RATU ADIL

0

RATU ADIL






Ratu Adil (Satria Piningit)  merupakan mitologi yang mengatakan bahwa akan datang seorang pemimpin yang akan menjadi penyelamat, ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. 

Mithologi adalah cara / usaha untuk mengorganisasikan pengalaman alam secara tidak sadar menjadi sebuah imagi yg membantu sekelompik manusia berhubungan dengan alan bawah sadar. Alam tak sadar sendiri adalah alam penengah antara alam fisik badaniah dan alam illahiah.


Raja tersebut disebut juga Herucokro.

Ramalan tentang datangnya Ratu Adil ini berasal dari Prabu Jayabaya. Pertanda kedatangan Ratu Adil adalah adanya kemelut sosial, malapetaka alam, serta jatuhnya raja besar yang ditakuti. Pemerintahan yang mengganti raja yang ditakuti tidak berlangsung lama.

Ratu Adil bersenjata trisula weda. Sebagaimana yang disebutkan oleh ramalan Jayabaya senjata Ratu Adil adalah trisula, senjata bermata tiga & weda, dan pengetahuan dalam arti pengetahuan bermata tiga yaitu kebenaran, kebijaksanaan, dan keadilan (orang yang memiliki sifat berbudi luhur, bijaksana dan berwawasan).

Ratu Adil, Satria Pininggit bukan Imam Mahdi dan bukan merupakan sosok yang sama, sangat berbeda, Jawa kuno (dwipa) mengenal sosok Ratu Adil dari zaman dahulu, dia adalah sosok keturunan dari Krisna.

Dalam ugo wangsit Sliwangi tertulis jelas bahwa Ratu Adil atau budak angon (kiasan dari orang atau golongan rakyat biasa), disebutkan pula dalam ugo wangsit Siliwangi bahwa ratu adil atau budak angon ditemani oleh pemuda berjanggut (orang yang dekat sebagai penasehat).


FILOSOFI RATU ADIL

Itulah godaan manusia yang terkuat antara khayalan, mimpi, pengharapan, dan buaian alam bayang-bayang fikiran. 

Dari semua itu ada yang kemungkinan menjadi kenyataan, namun jauh lebih banyak yang tidak terbukti. Kelemahan manusia disaat merasa tertekan, terpojok, tertindas, teraniaya, terhina, dan terabaikan hampir dapat dipastikan alam fikirannya akan merekam berbagai khayalan-khayalan yang bersifat memabukkan. 

Itulah phisikologi dasar manusia yang bersifat sangat manusiawi, sehingga kelogisan alam berfikirnya hampir-hampir hilang tak berbekas diterpa buaian alam fikirnya yang dilanda kegalauan hasil ciptaannya sendiri. Ada yang demi membela khayalannya sampai rela bertapa dan semedi mencari petunjuk ghaib mengenai apa yang dikhayalkan.

Dia menjadi lupa bahwa manusia diperintahkan untuk memikirkan hal-hal yang logis dan masuk akal, yang jelas-jelas menjadi haknya dan menjadi tanggungjawabnya yang terhampar jelas dihadapannya. 

Seperti berkhayal mencari Tuhan, Tuhan tidak bisa dikhayalkan dan Dia bukan sesuatu yang hilang, Dia hanya hilang dari ingatan, hilang dari fikiran, hilang dari konsep hidup, dan hilang dari tujuan hidup seseorang, bukankah dia lebih dekat dari urat nadimu. Sebagaimana ramai diperbincangkan oleh sebagian orang khususnya orang jawa mengenai kemunculan ratu adil, itu merupakan sebuah filosofi ajaran para leluhur kepada anak cucu. Ratu merupakan ungkapan jawa untuk menyebutkan seorang pemimpin yang berjenis kelamin perempuan, sedang yang dimaksudkan pada kalimat ratu adil oleh para leluhur adalah sebuah ungkapan kiasan untuk menyampaikan sesuatu ajaran yang adi luhung. 

Karena ke Agungan kandungan yang dimaksud pada kalimat tersebutlah yang mengakibatkan para leluhur tidak berani mengungkapkannya secara fulgar.

Dalam penulisan huruf jawa ratu adil ditulis dengan aksoro ro dan to dibacanya ratu, mengandung makna bahwa dalam diri ujud manusia ada elemen kemanusiaan yang bersifat universal. 

Terbukti bahwa kedudukan, pangkat, kekayaan, dan golongan tidak akan mampu menghalangi dan menghilangkan keadaannya seperti rasa garam, rasa gula, atau rasa kesakitan saat dicubit. Tujuan dan maksud dari para leluhur dengan ungkapan itu agar kita benar-benar menyadari keberadaannya dan memang dialah satu-satunya yang bisa dan dapat berlaku adil. Tugas kita manusia adalah disuruh mendudukkan sesuatu sesuai porsi dan kedudukan yang semestinya. Sekarang bayangkan dengan baik dan seksama, kalau kita saja tidak dapat berlaku adil terhadap diri dan orang lain, manalah bisa kita menemukan dan memilih orang yang adil untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Jelas tidak mungkin bisa, karena komponen untuk menilai dan menentukan saja kita tidak mengetahuinya secara proporsinya (komposisinya), karakternya, criteria dasarnya, dan konsepnya. 

Sama saja disuruh memilih kendaraan yang terbaik, tentu harus faham betul masalah kendaraan baru dapat melakukan pemilihan kendaraan terbaik. Begitu juga tentang konsep ratu adil yang menjadi ajaran para leluhur, merupakan sebuah ajaran yang mengandung filosofi yang begitu adi luhung.

Jadi kalau begitu konsep tentang Ratu Adil adalah sebuah konsep ajaran leluhur agar supaya kita dapat berlaku adil terhadap diri sendiri dan terhadap siapa saja serta pada alam semesta. 

Kenapa disebut sebagai satrio piningit, sebab konsep tersebut hanya dapat ditemukan oleh seseorang yang benar-benar mau berfikir menggunakan akalnya secara sehat atau secara sistematika logika berfikir akal sehat (berfikir sunnatullah). 

Segala sesuatu yang terjadi saat ini, seperti penemuan teknologi dulunya sangat tersembunyi (piningit), namun setelah ada sebagian orang yang rela berfikir dengan susah payah terjadilah seperti yang kita saksikan saat ini. Makanya julukan manusia yang rela berjuang berfikir menggunakan akal sehatnya disebut satrio piningit (sang juara) dibidangnya masing-masing.

Setiap ada perubahan yang terjadi pada manusia selalu didahului dengan gejolak, masalah, kerumitan, kegalauan, dan berbagai hal berkecamuk menjadi satu dalam hati dan fikirannya. Namun sebagai seorang yang bermental juara semua itu dapat diatasi dengan bersenjatakan ilmu (kebenaran ilmunya), keikhlasan (kejernihan hati dan fikiran), kesabaran, keuletan, kedisiplinan, dan kejujuran. 

Itulah yang dimaksudkan dengan munculnya goro-goro, yang akan muncul pada setiap insane saat akan menerima sesuatu yang berharga atau sangat bernilai dalam hidupnya. Akhirnya apa yang diimpikannya dapat terwujud menjadi sebuah kenyataan, itulah hikmah dibalik kesulitan ada kemudahan. 

Dibalik pintu ada tuan rumah yang siap memberikan hidangan menu makanan yang menjadi kesukaan. Maka bukalah pintu itu jangan engkau lihat dan pandangi dengan daya khayalmu semata, karena pandanganmu tak mungkin menjangkau yang ada dibaliknya.

Berapa banyak manusia telah tertipu oleh keindahan dan kemolekan riasan pintu, isi dalamnya jauh dari daya khayal yang terlanjur terekam dalam kalbu. 

Seperti ungkapan Ratu Adil, Satrio Piningit, ada Tujuh Satrio Piningit yang akan memimpin Nusantara itu semua adalah sebuah pintu, untuk membuka pintu-pintu Ilmu (pengetahuan) yang jauh lebih dalam. Kesemuanya itu sebuah kiasan untuk menggambarkan sebuah ilmu pengetahuan yang adi luhung, merupakan sebuah kenyataan bukan sekedar mitos menurut anggapan sebagian orang. 

Ada ungkapan langit lapis tujuh (langit sapitu), digambarkan lebih jelas dengan Nusantara akan dipimpin oleh Tujuh Satrio Piningit itu merupakan gambaran untuk menjelaskan langit pertama sampai ketujuh dalam alam jagad kaweruh kemanusiaan.

Silakan disimak kembali dan dipelajari dengan seksama, syaratnya harus jauh dari kesombongan hati, kedengkian, ketakaburan, keangkuhan, dan kebesaran anggapan terhadap diri sendiri.


RATU ADIL = HASTABRATA
Dalam ramalan Prabu Jayabaya atau pujangga Ranggawarsita disebutkan bahwa sosok yang dimaksud sebagai Ratu Adil adalah sosok manusia yang memiliki kemampuan andal sebagai seorang pemimpin negara.
Maka, selama dia mampu menjadi pemimpin yang baik, yang bisa membawa bangsa Indonesia ke gerbang kesuksesannya, meskipun dia tidak memiliki kekuatan atau kesaktian apa pun, sesungguhnya dialah sosok Ratu Adil itu.
Ratu Adil inilah yang diyakini merupakan sosok pemimpin ideal di masa depan. 
Sebagai seorang pemimpin tentu saja dia harus membekali dirinya dengan berbagai persyaratan, yang dengan  persyaratan itu ia menjadi layak dan pantas dijadikan sebagai pemimpin sekaligus figur panutan bagi masyarakat banyak.
Dalam konteks inilah, pada masyarakat Jawa, dikenal istilah delapan watak yang diantaranya adalah perwatakan alam yang menjadi prilaku raja besar, adil, berwibawa, arief, dan bijaksana. Delapan watak tadi, dalam perwayangan, disebut dengan ilmu hasta brata.
Dalam khasanah budaya Jawa, ajaran Hastabrata ini merupakan filosofi kepemimpinan yang harus dimiliki dan menjadi pegangan dan penuntun bagi seorang raja (pemimpin). Konon pada zaman kerajaan di Jawa, Hastabrata inipun dijadikan ajaran yang harus menjadi pedoman penghayatan filosofi hidup bagi putra mahkota yang akan dinobatkan menjadi raja.
Adapun filosofi yang tersirat dari nilai-nilai ajaran kepemimpinan Hastabrata.
Hasta berarti delapan, brata berarti sifat baik, jadi Hastabrata berarti delapan sifat baik yang harus dimiliki seorang pemimpin mencakup delapan sifat alam yang mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sanghyang Khaliq Tuhan Semesta Alam, yaitu : 
sifat Bumi, sifat Matahari, sifat Bulan, sifat Samudra, sifat Bintang, sifat Angin, sifat Api, dan sifat Air.  
Atas sifat alam yang terkandung dalam ajaran Hastabrata.

Bahwa puisi Rakyat Merindukan Pemimpin ini terinspirasi dari spirit filosofi Hastabrata, di mana seorang pemimpin yang mumpuni harus memiliki 8 watak yang meliputi unsur : 
1. Matahari.
2. Rembulan.
3. Bintang.
4. Langit.
5. Angin.
6. Samudra.
7. Api.
8. Bumi. 
Rakyat Indonesia saat ini merindukan pemimpin yang memiliki 8 unsur tersebut, yang juga dikenal lewat puisi Sengseng Tontes Sresek Brebek.
Tak peduli siapa pun yang bakal jadi pemimpin di negeri ini, haruslah memiliki delapan sifat sebagaimana pada ajaran Hastabrata dengan unsur-unsur dari kedelapan sifat-sifat alam. 
8 unsur karakter yang terkatub dalam Hastabrata yang harus dimiliki seorang pemimpin, siapa pun itu pemimpinnya, yang dituangkan dalam bait-bait puisi Rakyat Merindukan Pemimpin.

Rakyat merindukan pemimpin.
1. Yang berwatak seperti matahari.
2. Seperti pernah mereka saksikan lakuning Srengenge.
3.Jalannya matahari
4. Ketika membuka pagi.
5. Fajar merekah.
6. Semburat merah merona di ufuk timur.
7. Nastiti, ngatiati,
8. Melangkah pasti,
9. Pada orbit yang telah ditetapkan Tuhan.
10. Pemimpin yang memiliki watak matahari.
11. Senantiasa menjadi penerang bagi rakyat.
12. Mampu berperan sebagai penuntun.
13. Eling sebagai guru, sebagai pelindung.
14. Dalam dinamika berbangsa.
15. Sikap dan prinsip hidupnya.
16. Sesuai kata dengan tindakan.
17. Dan teguh.

KANJENG RATU ADIL
QS. 07:181 (Al A’raaf),
Wa mim man khalaqnaa ummatuy yahduuna bil haqqi wa bihii ya’diluun.
Dan diantara orang-orang yang Kami ciptakan, terdapat umat yang memimpin dengan kebenaran dan dengan itu mereka berlaku adil.
Berkata RasululLah SAW,
“Akan muncul seorang lelaki dari ahlulbaitku, namanya seperti namaku, karakter wajahnya seperti aku, dia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan”. (Sunan al-Muqri: Aqd ad-Durar, Bab 2)
Jangka Jayabhaya
Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudanawataranindita Suhrsingha Parakrama Didjayottunggadewanama (Mamenang/Kediri, 1135 – 1157)
TRI TAKALI (Tiga Kelompok Zaman)
Zaman kesatu (permulaan) - Kali Suwara (1 - 720)
Zaman kedua (pertengahan)  - Kali Srengi / Kali Yuga ( 721 - 1441)
Zaman ketiga (akhir) - Kali Sengara (1442 - 2163)

- [Masa Ratu Adil] - bagian dari Kali Sengara
Di saat inilah Tanah Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib (misterius), yaitu keturunan utama (sebagai) Ratu Tedak Amisan (karena asalnya sangat hina dan miskin menurut pandangan masyarakat umum). Berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah Sang Ratu. Kratonnya Sunyaruri (kosong tapi ada, hanya dapat dijumpai oleh mereka yang telah mengosongkan keegoannya). Waktunya masih dirahasiakan. Tuhan membuat kebalikan keadaan. Beliau menjadi raja bagaikan pendeta, adil, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.
Datangnya Sang Ratu ini tanpa asal (yang jelas), tidak mengadu bala manusia (peperangan yang menumpahkan darah), keagungannya berdzikir namun musuhnya takut. Yang memusuhi pun dapat dikalahkan, sebab Sang Ratu menghendaki kesejahteraan rakyat dan keselamatan dunia seluruhnya.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ('An Nuur', QS. 24:55)
Kanjeng Ratu Adil (‘Al Muddatstsir’, QS. 74:01) dan Imam Mahdi (‘Al Ghaib’, QS. 02:03) adalah dua orang yang berbeda dalam hal dimensi fisik dan waktu namun sama-sama aulia Allah bergelar nama Muhammad (yang diberikan sendiri oleh Allah) dengan tugas yang sama yaitu sebagai pemimpin umatNya pada akhir zaman. Jika Kanjeng Ratu Adil dihadirkan di Tanah Jawa beberapa abad sebelum kiamat maka Imam Mahdi diturunkan di Tanah Arab pada saat kiamat sudah sangat dekat (sesudah zaman Kanjeng Ratu Adil).
Kanjeng Ratu Adil adalah penghulu di atas penghulu para aulia pilihan Allah yang welas asih namun tegas dalam menegakkan hukum (syariat) Allah SWT. Pada saatnya, Beliau akan hadir dengan Trisula Wedha (bukan merujuk secara harfiah sebagai suatu senjata atau agama, hanya dipahami oleh Beliau beserta para aulia terdekatnya) dan mengenakan pakaian takwa (libaasut taqwaa) QS. 07:26 (Al A’raaf), untuk memimpin  dengan adil bijaksana QS. 07:181 (Al A’raaf) dan mengayomi alam semesta sesuai kehendak Sang Maha Pencipta QS 28:77 (Al Qashash).



Kajian Spiritual Karya Warisan Leluhur Nusantara : Ramalan Joyoboyo, Ramalan Ronggowarsito, Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong, Serat Darmogandhul & Uga Wangsit Siliwangi JALAN SETAPAK MENUJU NUSANTARA JAYA PERJALANAN SPIRITUAL MENELISIK JEJAK SATRIO PININGIT


   


Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)