemerintah (mangkubumi) saat itu, pangeran Mangkoe Boemi Nata, diberikan 12000 gulden setahun untuk mengkompensasi hilangnya pendapatannya dari Doesoen dan Bekompai. Ganti rugi ini juga diberikan sebagai pendapatan kepada penerusnya.

 

Imajiner Nuswantoro


Berikut penulis artikel menyuguhkan artikel BABAD MANGKUBUMI dalam bentuk PDF (free download) :



 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)