KURAWA (Versi Imajiner Nuswantoro)

0

Kurawa

(Versi Imajiner Nuswantoro)



Dalam kisah pewayangan, Kurawa berjumlah 100 orang dan semuanya adalah saudara. Istilah Kurawa merujuk pada tokoh antagonis, musuh dari tokoh protagonis, yaitu Pandawa. Keseratus Kurawa adalah anak dari Drestarastra, pangeran sulung dari Dinasti Kuru. Kurawa, Korawa, atau Kaurawa merupakan suatu istilah di dalam bahasa Sanskerta yang artinya yaitu keturunan (raja) Kuru. Dalam budaya pewayangan Jawa, istilah Kurawa merujuk kepada kelompok antagonis di dalam wiracarita Mahabharata, sehingga Kurawa merupakan musuh bebuyutan para Pandawa.

 

Pengertian Kurawa

Istilah Kurawa yang digunakan di dalam wiracarita Mahabharata mempunyai 2 pengertian yaitu :

Arti luas Korawa merujuk pada seluruh keturunan Kuru. Kuru merupakan nama seorang maharaja keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar di dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa bisa juga termasuk Korawa, dan kadang disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya di beberapa bagian awal.

Arti sempit Korawa merujuk pada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas bagi anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra adalah putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru). Dretarastra adalah yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran namun arena Dretarastra buta maka digantikan oleh adiknya yakni Pandu (Dewanata). Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu (Dewanata) yang mendirikan garis keturunan baru, yakni para Pandawa.

 


Riwayat Singkat Kurawa

Dalam wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa Gandari yakni istri Dretarastra, menginginkan putra. Lalu Gandari memohon kepada Byasa, yaitu seorang pertapa sakti, dan diapun mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah sekian lama ia mengandung, putranya belum juga lahir.

Gandari menjadi cemburu kepada Kunti yang telah memberikan Pandu 3 orang putera. Gandari lalu menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Sesudah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian kemudian memasukkannya ke dalam guci. Selanjutnya ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Sesudah satu tahun maka guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci maka munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, kemudian saudaranya yang lain.

Semua putra-putra dari Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka mempunyai saudara bernama Pandawa, yakni kelima putra Pandu, yang merupakan saudara tiri ayah mereka.

Walaupun mereka bersaudara, Duryudana (saudara tertua para Kurawa) merasa cemburu kepada Pandawa, terutama kepada Yudistira yang akan dicalonkan menjadi raja di Hastinapura.

Perselisihan pun timbul dan memuncak di sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra. Sesudah pertarungan sengit berlangsung selama 18 hari, 100 putra Dretarastra gugur, termasuk juga cucu-cucunya.

Semua gugur kecuali Yuyutsu yakni putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur di dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana yakni saudara tertua para Kurawa.

Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana gugur di tangan Bima. Yuyutsu merupakan satu-satunya putra Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak kepada para Pandawa dan iapun melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

Ada terdapat sedikit perbedaan nama pada beberapa tokoh menurut versi pewayangan yang sudah diadaptasi di Indonesia dan asli India.

Nama-nama seratus Korawa versi Mahabharata terdapat dalam buku Adiparwa, bab Sambhawaparwa bagian CXVII dan LXVII, yang diterjemahkan oleh Kisari Mohan Ganguli dari bahasa Sanskerta ke bahasa Inggris (The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa). Nama dalam aksara Dewanagari disalin dari Mahabharata berbahasa Sanskerta, berasal dari berkas digital yang disusun oleh Prof. Muneo Tokunaga dari Kyoto dan disunting oleh John D. Smith.

 

Mahabharata

Mahabharata (Mahābhāratam) adalah salah satu dari dua wiracarita besar India Kuno yang ditulis dalam bahasa Sanskerta, yang satunya lagi adalah Ramayana. Mahabharata menceritakan kisah perang antara Pandawa dan Korawa (Kurawa) memperebutkan takhta Hastinapura.

Mahabharata banyak memuat filsafat dan peribadatan Hindu, dan membahas Empat Tujuan Hidup Manusia. Di antara karya dan cerita yang termuat dalam Mahabharata adalah Bhagawadgita, kisah Nala dan Damayanti, kisah Satyawan dan Sawitri, kisah Kaca dan Dewayani, kisah Resyasrengga, dan rangkuman Rāmāyaṇa, sering dianggap sebagai karya yang berdiri sendiri.

Secara tradisional, Mahabharata dikarang oleh Kresna Dwaipayana Byasa. Telah banyak upaya membongkar perkembangan sejarah dan komposisinya. Sebagian besar naskah Mahabharata kemungkinan disusun pada abad ke-3 sebelum Masehi hingga abad ke-3 Masehi, dan bagian tertua yang dilestarikan disusun tidak sampai 400 SM. Peristiwa asli yang berhubungan dengan wiracarita tersebut kemungkinan terjadi antara abad ke-9 hingga ke-8 SM. Bentuk final dari naskah tersebut diduga dibuat pada periode Gupta (sekitar abad ke-4 M).

Mahabharata menjadi salah satu wiracarita terpanjang di dunia dan juga disebut sebagai puisi terpanjang yang pernah dibuat. Versi terpanjangnya memiliki lebih dari 100.000 śloka atau lebih dari 200.000 baris (satu sloka sama dengan dua baris), dan prosa yang sangat panjang. Dengan sekitar 1,8 juta kata, naskah Mahabharata memiliki jumlah kata sekira sepuluh kali lipat gabungan antara Iliad dan Odisseia, atau empat kali lipat lebih panjang daripada Ramayana. W. J. Johnson telah membandingkan peranan Mahabharata dalam sejarah peradaban manusia dengan Alkitab, karya William Shakespeare, karya Homeros, drama Yunani, dan juga al-Qur'an. Dalam tradisi India, naskah Mahabharata sering disebut juga Weda kelima.

 

Sejarah dan struktur tekstual

Referensi paling awal yang diketahui tentang bhārata dan kata majemuk mahābhārata berasal dari Aṣṭādhyāyī (sutra 6.2.38) dari Pāṇini (abad ke-4 SM) dan Aśvalāyana Gṛhyasūtra (3.4.4). Albrecht Weber sempat menyebutkan tentang suku Rgvedic dari Bharatas, di mana seorang yang ternama mungkin pernah ditunjuk sebagai Mahā-Bhārata.

Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari Mahabharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivaṃsa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai Mahabharata.

Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan sejumlah cerita berbingkai, terutama kisah kilas balik leluhur para tokoh utama Mahabharata (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata). Kemudian cerita utama tersusun secara kronologis, mulai dari kelahiran Pandawa dan Korawa (Adiparwa), sampai kisah diterimanya mereka di surga (Swargarohanaparwa).

 

PARWA  (NASKAH) :

1.     Adiparwa Kitab Tentang Permulaan. Kitab Adiparwa berisi sejumlah cerita sisipan (interpolasi) yang mengandung mitologi Hindu. Beberapa di antaranya meliputi: kisah pemutaran Mandaragiri (Samudramantana), kisah Bagawan Domya yang menguji ketiga muridnya, kisah Kaca dan Dewayani, serta kisah Jaratkaru dan Manasa. Kisah sisipan yang berkaitan dengan plot utama meliputi: cerita tentang para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Puru, Pratipa), kisah kelahiran Resi Byasa, serta kisah Santanu dan kedua istrinya (Gangga dan Satyawati). Cerita utama dimulai dengan kisah kelahiran Dretarastra (ayah para Korawa), Pandu (ayah lima Pandawa), dan Widura (perdana menteri), yang berlanjut dengan kelahiran para Pandawa dan Korawa, kisah masa kanak-kanak dan pendidikan mereka, kisah percobaan pembunuhan kepada Pandawa, kisah pernikahan Pandawa dengan Dropadi, kisah petualangan Arjuna (Pandawa ketiga), dan kisah pembakaran hutan Kandawa.

2.     Sabhaparwa Kitab Tentang Pertemuan Akbar. Kitab Sabhaparwa berisi kisah utama tentang pertemuan para Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk bermain judi, yang digagas oleh Duryodana (Korawa sulung) dan Sangkuni (paman para Korawa). Perjudian tersebut dilakukan agar harta dan istana Yudistira (Pandawa sulung) jatuh ke tangan Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan oleh Korawa, tetapi Dretarastra membatalkan seluruh taruhan. Atas desakan Duryodana, permainan diselenggarakan lagi dengan taruhan menjalani pengasingan selama 12 tahun, disusul masa penyamaran selama setahun. Apabila penyamaran terbongkar sebelum genap setahun, maka masa pengasingan diulangi lagi. Sebagaimana permainan sebelumnya, Pandawa pun kalah.

3.     Wanaparwa Kitab Tentang di Hutan. Kitab Wanaparwa berisi kisah utama tentang bagaimana para Pandawa menjalani kehidupan di hutan selama masa 12 tahun. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti pasupati dari Dewa Siwa. Kisah tersebut menjadi bahan cerita Kakawin Arjunawiwaha dalam kesusastraan Indonesia.

4.     Wirataparwa Kitab Tentang (Keraton) Wirata. Kitab Wirataparwa berisi kisah utama tentang penyamaran Pandawa selama satu tahun di keraton Wirata, Kerajaan Matsya setelah selesai menjalani pengasingan di hutan selama 12 tahun. Adapun rincian penyamaran para Pandawa sebagai berikut: Yudistira menyamar sebagai ahli agama bernama Kangka, Bima menyamar sebagai juru masak bernama Balawa, Arjuna menyamar sebagai guru tari bernama Wrehanala, Nakula menyamar sebagai pegurus kuda bernama Grantika, Sadewa menyamar sebagai penggembala sapi bernama Aristanemi atau Tantripala. Sementara itu, istri mereka yaitu Dropadi menyamar sebagai pelayan (sairandri) bernama Malini.

5.     Udyogaparwa Kitab Tentang Ikhtiar. Kitab Udyogaparwa berisi kisah utama tentang upaya untuk mendamaikan para Pandawa dengan Korawa. Setelah menjalani penyamaran selama setahun, para Pandawa kembali ke Hastinapura, dan Yudistira sebagai putra sulung menuntut haknya sebagai pewaris takhta. Tuntutan Yudistira ditolak oleh Duryodana. Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Sebelumnya, para Pandawa dan Korawa telah mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha (Tanah India), dan hampir seluruh kerajaan pada zaman India kuno terbagi menjadi dua kelompok. Bagian akhir dari Udyogaparwa berisi dialog antara Destarata dan Kumara Sanatasugata, lebih dikenal sebagai Sanatasugatya, yang berisi ajaran tentang keabadian dan brahmacarya.

6.     Bhismaparwa Kitab Tentang Bisma. Kitab Bhismaparwa merupakan kitab yang menceritakan tentang bermulanya pertempuran di Kurukshetra akibat kegagalan perundingan damai antara Pandawa dan Korawa. Pada beberapa bagian awalnya terselip suatu interpolasi tentang percakapan antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Oleh umat Hindu, percakapan tersebut dirangkum menjadi sebuah kitab tersendiri, yang dikenal sebagai kitab Bhagawadgita ("Bhagavad-Gītā"). Cerita dalam kitab Bhismaparwa diakhiri dengan tumbangnya Bisma pada pertempuran di hari kesepuluh, karena serangan bertubi-tubi dari Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.

7.     Dronaparwa Kitab Tentang Drona. Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang tentara Korawa. Diceritakan bahwa untuk mengakhiri perang secepat mungkin, maka Drona berusaha menangkap Yudistira selaku pemimpin tertinggi laskar Pandawa, tetapi usahanya selalu gagal. Akhirnya Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna, ketika sedang tertunduk lemas setelah mendengar berita palsu tentang kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya dua kesatria unggulan pihak Pandawa: Abimanyu dan Gatotkaca.

8.     Karnaparwa Kitab Tentang Karna. Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang setelah gugurnya Drona. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana di tangan Bima. Saat menjabat sebagai panglima, Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran di antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan menggunakan senjata Pasupati pada pertempuran di hari ke-17.

9.     Salyaparwa Kitab Tentang Salya. Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18, menggantikan Karna yang telah gugur. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana kalah sehingga perang pun berakhir. Namun ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima untuk membalaskan dendamnya.

10. Sauptikaparwa Kitab Tentang Serangan Malam. Kitab Sauptikaparwa berisi kisah utama tentang pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Krepa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa yang sedang tidak berada di sana. Setelah itu Aswatama melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Kresna mengutuk Aswatama.

11. Striparwa Kitab Tentang Para Wanita. Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula, Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya. Diceritakan pula bahwa Gandari mengutuk keluarga Kresna (bangsa Yadawa) agar binasa dalam perang saudara.

12. Santiparwa Kitab Tentang Kedamaian. Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Byasa dan Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai raja. Kitab ini merupakan salah satu kitab Mahabharata yang mengalami banyak interpolasi sehingga sloka (ayat-ayat) yang terkandung di dalamnya sangat banyak. Berbagai ajaran India Kuno terkandung dalam interpolasi tersebut, mulai dari ilmu sosial, ritual, ekonomi, hingga politik.

13. Anusasanaparwa Kitab Tentang Wejangan. Kitab Anusasanaparwa berisi kisah utama tentang penyerahan diri Yudistira kepada Bisma untuk menerima ajarannya (anusasana). Bisma mengajarkan tentang ajaran darma, arta, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang. Sebagaimana Santiparwa, kitab ini juga mengandung banyak interpolasi dan merupakan salah satu kitab Mahabharata yang jumlah slokanya sangat banyak.

14. Aswamedhikaparwa Kitab Tentang Upacara Aswamedha. Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah utama tentang pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Yudistira yang telah menjabat sebagai raja. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para raja di dunia, selama ia menuntun jalannya kuda yang dipakai sebagai sarana upacara tersebut. Dalam kitab ini dikisahkan pula kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, tetapi dihidupkan kembali oleh Sri Kresna. Kemudian terdapat pula kisah pertemuan Arjuna dengan Babruwahana, putranya dengan Citrānggadā dari Manipur.

15. Asramawasikaparwa Kitab Tentang Khalwat. Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Dretarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan untuk menjalani masa pensiun mereka. Bertahun-tahun setelah menjalani kehidupan di hutan, Resi Narada datang ke istana Hastinapura untuk membawa kabar bahwa Dretarastra dan yang lainnya telah pergi ke surga tewas terbakar oleh api ritual yang melalap asrama mereka.

16. Mosalaparwa Kitab Tentang Senjata Mosala. Kitab Mosalaparwa menceritakan perang saudara yang terjadi di antara klan-klan bangsa Yadawa, yaitu keluarga besar Kresna. Setelah keluarganya binasa, Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwaraka, kediaman Kresna dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup sebagai sanyasin, atau menjalani pensiun dengan meninggalkan kesibukan duniawi.

17. Prasthanikaparwa Kitab Tentang Perjalanan. Kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya sebagai tujuan akhir kehidupan mereka, sementara takhta kerajaan telah diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.

18. Swargarohanaparwa Kitab Tentang Pengangkatan ke Surga. Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang telah mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput oleh Dewa Indra untuk memasuki surga. Sebelum memasuki surga, sang dewa menguji Yudistira, dan akhirnya ia mampu melewati ujian tersebut. Kisah diakhiri dengan berkumpulnya kembali para tokoh utama di surga.

 

Dinasti Kuru

Santanu: Penguasa Tanah Kuru yang bertakhta di Hastinapura. Ia memiliki 2 istri, Dewi Gangga dan Satyawati. Dari Dewa Gangga, ia berputra Bisma, sedangkan dari Satyawati ia memiliki dua putra, Citrānggada dan Wicitrawirya. Ia berjanji untuk mewariskan takhta Hastinapura hanya kepada keturunan Satyawati.

Bisma: putra ke-8 Santanu dengan Dewi Gangga. Ia bersumpah tidak akan menjabat sebagai raja dan tidak mau memiliki keturunan, supaya tidak terjadi perebutan kekuasaan dengan keturunan Citrānggada dan Wicitrawirya, saudara tirinya. Ia merupakan seorang kesatria yang tangguh serta bijaksana, dan mengayomi keturunan saudara tirinya.

Citrānggada dan Wicitrawirya: putra Santanu dan Satyawati. Keduanya wafat tanpa memiliki keturunan. Sebelumnya, Wicitrawirya menikah dengan putri Kasi bernama Ambika dan Ambalika. Kedua janda tersebut diserahkan kepada Resi Byasa agar memperoleh keturunan.

Dretarastra: putra Ambika yang terlahir buta. Kebutaan membuatnya tidak berhak mewarisi takhta, sehingga adiknya yang bernama Pandu mengambil alih kuasa. Setelah kematian Pandu, ia menjadi penjabat raja. Dretarastra menikah dengan Gandari dari Gandhara.

Pandu: putra Ambalika. Ia mewarisi takhta karena kakaknya yang buta tidak berhak menjadi raja. Ia memiliki dua istri: Kunti dan Madri. Dari Kunti, Pandu memiliki 3 putra: Yudistira, Bima, dan Arjuna. Dari Madri, Pandu memiliki 2 putra kembar: Nakula dan Sadewa.

Widura: perdana menteri Hastinapura. Ia merupakan anak seorang pelayan yang diberi keturunan oleh Byasa. Ia berada dalam generasi yang sama dengan Dretarastra dan Pandu. Dikisahkan bahwa wataknya bijaksana, dan merupakan penitisan Dewa Darma (Yama).

Pandawa: sebutan untuk lima putra Pandu, yaitu Yudistira (berperilaku adil dan jujur), Bima (sangar dan bertenaga paling kuat), Arjuna (pemanah ulung), Nakula (berwajah sangat tampan), dan Sadewa (cerdas dan mampu meramal). Di antara keturunan Dretarastra dan Pandu, Yudistira merupakan yang tertua dan dicalonkan untuk mewarisi takhta ayahnya. Menurut Mahabharata, kelima Pandawa menikah dengan Dropadi, putri Drupada dari Panchala.

Korawa: sebutan untuk anak-anak Dretarastra. Yang utama berjumlah seratus putra dan dilahirkan Gandari, dengan Duryodana sebagai putra sulung. Si bungsu merupakan perempuan bernama Dursala yang menjadi anak Gandari ke-101. Selain anak-anak Gandari, Dretarastra juga memiliki seorang putra yang lahir dari dayang berkasta waisya, namanya Yuyutsu. Ia merupakan satu-satunya putra Dretarastra yang tidak berniat untuk memusuhi para Pandawa.

Parikesit: cucu Arjuna, salah satu Pandawa. Ia merupakan Raja Hastinapura setelah Yudistira turun takhta. Dikisahkan bahwa ia tewas akibat gigitan ular naga Taksaka setelah berbuat tidak sopan kepada seorang petapa bernama Samiti.

Janamejaya: putra Parikesit. Ia merupakan Raja Hastinapura setelah Parikesit mangkat. Setelah mengetahui latar belakang penyebab kematian ayahnya, Janamejaya pun melangsungkan upacara untuk membantai seluruh ular di dunia. Namun usahanya dicegah oleh brahmana bernama Astika, putra dewi ular. Untuk menghibur duka sang raja, Resi Byasa meminta salah satu muridnya yang bernama Wesampayana untuk menceritakan kisah kejayaan para leluhur sang raja. Kisah tersebut adalah Mahabharata.

 

Bangsa Yadawa

Basudewa: ayah bagi Baladewa dan Kresna. Ia memiliki beberapa istri, yang terkemuka ialah Dewaki dan Rohini.

Baladewa: putra Basudewa dan Rohini. Kesatria perkasa bersenjata luku (alat bajak sawah). Ia merupakan kakak Kresna, dan guru bela diri bagi Duryodana dan Bima. Dikisahkan bahwa Baladewa sangat kuat dan disegani oleh pihak Korawa maupun Pandawa. Pada saat konflik antara Pandawa dan Korawa memuncak menjadi perang di Kurukshetra, Baladewa memilih untuk bersikap netral sebab kasih sayangnya setara untuk kedua belah pihak.

Kresna: putra Basudewa dan Dewaki. Menurut sastra Hindu, ia merupakan awatara Wisnu. Dengan kesaktiannya, ia sering memberi pertolongan secara gaib kepada Pandawa. Sejumlah jalan cerita dalam Mahabharata melibatkan Kresna sebagai pemecah masalah dan ahli siasat. Dalam Perang Kurukshetra, ia tidak bertarung secara langsung, melainkan menjadi pengatur siasat agar kemenangan bisa diraih oleh Pandawa.

Samba: putra Kresna dan Jembawati. Karena kejahilannya dan para pemuda Yadawa lainnya, maka para resi mengutuk agar kaum Yadawa hancur dalam suatu bentrokan antarsesama.

Satyaki: kesatria bangsa Yadawa yang memimpin satu divisi tentara khusus yang disebut Laskar Narayana. Ilmu perangnya sangat tangguh. Meskipun laskar Narayana seharusnya memihak Korawa, tetapi Satyaki setia kepada para Pandawa sehingga divisi pimpinannya bertarung demi Pandawa pada saat Perang Kurukshetra.

Kertawarma: kesatria bangsa Yadawa yang memimpin satu divisi tentara khusus yang disebut Laskar Narayana. Sebagai hasil dari misi diplomatis Duryodana, tentara Narayana memihak Korawa pada saat Perang Kurukshetra. Sebagaimana kaum Yadawa lainnya, Kertawarma sangat tangguh.

 

Resi dan brahmana

Byasa: seorang resi, putra Satyawati dengan Parasara. Ia merupakan anak Satyawati sebelum menikah dengan Santanu. Byasa diceritakan sebagai seseorang yang suci, memiliki kesaktian, dan hidup abadi. Ia merupakan orang yang menyambung garis keturunan Dinasti Kuru. Perannya sangat signifikan dalam wiracarita Mahabharata, mulai dari penasihat, penolong, hingga narator dalam kisah tersebut. Secara tradisional, kisah Mahabharata diyakini oleh umat Hindu sebagai catatan sejarah yang ditulis Resi Byasa.

Krepa: guru para pangeran Kuru di keraton Hastinapura. Ia berperan sebagai pembimbing dan pengatur upacara. Menurut kepercayaan Hindu, ia merupakan salah satu makhluk abadi.

Drona: guru militer para pangeran Kuru. Ia mengabdi kepada pemerintah Hastinapura, dan disegani oleh Korawa maupun Pandawa. Ia merupakan ahli bela diri dan pemakai berbagai senjata yang sangat tangguh.

Aswatama: putra Drona. Ia bersahabat dengan Duryodana, dan sering membantu Duryodana dalam rencana mengalahkan para Pandawa. Setelah Perang Kurukshetra berakhir, ia melakukan serangan malam, lalu berencana memusnahkan garis keturunan Kuru. Namun usaha tersebut digagalkan oleh Kresna. Sebagai akibatnya, ia dikutuk agar hidup abadi dan mengembara di Bumi, tetapi dalam kondisi berpenyakit.

Narada: seorang resi pengelana, memiliki kesaktian untuk terbang sesuka hati dan muncul secara tiba-tiba. Ia kerap memberi nasihat dan petuah bagi para Pandawa saat mereka menghadapi masa-masa sulit, ataupun saat merasakan kejayaan. Selain itu, Narada berperan sebagai pemberi kabar bagi para Pandawa tentang kejadian-kejadian penting di dunia yang harus mereka ketahui.

 

Penobatan Karna sebagai Raja Anga

Sangkuni: Raja Gandhara. Diceritakan bahwa karena dendamnya kepada Dinasti Kuru, ia bersumpah untuk menghancurkan para keturunan Kuru. Untuk melaksanakan sumpahnya, ia mengadu domba para Korawa dengan para Pandawa. Maka dari itu, Sangkuni sering diceritakan terlibat dalam sejumlah plot tentang usaha Korawa menyingkirkan para Pandawa.

Karna: Raja Anga, yang merupakan putra Kunti. Saat lahir, ia dibuang oleh ibunya lalu dipungut oleh kusir bernama Adirata. Saat dewasa, ia menjalin persahabatan dengan Duryodana, lalu dinobatkan sebagai penguasa Anga. Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa persahabatannya dengan Duryodana sangat erat; ia rela melakukan apa pun demi membahagiakan Duryodana, sehingga ia sering terlibat dalam usaha menyingkirkan para Pandawa.

Drupada: Raja Panchala, ayah bagi Dropadi, mertua bagi para Pandawa. Diceritakan bahwa ia memiliki dendam kesumat terhadap Drona, guru para Pandawa. Maka dari itu ia menyelenggarakan suatu upacara untuk memohon anak yang bakal menjadi pembunuh Drona. Dari upacara tersebut, lahirlah Drestadyumna, yang di kemudian hari menjabat sebagai panglima tentara Pandawa dalam Perang Kurukshetra. Karena kekagumannya akan ketangkasan Arjuna, Drupada juga memohon anugerah seorang anak perempuan yang akan menjadi istri Arjuna, sehingga lahirlah Dropadi.

Salya: Raja Madra. Ia merupakan kakak Madri, istri Pandu. Sebelum perang Kurukshetra dimulai, Salya memutuskan untuk memihak kubu Pandawa sebab keponakannya ada di sana. Namun Salya merasa berhutang budi kepada Duryodana sehingga ia pun memihak Korawa. Menjelang pertempuran, hatinya tetap tertuju kepada Pandawa, dan ia berdoa agar kemenangan diraih oleh Pandawa.

Wirata: Raja Matsya. Ia menyediakan tempat bernaung bagi para Pandawa saat mereka menjalani masa penyamaran selama setahun. Wirata menikah dengan Sudesna dan memiliki sejumlah anak—Sweta, Wratsangka, Utara, dan Utari. Utari dijodohkan kepada Abimanyu, putra Arjuna, lalu melahirkan putra bernama Parikesit yang melanjutkan garis Dinasti Kuru.

Yayati: Seorang raja keturunan Dewa Candra, yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Ia memiliki dua istri bernama Dewayani dan Sarmista. Salah satu keturunan Dewayani merupakan bangsa Yadawa, sementara salah satu keturunan Sarmista merupakan keluarga kesatria yang disebut Paurawa, meliputi keluarga besar Dinasti Kuru.

 

Mahabharata Jawa kuno

Banyak masyarakat mengenal cerita Mahabharat melalui visual dalam bentuk film dan sinetron berseri yang ditayangkan televisi. Mahabharata merupakan serbuah karya satra kuni yang konon di tulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India.

 

Buku Mahabharata ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Dari belasan kitab yang telah terkumpul, secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina.

Dari perselisihan tersebut Pandawa lima dan para kurawa ini akhirnya pecah dengan puncak terjadinya perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu.

Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Kitab Mahabharata salinan masuk Nusantara berubah jawa kuno

Di Jawa Kuno, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa pada masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya pada masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.

Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) danBhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali. Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

 

Perang Kurukshetra

Perang di Kurukshetra (Kurukṣētrayud'dha), yang merupakan bagian penting dari wiracarita Mahabharata, dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara lima putra Pandu (Pandawa) dengan seratus putra Dretarastra (Korawa). Dataran Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini masih bisa dikunjungi dan disaksikan sampai sekarang. Kurukshetra terletak di negara bagian Haryana, India.

Pertempuran tersebut tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya, sehingga kadang-kadang disebut terjadi pada "Era Mitologi". Beberapa peninggalan puing-puing di Kurukshetra (seperti misalnya benteng) diduga sebagai bukti arkeologinya. Menurut kitab Bhagawadgita, perang di Kurukshetra terjadi 3000 tahun sebelum tahun Masehi (5000 tahun yang lalu) dan hal tersebut menjadi referensi yang terkenal.

Meskipun pertempuran tersebut merupakan pertikaian antar dua keluarga dalam satu dinasti, tetapi juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Pertempuran tersebut terjadi selama 18 hari, dan jutaan tentara dari kedua belah pihak gugur. Perang tersebut mengakibatkan banyaknya wanita yang menjadi janda dan banyak anak-anak yang menjadi anak yatim. Perang ini juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju zaman Kaliyuga, zaman kehancuran menurut kepercayaan Hindu.

Perang di Kurukshetra merupakan klimaks dari Mahābhārata, sebuah wiracarita tentang pertikaian Dinasti Kuru sebagai titik sentralnya. Perebutan kekuasaan yang merupakan penyebab perang ini, terjadi karena para putra Dretarastra tidak mau menyerahkan tahta kerajaan Kuru kepada saudara mereka yang lebih tua, yaitu Yudistira, salah satu lima putra Pandu alias Pandawa. Nama Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini bermakna daratan Kuru, yang juga disebut Dharmakshetra atau daratan keadilan. Lokasi ini dipilih sebagai ajang pertempuran karena merupakan tanah yang dianggap suci oleh umat Hindu. Dosa-dosa apa pun yang dilakukan di sana pasti dapat terampuni berkat kesucian daerah ini.

Dalam kitab Mahabharata disebutkan bahwa pangeran Dretarastra yang buta sejak lahir terpaksa menyerahkan takhta kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura kepada adiknya, Pandu, meskipun dia merupakan putra sulung. Pandu berputra lima orang, yang dikenal dengan sebutan Pandawa, dengan Yudistira sebagai putra sulung. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikan posisinya sebagai kepala pemerintahan sementara sampai kelak putra sulung Pandu dewasa. Kelima putra Pandu (Pandawa) dan seratus putra Dretarastra (Korawa) tinggal bersama di istana Hastinapura dan dididik oleh guru yang sama, bernama Drona dan Krepa. Disamping itu, mereka dibimbing oleh seorang bijak bernama Bisma, kakek mereka. Oleh guru dan kakeknya, Yudistira dianggap pantas meneruskan takhta Kerajaan Kuru, sebab ia berkepribadian baik. Disamping itu, Yudistira merupakan pangeran yang tertua di antara saudara-saudaranya.

Para Korawa, khususnya Duryodana, berambisi menguasai takhta Dinasti Kuru. Namun ambisi tersebut terhalangi sebab Yudistira dipandang lebih layak menjadi Raja Kuru daripada Duryodana. Untuk mewujudkan ambisinya, Duryodana berusaha menyingkirkan Yudistira dan para Pandawa dengan berbagai upaya, termasuk melakukan usaha pembunuhan. Namun kelima putra Pandu tersebut selalu selamat dari kematian, berkat perlindungan dari pamannya dan sepupu mereka, yaitu Widura dan Kresna.

Sebuah pohon beringin yang dikeramatkan di Kurukshetra, yang dianggap sebagai saksi bisu saat Sri Kresna menurunkan sloka-sloka suci dalam kitab Bhagawadgita, sesaat sebelum perang berlangsung.

Setelah gagal dalam usaha pembunuhan, kemudian Korawa memutuskan untuk menipu para Pandawa dengan cara mengajak mereka bermain dadu, dengan syarat yang kalah harus meninggalkan istana selama tiga belas tahun. Permainan dadu yang sudah disetel dengan licik mengakibatkan Pandawa kalah, sehingga mereka harus meninggalkan kerajaan selama tiga belas tahun dan terpaksa mengasingkan diri ke hutan. Sebelum Pandawa dibuang, Dretarastra berjanji akan menyerahkan takhta kerajaan Kuru kepada Yudistira sebab ia merupakan putra mahkota Dinasti Kuru yang sulung.

Setelah masa pengasingan selama tiga belas tahun berakhir, sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak meminta kembali kerajaannya. Namun Duryodana menolak mentah-mentah untuk menyerahkan kembali kerajaannya. Meskipun mendapatkan tanggapan seperti itu, Yudistira dan adik-adiknya masih mampu bersabar. Sebagai seorang pangeran, Pandawa merasa wajib dan berhak turut serta dalam administrasi pemerintahan, maka mereka meminta lima buah desa saja. Tetapi Duryodana sombong dan berkata bahwa ia tidak bersedia memberikan tanah kepada para Pandawa, bahkan yang seluas ujung jarum pun. Jawaban itu membuat para Pandawa tidak bisa bersabar lagi dan perang tak bisa dihindari. Di pihak lain, Duryodana pun sudah mengharapkan peperangan.

 

Tujuan damai Sri Kresna

Sebelum keputusan untuk berperang diumumkan, para Pandawa berusaha mencari sekutu dengan mengirimkan surat permohonan kepada para raja di daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para Pandawa jika perang tidak batal dilakukan. Begitu juga yang dilakukan oleh para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para raja di daratan India Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.

Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan, maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum meninggalkan istana. Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya. Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.

Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi. Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para sekutu bahwa perang besar akan terjadi.

 

Persiapan perang

Kresna tidak bersedia bertempur secara pribadi. Ia mengajukan pilihan kepada para Pandawa dan Korawa, bahwa salah satu boleh meminta pasukan Kresna yang jumlahnya besar sementara yang lain boleh memanfaatkan tenaganya sebagai seorang ksatria. Mendapat kesempatan itu, Arjuna dan Duryodana pergi ke Dwaraka untuk memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Duryodana jenius di bidang politik, maka ia memilih tentara Kresna. Sedangkan para Pandawa yang diwakili Arjuna, bersemangat untuk meminta tenaga Sri Kresna sebagai seorang penasihat dan memintanya agar bertempur tanpa senjata di medan laga. Sri Kresna bersedia mengabulkan permohonan tersebut, dan kedua belah pihak merasa puas.

Pandawa telah mendapatkan tenaga Kresna, sementara Korawa telah mendapatkan tentara Kresna. Persiapan perang dimatangkan. Sekutu kedua belah pihak yang terdiri dari para Raja dan ksatria gagah perkasa dengan diringi pasukan yang jumlahnya sangat besar berdatangan dari berbagai penjuru India dan berkumpul di markasnya masing-masing. Pandawa memiliki tujuh divisi sementara Korawa memiliki sebelas divisi. Beberapa kerajaan pada zaman India kuno seperti Kerajaan Dwaraka, Kerajaan Kasi, Kerajaan Kekeya, Magada, Matsya, Chedi, Pandya dan wangsa Yadu dari Mandura bersekutu dengan para Pandawa; sementara sekutu para Korawa terdiri dari Raja Pragjyotisha, Raja Angga, Raja Kekaya, Raja Sindhu, kerajaan Kosala, Kerajaan Awanti, Kerajaan Madra, Kerajaan Gandhara, Kerajaan Bahlika, Kamboja, dan masih banyak lagi.

 

Pihak Pandawa

Pasukan Pandawa dibagi menjadi tujuh aksohini (divisi). Setiap aksohini dipimpin oleh Raja Drupada dan kedua putranya Drestadyumna dan Srikandi  dari Panchala, Raja Wirata dari Matsya, Satyaki, Cekitana dan Bima. Setelah berunding dengan para pemimpin mereka, para Pandawa menunjuk Drestadyumna sebagai panglima perang pasukan Pandawa. Kitab Mahabharata menyebutkan bahwa seluruh kerajaan di daratan India utara bersekutu dengan Pandawa dan memberikannya pasukan yang jumlahnya besar. Beberapa di antara mereka yakni: Kerajaan Kekeya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, dan masih banyak lagi.

 

Pihak Korawa

Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak akan tega menyakiti para Pandawa. Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan membiarkannya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya. Bisma juga tidak ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah daripada kastanya. Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Pasukan dibagi menjadi sebelas divisi. Seratus Korawa dipimpin oleh Duryodana sendiri bersama dengan adiknya Dursasana, putera kedua Dretarastra, dan dalam pertempuran tersebut Korawa dibantu oleh Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa Jayadrata, serta guru mereka Krepa. Selain itu, turut pula Kertawarma dari Wangsa Yadawa, Salya dari Madra, Sudaksina dari Kamboja, Burisrawa putra Somadatta, Raja Bahlika, Sangkuni dari Gandhara, Wrehadbala Raja Kosala, Winda dan Anuwinda dari Awanti, dan masih banyak lagi para ksatria dan raja yang memihak Korawa demi Hastinapura maupun Dretarastra.

Peta kerajaan pada zaman India kuno. Seluruh kerajaan menjadi dua kelompok yang memihak Korawa maupun Pandawa. Daratan Kurukshetra terletak di sebelah utara.

Pihak netral

Kerajaan Widarbha dan rajanya, Raja Rukmi, selayaknya kakak Kresna, Balarama, adalah pihak yang netral dalam peperangan tersebut.

 

pasukan dan persenjataan

Setiap pihak memiliki jumlah pasukan yang besar. Pasukan tersebut dibagi ke dalam aksohini (divisi). Setiap aksohini berjumlah 218.700 prajurit yang terdiri dari :

Ø 21.870 pasukan berkereta kuda

Ø 21.870 pasukan penunggang gajah

Ø 65.610 pasukan penunggang kuda

Ø 109.350 tentara darat (infantri)

Perbandingan jumlah mereka adalah 1:1:3:5. Pasukan Pandawa memiliki 7 divisi, dengan total pasukan 1.530.900 prajurit. Pasukan Korawa memiliki 11 divisi, dengan total pasukan 2.405.700 prajurit. Total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang adalah 3.936.600 orang. Jumlah pasukan yang terlibat dalam perang sangat banyak, sebab divisi pasukan kedua belah pihak merupakan gabungan dari divisi pasukan kerajaan lain diseluruh daratan India.

Senjata yang digunakan dalam perang di Kurukshetra merupakan senjata kuno dan primitif, contohya: panah, tombak, pedang, golok, kapak-perang, gada, dan sebagainya. Para ksatria terkemuka seperti Arjuna, Bisma, Karna, Aswatama, Drona, dan Abimanyu, memilih senjata panah karena sesuai dengan keahlian mereka. Bima dan Duryodana memilih senjata gada untuk bertarung. Meskipun demikian, tidak selamanya ksatria tersebut hanya menggunakan satu jenis senjata saja. Kadang kala, Bima menggunakan panah, sedangkan Abimanyu menggunakan pedang.

 

FORMASI PASUKAN

Ilustrasi formasi Cakrabyuha (formasi melingkar), salah satu formasi perang yang digunakan oleh pihak Korawa.

Formasi militer adalah hal yang penting untuk mencapai kemenangan dalam peperangan. Dengan formasi yang baik dan sempurna, maka musuh juga lebih mudah ditaklukkan. Ada beberapa formasi militer yang disebutkan dalam Mahabharata, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Beberapa macam formasi militer tersebut sebagai berikut :

1.     Krauncabyuha (formasi bangau)

2.     Cakrabyuha (formasi cakram/melingkar)

3.     Kurmabyuha (formasi kura-kura)

4.     Makarabyuha (formasi buaya)

5.     Trisulabyuha (formasi trisula)

6.     Sarpabyuha (formasi ular)

7.     Kamalabyuha atau Padmabyuha (formasi teratai)

Sulit mengindikasi dengan tepat makna dari nama-nama formasi tersebut. Nama formasi mungkin saja mengindikasi bahwa sebuah pasukan memilih suatu bentuk tertentu (seperti elang, bangau, dll.) sebagai formasi, atau mungkin saja nama suatu formasi berarti strategi mereka mirip dengan suatu hewan / hal tertentu.

 

Aturan perang

Dua pemimpin tertinggi dari kedua belah pihak bertemu dan membuat peraturan tentang perlakuan yang etis (Dharmayuddha) sebagai aturan perang. Peraturan tersebut sebagai berikut :

1.     Pertempuran harus dimulai setelah matahari terbit dan harus segera dihentikan saat matahari terbenam.

2.     Pertempuran satu lawan satu; tidak boleh mengeroyok prajurit yang sedang sendirian.

3.     Dua kesatria boleh bertempur secara pribadi jika mereka memiliki senjata yang sama atau menaiki kendaraan yang sama (kuda, gajah, atau kereta).

4.     Tidak boleh membunuh prajurit yang menyerahkan diri.

5.     Seseorang yang menyerahkan diri harus menjadi tawanan perang atau budak.

6.     Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.

7.     Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.

8.     Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.

9.     Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.

10. Tidak boleh menyerang wanita.

11. Tidak boleh menyerang hewan yang tidak dianggap sebagai ancaman langsung.

Peraturan khusus yang dibuat untuk setiap senjata mesti diikuti. Sebagai contoh, dilarang memukul bagian pinggang ke bawah pada saat bertarung menggunakan gada. Bagaimanapun juga, para kesatria tidak boleh berjanji untuk berperang dengan curang. Meskipun aturan perang telah disepakati, banyak prajurit dan kesatria dari kedua belah pihak yang melanggarnya, dan tidak jarang mereka melakukannya.

 

Jalannya pertempuran

Pertempuran berlangsung selama 18 hari. Pertempuran berlangsung pada saat matahari muncul dan harus segera diakhiri pada saat matahari terbenam. Kedua belah pihak bertarung di dataran Kurukshetra dan setiap hari terjadi pertempuran yang berlangsung sengit dan mengesankan. Dalam setiap pertarungan yang terjadi dalam 18 hari tersebut, ksatria yang tidak terbunuh dan berhasil mempertahankan nyawanya adalah pemenang karena pertempuran tersebut adalah pertempuran menuju kematian. Siapa yang bertahan hidup dan berhasil memusnahkan lawan-lawannya, dialah pemenangnya.

 

Beberapa saat sebelum perang

Pada hari pertempuran pertama, begitu juga pada hari-hari berikutnya, pasukan para Korawa berbaris menghadap barat sedangkan pasukan para Pandawa berbaris menghadap timur. Pasukan Korawa membentuk formasi seperti burung elang: pasukan penunggang gajah sebagai tubuhnya; pasukan para Raja dan ksatria di barisan depan sebagai kepalanya; dan pasukan penunggang kuda sebagai sayapnya. Dalam urusan perang, Bisma berkonsultasi dengan panglima Drona, Bahlika dan Krepa.

Pasukan Pandawa diatur oleh Yudistira dan Arjuna agar membentuk formasi Bajra. Karena pasukan Pandawa lebih kecil daripada pasukan Korawa, maka strategi berperang dibuat agar memungkinkan pasukan yang kecil untuk menyerang pasukan yang besar. Sesuai strategi Pandawa, pasukan pemanah akan menghujani musuh dengan panah dari belakang pasukan garis depan. Pasukan garis depan menggunakan senjata langsung jarak pendek seperti: gada, pedang, kapak, tombak, dll. Pasukan Korawa terdiri dari sebelas divisi di bawah perintah Bisma. Sepuluh divisi pasukan Korawa membentuk barisan yang sangat hebat, sedangkan divisi kesebelas masih berada di bawah aba-aba langsung dari Bisma, dan sebagian divisi melindunginya dari serangan langsung karena Bisma sangat berguna dan merupakan harapan untuk menang.

Setelah sepakat dengan formasi dan strategi masing-masing, pasukan kedua belah pihak berbaris rapi. Duryodana optimis melihat pasukan Korawa memiliki para kesatria tangguh yang setara dengan Bima dan Arjuna. Namun ada tokoh-tokoh lain yang setara dengan mereka seperti Yuyudana (Satyaki), Wirata, dan Drupada yang ia anggap sebagai batu rintangan dalam mencapai kajayaan dalam pertempuran. Ia juga optimis karena ksatria-ksatria yang sangat ahli di bidang militer, yaitu Bisma, Karna, Kertawarma, Wikarna, Burisrawa, dan Krepa, ada di pihaknya. Selain itu Raja agung seperti Yudhamanyu dan Uttamauja yang sangat perkasa juga turut berpartisipasi dalam pertempuran sebagai penghancur bagi musuh-musuhnya. Bisma, dengan diikuti oleh Para Raja dan ksatria dari kedua belah pihak meniup sangkala (terompet kerang) mereka tanda pertempuran akan segera dimulai.

Ketika terompet sudah ditiup dan kedua pasukan sudah berhadap-hadapan, bersiap-siap untuk bertempur, Arjuna menyuruh Kresna, guru spiritual sekaligus kusir keretanya, agar mengemudikan keretanya menuju ke tengah medan pertempuran supaya ia bisa melihat, siapa yang siap bertempur dan siapa yang harus ia hadapi. Tiba-tiba Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan wangsa Bharata, keturunan Kuru, nenek moyangnya. Arjuna juga dilanda kebimbangan akan melanjutkan pertarungan atau tidak. Ia melihat kakek tercintanya, bersama-sama dengan gurunya, paman, saudara sepupu, ipar, mertua, dan teman bermain semasa kecil, semuanya kini berada di Kurukshetra, harus bertarung dengannya dan saling bunuh. Arjuna merasa lemah dan tidak tega untuk melakukannya.

Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang merupakan ajaran agama, mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama. Kresna, yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna, menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang kesatria, agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawadgita. Dalam Bhagawadgita, Kresna menyuruh Arjuna untuk tidak ragu dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang ksatria yang berada di jalur yang benar. Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban Arjuna adalah membunuh siapa saja yang ingin mengalahkan kebajikan dengan kejahatan. Kemudian Sri Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa ia sesungguhnya sehingga segala keraguan dalam hatinya sirna. Dalam wujud semesta tersebut, ia meyakinkan Arjuna bahwa sebagian besar para ksatria perkasa dikedua belah pihak telah dihancurkan, dan yang bertahan hidup hanya beberapa orang saja, maka tanpa ragu Arjuna harus mau bertempur.

Sebuah patung di Singapura, yang menggambarkan adegan Kresna menampakkan wujud rohaninya (Wiswarupa) kepada Arjuna.

Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira melakukan sesuatu yang mengejutkan. Tiba-tiba ia meletakkan senjata, melepaskan baju zirah, turun dari kereta dan berjalan ke arah pasukan Korawa dengan mencakupkan tangan seperti berdoa. Para Pandawa dan para Korawa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, dan mereka berpikir bahwa Yudistira sudah menyerah bahkan sebelum panah sempat melesat. Ternyata Yudistira tidak menyerah. Dengan hati yang suci Yudistira menyembah Bisma dan memohon berkah akan keberhasilan. Bisma, kakek dari para Pandawa dan Korawa, memberkati Yudistira. Setelah itu, Yudistira kembali menaiki keretanya dan pertempuran siap untuk dimulai.

 

Hari pertama

Setelah isyarat penyerangan diumumkan, kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang tentara Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu putra Arjuna melihat hal tersebut dan menyuruh para pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya, tetapi usaha para kesatria Pandawa tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan.

Putra Raja Wirata Utara maju menghadapi Salya Raja Madra. Utara yang menaiki gajah perang, mencoba melumpuhkan kereta perang Salya. Setelah keretanya lumpuh, Salya meluncurkan senjata lembingnya ke arah Utara. Senjata tersebut menembus baju zirah Utara. Kemudian, Salya menyerang gajah tunggangan Utara dengan panah-panahnya. Utara dan gajahnya pun gugur seketika. Setelah Utara gugur, Sweta mengamuk. Dengan nafsu membunuh, ia mengejar Salya. Para kesatria Korawa yang menyadari hal itu segera melindungi Salya, tetapi tidak ada yang mampu mengatasi kemarahan Sweta. Akhirnya Bisma turun tangan. Dengan senjata khusus, ia memanah Sweta sehingga kesatria tersebut gugur seketika.

Ketidakmampuan Pandawa melawan Bisma, serta kematian Utara dan Sweta pada hari pertama, membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.

 

Hari kedua

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, tetapi para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Bima yang melihat keadaan tersebut menyongsong Drestadyumna dan menyelamatkan nyawanya. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, tetapi serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Satyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

 

Hari ketiga

Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, tetapi dicegah oleh Arjuna.

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna. Kemudian kereta Arjuna diserbu oleh berbagai panah dan tombak. Dengan kemahirannya yang hebat, Arjuna membentengi keretanya dengan arus panah yang tak terhitung jumlahnya.

Abimanyu dan Satyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bima dan putranya, Gatotkaca, menyerang Duryodana yang berada di barisan belakang. Panah Bima melesat menuju Duryodana yang menukik di atas keretanya. Kusir keretanya segera membawanya menjauhi pertempuran. Tentara Duryodana melihat pemimpinnya menjauhi pertarungan. Bisma melihat hal tersebut lalu menyuruh agar pasukan bersiap siaga dan membentuk kembali formasi, kemudian Duryodana datang kembali dan memimpin tentaranya. Duryodana marah kepada Bisma karena masih segan untuk menyerang para Pandawa. Bisma kemudian sadar dan mengubah perasaannnya kepada para Pandawa.

Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bisma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil sejata cakranya dan berlari ke arah Bisma. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

 

Hari keempat

Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para kesatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana merasa sedih telah kehilangan saudara-saudaranya.

Saat pertempuran pada hari itu berakhir, Duryodana yang diliputi duka dan kekecewaan datang menemui Bisma untuk menanyakan penyebab Pandawa mampu bertahan dan mengalahkan kekuatan pasukan Korawa yang konon amat dahsyat. Bisma menjawab bahwa Pandawa bertindak di bawah panji kebenaran, sehingga lebih baik mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Namun Duryodana yang keras kepala tidak mau menuruti nasihat tersebut.

 

Hari kelima

Pada hari kelima, pertempuran terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Satyaki berhadapan dengan Drona dan kesulitan untuk membalas serangannya. Bima pergi meninggalkan Srikandi yang menyerang Bisma. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Satyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawa dan kemudian Satyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Satyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

 

Hari keenam

Yudistira menyuruh Drestadyumna agar membentuk formasi Makara, dengan Drupada dan Arjuna sebagai pemimpin garis depan. Untuk menandingi kekuatan Yudistira, Bisma menginstruksikan agar pasukan Korawa membentuk formasi burung bangau, dengan Balhika dan angkatan perangnya sebagai pemimpin garis depan.

Bima bertarung melawan Drona dengan sengit. Bima memanah kusir kereta Drona sehingga tewas seketika. Drona mengambil alih kedudukan kusirnya, lalu menghancurkan sebagian besar pasukan Pandawa. Serangan Drona dihadapi oleh Drestadyumna. Sementara itu, Bima melancarkan serangan ke garis pertahanan yang terdiri dari putra-putra Dretarastra, yaitu: Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Duskarna, Karna (Karna adik Duryodana, bukan Karna sahabat Duryodana). Mereka semua mengepung Bima dari segala penjuru. Bima meloncat turun dari keretanya sambil membawa gada. Di tengah pasukan musuh, Bima mengamuk sehingga pasukan Korawa kacau-balau. Melihat Bima dalam bahaya, Drestadyumna segera meninggalkan Drona dengan maksud membantu Bima. Dengan bantuan Drestadyumna, Bima menghancurkan pasukan Korawa dengan lebih mudah.

Setelah menyaksikan Bima dalam bahaya, Yudistira mengirim Abimanyu untuk membantu pamannya tersebut. Abimanyu melawan para putra Dretarastra, sementara Duryodana dihadapi oleh lima putra Dropadi, yaitu Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika, dan Srutakirti. Menjelang sore hari, Bisma masih mengamuk menghancurkan pasukan Pandawa. Akhirnya, matahari terbenam dan seluruh pasukan ditarik mundur pada malam hari itu.

 

Hari ketujuh

Pada hari ketujuh, pasukan Korawa di bawah instruksi Bisma membentuk formasi Mandala. Untuk mengantisipasinya, Yudistira menginstruksikan agar pasukan Pandawa membentuk formasi Bajra. Arjuna berhasil merusak formasi Mandala, sehingga Bisma maju untuk menghadapinya. Sementara itu, Drona bertarung menghadapi Wirata Raja Matsya. Dengan serangan panahnya, Drona membuat kereta perang Wirata lumpuh. Kemudian Wirata meloncat dari keretanya untuk berpindah ke kereta Sangka, putranya. Meskipun Wirata dan Sangka sudah menggabungkan kekuatan, tetapi Drona masih tak terkalahkan. Sebaliknya, Drona berhasil menembakkan empat batang panah penembus baju zirah ke arah Sangka. Panah tersebut bersarang di dada Sangka, kemudian merenggut nyawanya.

Sementara itu, Satyaki bertarung menghadapi raksasa Alambusa, sedangkan Drestadyumna menghadapi Duryodana. Satyaki berhasil mengalahkan raksasa Alambusa, sementara Drestadyumna berhasil melukai tubuh Duryodana dengan tujuh anak panah. Kemudian panah-panah menembus tubuh kuda dan kusir kereta Duryodana sehingga kendaraan tersebut lumpuh. Duryodana meloncat dari keretanya lalu diselamatkan oleh pamannya, Sangkuni dari Gandhara. Di tempat lain, Srikandi maju menghadapi Bisma. Bisma tidak menghiraukan Srikandi karena kesatria tersebut bersifat kewanitaan, sehingga ia lebih memilih menghancurkan pasukan Srinjaya, sekutu Pandawa.

Pada hari tersebut, para kesatria Korawa lebih banyak menderita kekalahan dibandingkan pihak Pandawa. Hal tersebut membuat Dretarastra, ayah para Korawa merasa sedih. Sanjaya, penasihat Dretarastra mengatakan bahwa ia tidak perlu bersedih sebab kehancuran putra-putranya disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Sanjaya menambahkan, bahwa kematian para kesatria yang gugur di medan perang akan membuka jalan surga bagi mereka.

 

Hari kedelapan

Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra, yaitu: Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka dan Wisalaksa. Sunaba, Adityaketu, Aparajita dan Wisalaksa gugur dengan kepala terpenggal, sedangkan yang lainnya gugur karena senjata panah yang diluncurkan Bima. Setelah menyaksikan kematian mereka, Duryodana memerintahkan para saudaranya yang masih hidup untuk membunuh Bima. Namun tak satu pun putra Dretarastra yang berani maju menghadapi Bima setelah mereka menyaksikan kematian delapan saudaranya.

Sementara itu, Sangkuni putra Subala, dengan didampingi oleh putra Hredika dari kerajaan Satwata, menyerbu pasukan Pandawa. Pasukan penyerbu tersebut merupakan kavaleri gabungan dari berbagai kerajaan di India, seperti Kamboja, Sindhu, Mahi, Aratta, dll. Untuk menandinginya, Irawan putra Arjuna maju ke medan laga sambil membawa pasukan berkuda dalam jumlah besar. Dengan pedang dan panah, Irawan berhasil membunuh para saudara Sangkuni, kecuali Wresaba.

Setelah pasukan putra Subala kacau balau, Duryodana mengirim raksasa Alambusa untuk membunuh Irawan. Kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Irawan melawan Alambusa. Keduanya sama-sama menggunakan kekuatan sihir, sama-sama sakti dan saling menghancurkan. Saat Irawan memunculkan seekor naga raksasa, Alambusa menanggapinya dengan menjelma menjadi seekor burung garuda raksasa. Burung siluman tersebut berhasil membunuh naga siluman yang dipanggil Irawan. Hal itu membuat Irawan terpaku menyaksikan kekalahannya. Pada saat itu juga, Alambusa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenggal leher Irawan.

 

Hari kesembilan

Pada hari kesembilan, Abimanyu putra Arjuna menghancurkan laskar Korawa sambil mengamuk. Para kesatria terkemuka di pihak Korawa tidak mampu menghadapinya, karena seolah-olah Abimanyu merupakan Arjuna yang kedua. Melihat prajuritnya tercerai-berai, Duryodana memutuskan untuk mengirim raksasa Alambusa, putra Resyasringga. Raksasa tersebut menuruti perintah Duryodana. Ribuan prajurit Pandawa mati di tangannya, sehingga lima putra Dropadi bertindak. Mereka mencoba menahan serangan raksasa tersebut, tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, justru nyawa mereka yang terancam. Setelah melihat para saudara tirinya sedang terancam, Abimanyu segera datang membantu mereka sekaligus menghadapi raksasa Alambusa. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Abimanyu melawan raksasa Alambusa. Dengan kemahirannya menggunakan senjata panah, Abimanyu berhasil mengalahkan Alambusa sehingga raksasa tersebut turun dari keretanya sambil melarikan diri karena kesakitan.

Setelah Alambusa mengalami kekalahan, Bisma segera menghadapi Abimanyu. Dengan dikawal oleh para kesatria tangguh dari pihak Korawa, Bisma maju menerjang Abimanyu. Pada saat itu juga, Arjuna datang membantu Abimanyu. Kemudian Krepa menyerang Arjuna sehingga terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. melihat keadaan tersebut, Satyaki datang membantu Arjuna. Aswatama putra Drona, datang membantu Krepa dengan meluncurkan panah-panahnya. Namun ternyata Satyaki mampu bertahan, bahkan membalas serangan Aswatama secara bertubi-tubi. Setelah Aswatama lelah menghadapinya, Drona muncul untuk membantu putranya tersebut. Sedangkan dari pihak Pandawa, Arjuna maju membantu Satyaki. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Arjuna melawan Drona. Meskipun demikian, baik Arjuna maupun Drona mampu bertahan hidup sebab mereka sama-sama sakti.

Kemudian, Kresna mengingatkan Arjuna untuk segera membunuh Bisma. Maka dari itu, Arjuna segera memerintahkan Kresna untuk menjalankan keretanya menuju Bisma. Saat menghadapi Bisma, Arjuna masih segan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya, sehingga pertarungan terlihat tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Melihat keadaan itu, Kresna menjadi marah. Ia turun dari keretanya sambil membawa cemeti dengan tujuan membunuh Bisma. Bisma tidak mengelak saat melihat tindakan Kresna. Sebaliknya, ia ikhlas apabila nyawanya melayang di tangan Kresna. Menanggapi hal tersebut, Arjuna segera meloncat dari keretanya, lalu memeluk kaki Kresna untuk menghentikan gerakan Kresna. Sekali lagi, Arjuna memohon agar Kresna meredam amarahnya. Kresna hanya diam setelah mendengar permohonan Arjuna. Kemudian mereka kembali menaiki kereta untuk melanjutkan peperangan.

 

Hari kesepuluh

Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan Bisma menyusun suatu strategi. Mereka berencana untuk menempatkan Srikandi di depan kereta Arjuna, sementara Arjuna sendiri akan menyerang Bisma dari belakang Srikandi. Srikandi dipilih sebagai tameng Arjuna sebab ia merupakan seorang wanita yang berganti kelamin menjadi pria, dan hal itu membuat Bisma enggan menyerang Srikandi. Disamping itu, Srikandi merupakan reinkarnasi Amba, wanita yang mati karena perasaannya disakiti oleh Bisma, dan bersumpah akan terlahir kembali sebagai pembunuh Bisma yang menjadi penyebab atas penderitaannya.

Srikandi menyerang Bisma, tetapi Bisma tidak menghiraukan serangannya. Sebaliknya, ia malah tertawa, sebab ia tahu bahwa kehadiran Srikandi merupakan pertanda buruk yang mampu mengantarnya menuju takdir kekalahan. Bisma juga tahu bahwa ia ditakdirkan gugur karena Srikandi, maka dari itu ia merasa sia-sia untuk melawan takdirnya. Bisma yang tidak tega untuk menyerang Srikandi, tidak bisa menyerang Arjuna karena tubuh Srikandi menghalanginya. Hal itu dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu menembus baju zirahnya. Ratusan panah yang ditembakkan Arjuna menembus tubuh Bisma dan menancap di dagingnya.

Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah yang menancap di tubuhnya. Setelah Bisma jatuh, pasukan Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk meletakkan tiga anak panah di bawah kepalanya sebagai bantal. Kemudian, Bisma meminta dibawakan air. Tanpa ragu, Arjuna menembakkan panahnya ke tanah, lalu menyemburlah air dari tanah ke mulut Bisma. Meskipun tubuhnya ditancapi ratusan panah, Bisma masih mampu bertahan hidup sebab ia diberi anugrah untuk bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia memberi wejangan kepada para cucunya yang melakukan peperangan. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu hidup selama beberapa hari sambil menyaksikan kehancuran pasukan Korawa.

 

Hari kesebelas

Setelah kekalahan Bisma pada hari kesepuluh, Karna memasuki medan laga dan melegakan hati Duryodana. Ia mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Membunuh Yudistira di medan laga hanya membuat para Pandawa semakin marah, sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi perang. Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira. Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana Duryodana.

 

Hari kedua belas

Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta Susarma bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, gugur di tangan Arjuna. Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.

 

Hari ketiga belas

Duryodana memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha (pada zaman sekarang disebut Assam, sebuah wilayah di India). Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki ribuan gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya, dan ia dianggap sebagai kesatria terkuat di antara seluruh kesatria penunggang gajah pada zamannya. Bhagadatta menyerang Arjuna dengan mengendarai gajah raksasanya yang bernama Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhagadatta terjadi dengan sangat sengit.

Saat Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, di tempat lain, empat Pandawa sulit mematahkan formasi Cakrabyuha yang disusun Drona. Yudistira melihat hal tersebut dan menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk merusak formasi Cakrabyuha, sebab Yudistira tahu bahwa hanya Arjuna dan Abimanyu yang bisa mematahkan formasi tersebut. Saat Abimanyu memasuki formasi tersebut, empat Pandawa melindunginya di belakang. Namun, keempat Pandawa dihadang Jayadrata sehingga Abimanyu memasuki formasuki Cakrabyuha tanpa perlindungan. Akhirnya, Abimanyu dikepung oleh para kesatria Korawa, lalu terbunuh oleh serangan serentak.

Menjelang akhir hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susarma gugur di tangan Arjuna. Sementara itu, Abimanyu gugur karena terjebak dalam formasi Cakrabyuha. Setelah mengetahui kematian putranya, Arjuna marah pada Jayadrata yang menghalangi usaha para Pandawa untuk melindungi Abimanyu. Ia bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari keempat belas. Ia juga bersumpah bahwa jika ia tidak berhasil melakukannya sampai matahari terbenam, ia akan membakar dirinya sendiri.

 

Hari keempat belas

Saat berusaha mencari Jayadrata di medan pertempuran, Arjuna menghancurkan satu aksauhini (109.350 tentara) prajurit Korawa. Pasukan Korawa melindungi Jayadrata dengan baik, untuk mencegah Arjuna menyerangnya. Akhirnya, menjelang sore, Arjuna mendapati bahwa Jayadrata dikawal oleh Karna dan lima kesatria perkasa lainnya. Setelah melihat keadaan temannya, Kresna mengangkat Sudarsana Cakra-nya untuk menutupi matahari, menipu seolah-olah matahari terbenam. Seluruh prajurit menghantikan pertempuran karena merasa bahwa siang hari telah berakhir. Dengan demikian, Jayadrata tanpa perlindungan. Saat matahari menampakkan sinar terakhirnya pada hari tersebut, Arjuna menembakkan panah dahsyatnya yang kemudian memenggal kepala Jayadrata.

Pertempuran berlanjut setelah matahari terbenam. Saat bulan tampak bersinar, Gatotkaca, putra Bima membunuh banyak kesatria, dan menyerang lewat udara. Karna menghadapinya lalu mereka bertarung dengan sengit, sampai akhirnya Karna mengeluarkan Indrastra, sebuah senjata surgawi yang diberikan kepadanya oleh Dewa Indra. Gatotkaca yang menerima serangan tersebut lalu memperbesar ukuran tubuhnya. Ia gugur seketika kemudian jatuh menimpa ribuan prajurit Korawa.

 

Hari kelima belas

Setelah Raja Drupada dan Raja Wirata dibunuh oleh Drona, Bima dan Drestadyumna bertarung dengannya pada hari kelima belas. Karena Drona amat kuat dan memiliki brahamastra (senjata ilahi) yang tak terkalahkan, Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan menyerah apabila Aswatama putranya gugur dalam perang tersebut. Kemudian Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, dan berteriak dengan keras bahwa Aswatama gugur.

Drona mendekati Yudistira untuk mencari kepastian tentang kematian putranya. Yudistira berkata "Ashwathama Hatha Kunjara", tetapi dua kata terakhir "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna (versi yang berbeda menyebutkan bahwa Yudistira melafalkan kata-kata terakhir tersebut dengan sangat pelan sehingga Drona tidak mendengar kata "gajah"). Sebelum peristiwa tersebut, kereta perang Yudistira, yang disebut Dharmaraja (Raja Kebenaran), melayang beberapa inci dari tanah. Setelah peristiwa tersebut, keretanya menyentuh tanah. Setelah menduga bahwa putranya telah tiada, Drona merasa berdukacita, dan menjatuhkan senjatanya. Kemudian ia dibunuh oleh Drestadyumna untuk membalaskan dendam ayahnya sekaligus melaksanakan sumpahnya.

Setelah perang pada hari itu berakhir, Kunti (ibu para Pandawa) secara rahasia pergi menemui Karna, putra yang dibuangnya, dan memintanya untuk mengampuni nyawa para Pandawa, karena mereka adalah adiknya. Karna berjanji pada Kunti bahwa ia akan mengampuni nyawa para Pandawa, kecuali Arjuna.

 

Hari keenam belas

Pada hari keenam belas, Karna menjadi panglima tertinggi pasukan Korawa. Ia membunuh banyak prajurit pada hari itu. Sebuah pertempuran sengit terjadi antara Arjuna melawan Karna. Bahkan Kresna memuji Karna atas keberaniannya. Akhirnya Karna berhasil memutuskan tali busur Arjuna. Tepat saat Karna akan membunuh Arjuna, matahari terbenam. Karena memperhatikan peraturan peperangan, Karna mengampuni nyawa Arjuna.

Ada versi berbeda mengenai akhir hari kedelapan belas. Diceritakan bahwa Karna bertempur dengan gagah berani meski dikelilingi para jendral pasukan Pandawa. Mereka semua tidak mampu melawannya. Karna memberi serangan mematikan pada pasukan Pandawa sehingga mereka melarikan diri. Kemudian Arjuna berhasil mematahkan senjata Karna dengan senjatanya sendiri, dan juga memberikan serangan mematikan pada pasukan Korawa. Tak lama kemudian matahari terbenam, dan karena kegelapan dan debu membuat pertempuran berlangsung dengan sulit, maka pasukan Korawa ditarik mundur, dengan tujuan menghindari pertempuran di malam hari.

 

Hari ketujuh belas

Karna mendorong roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur pada saat perang Baratayuda sebelum kematiannya

Bima memenuhi sumpahnya terhadap Dursasana di medan Kurukshetra

Pada hari ketujuh belas, Karna mengalahkan Bima dan Yudistira dalam pertempuran, tetapi nyawa mereka diampuni. Kemudian, Karna melanjutkan pertarungannya melawan Arjuna. Saat bertarung, roda kereta Karna terperosok ke dalam lumpur sehingga Karna meminta izin untuk menghentikan pertarungan sejenak. Melihat kesempatan tersebut, Kresna mengingatkan Arjuna tentang sikap Karna yang tidak berbelas kasihan pada Abimanyu saat Abimanyu terbunuh setelah kehilangan senjata dan keretanya. Terungkitnya kenangan pahit tersebut membuat hati Arjuna perih kembali. Kemudian, Arjuna menembakkan panahnya untuk memenggal Karna, pada saat Karna berusaha mengangkat roda keretanya yang terprosok ke dalam lumpur. Pada hari yang sama, Bima menghancurkan kereta Dursasana dengan gadanya. Bima menangkap Dursasana lalu membunuhnya, sehingga terpenuhilah sumpah yang dibuatnya saat Dropadi dipermalukan.

 

Hari kedelapan belas

Pada hari kedelapan belas, Salya Raja Madra diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa, menggantikan posisi Karna. Pada hari itu juga, Yudistira membunuh Raja Salya, Sadewa membunuh Sangkuni, dan Bima membunuh para adik Duryodana yang masih bertahan. Setelah sadar bahwa ia telah dikalahkan, Duryodana lari dari medan pertempuran lalu beristirahat di sebuah danau. Ahirnya para Pandawa berhasil menangkapnya. Di bawah pengawasan Baladewa, pertandingan gada berlangsung antara Bima melawan Duryodana, dimana akhirnya Duryodana mengalami kekalahan.

Aswatama, Krepa, dan Kertawarma bertemu Duryodana pada saat kesatria tersebut sedang sekarat. Mereka berjanji akan membalaskan dendamnya. Kemudian pada malam hari, mereka menyerang perkemahan para Pandawa, lalu membunuh lima putra Pandawa (Pancawala), Drestadyumna dan Srikandi.

 

Akhir peperangan

Hanya sepuluh kesatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kertawarma. Aswatama ditangkap oleh para Pandawa setelah ia melakukan pembunuhan di malam hari kedelapan belas, saat sekutu Pandawa sedang tidur. Krepa kembali ke Hastinapura, sedangkan Kertawarma ke kediaman Wangsa Yadu. Akhirnya, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, Yudistira menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit. Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali Yudistira, meninggal dalam perjalanan. Akhirnya Yudistira berhasil mencapai puncak Himalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.

 

Perkiraan kapan terjadinya perang

Para sarjana berusaha mencari tahu pada tahun berapa sebenarnya perang di Kurukshetra terjadi. Mereka menggunakan catatan dalam Mahābhārata, memperhitungkan posisi benda langit, menggunakan sistem kalender, bahkan sampai melakukan analisis radiokarbon.

Hasil perhitungan mereka sebagai berikut :

1.     Dr. S. Balakrishna menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 2559 SM dengan memperhitungkan gerhana bulan.

2.     Prof. I.N. Iyengar memperkirakan perang tersebut terjadi tahun 1478 SM dengan memperhitungkan gerhana dan garis lurus planet Saturnus, Jupiter.

3.     Dr. B.N. Achar menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 3067 SM dengan memperhitungkan posisi planet-planet yang dicantumkan dalam Mahabharata.

4.     Shri P.V. Holey yakin bahwa perang tersebut terjadi tanggal 13 November tahun 3143 SM dengan memperhitungkan posisi planet dan sistem kalender.

5.     Dr. P.V.Vartak mengatakan bahwa perang tersebut terjadi tanggal 16 Oktober tahun 5561 SM dengan memperhitungkan posisi planet.

6.     Beberapa sarjana memperkirakan usia perang di Kurukshetra tidak setua yang diperkirakan oleh sarjana di atas. John L Brockington memperkirakan perang tersebut sangat mungkin terjadi 900 SM. Pertempuran Sepuluh Raja, pertempuran antara Raja Bharata bernama Sudas dan perserikatan sepuluh suku yang muncul dalam Rgveda, dipercaya sebagai asal mula mitologi perang di Kurukshetra terjadi. Beberapa arkeolog India mencoba mencari tahu kapan sebenarnya perang di Kurukshetra terjadi, seperti penelitian belanga yang ditemukan di Ganges. Penelitian radiokarbon menunjukkan artifak tersebut berasal dari periode 800 - 350 SM.

 

Bharatayuddha

Bharatayuddha (Bhāratayuddha) adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut kisah perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa, tokoh utama wiracarita Mahabharata. Kata Bhāratayuddha adalah kata Sanskerta yang berarti Perang keturunan Bharata. Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari India yang telah diadaptasi di Jawa sebagai karya seni dalam bentuk kakawin dan wayang.

Istilah Bharatayuddha diambil dari judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada tahun 1157 oleh Empu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri. Sebenarnya kitab Bharatayuddha yang ditulis pada masa Kediri itu untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama-sama keturunan Raja Erlangga. Keadaan perang saudara itu digambarkan seolah-olah seperti yang tertulis dalam Kitab Mahabarata karya Byasa, yaitu perang antara Pandawa dan Korawa yang sebenarnya juga keturunan Byasa sang penulis.

Kisah Kakawin Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.

Di Yogyakarta, cerita Bharatayuddha ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848.

 

Latar belakang

Kakawin Bharatayuddha yang ditulis kembali oleh Gunning.

Sama halnya dengan versi Mahabharata dari India, Bharatayuddha merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryodana. Baik Pandawa maupun Korawa merupakan keturunan Bharata, yang dikisahkan dalam kitab Mahabharata sebagai seorang Cakrawartin (raja diraja), penguasa daratan Asia Selatan (India dan sekitarnya). Namun versi pewayangan Jawa menyebutkan bahwa perang Bharatayuddha sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata, bahkan sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India Utara, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gandari, dan Madri. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memilih ketiga putri itu dengan cara mengangkat satu per satu. Akhirnya terpilihlah Gandari yang mempunyai bobot paling berat, karena Dretarastra berpikir bahwa kelak Gandari akan mempunyai banyak anak, sama seperti impian Dretarastra. Hal ini membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Gandari merasa ia tak lebih dari piala bergilir. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.

Gandari dan adiknya, bernama Sangkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang (Korawa) untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu yang berjumlah lima orang (Pandawa). Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. Nyawa mereka selalu diincar oleh para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta kerajaan yang didirikan Yudistira melalui permainan dadu.

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di hutan selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Sebenarnya Yudhistira (saudara sulung dari Pandawa), hanya menginginkan lima desa saja untuk dikembalikan ke Pandawa, alih-alih Amarta seutuhnya. Namun Korawa tidak sudi memberikan sejengkal tanah pun kepada Pandawa. Akhirnya keputusan diambil lewat perang Bharatayuddha yang tidak dapat dihindari lagi.

 

Kitab Jitapsara

Dalam cerita pewayangan Jawa disebutkan adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam cerita Mahabharata dari India. Kitab tersebut bernama Jitabsara atau Jitapsara, yang berisi skenario (Jw.: pakem) jalannya pertempuran dalam Bharatayuddha, termasuk urutan siapa saja yang akan menjadi korban. Kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, sebagai juru catat atas apa yang dibahas oleh Batara Guru (raja kahyangan) dengan Batara Narada mengenai skenario tersebut.

Kresna, raja Dwarawati yang menjadi penasihat pihak Pandawa, berhasil mencuri dengar pembicaraan dan penulisan kitab tersebut dengan cara berubah wujud menjadi seekor lebah putih (Jw: Klanceng Putih). Ketika tiba pada bagian Prabu Baladewa (kakak Kresna) dipertarungkan dengan Antareja (anak Bima), Klanceng Putih menumpahkan tinta yang dipakai, sehingga bagian atau bab itu batal ditulis. Klanceng Putih kemudian menjelma menjadi Sukma Wicara, yakni bentuk halus (sukma) dari Batara Kresna. Sukma Wicara memprotes rencana pertarungan antara Prabu Baladewa dengan Antareja, karena Baladewa pasti akan kalah dari Antareja. Selain itu, Sukma Wicara meminta agar diperbolehkan memiliki Kitab Jitapsara itu.

Batara Guru merelakan kitab Jitapsara menjadi milik Kresna, asalkan ia selalu menjaga kerahasiaan isinya, serta bersedia menukarnya dengan Kembang Wijayakusuma, yaitu bunga pusaka milik Kresna yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati. Di samping itu, Batara Guru juga meminta Kresna untuk mengatur penyelesaian soal Baladewa dan Antareja. Kresna menyanggupinya. Sejak saat itu Kresna kehilangan kemampuannya untuk menghidupkan orang mati, tetapi ia mengetahui dengan pasti siapa saja yang akan gugur di dalam Bharatayuddha sesuai isi Kitab Jitapsara yang telah ditakdirkan oleh dewata. Kresna juga akan meminta Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu selama Bharatayuddha, dan meminta kesediaan Antareja untuk kembali ke alam abadi, sehingga pertempuran di antara kedua kesatria itu tidak terjadi.

 

Aturan peperangan

Pertarungan terakhir dalam Bharatayuddha antara Duryodana (kiri) melawan Bima.

Jalannya perang Bharatayuddha versi pewayangan Jawa sedikit berbeda dengan perang Kurukshetra versi Mahabharata. Menurut versi Jawa, pertempuran diatur sedemikian rupa sehingga hanya tokoh-tokoh tertentu yang ditunjuk saja yang maju perang, sedangkan yang lain menunggu giliran untuk maju. Sebagai contoh, apabila dalam versi Mahabharata, Duryodhana sering bertemu dan terlibat pertempuran melawan Bimasena, maka dalam pewayangan mereka hanya bertemu sekali, yaitu pada babak terakhir ketika Duryodana tewas di tangan Bima.

Dalam pihak Pandawa yang bertugas mengatur siasat peperangan adalah Kresna. Ia yang berhak memutuskan siapa yang harus maju, dan siapa yang harus mundur. sementara itu di pihak Korawa semuanya diatur oleh para penasihat Duryodana yaitu Bisma, Durna (Drona), dan Salya.

 

Pembagian babak

Di bawah ini disajikan pembagian kisah Bharatayuddha menurut versi pewayangan Jawa.

Babak 1: Jabelan (Kresna Duta)

Babak 2: Tawuran (Bisma Gugur)

Babak 3: Ranjapan/Renyuhan (Abimanyu Gugur)

Babak 4: Timpalan (Jayadrata/Burisrawa Lena)

Babak 5: Paluhan (Bogadenta Gugur)

Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur)

Babak 7: Jambakan (Durna/Dursasana Gugur)

Babak 8: Tandhingan (Karna Gugur)

Babak 9: Rubuhan (Salya/Duryodana Gugur)

Babak 10: Landakan (Aswatama Nglandak/Parikesit Lahir)

 

Jalannya pertempuran

Karena kisah Bharatayuddha yang tersebar di Indonesia dipengaruhi oleh kisah sisipan yang tidak terdapat dalam kitab aslinya (kitab dari India berbahasa Sanskerta), mungkin banyak terdapat perbedaan sesuai dengan daerah masing-masing. Meskipun demikian, inti kisahnya sama.

 

Babak pertama

Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta (Sweta) sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Korawa mengangkat Bisma (Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Durna (Drona) dan prabu Salya, raja Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti gunung samudra.

Tentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang dengan bermaksud membunuh Resi Seta. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada (pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putra mahkota Mandaraka tewas seketika.

Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Durna. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.

 

Babak Kedua

Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Trustajumena (Drestadyumna) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang).

Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa kembar, yaitu Wikataboma dan Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma (Susarma), raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Setyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna.

Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi.

 

Kutipan dari Kakawin Bharatayuddha

Kutipan di bawah ini mengambarkan suasana perang di Kurukshetra, yaitu setelah pihak Pandawa yang dipimpin oleh Raja Drupada menyusun sebuah barisan yang diberi nama Garuda yang sangat hebat untuk menggempur pasukan Korawa.

 

Ri huwusira pinūjā dé sang wīra sira kabèh, kṣana rahina kamantyan mangkat sang Drupadasuta, tka marêpatatingkah byūhānung bhaya bhisama, ngarani glarirèwêh kyāti wīra kagêpati

Setelah selesai dipuja oleh kesatria semuanya, maka pada siang hari berangkatlah sang putra raja Drupada (Drestadyumna), setibanya telah siap mengatur barisan yang sangat membahayakan; nama barisannya yang berbahaya ialah Garuda yang masyhur gagah berani.

 

Drupada pinaka têndas tan len Pārtha sira patuk, pararatu sira pṛṣṭa śrī Dharmātmaja pinuji, hlari têngênikī sang Dṛṣṭadyumna saha bala, kiwa Pawanasutā kas kocap Satyaki ri wugat.

Raja Drupada adalah kepala dan tak lain Arjuna sebagai paruh, para raja merupakan punggung dan Maharaja Yudistira sebagai pimpinan, sayap bagian kanan merupakan Sang Drestadyumna bersama bala tentara, sayap kiri merupakan Bima yang terkenal kekuatannya dan Satyaki pada ekornya.

 

Ya ta tiniru ṭkap Sang Śrī Duryodhana pihadhan, Śakuni pinaka têndas manggêh Śālya sira patuk, dwi ri kiwa ri têngên Sang Bhīṣma Droṇa panalinga, Kurupati sira pṛṣṭa dyah Duśśāsana ri wugat.

Hal itu ditiru pula oleh Sang Duryodana. Sang Sangkuni adalah kepala dan ditetapkan Raja Madra sebagai paruh, sayap kanan kiri adalah Resi Bisma dan pendeta Drona yang merupakan telinga, Kurupati (Duryodana) adalah punggung dan Sang Dursasana pada ekor.

 

Ri tlasira ma

tingkah ngkā Ganggāsuta numaso, rumusaki pakekesning byuhē pāndawa pinanah, dinasa guna tkap Sang Pārthāng lakṣa mamanahi, linudirakinambah de Sang Bhīma kasulayah.

Setelah semuanya selesai mengatur barisan, kala itu Resi Bisma maju ke muka, merusak bagian luar pasukan Pandawa dengan panah, dibalas oleh Arjuna berlipat ganda menyerang dengan panah, ditambah pula diterjang oleh Sang Bima sehingga banyak bergelimpangan.

 

Karananika rusāk syuh norā pakṣa mapuliha, pira ta kunangtusnyang yodhāgal mati pinanah, Kurupati Kṛpa Śalya mwang Duśśāsana Śakuni, padha malajêngumungsir Bhīṣma Droṇa pinaka toh.

Sebab itu binasa hancur luluh dan tak seorang pun hendak membalas, entah berapa ratus pahlawan yang gugur dipanah, Kurupati (Duryodana), Pendeta Krepa, Raja Salya, dan Sang Dursasana serta Sang Sangkuni, sama-sama lari menuju Resi Bisma dan Pendeta Drona yang merupakan taruhan.

 

Niyata laruta sakwèhning yodhā sakuru kula, ya tanangutusa sang śrī Bhīṣma Droṇa sumuruda tuwi pêtêngi wêlokning rènwa ngda lêwu wulangun, wkasanawa tkapning rah lumrā madhêmi lêbū.

Niscaya akan bubar lari tunggang langgang para pahlawan bangsa Korawa, jika tidak disuruh oleh Resi Bisma dan Pendeta Drona agar mereka mundur, ditambah pula keadaan gelap karena mengepulnya debu membuat mereka bingung tidak tahu keadaan; akhirnya keadaan terang karena darah berhamburan memadamkan debu.

 

Ri marinika ptêng tang rah lwir sāgara mangêbêk, maka lêtuha rawisning wīrāh māti mapupuhan, gaja kuda karanganya hrūng jrah pāndanika kasêk, aracana makakawyang śārā tan wêdi mapulih.

Niscaya akan bubar lari tunggang langgang para pahlawan bangsa Korawa, jika tidak disuruh oleh Resi Bisma dan Pendeta Drona agar mereka mundur, ditambah pula keadaan gelap karena mengepulnya debu membuat mereka bingung tidak tahu keadaan; akhirnya keadaan terang karena darah berhamburan memadamkan debu.

 

Ri marinika ptêng tang rah lwir sāgara mangêbêk, maka lêtuha rawisning wīrāh māti mapupuhan, gaja kuda karanganya hrūng jrah pāndanika kasêk, aracana makakawyang śārā tan wêdi mapulih.

Setelah gelap menghilang, darah seakan-akan air laut pasang. Yang merupakan lumpurnya adalah kain perhiasan para pahlawan yang gugur saling bantai, bangkai gajah dan kuda sebagai batu karangnya, dan senjata panah yang bertaburan laksana pandan yang rimbun. Bagai orang menyusun suatu karangan, para pahlawan yang tak gentar pun membalas dendam.

 

Irika nasēmu képwan Sang Pārthārddha kaparihain, lumihat i paranāthākwèh māting ratha karunna, nya Sang Irawan anak Sang Pārthāwās lawan Ulupuy, pêjah alaga lawan Sang Ṣṛnggi rākṣasa nipunna.

Ketika itu rupanya Arjuna menjadi gelisah dan agak kecewa, setelah ia melihat raja-raja yang secara menyedihkan terbunuh dalam keretanya. Di sanalah terdapat Sang Irawan, anak Sang Arjuna dengan Dewi Ulupi yang gugur dalam pertempuran melawan Sang Srenggi, seorang raksasa yang ulung.

 

7 Perbedaan Kisah Perang Baratayuda India dan Jawa, Mahabarata

Kisah Mahabharata merupakan salah satu kisah epos (peperangan) yang berasal dari India.

 Kisah peperangan antara Pandawa melawan Kurawa ini awalnya ditulis dalam sebuah kitab yang kemudian di zaman modern ini banyak diadaptasi dalam bentuk serial televisi.

 Cerita Mahabharata tidak habis-habisnya  menjadi salah satu cerita favorit bagi kebanyakan orang. Selain karena menyajikan aktor-aktor dengan wajah rupawan, Mahabharata juga menyuguhkan alur cerita yang sarat akan pelajaran hidup.

 Di Jawa, terdapat cerita dengan inti sama yang tercantum dalam kitab bernama Kakawin Baratayuda yang ditulis oleh Mpu Sedah atas perintah Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri.

Cerita tersebut kemudian diadaptasi dan disajikan kepada masyarakat melalui wayang kulit dan terkadang wayang orang.

 Meskipun cerita Baratayuda dalam Mahabarata versi India dan Indonesia memiliki alur cerita yang hampir sama, ada beberapa perbedaan baik yang sangat kontras maupun yang tidak terlalu mencolok di dalamnya.

Berikut perbedaan cerita Mahabarata versi India dan Jawa :

1.     Status Drupadi. Dalam Mahabarata versi India, Drupadi dari Kerajaan Pancala merupakan istri dari kelima Pandawa. Namun, dalam cerita Mahabarata versi Jawa, Drupadi adalah istri dari Pandawa tertua yakni Yudistira seorang. Perbedaan ini dikarenakan menyesuaikan dengan budaya Jawa bahwa tidak elok jika seorang wanita melakukan 'poliandri' alias bersuami banyak.

2.     Perbedaan Senjata Bima. Mahabarata versi India menyajikan sosok Bima yang berbadan besar dengan senjata khasnya berupa gada raksasa. Dalam cerita versi Jawa, Bima juga memiliki senjata gada bernama Gada Rujakpala. Namun, senjata itu jarang digunakan. Bima versi Jawa lebih sering menggunakan kuku berukuran besar yang tumbuh di ibu jarinya bernama Kuku Pancanaka. Kuku Pancanaka inilah yang menjadi identitas seorang Bima dalam bentuk wayang selain badannya yang besar.

3.     Terbunuhnya Sengkuni. Sengkuni yang merupakan tokoh paling licik sekaligus paman dari semua Kurawa, dalam versi India diceritakan mati karena jantungnya ditikam oleh Sadewa dengan kapak.Berbeda dengan versi India, Sengkuni versi Jawa mati dalam perang karena tusukan Kuku . Pancanaka milik Bima pada anusnya. Diceritakan Sengkuni pernah berguling-guling pada minyak Tala yang tumpah. Minyak Tala merupakan ramuan yang membuat semua orang kebal terhadap senjata. Namun, ketika berguling-guling, Krisna mengetahui bahwa Sengkuni melewatkan satu bagian tubuhnya yaitu anusnya. Krisna pun memberitahu Bima ketika Pandawa menghadapi amukan Sengkuni yang menewaskan lebih banyak prajurit mereka.

4.     Kemampuan Gatotkaca. Penampilan Gatotkaca yang dapat berubah wujud menjadi raksasa terbilang singkat dalam Mahabarata versi India. Hanya beberapa saat setelah kemunculannya untuk mengobrak abrik pertahanan pasukan Kurawa, Gatotkaca mati oleh senjata pemberian Dewa Indra yang dimiliki Karna. Dalam cerita pewayangan Jawa, Gatotkaca memiliki kemampuan yang berbeda dari versi India. Gatotkaca versi Jawa tidak bisa mengubah tubuhnya hingga sebesar yang diperlihatkan pada versi India. Namun, Gatotkaca memiliki seperangkat ageman (pakaian) yang membantunya seperti Kutang Anatakusuma yang bisa membuatnya terbang ke sana kemari, Selendang Basunanda, dan alas kaki bernama Padakacarma.

5.     Punakawan. Perbedaan paling mencolok dari cerita Mahabarata versi India dan Jawa adalah keberadaan Punakawan. Pada Mahabarata versi India tidak terdapat Punakawan yang selalu memberikan nasihat-nasihat baik pada Pandawa. Sebagai gantinya, nasihat-nasihat baik diberikan oleh Krishna. Punakawan yang terdiri dari Semar dan anak-anaknya Petruk, Gareng, Bagong dalam pewayangan Jawa menggambarkan abdi atau pengikut yang setia. Hal ini terbukti dalam alur cerita bahwa Punakawan selalu mengikuti tuannya para Pandawa, khususnya Arjuna.

6.     Anak-anak Pandawa. Dalam bersi India, anak-anak Pandawa antara lain adalah Abimanyu, Gatotkaca, dan lima orang anak dari Drupadi dengan Pandawa. Sementara itu, anak-anak Pandawa lebih banyak dalam cerita versi Jawa. Hal ini karena selain Yudistira, Pandawa lain memiliki istri lebih dari satu. Anak-anak Pandawa yang cukup terkenal dalam pewayangan Jawa selain yang ditampilkan dalam versi India (kecuali lima anak Drupadi dan Pandawa) antara lain yaitu Wisanggeni (anak Arjuna) serta Antareja dan Antasena (anak Bima)

7.     Kompleksitas Alur Cerita dan TokohPoin ini menyambung dua poin sebelumnya. Tak hanya perbedaan dengan adanya Punakawan dan anak-. . anak Pandawa lainnya, cerita versi Jawa memiliki alur dan kompleksitas tokoh yang lebih banyak dari cerita versi India. Dalam cerita versi Jawa, selain dewa-dewa versi India, ada pula Bathara Guru dan Bathara Narada yang menjadi panutan bagi Pandawa. Selain itu, ada pula beberapa tokoh antagonis di luar pihak Kurawa seperti Brajadenta (kakak Arimbi yang tidak suka pada Gatotkaca) dan Buto (raksasa) Cakil, serta tokoh protagonis lain  seperti Batara Kamajaya.

 

Daftar nama para Korawa

Daftar nama para Korawa juga terdapat dalam teks Adiparwa berbahasa Jawa Kuno yang diterbitkan ulang oleh I Gusti Putu Phalgunadi, seorang ahli di bidang sastra Jawa Kuno, dan disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Namun nama-nama tokoh Korawa di dalam naskah yang digunakan Phalgunadi tidak lengkap, dan kadang-kadang berbeda dengan nama dalam Mahabharata dari India yang memakai bahasa Sanskerta. Kemudian Phalgunadi melengkapinya dengan nama-nama yang ia dapatkan dari Mahabharata versi bahasa Sanskerta.

Karena adanya beberapa versi naskah Mahabharata, maka ada beberapa versi nama yang ditampilkan bersamaan dalam tabel di bawah ini. Dalam versi wayang kulit, daftar nama para Korawa disusun sesuai urutan abjad, bukan urutan kelahiran.

Nama-Nama Tokoh Kurawa :

1. Duryodana

2. Dursasana

3. Abaswa (Dursaha)

4. Adityaketu (Dursala)

5. Alobha (Jalaganda)

6. Anadhresya (Sama)

7. Anudhara (Saha)

8. Anuradha (Winda)

9. Anuwinda

10. Aparajita (Durdarsa)

11. Aswaketu (Subahu)

12. Bahwasi (Dusprasada)

13. Balawardana (Durmarsana)

14. Bhagadatta (Durmuka)

15. Bima (Duskarna)

16. Bimabala (Karna)

17. Bimadewa (Wikarna)

18. Bimarata (Sala)

19. Carucitra (Satwa)

20. Citradharma (Sulocana)

21. Citrakala (Citra)

22. Citraksa (Upacitra)

23. Citrakunda (Citraksa)

24. Citralaksaya (Carucitra)

25. Citrangga (Sarasana)

26. Citrasanda (Durmada)

27. Citrasraya (Durwigaha)

28. Citrawarman (Wiwitsu)

29. Dharpasandha (Wikatinanda)

30. Dhreksetra (Urnanaba)

31. Dirgagorma (Sunaba)

32. Dirghabahu (Nanda)

33. Dirghacitra (Upananda)

34. Dredhahasta (Citrabana)

35. Dredhawarman (Citrawarma)

36. Dredhayuda (Suwarma)

37. Dretapara (Durwimoca)

38. Duhpradharsana (Ayobahu)

39. Duhsa (Mahabahu)

40. Duhsah (Citrangga)

41. Durbalaki (Citrakundala)

42. Durbharata (Bimawiga)

43. Durdharsa (Bimabela)

44. Durmada (Walaki)

45. Durmarsana (Belawardana)

46. Durmukha (Ugrayuda)

47. Durwimocana (Susena)

48. Duskarna (Kundadara)

49. Dusprajaya (Mahodara)

50. Duspramana (Citrayuda)

51. Hayabahu (Nisanggi)

52. Jalasandha (Pasa)

53. Jarasanda (Wrendaraka)

54. Jayawikata (Dredawarma)

55. Kanakadhwaja (Dredaksatra)

56. Kanakayu (Somakirti)

57. Karna (Antudara)

58. Kawacin (Dresdasanda)

59. Krat (Jarasanda)

60. Kundabhedi (Satyasanda)

61. Kundadhara (Sadasuwaka)

62. Mahabahu (Ugasrawa)

63. Mahacitra (Ugrasena)

64. Nandaka (Senani)

65. Pandikunda

66. Prabhata (Aparajita)

67. Pramathi (Kundase)

68. Rodrakarma (Wisalaksa)

69. Sala

70. Sama

71. Satwa

72. Satyasanda

73. Senani

74. Sokarti

75. Subahu

76. Sudatra

77. Suddha

78. Sugrama

79. Suhasta

80. Sukasananda

81. Sulokacitra

82. Surasakti

83. Tandasraya

84. Ugra

85. Ugrasena

86. Ugrasrayi

87. Ugrayudha

88. Upacitra

89. Upanandaka

90. Urnanaba (Wirawi)

91. Wedha

92. Wicitrihatana

93. Wikala

94. Wiktanana

95. Winda

96. Wirabahu

97. Wirada

98. Wisakti

99. Wiwitsu

100. Wyudoru

 

Korawa (Kaurava / Kurawa)

Korawa (Kaurava / Kurawa) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang dipakai untuk merujuk kepada suatu kumpulan tokoh dalam wiracarita Hindu Mahabharata. Dalam bahasa Sanskerta, kata Kaurava berarti keturunan raja Kuru, seorang raja dalam legenda India yang dikisahkan sebagai leluhur bagi para tokoh Mahabharata. Selain Mahabharata, istilah tersebut juga ditemukan dalam beberapa kitab-kitab lain yang memuat legenda Hindu, contohnya Purana.

Dalam budaya pewayangan Jawa yang telah mengadaptasi susastra Hindu, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam Mahabharata, sedangkan kelompok protagonisnya ialah Pandawa (keturunan Pandu). Maka dari itu, istilah Korawa identik sebagai musuh bebuyutan para Pandawa.

Dalam kisah Mahabharata, kata Korawa awalnya dipakai untuk menyebut keturunan Kuru atau anggota Dinasti Kuru, yang berlatar belakang keraton Hastinapura di India Utara. Secara khusus, makna kata tersebut menyempit menjadi anak-anak Dretarastra, karena Dretarastra merupakan pangeran sulung di Dinasti Kuru, sebelum lahirnya Pandawa. Dalam Mahabharata, jumlah para Korawa (sebagai anak Dretarastra) ialah seratus dua orang; seratus satu orang dilahirkan oleh Gandari, sedangkan yang seorang lagi dilahirkan oleh dayang-dayangnya. Yang terkemuka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu. Hampir seluruh Korawa berjenis laki-laki, kecuali seorang (anak perempuan Gandari), yang bernama Dursilawati atau Dursala.

Istilah Korawa (Kaurava) yang digunakan dalam kitab Mahabharata memiliki dua pengertian:

Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Kuru adalah nama seorang maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadang kala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.

Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra merupakan putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru), yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran tetapi digantikan oleh adiknya, Pandu, karena Dretarastra buta. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

lustrasi Resi Byasa memberikan restu kepada Gandari, dari buku Mahabharata, terbitan Geeta Press, Gorakhpur.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra. Kemudian ia memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Dinasti Kuru. Akhirnya permohonan Gandari terkabul sehingga ia pun hamil. Namun setelah sekian lama, kandungannya belum juga lahir. Sementara itu, iparnya yang bernama Kunti sudah melahirkan putra bernama Yudistira. Gandari pun iri setelah mendengar kabar tersebut, lalu ia frustasi sambil memukul-mukul kandungannya. Akhirnya air ketuban pun pecah. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putra-putra Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah, bergelar atiratha, dan semuanya menikah saat dewasa. Mereka memiliki lima saudara sepupu yang disebut Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa), yaitu kelima putra Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa iri terhadap Pandawa, terutama si sulung Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra, India Utara.

Setelah pertarungan sengit berlangsung selama delapan belas hari, seratus putra Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara sulung para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu, putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang, adalah satu-satunya Korawa yang selamat dari pertarungan di Kurukshetra karena memihak para Pandawa. Ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para saudara dan teman-temannya yang gugur di medan perang Kurukshetra.

 

Korawa (Kitab Mahabharata)

Banyak anggota Korawa yang disebutkan dalam kitab Mahabharata hanya bersifat trivial dan sebagai deretan nama saja, demikian pula dalam lakon pewayangan. Namun, beberapa anggota Korawa mendapatkan posisi atau perwatakan yang menonjol dalam suatu plot cerita/babak pewayangan, dan beberapa di antaranya dikisahkan sebagai tokoh yang signifikan dalam jalan cerita. Beberapa nama di antaranya disajikan dalam daftar di bawah ini, baik yang terdapat dalam kitab Mahabharata berbahasa Sanskerta, maupun yang dikisahkan dalam lakon pewayangan Jawa.

 

Anuwinda

Anuwinda atau Anuwenda adalah salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta maupun terjemahannya. Tokoh ini tidak mendapatkan banyak cerita dalam Mahabharata, tetapi ia dikisahkan sebagai seorang patih dalam pewayangan Jawa. Menurut pewayangan, ia merupakan saudara kesayangan Widandini, anggota Korawa yang lain. Widandini berhasil mengalahkan raja negeri Purantara lalu mengangkat dirinya sebagai penguasa di sana, sementara Anuwinda diangkat sebagai patih. Dalam Bharatayuddha (Perang Kurukshetra), Anuwinda gugur di tangan Arjuna.

 

Aparajita

Aparajita, menurut kitab Bhismaparwa, adalah Korawa yang memiliki hidung yang tampan. Dalam perang Kurukshetra, ia bertarung dengan sengit melawan Bima. Pada perang pada hari kedelapan, bersama dengan Adityaketu, Panditaka, Wisalaksa, Kundara, dan Wahwasin (Bahwasi), ia menyerbu Bima dengan hujan panah. Namun Bima tidak kalah oleh serangan mereka. Dengan sepucuk anak panah, Bima memenggal kepala Aparajita.

 

Bomawikata

Bomawikata merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Bomawikata memiliki hubungan yang sangat erat dengan saudaranya yang bernama Wikataboma. Mereka berdua merupakan saudara tunggal guru dan hidup dalam satu jiwa. Artinya apabila yang satu diantara mereka mati dan dilangkahi saudara yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya itu, dalam perang Bharatayuda ketika Resi Drona menjadi Senapati Agung Kurawa dengan tata gelar perangnya (Cakraswandana), Wikataboma dan Bomawikata diangkat menjadi senapati pengapit. Sepak terjang mereka sangat menakutkan keluarga Pandawa. Tapi akhirnya Wikataboma dan Bomawikata tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepala mereka diadu kumba (saling dibenturkan) hingga hancur, dan keduanya mati secara bersamaan.

 

Citraksa

Citraksa tercatat dalam berbagai versi daftar Korawa berbahasa Sanskerta. Menurut pewayangan Jawa, ia mempunyai saudara kembar, yaitu Citraksi. Sering dikisahkan dalam cerita pedalangan, Citraksa dan Citraksi mempunyai sifat dan karakter yang sama, seperti gagap dalam berbicara sehingga sering menjadi bahan ejekan bagi Patih Sengkuni, serta tindakannya yang dinilai grusa-grusu. Dalam peperangan di luar Bharatayuddha, Citraksa dan Citraksi sering menjadi bulan-bulanan anak-anak Pandawa seperti Antareja, Antasena, Gatotkaca, Abimanyu dan lain-lain.

 

Citrayuda

Citrayuda merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Citrayuda memiliki perwatakan: lucu, banyak akal, pandai bicara dan suka mencela. Sebagai murid Resi Drona, Citrayuda juga mahir dalam olah keprajuritan mempermainkan senjata gada dan lembing. Pada saat berlangsungnya perang Bharatayuda, Citrayuda tampil memimpin pasukan balatentara Kurawa mendampingi senapati perang Resi Drona. Ia bersama Citraksa, Surtayu, Citrakundala dan Dirgalasara tewas dalam peperangan melawan Arya Wratsangka, senapati perang Pandawa, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata.

 

Dirgabahu

Dirgabahu dikenal dalam pewayangan sebagai Raden Dirgabahu atau Arya Dirgabahu. Namanya tercatat dalam beberapa versi daftar nama Korawa berbahasa Sanskerta. Dalam kisah pewayangan Jawa, Dirgabahu muncul dalam cerita pewayangan dengan lakon Kresna Duta, dengan akhir riwayat diceritakan bahwa ia tewas setelah terinjak-injak oleh Brahalasewu (Raksasa perwujudan dari Prabu Kresna) bersama saudara yang lain yaitu Jalasaha, Citramarma, dan Widandini.

 

Durmagati

Durmagati merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia diceritakan sebagai salah satu Korawa yang paling kocak apabila sedang dimainkan/dibawakan sifatnya oleh dalang. Tokoh ini merupakan tokoh ciptaan pujangga Jawa, dan tidak ditemukan dalam naskah kitab Mahabharata dari India. Durmagati mempunyai badan yang lebih pendek dan gemuk dari kebanyakan saudara-saudaranya, dengan ciri khas leher yang sangat pendek dan kepala seperti tertekan ke bawah sehingga wajahnya menengadah ke atas.

 

Dursasana

Dursasana merupakan adik Duryodana, pemimpin para Korawa. Ia dikenal sebagai Korawa yang nomor dua di antara seratus Korawa. Tokoh ini mendapat peran signifikan dalam Sabhaparwa (kitab kedua Mahabharata), yang mengisahkan permainan dadu antara lima Pandawa melawan seratus Korawa. Dropadi, istri para Pandawa menjadi budak para Korawa setelah dipertaruhkan dalam permainan tersebut. Merasa sebagai pemilik budak, Dursasana berusaha melucuti pakaian Dropadi secara paksa, tetapi tidak berhasil berkat pertolongan Kresna. Peristiwa itu memperkeruh permusuhannya dengan Bima. Pada akhirnya, ia dibunuh oleh Bima dalam perang di Kurukshetra pada hari ke-16.

 

Dursilawati

Dursilawati atau Dursala adalah satu-satunya Korawa yang berjenis kelamin perempuan. Ia merupakan adik bungsu dari Duryodana, pemimpin para Korawa. Ia menikah dengan Raja Sindhu bernama Jayadrata.

 

Duryodana

Duryodana atau Suyodana adalah tokoh antagonis yang utama dalam wiracarita Mahabharata. Duryodana merupakan yang pertama di antara seratus Korawa. Duryodana menikah dengan putri Prabu Citranggada dari Kalinga dan mempunyai dua anak, masing-masing bernama Laksmanakumara (Lesmana Mandrakumara) dan Laksmana (Lesmanawati). Meskipun nama istri Duryodana tidak disebutkan secara khusus dalam naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta, tetapi ia disebut Banumati dalam cerita rakyat India, atau Banowati dalam lakon pewayangan Jawa.

 

Widandini

Widandini atau Arya Widandini merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan berwatak keras hati, cerdik pandai dan angkuh. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan trisula. Dengan kesaktiannya ia berhasil merebut negara Purantara dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Prabu Windandini. Adik kesayangannya Anuwinda diangkat menjadi patih negara Purantara. Pada saat berlangsungnya perang Bharatayuddha, Prabu Widandini diangkat sebagai senapati perang Korawa dan mengerahkan seluruh balatentara negara Purantara ke medan perang Kurukshetra. Prabu Widandini dan Anuwinda gugur dalam pertempuran melawan Arjuna.

 

Wikarna

Wikarna disebut-sebut sebagai Korawa yang ketiga (setelah Duryodana dan Dursasana), tetapi dalam sumber lainnya diindikasikan bahwa ia menempati peringkat ketiga dari segi reputasi di antara seratus Korawa. Wikarna adalah satu-satunya Korawa yang membela Putri Dropadi, sebelum putri tersebut hendak ditelanjangi oleh Dursasana saat permainan dadu di selenggarakan di Hastinapura. Namun pembelaannya tidak dianggap oleh para Korawa dan Karna. Saat perang Kurukshetra, ia gugur di tangan Bima.

 

Wikataboma

Wikataboma merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan memiliki hubungan yang sangat erat dengan saudaranya yang bernama Bomawikata. Mereka berdua merupakan saudara tunggal guru dan hidup dalam satu jiwa. Artinya apabila yang satu diantara mereka mati dan dilangkahi saudara yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya itu, dalam perang Bharatayuda ketika Resi Drona menjadi Senapati Agung Kurawa dengan tata gelar perangnya (Cakraswandana), Wikataboma dan Bomawikata diangkat menjadi senapati pengapit. Sepak terjang mereka sangat menakutkan keluarga Pandawa. Tapi akhirnya Wikataboma dan Bomawikata tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepala mereka diadu kumba (saling dibenturkan) hingga hancur, dan keduanya mati secara bersamaan.

 

Wisalaksa

Wisalaksa adalah nama salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta maupun terjemahannya. Dalam buku Mahabharata ke-6 (Bhismaparwa) dikisahkan bahwa ia enggan dibunuh oleh Bima, selain Wikarna. Dalam perang Kurukshetra, ia memihak Duryodana. Saat peperangan menginjak hari kedelapan, ia dan saudara-saudaranya mencoba mengalahkan Bima dengan serangan panah bertubi-tubi. Hal itu membuat Bima sangat marah sehingga ia membalas serangan para Korawa dengan garang. Saat menghadapi Wisalaksa, Bima tidak marah. Ia berpikir sejenak. Setelah mengenang berbagai kejadian yang dialaminya pada masa lalu, maka Bima tidak segan untuk membunuh Wisalaksa. Dengan tiga batang anak panah, ia memenggal kepala Wisalaksa.

 

Wiwingsati

Wiwingsati adalah nama salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata. Ia sering disebut sebagai kesatria Korawa yang kerap berada di sisi Duryodana dan membantunya dalam invasi ke kerajaan Matsya. Dalam perang Kurukshetra, ia terlibat dalam pertarungan sengit melawan Bima dan putranya, Sutasoma. Pada akhirnya, ia gugur di tangan Bima. Kematiannya diratapi oleh Gandari, tercatat dalam kitab Striparwa. Dalam kitab, Gandari menyebutnya sebagai seorang pangeran yang berpenampilan muda dan tampan.

 

Wresaya

Wresaya atau Raden Dredasetra merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan memiliki watak keras hati, cerdik, pandai, licik, tetapi pandai dalam olah ketrampilan mempergunakan senjata khususnya gada, karena dia juga merupakan murid Resi Drona. Ia kemudian mengembara, setelah terpental dalam peristiwa timbangan (adu berat badan antara Korawa melawan keluarga Pandawa), dan kesaktiannya membuatnya berhasil merebut negara Glagahtinalang, dan mengangkat diri sebagai raja begelar Prabu Wresaya. Saat perang Bharatayuddha, ia menjadi senapati perang pihak Korawa, tetapi tewas di tangan Bima dengan tubuh hancur oleh hantaman Gada Rujakpala.

 

Yuyutsu

Yuyutsu adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan satu-satunya Korawa yang tidak dilahirkan oleh Ratu Gandari. Ibunya merupakan pelayan Ratu Gandari yang bernama Sugada, berasal dari kasta waisya. Ia adalah satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa dalam perang Kurukshetra (Bharatayuddha), dan merupakan satu-satunya putra Dretarastra yang bertahan hidup sampai perang tersebut berakhir. Setelah Yudistira makzul, para Pandawa pensiun dari kehidupan duniawi (sanyasin), lalu Yuyutsu diangkat menjadi penasihat raja muda Parikesit, cucu Arjuna.



****

Imajner Nuswantoro

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)