Sunan Kalijaga Bertemu Prabu Yudhistira di Pertapaan (Yudhistira Maharaja Membawahi Tanah Jawa Bagian Timur)
Kajian Centhini (133:6-12): Sunan Kalijaga Bertanya Maksud Pertapaan Prabu Yudhistira
Pupuh 133 Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), bait ke-6 sampai bait ke-12, Serat Centhini:
(n)Jêng Sunan sampun widagda, têmbung Buda dènnya asung pambagi. Mênggah mangke têmbungipun, dhuh sang nêmbe kapanggya, kula nilakrami ing sanak satuhu, sintên jujuluk sampeyan, tuwin kawijilan pundi.
꧋(ꦤ꧀)ꦗꦼꦁꦱꦸꦤꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦶꦣꦒ꧀ꦝ꧈ꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁꦧꦸꦣꦝꦺꦤ꧀ꦚꦄꦱꦸꦁꦥꦩ꧀ꦧꦒꦶ꧉ꦩꦼꦁꦒꦃꦩꦁꦏꦺꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦣꦸꦃꦱꦁꦤꦼꦩ꧀ꦧꦼꦏꦥꦁꦒꦾ꧈ꦏꦸꦭꦤꦶꦭꦏꦿꦩꦶꦆꦁꦱꦤꦏ꧀ꦱꦠꦸꦲꦸ꧈ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦗꦸꦗꦸꦭꦸꦏ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦼꦪꦤ꧀ꦠꦸꦮꦶꦤ꧀ꦏꦮꦶꦗꦶꦭꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦝꦶ꧉꧋ꦥꦸꦤꦥꦆꦁꦏꦁꦱꦶꦤꦼꦣꦾ꧈ꦣꦼꦤꦼꦊꦁꦒꦃꦤꦺꦁꦮꦤꦠꦤ꧀ꦥꦏꦤ꧀ꦛꦶ꧈ꦩꦶꦮꦃꦆꦁꦥꦱꦼꦩꦺꦴꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦣꦶꦤꦤ꧀ꦝꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧉ꦏꦁꦠꦶꦤꦚꦩꦔꦼꦂꦠꦺꦴꦱ꧀ꦭꦗꦼꦁꦈꦩꦠꦸꦂ꧈ꦈꦒꦶꦕꦫꦧꦱꦧꦸꦣ꧈ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦗꦮꦶꦤꦶꦫꦺꦏꦶ꧉
Punapa ingkang sinêdya, dene lênggah nèng wana tanpa kanthi, miwah ing pasêmonipun, kadi nandhang sungkawa. Kang tinanya mangêrtos lajêng umatur, ugi cara basa Buda, makatên Jawinirèki.
꧋ꦥꦸꦤꦥꦆꦁꦏꦁꦱꦶꦤꦼꦣꦾ꧈ꦣꦼꦤꦼꦊꦁꦒꦃꦤꦺꦁꦮꦤꦠꦤ꧀ꦥꦏꦤ꧀ꦛꦶ꧈ꦩꦶꦮꦃꦆꦁꦥꦱꦼꦩꦺꦴꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦣꦶꦤꦤ꧀ꦝꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧉ꦏꦁꦠꦶꦤꦚꦩꦔꦼꦂꦠꦺꦴꦱ꧀ꦭꦗꦼꦁꦈꦩꦠꦸꦂ꧈ꦈꦒꦶꦕꦫꦧꦱꦧꦸꦣ꧈ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦗꦮꦶꦤꦶꦫꦺꦏꦶ꧉
O ênggèh kiyai sanak, jêngandika satuhu wus udani, lêpasing tyas kang kalimput, kula Ki Yudhisthira, kawijilan saking Ngamarta rumuhun, duk ing nguni jaman Buda, maksih Brahma kang agami.
꧋ꦎꦄꦼꦁꦒꦺꦃꦏꦶꦪꦻꦱꦤꦏ꧀ꦗꦼꦔꦤ꧀ꦝꦶꦏꦱꦠꦸꦲꦸꦮꦸꦱ꧀ꦈꦣꦤꦶ꧈ꦊꦥꦱꦶꦁꦠꦾꦱ꧀ꦏꦁꦏꦭꦶꦩ꧀ꦥꦸꦠ꧀ꦏꦸꦭꦏꦶꦪꦸꦣꦶꦱ꧀ꦛꦶꦫ꧈ꦏꦮꦶꦗꦶꦭꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦔꦩꦂꦠꦫꦸꦩꦸꦲꦸꦤ꧀ꦣꦸꦏ꧀ꦆꦁꦔꦸꦤꦶꦗꦩꦤ꧀ꦧꦸꦣ꧈ꦩꦏ꧀ꦱꦶꦃꦧꦿꦃꦩꦏꦁꦄꦒꦩꦶ꧉
(n)Jêng Sunan Kali duk myarsa, langkung ngungun nulya tatanya malih, kisanak kala rumuhun, mlampah damêl punapa. Walèh-walèh punapa kala rumuhun, sayêtosipun kawula, jumênêng sri narapati,
꧋(ꦤ꧀)ꦗꦼꦁꦱꦸꦤꦤ꧀ꦏꦭꦶꦣꦸꦏ꧀ꦩꦾꦂꦱ꧈ꦭꦁꦏꦸꦁꦔꦸꦔꦸꦤ꧀ꦤꦸꦭꦾꦠꦠꦚꦩꦭꦶꦃ꧈ꦏꦶꦱꦤꦏ꧀ꦏꦭꦫꦸꦩꦸꦲꦸꦤ꧀ꦩ꧀ꦭꦩ꧀ꦥꦃꦣꦩꦼꦭ꧀ꦥꦸꦤꦥ꧉ꦮꦭꦺꦃꦮꦭꦺꦃꦥꦸꦤꦥꦏꦭꦫꦸꦩꦸꦲꦸꦤ꧀ꦱꦪꦼꦠꦺꦴꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦮꦸꦭ꧈ꦗꦸꦩꦼꦤꦼꦁꦱꦿꦶꦤꦫꦥꦠꦶ꧈
kadhaton nagri Ngamarta, Yudhisthira inggih jujuluk mami. Balik sampeyan sang luhung, ing wingking kang pinangka, lan ing ngajêng lajêr sêdyanirèng kalbu, miwah sintên kang sinambat. Dhuh Yudhisthira sang aji,
꧋ꦏꦣꦠꦺꦴꦤ꧀ꦤꦒꦿꦶꦔꦩꦂꦠ꧈ꦪꦸꦣꦶꦱ꧀ꦛꦶꦫꦆꦁꦒꦶꦃꦗꦸꦗꦸꦭꦸꦏ꧀ꦩꦩꦶ꧉ꦧꦭꦶꦏ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦼꦪꦤ꧀ꦱꦁꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ꦆꦁꦮꦶꦁꦏꦶꦁꦏꦁꦥꦶꦤꦁꦏ꧈ꦭꦤ꧀ꦆꦁꦔꦗꦼꦁꦭꦗꦼꦂꦱꦼꦣꦾꦤꦶꦫꦺꦁꦏꦭ꧀ꦧꦸ꧈ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦏꦁꦱꦶꦤꦩ꧀ꦧꦠ꧀꧈ꦣꦸꦃꦪꦸꦣꦶꦱ꧀ꦛꦶꦫꦱꦁꦄꦗꦶ꧈
andangu nami kawula, Sunan Kalijaga kalêbêt Wali, saking tlatah Majalangu, ing Girigajahpura. Dhatêng kula saèstune dipunutus, Sunan Giri lurah amba, pêrlu kinèn mariksani.
꧋ꦄꦤ꧀ꦝꦔꦸꦤꦩꦶꦏꦮꦸꦭ꧈ꦱꦸꦤꦤ꧀ꦏꦭꦶꦗꦒꦏꦊꦧꦼꦠ꧀ꦮꦭꦶ꧈ꦱꦏꦶꦁꦠ꧀ꦭꦠꦃꦩꦗꦭꦔꦸ꧈ꦆꦁꦒꦶꦫꦶꦒꦗꦃꦥꦸꦫ꧉ꦣꦠꦼꦁꦏꦸꦭꦱꦌꦱ꧀ꦠꦸꦤꦺꦣꦶꦥꦸꦤꦸꦠꦸꦱ꧀ꦱꦸꦤꦤ꧀ꦒꦶꦫꦶꦭꦸꦫꦃꦄꦩ꧀ꦧ꧈ꦥꦼꦂꦭꦸꦏꦶꦤꦺꦤ꧀ꦩꦫꦶꦏ꧀ꦱꦤꦶ꧉
kawontênane kang wana, dene têka wontên ingkang (n)dahwèni, damêl wilalat satuhu, maring kang sami babat. Sampun kula salasak ing wana kêmput, samya tan na kara-kara, muhung andika pribadi.
꧋ꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤꦤꦺꦏꦁꦮꦤ꧈ꦣꦼꦤꦼꦠꦼꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦆꦁꦏꦁ(ꦤ꧀)ꦣꦃꦮꦺꦤꦶ꧈ꦣꦩꦼꦭ꧀ꦮꦶꦭꦭꦠ꧀ꦱꦠꦸꦲꦸ꧈ꦩꦫꦶꦁꦏꦁꦱꦩꦶꦧꦧꦠ꧀꧈ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦸꦭꦱꦭꦱꦏ꧀ ꦆꦁꦮꦤꦏꦼꦩ꧀ꦥꦸꦠ꧀ꦱꦩꦾꦠꦤ꧀ꦤꦏꦫꦏꦫ꧈ꦩꦸꦲꦸꦁꦄꦤ꧀ꦝꦶꦏꦥꦿꦶꦧꦣꦶ꧉
Kajian per kata :
(n)Jêng Sunan (Kangjeng Sunan) sampun (sudah) widagda (pintar, sempurna oilmunya), têmbung (bahasa) Buda (agama Budha) dènnya (dia pakai) asung (memberi) pambagi (salam). Kangjeng Sunan sudah sempurna ilmunya, segera memakai bahasa Budha dia pakai untuk memberi salam.
Sunan Kalijaga adalah wali yang bijaksana dan sempurna ilmunya. Mengetahui bahwa si lawan bicara tak mengerti bahasanya segera menyapa dengan bahasa yang dipakai kalangan agama Budha. Mungkin yang dimaksud adalah bahasa Jawa Kuna atau semacamnya. Mengingat Prabu Yudhistira hidup di zaman dahulu. Menurut serat Pustaka Raja Purwa kerajaan Astina muncul di sekitar tahun 800 Saka. Zaman keemasan kerajaan itu ketika diperintah oleh Yudhistira sebagai Maharaja yang membawahi tanah Jawa bagian timur. Di tahun-tahun itu orang Jawa masih memakai bahasa Jawa Kuna dalam percakapan sehari-hari.
Mênggah mangke (adapun) têmbungipun (perkataannya), dhuh (duhai) sang (yang) nêmbe (baru saja) kapanggya (bertemu), kula (saya) nilakrami (bertanya, dengan hormat) ing (pada) sanak (saudara) satuhu (sungguh), sintên (siapa) jujuluk (panggilan) sampeyan (Anda), tuwin (serta) kawijilan (asal) pundi (dari mana). Adapun perkataan (Sang Sunan) sebagai berikut, “Duhai saudara yang baru saja bertemu, saya bertanya dengan hormat pada saudara sungguh, siapa panggilan saudara serta asal dari mana?”
Dalam serat Panitisastra, kata silakrama artinya sikap hormat, nilakrama dalam bait ini artinya menyela dengan hormat untuk bertanya siapa nama dan asalnya. Pertanyaan Sunan Kalijaga tersebut diucapkan dalam bahasa Jawa Kuna yang kira-kira bisa dimengerti oleh sang pertapa.
Punapa (apakah) ingkang (yang) sinêdya (dikehendaki), dene (adapun, mengapa) lênggah (duduk) nèng (ada di) wana (hutan) tanpa (tanpa) kanthi (pengiring), miwah (serta) ing (dalam) pasêmonipun (raut mukanya), kadi (seperti) nandhang (mengalami) sungkawa (kesedihan). Apakah yang dikehendaki sampai duduk di hutan tanpa pengiring, serta dalam raut muka terlihat seperti mengalami kesedihan.
Sunan Kalijaga bertanya lagi, masih dengan sikap hormat, mengapa orang tersebut berada sendirian di tengah hutan, dan mengapa terlihat seperti sedang mengalami kesedihan.
Kang (yang) tinanya (ditanya) mangêrtos (mengerti) lajêng (lalu) umatur (berkata, menjawab), ugi (juga) cara (dengan cara) basa (bahasa) Buda (Budha), makatên (begini) Jawinirèki (dalam bahasa Jawanya). Yang ditanya mengerti lalu menjawab, juga dengan cara bahasa Budha, demikian dalam bahasa Jawanya.
Pertanyaan Sang Sunan yang sopan dan penuh empati, dan memakai bahasa Jawa lama rupanya membuat si manusia besar itu tergerak untuk menjawab. Ternyata benar bahwa diamnya orang besar itu karena tidak mengerti bahasa yang dipakai oleh Sunan Kalijaga. Begitu Sunan memakai bahasa Budha, orang itu mengerti dan dapat menjawab pertanyaan dengan lancar. Kira-kira seperti di bawah ini percakapan mereka kalau dijawakan.
O ênggèh (Oh ya) kiyai sanak (saudara), jêngandika (Anda) satuhu (sungguh) wus (sudah) udani (mengetahui), lêpasing tyas (suasana hati) kang (yang) kalimput (diliputi kesedihan), kula (saya) Ki Yudhisthira (Ki Yudhistira), kawijilan (asal) saking (dari) Ngamarta (Amarta) rumuhun (dahulu), duk (ketika) ing (pada) nguni (waktu dulu) jaman (zaman) Buda (Budha), maksih (maksih) Brahma (Brahma) kang agami (agamanya). “Oh ya saudara, Anda sungguh sudah mengetahu suasana hati yang diliputi kesedihan, saya Ki Yudhistira asal dari negeri Amarta di zaman dahulu, ketika masih dikuasai agama Brahma.
Orang besar itu memperkenalkan diri sebagai Ki Yudhistira dari negeri Amarta di zaman dahulu, zaman ketika Pulau Jawa masih dikuasai kerajaan yang memeluk agama Brahma. Ketika itu, di zaman Sunan Kalijaga hidup negeri Amarta sudah lama lenyap dari percaturan kerajaan di Jawa. Kekuasaan di pulau Jawa masih dipegang oleh Majapahit, tetapi negeri Majapahit sudah di ambang senjakala. Oleh karena itu para wali bermaksud mendirikan negeri baru yang berlandaskan agama Islam. Karena sebagian besar kawula Majapahit sudah berganti agama dari agama lama mereka ke Islam.
(n)Jêng (Kangjeng) Sunan Kali (Sunan Kalijaga) duk (ketika) myarsa (mendengar), langkung (sangat) ngungun (heran) nulya (lalu) tatanya (bertanya) malih (lagi), kisanak (saudara) kala (zaman) rumuhun (dahulu), mlampah (melakukan) damêl (pekerjaan) punapa (apa). Kangjeng Sunan Kalijaga ketika mendengar sangat heran, lalu bertanya lagi, “Saudara di zaman dahulu melakukan pekerjaan apa?”
Mendengar penuturan Ki Yudhistira Sunan Kalijaga merasa sangat heran karena bertemu manusia dari zaman dahulu kala, zaman yang sudah sangat lama. Lalu Sunan Kalijaga menanyakan lagi, “Apa pekerjaan saudara dahulu?”
Walèh-walèh punapa (terus terang saja) kala (zaman) rumuhun (dahulu), sayêtosipun (sebenarnya) kawula (saya), jumênêng (berdiri) sri narapati (Raja), kadhaton (kerajaan) nagri (negara) Ngamarta (Amarta), Yudhisthira (Yudhistira) inggih (itulah) jujuluk (gelar) mami (saya). “Terus terang saja di zaman dahulu sebenarnya saya adalah seorang raja di kerajaan Amarta, Yudhistira itulah gelar saya.”
Sang Yudhistira menjawab bahwa dirinya dahulu adalah seorang Raja di negeri Amarta. Lebih tepatnya sebenarnya adalah Astinapura. Karena Amarta hanyalah negara bagian dari Astinapura. Sebelum terjadi perang Baratayuda Yudhistira adalah raja Amarta. Setelah menang perang Baratayuda Yudhistira menjadi maharaja di Astinapura yang wilayahnya mencakup beberapa kerajaan bawahan.
Balik (gantian) sampeyan (Anda) sang (sang) luhung (terhormat, mulia), ing (di) wingking (belangka) kang (yang) pinangka (asal), lan (dan) ing (di) ngajêng (depan) lajêr sêdyanirèng (maksud dalam) kalbu (hati), miwah (serta) sintên (siapa) kang (yang) sinambat (namanya). Ganti Anda yang mulia, dari manakah asal dan apa maksud dalam hati, serta siapa nama Anda.
Kalimat ing wingking kang pinangka adalah ungkapan menanyakan asal usul. Adapun ing ngajeng sedyanira adalah ungkapan menanyakan maksud kedatangan. Ungkapan yang halus dan penuh hormat dari Raja Yudhistira kepada Sang Sunan untuk menanyakan asal, maksud dan nama. Keduanya tampak sudah saling cocok sebagai kawan bicara. Sudah jumbuh antara keduanya.
Dhuh (Duhai) Yudhisthira (Yudhistira) sang (sang) aji (raja), ndangu (menanyakan) nami (nama) kawula (hamba), Sunan Kalijaga (Sunan Kalijaga) kalêbêt (termasuk) Wali (wali), saking (dari) tlatah (wilayah) Majalangu (Majapahit), ing (di) Girigajahpura (Kedaton Girigajah). “Duhai Sang Raja Yudhistira, (Paduka) menanyakan nama, hamba Sunan Kalijaga, termasuk wali dari wilayah Majapahit yang berkedudukan di Kedaton Girigajah.”
Di sini Sunan Kalijaga mengaku sebagai warga Kedaton Girigajah karena beliau memang diutus oleh Sunan Giri sebagai ketua para wali. Kata Majalangu artinya sama dengan Majapahit. Langu artinya hampir mirip dengan pahit. Ini adalah cara penamaan bagi orang Jawa seperti halnya kata Glagahwangi dan Glagahganda, yang telah diuraikan di kajian yang lalu.
Dhatêng (kedatangan) kula (saya) saèstune (sebenarnya) dipunutus (diutus), Sunan Giri (Sunan Giri) lurah (atasan) amba (hamba), pêrlu (keperluan) kinèn (suruh) mariksani (memeriksa), kawontênane (keadaan) kang (yang) wana (hutan), dene (karena) têka (ternyata) wontên (ada) ingkang (yang) (n)dahwèni (menjahili), damêl (membuat) wilalat (tuah) satuhu (sungguh), maring (kepada) kang (yang) sami (sedang) babat (membabat). “Kedatangan saya sebenarnya diutus oleh Sunan Giri atasan hamba, dengan keperluan disuruh memeriksa keadaan di hutan karena ternyata ada yang menjahili, memasang tuah sungguh kepada yang membabat (hutan).”
Walau tetap dengan kata yang sopan dan penuh hormat Sunan Kalijaga menyatakan keperluannya datang ke tengah hutan. Yakni sebagai utusan dari Sunan Diri yang hendak memeriksa dan memimpin pembabatan hutan. Karena ternyata ada orang yang sengaja menjahili pekerjaan tersebut, dengan membuat tuah kepada yang sedang bekerja. Karena tuah itu maka pekerjaan membabat hutan menjadi sulit. Setiap dibabat esoknya tumbuh lagi dengan cepat seperti sedia kala.
Sampun (sudah) kula (saya) salasak (terobos) ing (di) wana (hutan) kêmput (tuntas seluruhnya), samya (semua) tan (tak) na (ada) kara–kara (tanda-tanda), muhung (hanya) andika (Anda) pribadi (sendiri). Sudah saya terobos di hutan tuntas seluruhnya, semua tak ada tanda-tanda, hanya ada Anda sendiri.
Sunan Kalijaga menyatakan sudah memeriksa sampai tuntas seluruhnya (kemput) dan tidak menemukan hal-hal yang dianggap sebagai penyebab keanehan yang terjadi. Hanya tinggal ada Anda sendiri! Secara tak langsung Sunan Kalijaga menuduh Sang Raja Yudhistira sebagai penyebab semua keanehan ini.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah keduanya akan perang seperti lazimnya tokoh wayang yang bertemu? Nantikan kajian berikutnya!
Kajian Centhini (134:1-12): Prabu Yudhistira Mangkat, Dimakamkan Di Demak
Pupuh 134 Maskumambang (metrum: 12i, 6a, 8i, 8a), bait ke-1 sampai bait ke-12, Serat Centhini :
Dhuh Susunan Kali gurunadi mami, gambar wawayangan, titiga siki puniki, mugi-mugi tinumrapna.
gigiring kang maesa danu artining, kuliting maesa. Walikan dadosirèki, babalunge kang maesa.
kaanggeya kuliting gambar puniki. Sunguning maesa, kaanggeya ototnèki. kuliting kanang maesa,
kaanggoa inggih babalunganèki, sarta ginancarna, ing salampah-salampahing, supadya dadya tuladha,
têmbe wingking sagunging kang pra narpati, satriya myang wadya, pra èstri pra maharêsi, sagung isining bawana.
Gya winarna Sri Yudhisthira narpati, sawusing pratela, gancaring cariyos nguni, amit wus praptèng antaka,
puput yuswa sampurna mring jaman suci, layon binarsihan, sung sasmita maring dasih. Paripurna wus pinêtak,
wontên tapak-tilas palênggahanèki, ngandhaping mandira. Rampung pamêtaking jisim, lajêng sinungan têngêran,
kijing sela rineka cirining nami, Kyai Yudhisthira, lêstari têkèng samangkin, nèng lor-kulon masjid Dêmak.
Ki Rasika angling mring rowangirèki, criyos sampun tamat, kijing kang panjang nglangkungi, ciri Kyai Yudhisthira.
Kang sinung ngling tanya paran kajêngnèki, dènnya babat wana, wilujêng sampun barêsih, rata kadi ara-ara.
E makatên lajênge cariyos inggih, dènnya babat wana, wilujêng sampun barêsih, rata kadi ara-ara.
Kajian per kata :
Dhuh (Duhai) Susunan (Sunan) Kali (Kalijaga) gurunadi (guru) mami (mami), gambar (gambar) wawayangan (bayangan), titiga (tiga) siki ( sekarang) puniki (ini), mugi–mugi (harap) tinumrapna (diterapkan), gigiring (punggung) kang maesa (kerbau) danu (besar) artining (artinya), kuliting (kulit dari) maesa (kerbau). “Duhai Sunan guru saya, gambar bayangan yang tiga sekarang ini harap diterapkan pada punggung kerbau besar, artinya pada kulit kerbau.”
Prabu Yudhistira meminta agar ketiga gambar bayangan tadi diterapkan pada kulit kerbau. Digambar pada kulit kerbau kemudian digunting sesuai gambar tadi. Jadilah bakal anak wayang yang kita kenal di zaman sekarang.
Walikan (sebaliknya) dadosirèki (jadinya), babalunge (tulang-tulang) kang maesa (kerbau tadi), kaanggeya (dipakai) kuliting (kulit, warna) gambar (gambar) puniki (ini). Sebaliknya jadinya tulang-tulang dari kerbau tadi, dipakai sebagai pewarna gambar ini.
Sebaliknya, tulang-tulang kerbau mohon dipakai sebagai bahan pewarna dari gambar tersebut. Kuliting gambar yang dimaksud dalam bait di atas adalah pewarna atau tinta yang dipakai untuk melukis (sungging) gambar tadi.
Sunguning (tanduk) maesa (kerbau), kaanggeya (dipakai) ototnèki (sebagai otot), kuliting (kulit) kanang maesa (kerbau itu), kaanggoa (dipakailah) inggih (yaitu) babalunganèki (menegakkan). Tanduk kerbau dipakai sebagai otot dari kulit kerbau itu, yakni dipakai untuk menegakkan.
Tanduk dari kerbau mohon dipakai sebagai otot penguat bagi kulit kerbau yang sudah dibentuk dan digambar. Otot yang dimaksud adalah sebagai penguat agar gambar kulit kerbau tadi tidak terlihat dan dapat berdiri. Inilah yang dimaksud sebagai Cempurit atau pegangan wayang. Setelah kulit digambar dipotong lalu diberi cempurit dari tanduk kerbau maka lengkaplah anak wayang seperti yang kita kenal di zaman sekarang ini.
Sarta (serta) ginancarna (uraikanlah), ing (dalam) salampah–salampahing (lakon-lakon), supadya (supaya) dadya (menjadi) tuladha (contoh), têmbe (kelak) wingking (di belakang) sagunging (segenap) kang (yang) pra (para) narpati (raja), satriya (ksatria) myang (dan) wadya (pasukan), pra (para) èstri (istri) pra (para) maharêsi (resi agung, pendeta besar, tokoh agama), sagung (segenap) isining (isi dari) bawana (dunia). Serta uraikanlah dalam lakon-lakon supaya menjadi contoh kelak di belakang hati bagi segenap para raja ksatria dan pasukan, para wanita para resi agung segenap isi dari dunia.”
Prabu Yudhistira meminta, setelah lengkap anak wayang, lalu dijalankan cerita-cerita agar dapat dijadikan teladan dan contoh dalam kehidupan. Kelak para raja ksatria, pasukan, para wanita dan para pendeta dan segenap lapisan masyarakat dapat mengambil pelajaran dari pertunjukan wayang kulit tadi. Kelak selama berabad-abad wayang kulit memang menjadi sarana pertunjukan sekaligus pendidikan moral bagi orang Jawa.
Gya (segera) winarna (diceritakan) Sri (Sri) Yudhisthira (Yudhistira) narpati (Raja), sawusing (setelah) pratela (menceritakan), gancaring (uraian) cariyos (cerita) nguni (zaman dulu), amit (pamit) wus (sudah) praptèng (sampai waktu) antaka (kematiannya). Segera diceritakan Sri Raja Yudhistira , setelah menceritakan uraian cerita zaman dahulu, pamit sudah sampai waktu kematiannya.
Setelah selesai pesan-pesan yang disampaikan, Sri Yudhistira segera pamit untuk menyempurnakan hidupnya, meninggalkan dunia dengan cara yang wajar sebagaimana manusia lain. Sekarang beliau tidak merasa terbebani dengan jimat Kalimasada yang telah berhasil diuraikan oleh Sang Guru. Beliau dapat meninggal dunia dengan tenang.
Puput yuswa (putus umur, wafat) sampurna (sempurna) mring (menuju) jaman (zaman) suci (suci), layon (jenazah) binarsihan (disucikan), sung (memberi) sasmita (isyarat) maring (kepada) dasih (para kawula). Wafat sempurna menuju zaman suci, jenazah disucikan, (Sunan) memberi isyarat kepada para kawula.
Wafat sudah Sri Yudhistira dengan sempurna menuju zaman suci. Jenazah sudah disucikan. Sang Sunan memberi isyarat kepada para santri yang sedang membabat hutan untuk segera memakamkan Sri Yudhistira.
Paripurna (selesai) wus (sudah) pinêtak (dimakamkan), wontên (di) tapak–tilas (petilasan) palênggahanèki (tempat dia duduk bertapa), ngandhaping (di bawah) mandira (pohon). Selesai sudah (dimandikan) lalu dimakamkan di petilasan tempat dia duduk bertapa, di bawah pohon.
Selesai sudah prosesi pemakaman Sri Yudhistira. Beliau dimakamkan di tempat dia duduk bertapa. Yakni di bawah pohon tempat dia bertemu dengan Sunan Kalijaga.
Rampung (selesai) pamêtaking (pemakaman) jisim (jenazah), lajêng (lalu) sinungan (diberi) têngêran (tanda), kijing (nisan) sela (batu) rineka (dibuat) cirining (tanda dari) nami (nama), Kyai Yudhisthira (Kyai Yudhistira), lêstari (lestari) têkèng (sampai) samangkin (sekarang), nèng (di) lor–kulon (barat daya) masjid (masjid) Dêmak (Demak). Selesai pemakaman jenazah lalu diberi tanda nisan batu dibuat tanda dari nama Kyai Yudhistira, lestari sampai sekarang di barat daya masjid Demak.
Sebagai peringatan tempat pemakaman Sri Yudhistira, pada makamnya diberi nisan bertuliskan namanya: Kyai Yudhistira. Sampai sekarang makam itu masih lestari. Letaknya di belakang masjid Demak, arah barat laut.
Ki Rasika (Ki Rasika) angling (berkata) mring (kepada) rowangirèki (temannya), criyos (cerita) sampun (sudah) tamat (tamat), kijing (nisan) kang (yang) panjang (panjang) nglangkungi (melebihi), ciri (tanda) Kyai Yudhisthira (Kyai Yudhistira). Ki Rasika berkata kepada temannya, “Cerita sudah tamat, nisan panjang yang melebihi lainnya adalah tanda makam Kyai Yudhistira.”
Ki Rasika berkata kepada orang-orang yang bertanya tentang cerita Prabu Yudhistira, “Ceritanya sudah tamat. Inilah kisahnya makam nisan panjang di masjid Demak yang dipercaya sebagai makam Kyai Yudhistira.”
Kang (yang) sinung (diberi) ngling (kata, cerita) tanya (bertanya) paran (bagaimana) kajêngnèki (pohon-pohonnya), dènnya (yang mereka) babat (membabat) wana (hutan), wilujêng (selamat) sampun (sudah) barêsih (bersih), rata (rata) kadi (seperti) ara–ara (lapangan). Yang diberi cerita bertanya, “Bagaimana pohon-pohonnya, yang mereka membabat hutan selamat sudah bersih, rata seperti lapangan?”
Orang-orang yang mendengarkan cerita bertanya lagi, “Ki apakah yang membaba hutan berhasil? Apakah hutan sudah bersih menjadi seperti lapangan?”
E (eh) makatên (seperti ini) lajênge (kelanjutan) cariyos (cerita) inggih (ya), dènnya (mereka yang) babat (membabat) wana (hutan), wilujêng (selamat) sampun (sudah) barêsih (bersih), rata (rata) kadi (seperti) ara-ara (lapangan). “Eh, seperti ini kelanjutan ceritanya, ya mereka yang membabat hutan selamat, sudah bersih rata seperti lapangan.”
Ki Rasika menjawab, “Eh, ada kelanjutan ceritanya. Hutannya sudah berhasil dibabat dengan bersih seperti lapangan. Saya ceritakan sedikit kelanjutan cerita di atas.”
Pertemuan Terakhir Puntadewa dengan Sunan Kalijaga, Perjalanan Sebelum Moksa Ditemani Seekor Anjing yang Ternyata Sosok Dewa Pelindung Pandawa.
Puntadewa adalah sosok yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kesabarannya. Sebagai putra sulung Pandu, ia diberkahi oleh Batara Darma, dewa keadilan.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa perjalanan hidup Puntadewa tak berhenti di lakon Baratayudha. Ia juga dikisahkan bertemu Sunan Kalijaga di akhir hayatnya.
Puntadewa atau Yudhistira merupakan anak pertama dari 5 bersaudara Pandawa yang sangat terkenal di wayang kulit Jawa.
Pandawa terdiri dari Puntadewa, Bima/Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka juga karakter yang selalu mendapatkan perlindungan dari para dewa.
Salah satu dewa pelindung Pandawa adalah Batara Darma. Ia merupakan sosok dewa yang merupakan ayah angkat dari Puntadewa, sehingga ia juga menyandang nama Dharmaputra atau Dharmakusuma.
Puntadewa merupakan salah satu karakter yang terkenal dari kesabaran dan kebijaksanaannya.
Beberapa peran Batara Dharma dalam membantu dan menaungi Pandawa adalah pada saat kelahiran Puntadewa.
Batara Darma juga yang melindungi Dewi Drupadi saat peristiwa Pandawa Dadu.
Bahkan, Batara Darma pula yang mendampingi perjalanan dari Puntadewa sampai bertemu Sunan Kalijaga, yaitu akhir hayat Puntadewa yang moksa.
Salah satu tokoh Wali Songo ini dikenal sebagai tokoh penyebar Islam yang menggunakan pendekatan budaya, termasuk wayang kulit.
Dalam pertemuan tersebut, Puntadewa dan Sunan Kalijaga diyakini berdialog mengenai nilai-nilai keadilan, kesabaran, dan makna kehidupan.
Saat menjelang akhir hayat, Puntadewa kembali ditemani Batara Darma dalam wujud seekor anjing.
Ia mengikuti Puntadewa dalam perjalanan menuju sorga. Namun, ketika tiba di gerbang sorga, anjing tersebut dilarang masuk.
Puntadewa dengan tegas menolak masuk ke sorga jika sahabat setianya tidak diperbolehkan ikut.
Kesetiaan dan kebijaksanaannya kembali diuji. Di saat itulah anjing tersebut menjelma kembali menjadi Batara Darma, membuktikan bahwa Puntadewa telah lulus ujian terakhirnya.
Imajiner Nuswantoro