SERAT KANDHA & SERAT PUSTAKA RAJA PURWA

0

 SERAT KANDHA & SERAT PUSTAKA RAJA PURWA




Imajiner Nuswantoro



Perbedaan Serat Kandha dan Pustaka Raja Purwa


A. Serat Kandha

Serat kandha diciptakan pada zaman Kartasura awal, seangkatan dengan Serat Manikmaya dan Serat Ambiya. Serat Kandha menggabungkan unsur hindu, islam, dan jawa. Terdapat kisah para nabi yang dikemas ala Jawa dan Serat Kandha itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam dalam perkembangan dari zaman Hindu-Budha.


Dalam penjelasan J.J.Rass, Serat Kandha merupakan jenis sastra yang muncul pada zaman pesisir yakni  pada zaman antara dua kerajaan besar, Majapahit dan Mataram pada sekitar abad ke-16. Pigeaud memberikan keterangan bahwa Serat Kandha berisi tentang sejarah universal yang diciptakan oleh kebudayaan pesisir Jawa Tengah. Pada jaman pesisir inilah dikatakan bahwa kebudayaan jawa mengalami pembaruan. Serat Kandha ini diperinci lebih jelas lagi dalam Serat Kandhaning Purwa atau buku wayang purwa. Melalui nama inilah, dapat ditunjukan bentuk hubungan antara sejarah umum dengan pertunjukan wayang. Dapat dimungkinkan bahwa pengarang Serat Kandha dan dalang pertunjukan wayang menggunakan modal tradisi yang sama untuk menyinggung mengenai sejarah epik dan hal yang bersifat mitos.


Pada zaman Mataram Serat Kandha tampak lebih penting peranannya sebagai legitimasi bagi dinasti raja-raja Mataram berdasarkan atas genealogi. Di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) terdapat Serat Kandha yang bertuliskan dengan arab pegon yang berisi cerita dari mulai Nabi Adam dan keturunannya hingga cerita tentang Watugunung. Serat Kandha memuat tentang kronik sejarah, babad, maupun siklus cerita wayang yang bermula dari Nabi Adam sebagai nenek moyang dari para nabi atau dewa. Untuk mempermudah maka dilakukan pengalihan aksara kedalam bentuk macapat yang diprakarasi oleh Dr.Th.Pigeaud pada tahun 1940 yang ditulis episode per episode. Pada jilid ke-1 terdapat 34 episode cerita, jilid ke-2 sebanyak 39 lakon yakni dari episode ke-35 sampai episode ke-73.



B. Pustaka Raja Purwa

Serat Pustaka Raja Purwa adalah salah satu serat/kitab atau buku yang dikarang oleh Raden Ngabehi Rangga Warsita yaitu seorang pujangga keraton Surakarta pada abad ke-19. Buku ini berisi cerita Mahabarata dan Ramayana yang ada sejak pertama dikenal di Indonesia. Pustaka raja purwa adalah kumpulan cerita yang dipakai sebagai acuan oleh para dhalang dalam pertunjukan wayang kulit di pulau Jawa., Sumber kedua cerita tersebut terbagi menjadi dua bagian :

1. Pustaka Raja Purwa yang memuat cerita asli dan terjemahan dari India yang banyak dianut di Indonesia pada kira-kira 800 tahun pertama sejak tahun Jawa/Saka 1 sampai tahun Saka 800 (tahun 100M – tahun 878 M), dan

2. Pustaka Raja yang memuat cerita carangan (berarti dahan dalam bahasa Jawa) dari cerita Ramayana dan Mahabarata aslinya. Bentuk carangan atau modifikasi ini berisi cerita asli yang telah ditambah dan dibumbui sehingga sesuai dengan keadaan bumi Indonesia dan mempunyai arti falsafah yang mendalam bagi masyarakat Jawa pada kurun waktu 800 tahun sesudahnya (tahun Saka 800 sampai tahun Saka 1600, yaitu pada saat akhir pemerintahan Prabu Brawijaya V). Bagian ini justru yang popular saat ini dan menjadi ciri khas dari kebudayaan wayang kulit Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia atau Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).


Buku Serat Pustaka Raja ini dikumpulkan dan diterbitkan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII menjadi 37 jilid yang terbagi menjadi 3 bagian utama :

a. cerita mengenai keadaan sebelum Pendawa lahir (pada jilid 1 dan 2)

b. cerita mengenai Pendawa (pada jilid 3 sampai 34), dan

c. cerita mengenai Sri Rama atau Ramayana (pada jilid 35, 36 dan 37).


Walaupun sumber cerita dari pustaka raja purwa ini berasal dari Mahabarata dan Ramayana dari India, namun beberapa isi detailnya telah disesuaikan dengan keadaan di pulau Jawa pada waktu itu. Beberapa modifikasi cerita ini misalnya dewi Drupadi dalam cerita aslinya adalah istri dari kelima saudara Pendawa, tetapi dalam pustaka raja purwa ia hanya dinyatakan sebagai istri dari saudara tertua Pendawa yaitu Puntadewa (Yudistira). Hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik sosial, karena seorang wanita tidak bisa mempunyai 5 orang suami. Hal ini penting karena di pulau Jawa, cerita wayang dipakai sebagai petuah, contoh dan pedoman hidup kebanyakan masyarakat pada waktu itu.


Judul lakon cerita dalam pustaka raja purwa ini ada lebih dari 177 lakon/lampahan dan di antaranya adalah (dalam bahasa Jawa)n:

1. Manikmaya, yaitu cerita mengenai Manik (Bathara Guru di kahyangan) dan Ismaya (Semar di alam marcapada/dunia).

2. Watugunung, yaitu cerita mengenai Raden Buduk dari kerajaan Gilingwesi yang mengawini ibunya sendiri.

3. Mumpuni, yaitu cerita mengenai perkawinan antara dewi Mumpuni dan bathara Yamadipati.

4. Wisnu Krama 

5. Bambang Kalingga / Sekutrem

6. Palasara Krama 

7. Dewabrata

8. Pandu Lair

9. Narasoma Kawin

10.  Puntadewa Lair

11.  Suyudana Lair 

12.  Bima Bungkus

13.  Arjuna Lair 

14.  Yamawidura Kawin 

15.  Pandhu Papa

16.  Palgunadi

17.  Bale sigala-gala

18.  Babad alas Wanamarta

19.  Arimba

20.  Mustakaweni

21.  Antasena lair

22.  Gathotkaca lair

23.  Pergiwa-Pergiwati

24.  Gathotkaca kawin

25.  Gathotkaca dadi ratu

26.  Sasikirana

27.  Brajadenta mbalela.


28.  ……

29.  Wahyu cakraningrat

30.  Jagal Abilawa

31.  Kresna duta

32.  Kresna gugah

33.  Seta gugur

34.  Bambang Wisanggeni

35.  Pendawa dadu

36.  Yudayana ilang


37.  …

38.  Arjunawiwaha

39.  Sumantri ngenger

40.  Dasarata kawin

41.  Dewi Sinta lair

42.  Rama kawin

43.  Tundhungan

44.  Rama duta

45.  Rama gandrung

46.  Rama tambak

47.  Pejahipun Kumbakarna

48.  Pejahipun Indrajid

49.  Pejahipun Dasamuka

50.  Sinta obong

51.  Rama obong

52.  Rama nitis

53.  dan lain-lain.



C. Perbedaan Serat Kandha dan Pustaka Raja Purwa


Serat Kandha Pustaka Raja Purwa

1.

- Ditulis pada abad ke-16

- Ditulis pada abad ke-19


2.

- Mengisahkan tentang peradaban kerajaan Mataram dan Majapahit

- Mengisahkan tentang kisah Ramayana dan Mahabarata


3.

- Mengisahkan tentang pertumbuhan agama Islam

- Mengisahkan tentang peradaban Hindu-Budha


4.

- Mengkisahkan kehidupan para nabi

- Mengkisahkan kehidupan para dewa


5.

- Terdiri dari 2 jilid (73 lakon/episode)

- Terdiri dari 37 jilid ( 177 lakon/episode)


6.

- Berbentuk pupuh tembang macapat

- Berbentuk prosa


7.

- Berasal dari pesisir pulau jawa

- Berasal dari kraton Surakarta



D. Persamaan Serat Kandha dan Pustaka Raja Purwa


Persamaan Serat Kandha  dan Pustaka Raja Purwa

1.

- Dijadikan sebagai landasan cerita wayang.


2.

- Dimodifikasi dengan menyesuaikan keadaan di Indonesia khususnya Jawa



SERAT KANDHA & SERAT PUSTAKA RAJA PURWA 


1

   

2
   



Jurnal : Serat Kandha Bumi Etika Hidup Orang Jawa Menurut Serat Kandha Bumi Karya Ki Padmasusastra (Sebuah Kajian Sosiologi sastra)
 
   


Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)