Babad Danghyang Dwijendra (Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, Mpu Nirartha, dan Dang Hyang Dwijendra, beliau dikenal sebagai Pangeran Sangupati di Lombok serta Tuan Guru Semeru di Sumbawa = Dyang Hyang Nirartha adalah cicit Mpu Bharadah, generasi ke empat Mpu Bharadah)

0

 Babad Danghyang Dwijendra

(Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, Mpu Nirartha, dan Dang Hyang Dwijendra, beliau dikenal sebagai Pangeran Sangupati di Lombok serta Tuan Guru Semeru di Sumbawa = Dyang Hyang Nirartha adalah cicit Mpu Bharadah, generasi ke empat Mpu Bharadah)



Ilustrasi Danghyang Dwijendra



Dang Hyang Nirartha, dikenal juga dengan berbagai nama seperti Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, Mpu Nirartha, dan Dang Hyang Dwijendra, beliau dikenal sebagai Pangeran Sangupati di Lombok serta Tuan Guru Semeru di Sumbawa. Ia adalah seorang pendeta Hindu aliran Saiwa yang lahir di Jawa pada masa akhir Kerajaan Majapahit dan menghabiskan sebagian besar hingga akhir hidupnya di Bali. Di Bali, beliau diangkat sebagai Bagawanta atau pendeta kerajaan di Kerajaan Gelgel, Dalam naskah Paniti Gama Tirta Pawitra ia juga digambarkan sebagai Sang Atungga Dharma atau sebagai seorang pengembara yang menyebarkan ajaran agama dharma, ia juga dikenal sebagai seorang pujangga dan sastrawan terkemuka. Sosoknya dipandang sebagai reformis yang paling berpengaruh pada ajaran Hindu Bali dan warisan ajarannya hingga kini masih dipraktikkan di berbagai wilayah di Indonesia. ia juga dipercaya sebagai penemu ajaran Tarekat Watu Telu.


Dang Hyang Nirartha adalah Tokoh Sejarah yang menjadi Tokoh legendaris masyarakat Bali, baik sebagai Ulama Hindu yang memperkuat akar-akar agama dan kebudayaan Hindu, baik sebagai budayawan dengan karya sastra dan filsafatnya serta arsitektur puranya, maupun sebagai tokoh yang berhasil mengadakan pembakuan stratifikasi sosial masyarakat Bali. Dyang Hyang Nirartha adalah cicit Mpu Bharadah (generasi ke empat Mpu Bharadah). Mpu Bharadah adalah seorang pendeta utama Kerajaan Kadiri dalam masa pemerintahan Erlangga. Pendeta ini ikut menentukan pembagian Kerajaan Kadiri menjadi dua, yaitu Daha dan Jenggala. Nirartha lahir dari perkawinan antara Dang Hyang Smaranata dengan Dewi Diah Sumawati. Keluarga Dang Hyang Smaranata beristana di di Daha (Jawa Timur). Beliau dahulunya migrasi ke Bali sekitar tahun 1546-1550 M. Pada masa itu Bali sedang berada pada puncak kebesarannya, di bawah pemerintahan Raja Dalem Waturenggong. Dyang Hyang Nirartha, selain sebagai seorang pendeta, ternyata juga memiliki berbagai keahlian lain. Sebagai seorang Ulama, beliau telah berhasil mengadakan pembaharuan untuk memperkuat akar-akar budaya dan ajaran agama Hindu di Bali, dengan menyebarkan Sekte Siwa. Sebagai seorang sastrawan, Dyang Hyang Nirartha telah memperkaya khasanah kesusastraan Bali, dengan beberapa karangannya, baik dalam bentuk sastra, filsafat, agama dan sejarah. Keahlian dan keberhasilan Dang Hyang Nirartha dalam berbagai bidang itu, telah menempatkannya pada status yang tertinggi, sebagai cikal-bakal Wangsa Brahmana Ciwa di Bali.


PENGERTIAN BABAD

Tradisi penulisan babad telah dimulai sekitar abad ke-16. Jika kemudian kita berpikir bahwa masa kini merupakan perpanjangan masa lampau, maka perkembangan bangsa dan masyarakat pada masa kini semestinya dapat dipahami dan dikembangkan dengan memperhatikan latar historisnya (kehidupan masa lampau). Hal ini berarti bahwa perlu diperhatikan berbagai informasi masa lalu, misalnya tentang buah pikiran, pandangan, dan nilai-nilai yang pernah hidup dan berkembang pada masa lalu. Oleh karena itu babad mempunyai peranan penting.

Sehubungan dengan itu, kiranya persoalan yang dihadapi adalah bagaimana cara kita memandang, memahami, dan memerankan babad pada kehidupan masa kini. Hal inilah menurut hemat saya perlu didiskusikan pada kesempatan ini.




A. APA ITU BABAD ?

Istilah babad terdapat di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Di daerah-daerah lain seperti sulawesi Selatan, babad disebut lontara; di Sumatera Barat dikenal dengan istilah Tambo; di Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia dikenal dengan sebutan hikayat, silsilah, sejarah; di Burma dan Thailand dikenal dengan istilah kronikel (Soedarsono, 1985).

Ada bermacam-macam pengertian babad. Menurut Danu Suprapta (1976), babad adalah salah satu jenis sastra sejarah berbahasa Jawa Baru yang penamaannya beraneka ragam, antara lain berdasarkan nama diri, nama geografi, nama peristiwa, atau yang lainnya. Sartono Kartodirdjo (1968) menjelaskan babad merupakan penulisan sejarah tradisional atau historiografi tradisional sebagai suatu bentuk dari suatu kultur yang membentangkan riwayat, dimana sifat-sifat dan tingkat kultur mempengaruhi bahkan menentukan bentuk itu sehingga historiografi selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya. Menurut Soekmono (1973), babad merupakan cerita sejarah yang biasanya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah meskipun yang menjadi pola adalah memang peristiwa sejarah. Teeuw (1984), menjelaskan babad sebagai teks-teks historik atau genealogik yang mengandung unsur-unsur sesusastraan. 

Demikianlah ada bermacam-macam pengertian babad. Akan tetapi, pada prinsipnya babad merupakan teks-teks historis yang dikemas dengan unsur-unsur kesusastraan.


B. HAKIKAT BABAD

Babad merupakan titik temu antara sastra dan sejarah. Realitas dalam babad telah berpadu dengan kreativitas. Makna realitas itu telah menunjukkan wajah baru. Dengan demikian, babad tidaklah mutlak dipandang sebagai dokumen sejarah, tetapi juga dipandang sebagai teks yang secara kreatif, dan menurut konvensi kebudayaan Bali, menafsirkan dan membayangkan hal-hal sejarah dan bukan sejarah dalam rangka pandangan dunia masyarakat Bali. Teks babad merupakan kenyataan yang diberi nilai dan makna lewat cerita. Oleh karena itu babad menjadi semacam model gaya bercerita yang laku dalam kebudayaan Bali pada masa itu. Dengan demikian, seorang penulis babad lebih menekankan pemberian makna dan eksistensi manusia lewat cerita, peristiwa yang barangkali tidak benar secara faktual tetapi masuk akal secara maknawi. Jadi dalam membaca babad kita selalu sadar bahwa kita berada dalam tegangan history dan story. Rekaan bukan merupakan lawan kenyataan, tetapi memberitahukan sesuatu mengenai kenyataan. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra adalah hubungan dialektik, yakni tiruan tidak mungkin tanpa kreasi dan kreasi tidak mungkin tanpa tiruan. Dengan kata lain, manusia dapat hidup dalam perpaduan antara kenyataan dan impian yang kedua-duanya hakiki untuk kita sebagai manusia. Oleh karena itu, keobjektifan mutlak tidak pernah tercapai karena beberapa hal, yaitu :

1. Fakta-fakta tidak pernah lengkap, selalu fragmentaris.

2. Penulis babad mau tidak mau berlaku selektif, tidak semua fakta

dan data sama penting dan relevannya. Ia harus memilih, dan kriteria objektif untuk penyeleksian tidak ada sehingga cenderung menulis apa yang sebaiknya ditulis bukan apa yang

seharusnya ditulis.

3. Penulisan babad adalah manusia yang latar belakang, kecenderungan, dan pendiriannya bersifat subjektif, ditentukan oleh pengalaman, situasi, dan kondisi hidupnya sebagai manusia sosio-budaya pada masa dan masyarakat tertentu (Teeuw, 1988).


C. SIFAT BABAD

Sejalan dengan pengertian dan hakikat babad seperti tersebut di

atas, maka babad memiliki sifat-sifat :

1. Sakral – magis (dikeramatkan),

2. Religio – magis (mengandung kepercayaan),

3. Legendaris (berhubungan dengan alam semesta),

4. Mitologis (berhubungan dengan dewa-dewa),

5. Hagiogrfis (mengandung kemukjizatan, menyimpang dari hukum alam),

6. Simbolis (mengandung lambang-lambang, kata-kata keramat, atau bhisama, benda-benda keramat),

7. Sugestif (mengandung ramalan, suara gaib, tabir mimpi),

8. Istana sentris (berpusat pada kerajaan),

9. Fragmentaris (tidak lengkap),

10.Raja – kultus (pengagungan leluhur),

11.Lokal (bersifat kedaerahan), dan

12.Anonim (tanpa nama pengarang).


D. PERANAN DAN FUNGSI BABAD PADA MASYARAKAT BALI MASA KINI

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa babad pada hakikatnya merupakan penafsiran terhadap kenyataan, alternatif kenyataan, atau kenyataan diberi makna lewat cerita.

Sejalan dengan itu, makna babad bukan terletak pada peristiwa itu, tetapi berada di balik peristiwa. Sebagai produk budaya, sekiranya babaddapat dilihat sebagai sistem simbol. Babad dapat dipandang menggambarkan suatu cara masyarakat Bali memperkuat dan melestarikan dirinya melalui simbolisasi dari nilai-nilai atau konsep-konsep sosio-religius yang mendasar struktur sosialnya. Hal ini penting teruatama ditinjau dari segi proses interaksi masyarakat Bali sebagai makhluk sosial. Dalam konteks ini interaksi itu dipahami sebagai interaksi simbolik. Babad sebagai sinbol digunakan oleh orang Bali berinteraksi satu sama lain atau untuk menyatakan gagasannya sebagai manusia berkebudayaan. 

Selanjutnya, sebagai warisan budaya, kiranya babad dapat dipandang sebagai konsepsi-konsepsi orang Bali dalam menghadapi kehidupan dan lingkungannya demi eksistensinya secara historis.

Kecuali itu, babad juga dapat dipandang sebagai suatu abstraksi tingkah laku, sebagai mekanisme kontrol bagi kelakuan orang Bali. Dalam konteks inilah hal-hal penting dalam babad, seperti bhisama dan persoalan sesanan bagi klien bersangkutan dapat dipahami dalam konteks yang lebih utuh. Sekalipun babad ditulis untuk mengenal dan mengingat peristiwa-peristiwa historis dengan segala konsekuensinya, maka kita lebih jauh dituntut untuk dapat memahami dan mem berikan penafsiran secara jernih dan komprehensif bahwa fungsi dokumentasi babad hendaknya dipahami sesuai dengan kodratinya sebagai ciptaan sastra. Bahwa realita dalam babad memiliki hukumnya sendiri tidak harus sama dengan realita dalam fakta. Hal ini karena dalam ciptaan yang dinamakan sastra itu terdapat dalam perpaduan mimeis dan creatio. Tidak hanya itu, babad sebagai genre sastra juga merupakan perpaduan antara etika dan estetika. Oleh karena itu fakta dan data yang tersedia dalam babad tidak dapat dipertanggungjawabkan secara penuh.

Informasi pada babad hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan. Jika mengangkat informasi dalam babad sebagai penyusun sejarah, semestinya harus memalui kritik sumber, babad dibaca secara berdampingan dengan sumber-sumber lainnya.

Namun demikian, masih dapat diakui bahwa babad diciptakan dalam rangka struktur dan pemenuhan fungsi. Sejalan dengan itu, fungsi babad antara lain :

1. Berfungsi melegitimasi (mengesahkan) asal-usul / silsilah leluhur, kejadian/peristiwa, desa, pura, atau hal-hal lainnya. Sehubungan dengan fungsi legitimasi inilah faktor-faktor kepercayaan dan ritus religius berhadapan dan saling menemtukan satu sama lain. Unsur-unsur mitos, legenda, hagiografi, simbolisme, dan sugesti sangat dibutuhkan dalam upaya menambah kekeramatan dan kewibawaan tokoh atau peristiwa yang di legitimasi.

Di samping itu, babad berfungsi sebagai penghormatan kepada leluhur. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu kepercayaan (sraddha) orang Bali adalah kepercayaan terhadap leluhur. Banyak kasus ditemukan dalam kehidupan masyarakat Bali karena faktor “tidak mengenal leluhur” (tak kenal maka tak sayang) orang tersebut lebih sengsara. Tapi setelah menemukan dan mengenal leluhurnya kehidupannya berubah menjadi lebih bahagia. Hal ini pula yang diamanatkan dalam petikan kekawin Ramayana di atas, bahwa untuk dapat menjadi seorang Gunamanta (memiliki kebajikan) seperti Sang Dasaratha, maka kita diwajibkan berbhakti kepada leluhur (tar malupeng pitrapuja) di samping bertakwa kepada Tuhan (bhakti ring dewa).

Lebih jauh, babad berfungsi sebagai penuntun pada keturunan (pratisantana) dalam menjalankan kewajiban masing-masing. Dalam tataran ini, babad dapat dipandang sebagai suatu mekanisme kontrol bagi tingkah laku orang Bali. Babad merupakan kristalisasi pandangan hidup dan ajaran-ajaran leluhur pada masa lampau. Dikatakan demikian karena hampir pada setiap babad memuat bhisama leluhur tentang sesanan (tetegenan, kewajiban) yang wajib dilaksanakan oleh keturunannya. Babad mengajarkan kepada keturunannya untuk lebih mengenal diri, untuk memahami hakikat dan eksistensi diri sebagai individu dan makhluk sosial. Artinya, babad tidak mengajarkan keturunannya untuk hidup terkotak-kotak, membatasi diri terhadap lingkungan, namun sebaliknya, babad mengajarkan interaksi orang Bali sebagai makhluk sosial. Dalam tatanan ini, babad merupakan kepaduan antara ontologis dan kosmologis. Oleh karena itu, diperlukan usaha pemahaman konfrehensif, baik terhadap manusia, dunia, maupun Tuhan dalam satu keseluruhan konseptual yang koheren. Hal ini tentu memaksa pikiran untuk meraih sampai ke inti paling murni yang tersembunyi dalam struktur-struktur pengalaman manusia (leluhur masa lalu). Akan menjadi sangat baik apabila keturunan suatu klien mampu melakukan pemahaman seperti itu tentang babad sehingga tumbuh kesadaran yang terreflaksikan dalam bentuk pelaksanaan dharma masing-masing (dharma agama dan dharma negara) meniru jejak para leluhur itu, kita mesti tetap dalam kesadaran bahwa babad adalah produk masa lampau yang diberi makna pada masa kini. Artinya, sangat diperlukan kepekaan terhadap situasi dan kondisi zaman pada saat pembacaan. Apabila keturunan suatu klien telah mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, maka mereka akan menikmati haknya dengan baik. Dalam rangka inilah kerap kali terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan babad. Yang menjadi horison harapan adalah hak dan melupakan kewajiban yang diamanatkan oleh leluhur. Oleh karena itu sering terjadi konflik, baik internal maupun eksternal.

Babad juga berfungsi sebagai inspirasi seni. Cabang seni lain, seperti seni pertunjukan, seni rupa, seni patung, bahkan genre sastra lainnya (kidung, geguritan) kerapkali mengambil sumber pada teks babad. Namun hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengangkat babad sebagai sumber inspirasi atau sumber lakon seni pertunjukan adalah adanya keseimbangan yang mampu menunjukkan ciri khas babad yang membedakannya dengan teks-teks yang lain. Ciri khas tersebut antara lain berupa legitimasi, genealogi, simbolisme, hagiografi, mitologi, dan sugesti.




(*")

DWIJENDRA TATTWA

Om ksantawiya ta sang hulun, tan

kawrateng capa tulah, mangasta wa

Danghyang mangke, Danghyang

Dwijendra sinuhun, nganugraha tatwa

kwruh, tatwa gama Hindu Bali, weda

mantra tembang kidung, solah bawa

tatacara, lawan pancayajna kabeh,

Dewa yajneka maka di, gumawe

treptining kahyun, raharja

jiwatmaningong, mogha Danghyang

tulus asung, mangacraya risang hulun,

sidharekang don, swa nagara trpti

winong.

Artinya :

Ya Tuhan, ampunilah kami, semoga

tidak tertimpa kutuk dan kualat, karena

kami kini memuja Dang Hyang

Dwijendra yang merupakan guru suci,

yang menganu-gerahkan ajaran ilmu

pengetahuan suci, Ajaran Ketuhanan

Hindu Bali, Weda Mantra dan

nyanyian-nyanyian tingkah laku

peradaban hidup, dan lima yadnya,

seperti Dewa Yadnya, yang membuat

ketentraman batin, selamat sentosa, jiwa

kami, semoga roh suci Dang Hyang

tetap belas kasihan, membantu kami,

berhasillah cita-cita kami, negara kami

selamat sejahtera diselenggarakan.


(1) DAHA




Tersebutlah seorang keturunan Brahmana (Brahmana wangsa)

bernama Nirartha adik dari Dang Hyang Angsoka, putra dari dang Hyang

Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil

istri, di Daha, putri dari Dang Hyang Panawaran yaitu golongan keturunan

Bregu di geria Mas Daha bernama Ida Istri Mas.





Setelah bersuami istri, Sang Nirartha dilantik (didiksa) oleh Dang

Hyang Panawaran menjadi pendeta (Brahmana Janma) diberi gelar Dang

Hyang Nirartha. Dari perkawinan ini Dang Hyang Nirartha mendapat dua

orang putra-putri, yang sulung putri diberi nama Ida Ayu Swabhawa alias

Hyangning Salaga (yang berarti dewanya kuncup bunga melur) sebagai nama

sanjungan karena cantik jelita rupa dan perawakannya serta pula ahli tentang

ajaran batin. Adiknya seorang putra diberi nama Ida Kulwan (artinya kawuh

atau barat) dan diberi nama sanjungan Wiraga Sandhi yang berarti kuntum

bunga gambir, karena tampan dan gagah perawakannya.


(2) PASURUAN

Sementara itu kehidupan masyarakat di Jawa sangat kacau balau,

karena di sana-sini terjadi perkelahian, pertempuran serta

penumpasan-penumpasan yang sangat mengerikan dan menyedihkan di antara orang-orang Jawa yang telah masuk agama Islam dengan orang-orang Jawa yang masih taat mempertahankan agama lamanya (sesungguhnya agama lama yaitu agama warisan leluhurnya dengan agama baru yaitu agama Islam sama saja hakikat tujuannya. Yang berbeda adalah cara-caranya, bahasa yang dipergunakan dan upakara, upacaranya, serta tata tertib pergaulan hidupnya). Akhirnya ‘kalah’ agama lama dengan Islam. 

Oleh karena itu orang-orang Jawa yang masih taat dengan agama lamanya yaitu agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah antara lain ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi), dan ada yang menyeberang ke Bali. 

Ketika itulah Dang Hyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai oleh dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan.

Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, maka Dang Hyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri dari Dang Hyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. 

Perkawinan ini menghasilkan dua orang putra laki-laki, yaitu yang sulung diberi nama Ida

Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung

yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk

raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.


(3) BRAMBANGAN (BANYUWANGI)

Kemudian Dang Hyang Dwijendra pindah pula dari Pasuruan ke Brambangan (banyuwangi) disertai oleh empat orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Dang Hyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru-Raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan ‘jempyaning ulangun’, yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara. 




Beliau itu turunan raja-raja (dalem) dan turunan Brahmana, terhitung buyut dari Dang Hyang Kresna Kepakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Saudara adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Dang Hyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten.




Perkawinan ini menghasilkan tiga orang anak, seorang putri dan dua orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai dalam ilmu kebatinan; yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan) karena terkenal pandainya, kesaktiannya, dan ahli ilmu gaib. Banyak tulisan buah tangannya.




Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten (yang berarti tenag dan disiplin

air).


(4) MPULAKI / DALEM MELANTING

setelah beberapa tahun lamanya Dang Hyang Nirartha bertempat

tinggal di Brambangan, maka terjadi suatu hal yang menyebabkan tidak baik

hubungan Dang Hyang Nirartha terhadap Raja Sri Aji Juru, karena raja

mengandung benci dan murka kepada Mpu Dang Hyang. Mpu Dang Hyang didakwa oleh raja memasang guna-guna disebabkan oleh keringat Dang Hyang Nirartha harum sebagai minyak mawar. Tiap-tiap orang turut berdekatan dengan beliau turut harum tanpa memakai minyak wangi. 

Adik wanita Sri Dalem Juru mengandung cinta birahi kepada Mpu Dang Hyang, sebab itu Dang Hyang Nirartha berusaha pindah dari Brambangan, hendak menyeberang ke Bali bersama tujuh orang putra-putrinya dan istrinya Sri Patni Kaniten.

Pada suatu hari menyeberanglah sang pendeta bersama anak istrinya mengarungi laut selat Bali yang disebut Segara Rupek. Sang pendeta sendiri waktu menyeberang mempergunakan sebuah labu pahit (waluh pait) bekas kele kepunyaan orang desa Mejaya. Kaki-tangannya dipergunakan sebagai dayung dan kemudi. 




Penyeberangan selamat tidak mendapat rintangan suatu apa. Dang Hyang Nirartha seorang pendeta yang tajam perasaan intuisinya itu mengerti bahwa penyeberangannya itu selamat atas bantuan sebuah waluh pait dan kekuasaan Tuhan. Sebab itu beliau bersumpah dalam lautan tidak akan mengganggu hidupnya waluh pahit seumur hidupnya sampai pada turunanturunannya.

Adapun anak-istrinya menyeberang menumpang jukung (perahu) bocor yang disumbat dengan daun waluh pahit, juga kepunyaan orang desa Mejaya.

Tiada berapa lama antaranya karena mendapat tiupan angin barat yang baik, maka beliau tiba di pantai pulau Bali bagian barat. Sang Pendeta telah sampai terlebih dahulu, menantikan anak-istrinya sambil menggembala sapi. Di tempat itu lama-kelamaan dibangun sebuah Pura kecil lalu dinamai

Purancak. Atas petunjuk orang-orang gembala itu, sang pendeta bersama anakistrinya berangkat berjalan ke arah timur memasuki hutan belukar. 

Di tengan perjalanan, rombongan sang Pendeta agak ragu-ragu. Jalan kecil (lisikan; bali) yang mana harus dituruti, karena banyak cabangnya. Tiba-tiba muncul seekor kera di tengah jalan. Ia berjalan lebih dahulu sambil bersuara ‘grok-krok’ seraya melompat-lompat di atas dahan-dahan pohon sebagai menunjuk jalan.




Sang pendeta berkata kepada kera itu :

“Hai kera, semoga turun-turunanku kelak tidak boleh menyakiti

kera dengan dalih memelihara”, demikian pastu beliau terus berjalan ke arah

timur bersama anak-istrinya.

Tiba-tiba bertemu dengan naga yang besar terbuka mulutnya sangat

lebar dengan rupa dan bentuk yang dahsyat mengerikan. Putra-putri dan

istrinya terperanjat hebat, nyaris lari cepat-cepat, namun sang pendeta dengan

wajah yang tenang masuk ke dalam mulut naga itu. Setibanya beliau di dalam

perut naga itu, dijumpainya sebuah telaga yang berisi bunga tunjung (teratai)

tiga warna yaitu tunjung yang di pinggir timur berwarna putih, yang di pinggir

selatan merah, yang di pinggir utara hitam. Ketiga kuntum tunjung itu dipetik

oleh sang pendeta, yang merah dikenakan di telinga kanan, yang hitam di atas

telinga kiri, yang putih dipegang dengan tangannya, lalu keluar dari perut naga itu seraya mengucapkan Weda Mantra “Hayu Werddhi”. 




Naga itu musnah dengan tidak meninggalkan bekas. Rupa sang pendeta terlihat oleh istri dan putra-putrinya berwarna merah dan hitam, kemudian berubah berwarna mas.

Melihat keadaan yang demikian, maka putra-putri dan istrinya diserang oleh parasaan takut yang amat sangat, sehingga tidak dapat menahan dirinya, lalu lari tunggang-langgang masuk ke dalam hutan tidak tentu tujuannya, masingmasing membawa dirinya sendiri.




Dang Hyang Nirartha setibanya di luar tercengang terperanjat karena anak-istrinya tidak ada lagi. Dengan perasaan yang sangat cemas sang pendeta tergopoh-gopoh mencarinya ke dalam hutan belukar yang rapat dan padat tumbuhannya, tambahan pula hari telah mulai menggelap. Untung tidak jauh dari tempatnya semula didapati istrinya seorang diri duduk bersimpuh terengah-engah dalam kepayahan, pucat-pasi, lesu-letih tidak dapat berjalan

lagi.

“Wahai Ketut,” kata Dang Hyang Nirartha. “Kemana larinya anakanak

kita?”

“Ampun sang Pendeta, hamba tidak tahu kemana larinya anak-anak kita, karea mereka lari tak berketentuan dan berpencar masing-masing dengan kehendaknya sendiri-sendiri. Hamba tidak dapat mengejar mereka karena lesu kepayahan,” jawab istri beliau.

Sang pendeta merasa cemas dan ada pula getaran perasaan yang tidak enak menyelinap dalam hatinya yang seakan-akan membisikkan ada sesuatu bahaya yang sedang menimpa putrinya.

Setelah istrinya reda sedikit payahnya, lalu bangun bersama sang pendeta berjalan perlahan-lahan mencari dan mengumpulkan putra-putrinya di dalam hutan yang gelap diselimuti malam itu. Semalam-malam itu sang pendeta terus berjalan bersama istrinya sambil memanggil-manggil nama putra-putrinya itu. Karena suara panggilan itu maka lama-kelamaan dapat dikumpulkan putra-putrinya seorang demi seorang dan akhirnya kurang lagi seorang, yaitu putrinya yang tertua, Ida Ayu Swabhawa belum diketemukan.

Mpu Dang Hyang disertai anak dan istrinya terus mencari Ida Ayu Swabhawa sambil memanggil-manggil namanya. Setelah lama dicari, ditemuinya telah berbadan halus (astral). Tampak rupanya pucat lesu.

“Apa sebabnya kau lari sampai sejauh ini, anakku?” ’tanya Dang Hyang Nirartha.

“Ampunilah Mpu Dang Hyang...,” jawab Ida Ayu Swabhawa.

“Sebabnya hamba lari sejauh ini, karena diserang oleh rasa takut yang sangat hebat tatkala melihat rupa ayahanda ketika baru keluar dari mulut naga, sebentar merah, sebentar hitam. Hamba lari dan terus dibuntuti dan dikejar oleh rasa takut itu, sehingga lari hamba..... kian lama kian cepat menghabiskan tenaga...... sampai ke luar hutan, memasuki daerah desa, lalu....,” baru sampai sekian katanya lalu Ida Ayu Swabhawa terdiam. Wajah mukanya tampak sedih pedih kemudian berkata lagi, “Mpu Dang Hyang,.... hamba malu hidup sebagai manusia lagi... karena merasa cemar diri, penuh dosa. 

Kasihanilah hamba, ajarilah sungguh-sungguh supaya hamba bersih dari dosa, tidak dilihat orang. Bisa menjadi dewa di surga, tidak lagi menjadi manusia....”

Dang Hyang Nirartha terharu hatinya mendengarkan, kasihan kepada putrinya dan murka kepada orang-orang desa (Pegametan) itu. “jangan khawatir, anakku. Ayah akan sedia mengajarkanmu suatu ilmu rahasia, agar anakku terlepas dari segala dosa dan dapat duduk sebagai dewa.”

Lalu Ida Ayu Swabhawa diajar suatu ilmu rahasia kaparamarthan yang berkuasa melepaskan segala dosa. Setelah selesai ajarannya maka Ida Ayu Swabhawa menggaib, suci dari dosa, menjadi dewi yang bernama Dewi (Bhatari) Melanting, yang akan menjadi junjungan persembahan orang-orang desa di sana. 

Adapun ketika sang pendeta mengajar ilmu rahasia kepada putrinya, didengar pula oleh seekor cacing kalung, maka secara tiba-tiba musnah dosa cacing itu, lalu menjelma menjadi seorang manusia perempuan yang memohon agar diperkenankan menghamba kepada Mpu Dang Hyang dengan menyembah kakinya sang pendeta dan mengajukan permohonan tersebut, sebagai pembalasan jasa beliau memusnahkan dosanya dan ia bisa kembali menjadi manusia. Sang pendeta menerima permohonannya, lalu diberi nama Ni Berit.

Ketika itu istri Dang Hyang Nirartha, Sri Patni Kaniten yang telah diberi gelar Empu Istri Ketut, dalam keadaan payah berdatang sembah kepada sang pendeta.

“Mpu Dang Hyang, hamba tidak kuasa berjalan lagi. Rasanya ajal hamba akan datang. Izinkanlah hamba turut sampai di sini dan ajarilah juga hamba ilmu yang diberikan kepada putri Ida Ayu Swabhawa, agar hamba terlepas dari dosa dan papa kembali menjadi dewa.”

Dang Hyand Dwijendra menjawab, “Baiklah, adikku. Diam di sini saja bersama-sama putri kita Ni Swabhawa. Ia sudah suci menjadi Bhatari.





Dalem Melanting dan engkau boleh menjadi Bhatari Dalem Ketut yang akan dijunjung disembah oleh orang-orang di sini di desa bersama orang-orangnya yang ada di sini yang akan kupralinakan (hanguskan) agar tidak kelihatan oleh manusia biasa. Semuanya akan menjadi orang halus, orang Sumedang.

Dan daerah desa ini kemudian bernama Mpulaki,” kata Dang Hyang.

Setelah mengajarkan ilmu rahasia kepada istrinya maka Mpu Dang Hyang mengeluarkan agni rahasia (api gaib) menghanguskan seluruh desa dan penghuninya sekalian.


(5) GADING WANI

Kemudian Dang Hyang Nirartha bersama 6 orang putra-putrinya

berangkat meneruskan perjalanan ke timur. Lalu mereka tiba di sebuah desa

bernama GADING WANI. Kebetulan waktu itu orang-orang desa diserang

penyakit sampar (grubug; Bali). Bendesa (Kepala Desa) Gading Wani tatkala

mengetahui sang pendeta datang lalu segera menjemput di tengah jalan, duduk

bersila menyembah.

“Mpu Dang Hyang, kami mengucapkan selamat datang. Bahwa

sang pendeta telah sudi datang ke tempat kami yang sedang ditimpa penyakit

sampar. Setiap hari ada saja orang-orang kami yang meninggal mendadak.

Kami mohon urip (hidup) dengan hormat. Sudilah kiranya Mpu Dang Hyang

memberikan kali obat agar kami sembuh dan wabah ini hilang,” harapnya.

Demikian katanya seraya berlinang-linang air matanya. Dang

Hyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Seketika Ki

Bendesa disuruh mengambil air bersih ditempatkan di sangku, periuk atau

sibuh. Setelah diberi mantram oleh sang pendeta, lalu disuruh memercikkan

kepada yang sakit dan meminumnya. Mpu Dang Hyang beserta putra-putrinya

dihaturkan pesanggrahan tempat beristirahat dan dipersiapkan hidangan berupa

santapan dan buah-buahan. Orang yang sakit setelah diperciki dan meminum

air tirtha dari Mpu Dang Hyang seketika itu sehat bugar kembali.

Pada sore harinya (sandhyakala) sang pendeta memerintahkan orang-orang meletakkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat penjuru tepi desa untuk mengusir bhuta kala yang membuat penyakit. 

Orang-orang desa yang diberi perintah menyembah dan segera berjalan melaksanakannya.

Memang benar-benar sang pendeta adalah orang yang sakti, seketika itu orang

desa dapat membuktikan dan melihat bayangan bhuta kala itu lari ke dalam

laut, rupanya beraneka ragam. Orang desa banyak yang turun menyaksikan

pemandangan yang ajaib itu, dan semuanya heran terhadap kesaktian sang

pendeta. Mulai ketika itu beliau diberi gelar PEDANDA SAKTI WAWU

RAWUH (pendeta sakti yang baru datang). Yang pandai bahasa Kawi

menyebut beliau DANG HYANG DWIJENDRA (raja guru agama).

Orang desa semuanya riang gembira. Tiap-tiap hari bergilir

menghaturkan santapan kehadapan sang pendeta dan putra-putrinya serta

membuatkan pamereman (tempat tinggal) di desa Wani Tegeh. Harapan orang-orang

desa agar sang pendeta menetap di sana, tetapi sang pendeta keberatan

karena masih akan meneruskan perjalanan ke timur. Kemudian Ki Bendesa

Gading Wani mohon berguru dan mebersih (mediksa) menjadi pendeta. Sang

pendeta berkenan meluluskan permohonannya agar ada orang tua pembimbing

agama di sana.

Ki Bendesa diajar ilmu kebatinan dan ketuhanan. Selanjutnya

dibersihkan (didiksa) menjadi pendeta (Dukuh) Gading Wani. Setelah itu

diberi suatu panugrahan dicantumkan dalam “Kidung Sebun Bangkung” . Ki Bendesa Gading Wani setelahnya dilantik menjadi pendeta (Dukuh)

menghaturkan anaknya wanita cantik kepada Dang Hyang Dwijendra yang

bernama Ni Jro Patapan sebagai pangguru yoga, yaitu tanda bakti berguru

untuk menjadi pelayan Mpu Dang Hyang Dwijendra dalam mengatur sesajen-sesajen

berama Ni Berit. Dengan senang hati Dang Hyang Dwijendra

menerimanya.


(6) PURA RESI DESA MUNDEH

Entah berapa waktu lamanya Pedanda Sakti Wawu Rawuh

berasrama di desa Wani Tegeh. Maka tersebarlah beritanya sampai ke desa

Mas, Gianyar, yaitu sanak saudaranya Ki Bendesa Gading Wani yang

bertempat di Mas, dan sanak keluarganya di desa Mundeh, Kaba-Kaba.

Pada suatu hari Ki Pangeran Mas mengadakan persiapan untuk

pergi ke desa Wani Tegeh atau Gading Wani untuk memberitahu Dang Hyang

agar sudi datang ke Mas. Sang pendeta menyetujui. Lalu berangkatlah sang

pendeta bersama putra-putrinya dari desa Wani Tegeh menuju desa Mas.

Setelah tiba di desa Mundeh , beliau dijemput oleh Ki Bendesa Mundeh di

tengah jalan dengan suatu maksud mohon berguru pada sang pendeta, tetapi

ditolak oleh sang pendeta karena permohonannya itu dilakukan ketika sedang

ada di jalan. Tetapi oleh karena amat khidmat baktinya Ki Bendesa menjemput

beliau, maka ada juga anugerahnya, yaitu debu tapak kaki beliau ketika beliau

berdiri berhenti di tempat itu, laksana suatu lingga yang harus dihormati oleh

orang-orang mundeh sampai kemudian. Ki Bendesa Mundeh amat senang

hatinya menerima anugrah pendeta itu. Di tempat itu lambat laun dibangun

sebuah pura bernama PURA RESI atau PURA GRIA KAWITAN RESI.


(7) MANGA PURI (MANGUI)

Dari desa Mundeh sang pendeta berangkat ke arah timur laut. Di

tengah jalan beliau bertemu dengan sebuah aliran sungai. Di pinggir sebelah

baratnya ada sebuah mata air. Airnya sangat suci dan sejuk. Di pinggirannya

terhias dengan bunga-bungaan yang sedang mekar. Menebarkan bau harum

yang menyedapkan penciuman hidung. Bunga rampai yang pupus gugur dari

kuntumnya menutupi tanah seakan-akan kasur tilam sari, sungguh-sungguh

menggugah rasa indah nikmat mesra membatin. Sang pendeta berhenti di

tempat itu, dengan tenang melakukan yoga semadhi disertai pujastuti dan japa

mantra utama. Dan di sekeliling beliau itu disebut Mangopuri (Mangui).


(8) PURA SADA

Tidak lama sang pendeta ada di sana, lalu didengar oleh Ki Bendesa

Kapal turunan dari Ki Patih Wulung, tentang sang pendeta ada di Mangopuri

Pura Sada di Mengwi

(Mangwi). Maka cepat-cepat Ki Bendesa Kapal datang menghadap Mpu Dang

Hyang untuk menghaturi agar beliau berkenan singgah di sana serta

menjelaskan bahwa beliau membawa surat pemberian Krian Patih Gajah Mada

yang berisi perintah supaya memperbaiki pura Kahyangan yang ada di Bali,

dan pada waktu itu kebetulan ada karya pujawali (odalan) di Pura Sada Kapal.

Demikian isi permohonan Ki Bendesa Kapal. Sang pendeta memenuhi

permohonannya dengan senang hati dan berangkat saat itu juga.

Tiada diceritakan bagaimana beliau di tengah jalan. Akhirnya

tibalah sang pendeta di dea Kapal lalu masuk ke dalam pura serta duduk di

balai piasan di sebelah barat.

“Kaki Arya,” panggil Dang Hyang kepada Ki Bendesa. “Siapakah

yang akan menyelesaikan karya pujawali Bhatara di parahyangan ini?”

“Singgih Mpu Dang Hyang,” jawab Ki Bendesa. “Tiada lain Mpu

Guto kami aturi di gunung Agung, untuk menyelesaikan karya pujawali ini.”

“Ki Arya,” panggil sang pendeta. “Ki Guto itu adalah pelayanku

yang disangka pendeta Brahmana. Ia adalah penjelmaan gandharwa yang terkutuk dahulunya. Yang harus diselesaikan olehnya segala caru yang kecil dan untuk upacara selamatan sawah ladang, demikianlah hak wewenangnya.” Ujar sang pendeta.



Tidak lama antaranya maka datanglah rakyatnya yang diutus pergi

ke gunung Agung mengaturi Ki Guto, memikul Ki Guto dengan tandu

pegayotan serta berpayung agung dan langsung masuk ke dalam parahyangan

pura Sada. Demi dilihat Dang Hyang Dwijendra duduk di balai piasan, maka

Ki Guto cepat-cepat turun dari tandu duduk bersimpuh di hadapan sang

pendeta seraya mohon ampun atas kesalahan tingkah lakunya.

“Hai Guto, mulai sekarang kamu jangan menipu masyarakat

umum. Aku mengampuni kesalahanmu,” ucap sang pandita.

Demikianlah kata sang pandita kepada Ki Guto, kemudian menoleh

kepada Ki Bendesa.

“Kaki Arya, ketahuilah bahwa aku yang mengutus Ki Guto pergi ke

Bali untuk menyelidiki Dalem Sri Watorenggong, telah lama tidak muncul lagi

ke Jawa. Kini urungkan Ki Guto menyelesaikan upacara pujawali di sini!”

perintah Dang Hyang. “Yang patut dihadapinya adalah korban (caru)

terutama pada waktu tileming kesanga (bulan mati pada bulan kesembilan

pada kalender Bali, sekitar bulan Maret-April), anangluk mrana (pengusir

hama), mebalik sumpah di sawah ladang, dan amugpug desti teluh tranjana

(menghalau sebangsa ilmu hitam). Itulah wewenangnya. Jika ditugaskan

untuk pujawali persembahyangan Dewa di pura-pura, panas kesakitan

masyarakat desa olehnya.”

Ki Guto dan Ki Bendesa menyembah berulang-ulang. Dang Hyang

Dwijendra dihaturi memuja menyelesaikan upacara pujawali di Pura Sada,

sedang Ki Gito disuruh memuja pada upacara korban (pecaruan).


(9) DESA TUBAN

Setelah selesai upacara odalan di Pura Sada, maka sang pendeta

bersama putra-putrinya dan 2 orang pelayannya pergi ke arah selatan, tiba di

desa Tuban di daerah selatan Badung. Beliau dijemput oleh orang-orang desa

Tuban. Semuanya dengan hormat dan tulus ikhlas menghaturkan hidangan

santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya semua. Sementara sang

pendeta diam di sana, banyak ikan laut yang tertangkap. Itu adalah karena

kasidhian (kesaktian) Pedanda Sakti Wawu Rawuh itu. Demikian juga tanam-tanaman

dan segala sesuatunya menjadi baik semuanya.

Pada suatu hari sang pendeta dan putra-putrinya dihaturi hidangan

yang penuh dengan berbagai masakan ikan laut. Sang pendeta bersama putra putrinya

dengan senang menikmati hidangan yang luar biasa itu. Setelah

bersantap ada masih tersisa ikan separo. Setelah diberi mantram oleh sang

pendeta lalu dilemparkan ke dalam laut, maka ikan itu hidup kembali dan

diberi nama ikan tampak (telapak), oleh karena dagingnya habis sebagian. Ikan

tampak itu diberi mantra suci oleh Dang Hyang Nirartha dan diumumkan

kepada orang-orang yang ada di sana, apabila kemudian ada orang magawe

hayu (melaksanakan upacara untuk kesejahteraan), ikan itu boleh digunakan

sebagai isi sesajen suci. Orang-orang desa Tuban yang kebetulan ada di tempat

itu melihat dan menyaksikan keadaan yang sedemikian itu, semuanya

tercengang, heran takjub dengan kesaktian sang pendeta itu. Kemudian sang

pendeta mengajar dan menasihati orang-orang desa Tuban membuat pukat

(bubu) tanpa umpan agar banyak mendapat ikan dengan cara diam-diam.


(10) ARYA TEGEH KURI

Kurang lebih tujuh hari lamanya sang pendeta di desa Tuban, maka

datang Kyayi Arya Tegeh Kuri menjemput sang pendeta bersama putra-putrinya

agar sudi simpang di puri beliau. Pada suatu ketika berangkatlah sang

pendeta diiringkan oleh Kyayi Tegeh Kuri.

Setibanya di desa Buangan terpaksa beliau berhenti dalam sebuah

parahyangan pura Batan Nyuh karena dihalangi oleh banjir besar.

Banyak orang yang datang mengahadap dari sebelah timur jalan

melalui jembatan gantung, semuanya menyembah serta memohon pengalah

air oleh karena rumah-rumah mereka dilanda banjir. Sang pendeta belas

kasihan kepada orang-orang yang kena bencana alam kebanjiran itu. Lalu

beliau memberikan sepotong kayu anceng (tongkat) yang telah dirajah Sang

Hyang Klar, disuruh agar dipancangkan di muara banjir itu. Dengan tiba-tiba,

menggelombang naik air itu lalu bertolak lari ke barat memutus jalan. Sangat

heran orang-orang yang melihat tentang kekuatan batin sang pendeta demikian

itu. Orang-orang desa berdatangan menghaturkan buah-buahan dan santap-santapan

lainnya. Tidak diceritakan lebih lanjut tentang sang pendeta di tengah

jalan, akhirnya tiba di puri Arya Tegeh Kuri di Badung.


(11) DESA MAS

Setelah beberapa lama beristirahat di Badung, maka datang Ki

Pangeran Mas menjemput Mpu Dang Hyang diaturi pergi ke desa Mas. Dang

Hyang Dwijendra bersama putra-putri dan dua orang pelayan beliau pergi ke

desa Mas. Di sana beliau dibuatkan Gria (rumah untuk para Brahmana) yang

baik, sehingga menetap sang pendeta , diam di desa Mas.

Lama-kelamaan Ki Pangeran Mas menghaturkan anaknya wanita

yang amat cantik. Putri Bendesa Gading Wani, yang dipakai pelayan oleh sang

pendeta bersama Ni Berit, kini dipakai pelayan oleh putrinya Pangeran Mas

yang bernama Sang Ayu Mas Genitir. Kemudian setelah itu Pangeran Mas

dibersihkan (didiksa) oleh Mpu Dang Hyang, menjadi pendeta dan telah lama

paham tentang Agama, ilmu ketuhanan, dan ilmu batin.

Setahun telah berselang pertemuan suami-istri Dang Hyang Nirartha

dengan Sang Istri Mas Genitir lalu melahirkan seorang putra diberi nama Ida Putu Kidul.

Dalam antara itu ada seorang pelayan Pangeran Mas bernama Pan

Geleng menghaturkan sebuah pusuh (jantung pisang) pisang batu yang berisi

gading mas asal tanamannya sendiri kepada Dang Hyang Dwijendra.

Kata Dang Hyang waktu menerima pusuh pisang batu, “semoga

Pan Geleng kaya sampai seturun-turunannya kelak.”


(12) PERGAULAN HIDUP BRAHMANA WANGSA

Diceritakan pada suatu hari sang pendeta memancing di taman,

berdiri di tengah telaga, kakinya beralas daun tunjung (teratai), bisa

mengambang dan tidak tenggelam. Setelah banyak mendapat ikan, sang

pendeta berhenti memancing, lalu mandi menyucikan diri, kemudian

melakukan Surya Sewana. Setelah selesai, sang pendeta dihaturi hidangan

santapan. Setelah beliau selesai bersantap maka keempat putranya disuruh

meneruskan menkmati. Empat orang putranya yaitu Ida Putu Kemenuh

(Daha), Ida Putu Manuaba (Pasuruan), Ida Putu Telaga (Brambangan), dan

Ida Putu Mas (desa Mas), yang yang biasa disebut Kulwan, Lor, Wetan, dan

Kidul. Sedang para putranya itu menikmati hidangan maka sang pendeta

memberikan nasihat.

“Anakku semuanya, engkau boleh saling cuntakain sampai turunturunanmu

kemudian. Saling cuntakain artinya tenggang rasa, gotongroyong,

bela-membela, dalam keadaan suka-duka hidup di dunia. Apabila

seseorang berduka maka semuanya harus berbelasungkawa. Tentang

perkawinan boleh ambil-mengambil. Tiap orang yang lebih tua dan pandai

boleh dipakai guru (nabe). Jika kemudian engkau lupa akan ikatan

bersaudara, semoga salah satu di antaranya yang melanggar amanatku ini

turun dan surut derajat kewibawaannya.” Demikian amanat sang pendeta.

Lama-kelamaan terjadi hal yang agak ganjil mungkin karena kodrat

Tuhan, yaitu Dang Hyang menjamah pelayan Sang Istri Ayu Mas anak dari Ki

Bendesa Gading Wani yang bernama Jro Patapan, akhirnya berputra seorang

laki-laki bernama Ida Wayan Sangsi atau Ida Patapan.

Lain dari itu, pelayan yang bernama Ni Berit pada suatu malam

dijumpai sedang mengeluarkan air kencing sebagai air pancuran sehingga

menembus tanah sampai sehasta dalamnya, lalu dijamah juga oleh sang

pendeta, kemudian melahirkan seorang putra laki-laki diberi nama Ida

Wayahan Tamesi atau Ida Bindu.

Diceritakan setelah dua orang putranya terakhir sama-sama besar,

sang pendeta pagi-pagi pergi pula ke suatu telaga di taman untuk memancing

ikan, berdiri di tengah telaga beralas daun tunjung, tetapi daun tunjung

itu tenggelan sepergelangan kaki sang pendeta, dan terlihat oleh beliau ikan

kakul (siput) yang telah disantap dagingnya, sisanya dilemparkan ke dalam

telaga, lalu hidup kembali. Dalam keadaan seperti itu menyelinap suatu

perasaan ke dalam hati sanubarinya, bahwa dua orang putranya yang terakhir

ini akan surut perbawanya. Setelah selesai memancing lalu beliau bersiram

menyucikan diri, kemudian pulang dan masuk ke tempat pemujaan, lalu

melakukan pemujaan seperti biasa.

Setelah keluar dari tempat memuja maka dihaturi hidangan untuk

bersantap. Setelah sang pendeta habis bersantap maka dipanggil putranya

keenam orang untuk makan bersama-sama dalam satu hidangan. Putra putranya

berenam telah siap untuk makan bersama (magibug) satu hidangan,

demi masing-masing telah menggenggam nasi kepelan di tangannya, maka

tiap-tiap alat makan itu berkontak berkelahi dengan kawan-kawannya. Ada

yang bertarung, ada yang jatuh, ada yang berbenturan di dulang, yang kalah

membalas pula dan lain sebagainya sehingga alat-alat makan itu berantakan.

Hal itu dilihat oleh sang pendeta, lalu orang disuruh membawakan lagi

makanan dua hidangan yang berlain-lainan. Setelah siap, maka Ida Wayahan

Sangsi (Ida Patapan) makan menjadi satu hidangan, dikumpulkan dengan Ida

Bindu. Sedang putranya empat orang lagi makan menjadi satu hidangan.

Dengan keadaan yang demikian maka tentramlah keadaan masing-masing,

asyik menikmati hidangan dengan sepuas-puasnya tidak ada suatu sengketa

pun yang terjadi.

Sementara sang pendeta memberikan nasihat, “Anakku sekalian,

dengarkanlah nasihatku baik-baik. Anakku Putu Sangsi dan Putu Tamesi

dalam kehidupanmu turun-temurun boleh sembah-kasembah dan boleh ambil mengambil

istri, tetapi dalam turun-turunannya anak-anakku empat orang

lagi, (yaitu Putu Kulwan, Putu Lor/Manuaba, Putu Wetan, dan Putu Mas)

tidak boleh. Tetapi engkau Putu Sangsi dan Putu Bindu seturun-turunanmu

boleh menghaturkan sembah, menghaturkan putri dan berguru kepada

saudara-saudaramu yang empat orang ini dan turun-turunannya, sebab

ibumu adalah orang-orang pelayan. Demikianlah harus diingat benar-benar

amanatku ini. Siapa yang melanggar akan mendapat papa, surut wibawa dan

wangsanya.” Demikian amanat Dang Hyang Dwijendra.


(13) KI GUSTI PANYARIKAN DAUH BALEAGUNG

Lambat laun tersebar berita Dang Hyang sampai Ke Gelgel,

bahwasanya ada seorang pendeta sakti baru datang disebut oleh umum

Pedanda Sakti Wawu Rawuh, saktinya hampir sama dengan pendeta Loh

Gawe. Sebab itu Dalem Watu Renggong (Raja Bali saat itu) sangat besar

hasratnya untuk memanggil pendeta sakti itu untuk dijadikan gurunya. Pada

suatu hari diutus Ki Gusti Penyarikan Dauh Baleagung pergi ke desa Mas

untuk menghaturi Dang Hyang agar datang ke Gelgel dan diharapkan datang esok harinya.

Pada hari yang baik berangkatlah Gusti Penyarikan mengendarai

kuda putih, berpakaian putih, hanya giginya saja yang hitam. Setibanya di

desa Mas, dilihatnya Ki Bendesa Mas sedang menghadap sang pendeta di

sebuah pendopo kecil, maka segera beliau turun dari kendaraan.

KI Gusti Penyarikan segera duduk menghadap sang pendeta seraya

memperkenalkan diri dan mempermaklumkan kedatangannya itu. Setelah

banyak kata-katanya menceritakan keadaan di Bali kemudian timbul

pikirannya hendak menyelami pengetahuan sang pendeta tentang ajaran

pemerintahan negara.

Setelah sang pendeta menjelaskan tentang tata negara, Kyayi

Panyarikan merasa sangat beruntung dalam hatinya, sebagai kodrat Tuhan

mempertemukannya dengan seorang pendeta sakti dan ahli dalam bidang

agama. Lalu mengajukan permohonan agar ia diangkat sebagai muridnya,

berguru kepada sang pendeta, belajar rahasia ilmu ketuhanan dan akhirnya

memohon dibersihkan dan dinobatkan sebagai Bagawan, pendeta ksatria.

Sang pendeta berkekan mengabulkan permohonan Ki Gusti, pada

malam harinya sang pendeta mengajarkan rahasia ilmu ketuhanan dengan

yoga samadhinya dengan Weda mantra yang penting-penting.

Ki Gusti memang sudah mempunyai dasar dan bakat yang baik

tentang ilmu ketuhanan, karena usaha dan latihannya sendiri. Sebab itu ajaran

sang pendeta cepat dapat ditampung dan dipenuhinya. Besok paginya

kebetulan hari baik, beliau didiksa oleh sang pendeta menjadi Bhagawan.

Setelah itu Mpu Dang Hyang lanjut memberikan nasihat dan ajaran penting

kepada muridnya, sehingga kyayi Panyarikan terlambat sehari kembali ke

Gelgel mengiring Dang Hyang Nirartha.


(14) PURA SILAYUKTI, TELUK PADANG

Pagi-pagi setelah dua malam lewat, maka Kyayi Penyarikan

berangkat mengiring Pedanda Sakti Wawu Rawuh ke Gelgel sama-sama

mengendarai kuda. Tiada diceritakan lagi di tengah jalan maka tibalah beliau

di Gelgel. Tetapi sayang Dalem Watorenggong telah berangkat pagi-pagi ke

teluk Padangbai untuk berburu binatang dan menangkap ikan diiringi oleh

para mantri punggawa dan rakyat sangat banyaknya. Oleh karena demikian

halnya maka terpaksa Ki Gusti Penyarikan mengiring Dang Hyang ke Teluk Padang.

Setibanya di Padang, sang surya telah lewat tengah hari, para

punggawa mantri telah sama-sama mulai mencari pondoknya masing-masing.

Kyayi Penyarikan mengiring Dang Hyang menuju pesanggrahan Dalem.

Dalem Waturenggong agak murka kepada Ki Penyarikan, katanya,

“Kenapa sampai lewat janji baru datang?! Sebagai bukan orang tua.

Penyarikan, antarkan Mpu Dang Hyang ke parahyangan Mpu Kuturan!”

Setelah Dang Hyang Nirartha beristirahat, datang Dalem

Waturenggong menghadap bersama beberapa orang pelayan membawa

santapan seraya berkata, “Selamat datang, Mpu, maafkanlah keadaan tempat

yang tidak sepertinya ini, dan silakan menikmati santapan ala kadarnya.”

Sang pendeta mengucapkan banyak terima kasih, lalu berkata,

“Tuanku, maafkanlah Ki Penyarikan agak terlambat pada janjinya, sebab

beliau ingin berguru dan mempelajari ilmu ketuhanan dan minta didiksa

menjadi Bhagawan. Kami sedia melakukannya. Jangan tuanku kecewa karena

belakangan, sebab soal agama tidak mengenal carikan atau sisa-sisa, karena

agama adalah soal ketuhanan yang suci,” demikianlah kata sang pendeta.

“tuanku, apakah hari ini tuan mendapatkan banyak ikan?”

“Wah, kami benar-benar sial, tidak dapat seekorpun!” jawab

Dalem Waturenggong.

“Tuanku, cobalah sekarang perintahkan rakyat tuanku menangkap

ikan dan berburu binatang, kiranya banyak berhasil,” kata sang Pendeta.

Dalem menurut sang pendeta, memerintahkan rakyatnya

mengulangi menangkap ikan dan berburu. Sebelum rakyat masuk ke laut akan

menangkap ikan dan ke hutan akan berburu binatang, sang pendeta keluar dan

berdiri di halaman memandang ke laut memanggil ikan dan memandang ke

hutan memanggil binatang. Tidak berselang lama banyaklah ikan dan binatang

tertangkap oleh rakyat. Dalem dan sang pendeta sangat gembira melihatnya.

Setelah hari sore semua rakyat penangkap ikan dan pemburu binatang telah

kembali ke tempatnya dengan membawa hasil yang sangat banyak, dan Sri Aji

Bali dan sang pendeta kembali lagi ke pesanggrahan. Pada malam harinya sampai larut malam Dalem Waturenggong bercakap-cakap dengan sang

pendeta tentang agama. Tetapi soal mebersih (mediksa) Dalem masih berfikir.

Besok paginya Dalem kembali ke Gelgel diiringi oleh seluruh

menteri, punggawa, dan rakyat. Dalem duduk dalam satu pedati yang ditarik

kuda bersama sang pendeta. Setibanya di kali Unda, jalan pedati berhenti

karena air sungai sedang naik, banjir karena hujan di pegunungan.

Kemudian sang pendeta membisikkan ajaran Aswa-Siksa, setelah

Dalem mengerti dan paham tentang ajaran itu, terutama mantramnya, lalu

diambil oleh beliau sebuah cambuk dan dilecutkannya dengan keras, maka

ujungnya keluar api sedang pangkalnya keluar air amrta. Dalam keadaan

seperti itu kuda mendobrak air sungai, kakinya tenggelam sepergelangannya

dan akhirnya selamat ke tepi sungai di barat. Semua yang melihat sangat

heran.

Tiada diceritakan lebih lanjut betapa iring-iringan raja Bali di

tengah jalan, maka tibalah di istana Gelgel. Sang pendeta ditempatkan di

tempat yang suci dengan menikmati hidangan yang secukupnya. Dalem pada

kesempatan ini menceritakan sikapnya, katanya, “Mpu Dang Hyang, sampai

saat ini saya belum ada niat akan mediksa, karena telah merupakan surudan

dari pangeran Dawuh.”

Sang pendeta menjawab, “Tuanku, maklumilah seyakin-yakinnya,

bahwa agama itu tidak ada yang merupakan surudan (sisa-sisa), kalau

diandaikan sama dengan air yang diucurkan,”

Sekalipun demikian penjelasan sang pendeta, namun Dalem

Watorenggong tetap pada pendiriannya tidak mau mediksa.


(15) IDA BURUAN

Diceritakan Ki Gusti Penyarikan Dauh Baleagung yang telah

berkedudukan sebagai pendeta Bhagawan acapkali menghadap kepada Dang

Hyang untuk mendalami ajaran agama dan kebatinan sampai juga pada sastra,

tembang-tembang bersanjak, pupuh, kidung, dan guru-lagu kekawin, sehingga

pengetahuan Ki Gusti Bhagawan sungguh-sungguh padat dan suci. Lama kelamaan

sebagai pengguru yoga (bakti kepada guru) beliau menghaturkan

seorang putrinya yang cantik dan menaruh bakat agama serta kesusastraan

kepada Dang Hyang. Dang Hyang Dwijendra menerima dengan senang hati

pangguru yoga tersebut, lalu dinikahkan dengan putranya yang bernama Ida

Putu Lor. Dari perkawinan ini menurunkan dua orang putra, yaitu Ida Wayan

Buruan dan Ida Ketut Buruan.

Dang Hyang Dwijendra mempunyai dua asrama (gria), yaitu di desa

Mas dan di desa Gelgel. Tiap-tiap hari purnama atau tilem Sira Mpu tetap

masuk ke istana menghadap Dalem diiringi oleh cucu-cucu beliau yang masih

kecil, Ida Wayan Buruan. Pada hari-hari baik sedemikian itu Dalem dipuja

oleh Mpu Dang Hyang dengan Weda pangjaya-jaya dan diperciki air tirtha

yang telah diberikan mantram kekuatan batin ketuhanan. Dengan hal demikian

lambat laun Dalem menjadi seorang raja besar perbawanya, karena segala

batin kependetaan ada pada beliau, namun sayang beliau belum mau mediksa

karena belum bersih hatinya didahului oleh Kyayi Penyarikan Dauh

Baleagung.


(16) DALEM WATURENGGONG BERGURU, MEDIKSA

Diceritakan Mpu Dang Hyang Angsoka, kakak dari Dang Hyang

Nirartha membuat suatu karangan yang diberi nama Smara Rencana dikirim

ke Bali kepada adiknya, kemudian dibalas dari Bali oleh Mpu Nirartha dengan

kidung Sarakusuma.

Dengan demikian Dalem tahu bahwa Dang Hyang Angsoka

seorang pendeta yang pandai, maka niatnya timbul akan berguru kepada

beliau. Lalu Dalem mengirim utusan ke Daha untuk menghaturi Dang Hyang

Angsoka datang ke Bali untuk menjadi gurunya sekalian memberi padiksaan.

Tetapi Dang Hyang Angsoka menolak permintaan Dalem Bali. Beliau berkata

kalau di Bali sudah ada Dang Hyang Nirartha yang lebih pandai darinya.

Beberapa lama kemudian, tiba-tiba turun Betara Mahadewa dari

gunung Agung, diiringi oleh sang Boddha datang ke Gelgel menemui Dalem,

beliau lalu bersabda, “Anakku Dalem Waturenggong, jika tidak terus engkau

berguru kepada Mpu Dang Hyang Dwijendra, karena tidak ada pendeta yang

sama dengannya, tidak dapat dielakkan lagi bahwa negara akan kacau,

anakku. Segala tanah tidak bisa dipetik buahnya, penyakit akan mengembang,

musuh akan timbul banyak, dan tidak selamat negara olehmu,” demikian sabda Beliau lalu musnah dari pandangan. Dalem Waturenggong menyembah

dan berjanji akan menaati sabda Betara.

Setelah itu Dalem memohon dengan hormat kepada Dang Hyang

Dwijendra untuk berguru dan didiksa. Mpu Dang Hyang dengan gembira

meluluskan permohonan Dalem, karena telah lama dinanti-nantikan. Hari

untuk mediksa dipilah hari purnamaning kapat (purnama bulan keempat dalam

kalender Bali). Setelah tiba hari yang baik itu, maka dengan upacara kebesaran

Dalem didiksa oleh Mpu Dang Hyang.

Setelah selesai upacara pediksan itu, Mpu Dang Hyang memberi

nasihat tentang tatacara orang memangku kerajaan dan supaya jangan lupa

kepada Tuhan dan leluhur. Tetapi tatkala sedang menguncarkan Weda Puja,

jangan memegang genta, menyamai Bhatara namanya, sangat berbahaya.

Setelah itu Sri Aji Waturenggong kian mashyur namanya

memegang pemerintahan, negaranya tenteram kerta raharja, makmur sandang

pangan, tidak ada penyakit merajalela, dan tidak ada musuh timbul.


(17) SIRA AJI KRAHENGAN DARI SASAK

Pada suatu ketika Sri Aji Waturenggong mempermaklumkan

kepada Dang Gurunya bahwa negara Bali sering diserang oleh Sri Aji

Krahengan dari Sasak (Lombok) yang sangat sakti dan pandai mengubah diri

(maya-maya) dan ahli melayang. Acapkali prajurit Dalem kalah dalam

pertempuran di tepi laut, hanya itu saja yang menggangu negaranya. Sebab itu

beliau memohon nasihat bagaimana caranya menghadapi musuh itu.

Dang Hyang Dwijendra menjawab, “nanak Waturenggong,

baiklah, aku akan coba pergi ke Sasak sebagai utusan nanak, untuk datang

kepada Sira Aji Krahengan mengadakan persahabatan. Oleh karena untuk

keselamatan bersama, lebih baik bersahabat daripada bermusuhan.

Bersahabat akan lebih banyak mendapat keuntungan bersama, sedangkan

kalau bermusuhan banyak mendapat kerugian.

Akhirnya, pada suatu hari baik, Dang Hyang Dwijendra berlayar

dengan menumpang jukung. Pelayarannya lancar dan tidak mendapat aral

suatu apa. Setibanya di Sasak, langsung beliau masuk ke dalam purinya Sri

Aji Krahengan. Ketika Sri Aji melihat pendeta datang, segera beliau turun dari

tempat duduknya dan menjemput sang pendeta dengan hormat dan

dipersilakan duduk dekat dengan beliau. Setelah bersama-sama menikmati

suguhan minuman, maka Sri Aji Krahengan berkata dengan hormat

menanyakan perihal kedatangan sang pendeta.

Dang Hyang Dwijendra menjelaskan maksud beliau datang, itu atas

perkenan, bahkan merupakan utusan dari Dalem Waturenggong untuk

mengadakan suatu ikatan persahabatan kepada Sira Aji Krahengan. Dan

Hyang juga menyatakan bahwa dengan persahabatan kita akan dapat

memupuk rasa persaudaraan dan memecahkan masalah bersama, sebagai

tanda persahabatan, Dang Hyang mengatakan bahwa ada baiknya kalau Sira

Aju memberikan salah seorang putrinya untuk menjadi istri Dalem

Waturenggong.

“Sang pendeta, harap dimaafkan saja, karena kami tidak dapat

memenuhi sebagai anjuran sang pendeta itu. Sebaiknya sang pendeta pulang saja!”

Dengan hal yang demikian sang pendeta keluar dari dalam puri

seraya mengeluarkan kata-kata kutukan, “Semoga si Krahengan surut

kesaktianmu dan surut kebesaranmu!” Demikian kata beliau seraya menuju

pesisir, naik ke atas jukung yang ditumpangi tadinya lalu menuju pulau Bali.

Setelah beliau tiba di Gelgel kembali, sang pendeta dijemput Dalem

Waturenggong dengan khidmad.

“Wahai Dang Guru, apakah berhasil usaha Dang Guru di sana?”

tanya Dalem Waturenggong ketika mereka duduk bersama.

“Nanak Waturenggong, tidak berhasil usahaku mengadakan ikatan

persahabatan kepada si Krahengan dan aku telah memberi kutukan (pastu)

agar ia surut kewibawaannya, tidak lanjut menjadi ksatria,” jawab sang

pendeta.


(18) PURA RAMBUT SIWI

Setelah Dang Hyang Dwijendra menjabat Pandita Kerajaan di

Gelgel dan sudah memberikan diksa kepada Dalem Waturenggong, beberapa

tahun kemudian beliau berniat untuk melakukan tirthayatra, melihat dari dekat

perkembangan ajaran kerohanian di desa-desa. Untuk melaksanakan niat

Beliau tersebut, beliau minta izin kepada Dalem Waturenggong agar beliau

berkekan memberikan persetujuannya. Karena tujuannya sangat baik, Dalem

tidak berkeberatan dan mengizinkan sang Mpu untuk melaksanakan

perjalanan bertirthayatra itu.

Konon berangkatlah beliau menuju arah barat, mula-mula sampai di

daerah Jembrana. Kebetulan beliau sampai pada sebuah parahyangan yang

biasanya pura itu dijaga oleh seorang penjaga pura sekalian sebagai pemilik

parahyangan itu. Seperti kebiasaan sang penunggu parahyangan itu, setiap

orang yang lewat di tempat itu diharuskan untuk bersembahyang terlebih

dahulu sebelum mereka meneruskan perjalanan. Kebetulan hari itu yang

tengah lewat adalah Dang Hyang Nirartha. Sang penunggu parahyangan itu

menegur sang Mpu agar beliau mengadakan persembahyangan di tempat suci itu. Dia juga menjelaskan bahwa parahyangan itu sangat angker sekali.

Barangsiapa yang tidak mau menghaturkan persembahyangan di sana, dia

tidak mau menjamin keselamatannya. Pasti orang itu akan menemukan celaka.

Setelah sang Mpu bertanya, kesusahan apa yang akan dialami orang-orang

yang tidak mau menghaturkan persembahyangan di parahyangan itu, sang

penunggu parahyangan itu mengatakan bahwa yang bersangkutan pasti akan

dimakan macan. Di daerah sekitar itu banyak macan yang sangat ganas yang

merupakan rencangan parahyangan ini.

Dia meminta berkali-kali kepada Mpu Nirartha agar beliau mau

bersembahyang terlebih dahulu sebelum beliau melanjutkan perjalanannya

agar benar-benar selamat di perjalanannya nanti. Mpu Nirartha menuruti

perkataan sang penjaga pura itu, seraya beliau mempersiapkan diri akan

bersembahyang. Di situ beliau menyatukan bayu, sabdha, dan idhepnya seraya

mengarahkan konsentrasinya berngara sika atau mata ketiga. Tak lama

kemudian tiba-tiba saja parahyangan menjadi pecah dan rubuh. Sang pemilik

parahyangan itu sangat kaget melihat kejadian yang sangat gaib itu, seraya ia

minta ampun, agar parahyangan itu bisa dibangun lagi, sehingga ada tempat ia

menghaturkan persembahyangan kehadapan Ida sang Hyang Widhi Wasa.

Sambil menangis ia mohon ampun kepada sang Mpu agar sudi memaafkan

kesalahan-kesalahannya dan mohon agar parahyangannya dapat dibangun

kembali. Sang Mpu Nirartha menasihatinya agar tidak membohongi penduduk

yang tidak tahu apa itu, dan harus berjanji bakti kepada Sang Hyang Widhi

selain kepada leluhur. Maka setelah ia berjanji tidak akan membohongi

penduduk lagi, Maka Dang Hyang Nirartha membangun kembali tempat

persembahyangan itu. Selanjutnya beliau memutuskan untuk tinggal lebih lama

di sana. Lama kelamaan didengar sang Mpu berada di sana, banyak para

penduduk datang, ada yang ingin berguru agama dan tidak sedikit yang datang

untuk berobat. Hal itu terjadi karena nama beliau sebelumnya di Gadingwani

sudah sangat dikenal betul sebagai ahli pengobatan di samping ahli ilmu

agama. Ramailah orang datang ke parahyangan itu. Lama-kelamaan karena

beliau memang ingin beranjangsana berkeliling, maka beliau menyatakan akan

meninggalkan mereka dan meneruskan perjalanan. Para penduduk sangat

sedih karena kepergian beliau, karena mereka sudah merasa senang beliau

berada di sana.mereka memohon dengan sangat agar sang Mpu bersedia

tinggal lebih lama di sana. Sang Mpu tetap tidak bisa menuruti permintaan

para menduduk itu. Maka untuk mengikat mereka, sang Mpu berkenan

memberikan selembar rambut beliau agar ditaruh di tempat parahyangan itu

untuk dijadkan penyiwian sebagai pertanda peringatan akan keberadaannya.

Kemudian dari tempat itu disebut Parahyangan Rambut Siwi atau Pura

Rambut Siwi. Selanjutnya beliau menetapkan hari baik untuk pujawali

Parahyangan Rambut Siwi tersebut.Piodalannya jatuh pada RABU UMANIS

PRANGBAKAT. Pada hari itu disuruh menyelenggarakan pujawali untuk memohon berkah.

Matahari ketika itu telah pudar cahayanya, kian merendah hendak

menyembunyikan wajahnya di tepi langit barat, karena itu sang pendeta

berniat akan bermalam di Pura Rambut Siwi. Orang-orang makin banyak

menghadap sang pendeta, yang berniat memohon nasihat soal agama, ada pula

yang mohon obat. Semalam-malaman itu sang pendeta menasihatkan ajaran

agama kepada penduduk, terutama berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi

dan Bhatara-Bhatari leluhurnya, agar sejahtera hidupnya di dunia. Dan

diperingatkan juga pelaksanaan puja wali di Pura Rambut Siwi agar

masyarakat menjadi selamat dan tentram.


(19) PURA PAKENDUNGAN (PURA TANAH LOT)

Diceritakan besok paginya ketika sang surya mulai memancarkan

cahayanya ke seluruh permukaan bumi, Mpu Dang Hyang melakukan

sembahyang Surya Sewana disertai oleh orang-orang yang ada di sana.

Setelah memercikkan air tirtha kepada orang-orang yang ikut sembahyang,

maka Mpu Dang Hyang berangkat dari dalam pura Rambut Siwi ke arah timur

menyusuri tepi pantai, diiringi oleh beberapa orang yang tertaut cinta baktinya

kepada sang pendeta. Mpu Dang Hyang selalu memperhatikan keindahan

alam yang dilaluinya dan dilihatnya.

Dalam keindahan pemandangan itu selalu terbayang kebesaran

Tuhan yang menjiwai keindahan itu yang menyebabkan mesra menyerap dan

menyulut batin orang menjadi indah dan bahagia. Sang pendeta selalu

membawa lembaran lontar dan pengutik pengrupak (pisau raut alat menulis

daun lontar) untuk menggoreskan keindahn alam yang dijumpainya. Akhirnya

beliau tiba di daerah Tabanan, di sana terhihat olehnya sebuah pulau kecil di

tepi pantai yang terjadi dari tanah parangan, indah tampaknya dan suci

suasananya. Lalu beliau berhenti di sana. Kemudian dilihat oleh orang-orang

penangkap ikan yang ada di sana, lalu mereka itu datang menghadap sang

pendeta masing-masing membawa persembahannya.

Pada waktu itu hari sudah sore. Orang-orang nelayan itu

menghaturi sang pendeta supaya beristirahat di pondoknya saja, tetapi sang

pendeta menolak, beliau lebih suka beristirahat di pulau kecil itu.

Malam itu sang pendeta mengajarkan agama kepada orang-orang

yang datang dan dinasihatkan supaya membuat parahyangan di tempat itu

karena tempat itu dirasa sangat suci, baik untuk tempat memuja Tuhan demi

kesejahteraan dan kemakmuran daerah lingkungannya.

Orang-orang yang menghadap berjanji akan membuat parahyangan

di sana, dan dinamai Pura Pakendungan atau Pura Tanah Lot, karena terletak

di sebuah pulau (karang) di tengah pantai.


(20) PURA ULUWATU DAN PURA BUKIT GONG

Besok paginya setelah melakukan Surya Sewana, maka Mpu Dang

Hyang Nirartha berangkat dari Pakendungan ke arah tenggara dengan jalan

darat menyusuri pantai. Dari jauh tampak oleh beliau suatu tanjung yang

menonjol ke laut bagian wilayah bukit Badung, maka tanjung itulah yang

beliau tuju. Perjalanan agak dipercepat di pantai, air laut sedang surut.

Setibanya di sana maka diperhatikan oleh beliau bahwa tanjung itu terjadi dari

batu karang seluruhnya dan sangat besar. Selanjutnya diperiksa keadaan batu

karang itu ke utara, ke barat, ke selatan, dan ke timur serta diperhatikannya

pula pemandangan yang ada di sana. Sungguh-sungguh indah dan bebas lepas

ke seluruh dunia. Kemudian terdengar bisikan jiwa beliau bahwa tempat itu

baik untuk memuja Sang Hyang Widhi dan terutama tempat “ngeluhur”

melepas jiwatmanya kelak ke alam surga.

Akhirnya beliau mengambil keputusan membuat kahyangan di

tempat itu. Untuk kepentingan itu terpaksa beliau membuat asrama di

sebelahnya untuk menetap sementaramengerjakan kahyangan itu. Pekerjaan

membuat kahyangan itu mendapat bantuan dari orang-orang yang dekat di

sana. Setelah beberapa hari lamanya maka kahyangan itu selesai diberi nama

Pura Uluwatu. Di tempat asrama Mpu Dang Hyang lama-kelamaan didirikan

juga sebuah kahyangan oleh orang-orang di sana dinamai Pura Bukit Gong.


(21) PURA BUKIT PAYUNG

Setelah Pura Uluwatu selesai dan dinasihatkan kepada orang-orang

di sana untuk menjaganya, maka Dang Hyang Nirartha melanjutkan

perjalanan lagi ke arah timur dengan melalui tanah berbukit-bukit. Beliau

kemudian tiba di goa Watu, dari sana menuju Bualu. Di sebelah tenggara

Bualu ada sebuah tanjung, di sana beliau berhenti. Ketika beliau menancapkan

payungnya ke tanah, maka tiba-tiba memancar air dari dalam tanah,sangat suci

dan hening.

Air itu dipergunakan menyucikan diri. Oleh orang-orang yang

dekat di sana karena gembira hatinya seakan-akan mendapat anugerah air

amrta (air kehidupan), maka di tempat itu dibangun sebuah kahyangan

dinamai Pura Bukit Payung.


(22) PURA SAKENAN

Setelah menyucikan diri di Pura Bukit Payung, maka Dang Hyang Nirartha berangkat ke arah utara menyusuri pantai. Tidak jauh dari sana

dijumpainya dua buah pulau batu yang disebut sebagai Nusa Dua. Di sana

beliau berhenti dan mengarang kekawin Anyang Nirartha yang melukiskan

segala obnyek keindahan yang dilihat oleh beliau sepanjang perjalanan,

digubah dijadikan sajak kekawin yang terikat dengan guru lagu.

Setelah selesai mencatat kekawinnya, Dang Hyang Dwijendra

melanjutkan perjalanan ke arah utara. Tidak diceritakan halnya di tengah jalan

maka sampailah beliau di Serangan. Pada bagian tepi barat laut Serangan sang

pendeta kagum memandang keindahan alam di sana, yaitu keindahan laut

yang tenang berpadu dengan keindahan daratan yang mengelilinginya. Sang

pendeta tak puas-puasnya memandang keindahan alam yang dianugerahkan

Tuhan di sana, dapat mempengaruhi batin menjadi tidak ternoda sedikit pun,

sehingga beliau terpaksa berhenti dan menginap beberapa malam di sana.

Terasa oleh beliau bahwa di tempat itu ada sumber kekuatan gaib yang suci,

san baik sebagai tempat sembahyang memuja Tuhan untuk keselamatan dan

kesejahteraan. Sebab itu beliau membangun pula suatu kahyangan di sana

diberi nama Cakenan (yang asalnya dari kata cakya yang berarti menyatukan

pikiran). Puja wali dilakukan pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Kuningan,

dan keramaiannya pada hari Umanis-nya (sehari sesudahnya).


(23) PURA AIR JERUK

Setelah Pura Sakenan selesai dibangun, Dang Hyang Dwijendra

keluar dari dalam pura lalu berangkat ke arah utara menumpang sebuah

jukung, lalu mendarat di Renon. Selama beliau berdiam di sana ada suatu

kejadian, yaitu ketika tongkat beliau dipancangkan, tidak berapa lama lalu

keluar tunas dan hidup menjadi pohon sukun. Setelah beberapa hari ada di

sana, beliau meneruskan perjalanan ke arah timur, tiba beliau di Udyana

Mimbha (Taman Intaran). Dari sana sang pendeta meneruskan perjalanan ke

arah timur laut, menyusuri pantai laut kemudian tiba di pantai selatan wilayah

Bumi Timbul (Sukawati).

Dari sana beliau masuk darat arah utara lalu tiba di sawah Subak

Laba. Di sana sang pendeta berhenti dan menginap, dijamu oleh orang-orang

subak dengan buah jeruk yang sedap rasa airnya. Di asrama tempat menginap

Mpu Dang Hyang setiap malam penuh orang-orang subak menghadap mohon

nasihat ajaran agama terutama dari hal bercocok tanam padi dan palawija

lainnya menurut musim dan hari wewaran. Sejak sang pendeta ada di sana

segala tanam-tanaman dan binatang ternak berhasil baik.

Sebab itu setelah Mpu Dang Hyang pergi daroi sana, maka oleh

orang-orang subak dibuatkan satu pura di bekas tempat asrama sang pendeta

(yang dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh) diberi nama Pura

Air Jeruk, tempat sembahyang mohon keselamatan tanam-tanaman dan

binatang ternak. Dan di sana ditanam satu pohon lontar sebagai peringatan

ajaran agama yang diwejangkan oleh sang pendeta.


(24) PURA TUGU

Diceritakan Dang Hyang Dwijendra berangkat dari Subak Laba ke

timur pula menyusuri pantai laut. Setelah tiba di Rangkung lalu berbelok ke

utara. Sesudahnya di hulu desa Tegal Tugu, sang pendeta lalu berhenti di luar suatu kahyangan.

Kemudian keluar seorang pemangku dari dalam pura setelah

menyapu melakukan pembersihan, datang kepada sang pendeta yang tengah

berhenti di luar pura. Setelah bertemu, sang pemangku berkata dan menyuruh

sang pendeta menyembah ke dalam pura. Dang Hyang tidak membantah, dan

menuruti permintaan sang pemangku itu. Beliau lalu masuk ke dalam pura.

Sang pendeta duduk bersila di halaman pura berhadapan dengan

bangunan-bangunan pelinggih, lalu melakukan yoga mengheningkan cipta

menghubungkan jiwatmanya dengan Tuhan. Tiba-tiba rusak bangunan

pelinggih itu semua. Sang pemangku bukan main terkejutnya dan terharu

hatinya melihat keadaan itu, lalu menangis memohon ampun kepada Mpu

Dang Hyang disertai permohonan agar sang pendeta berkenan pura itu

kembali seperti sedia kala.

Dang Hyang Dwijendra meluluskan permohonan pemangku itu,

lalu dengan yoga bangunan pura itu kembali seperti semula.

Kemudian sang pendeta berkata, “Sri mangku, ini kancing gelung

saya, saya berikan kepada mangku. Tempatkanlah di pura ini, dan

sesudahnya kahyangan ini diberi nama pura Tugu,”

Sangat gembira pemangku itu menerimanya dan berjanji akan

melakukan segala nasihatnya.

67

(25) GENTA SAMPRANGAN

Setelah selesai persoalan di pura Tugu maka Dang Hyang Nirartha

meneruskan perjalanan ke arah timur sampai di Samprangan lalu berhenti.

Ketika beliau duduk-duduk beristirahat, tiba-tiba terdengar oleh beliau suara

genta yang dibunyikan memenuhi angkasa, sangat merdu dan indah didengar

oleh sang pendeta, sehingga lama beliau termenung mengira-ngirakan

darimana asal suara genta tersebut. Tidak lama setelah itu datanglah dari arah

timur seorang pengalu (pedagang) menuntun seekor kuda yang berkalung

gentorag (genta) yang suaranya sangat indah didengar oleh sang pendeta, lalu

dipanggillah pengalu itu.

Etelah ia mendekat, maka berkatalan Dang Hyang, “Bolehkah saya

meminta gentorag kalung kuda saudara, untuk saya pergunakan dalam

memuja, karena saya tertarik denga suaranya yang indah.”

Orang pengalu itu demi mendengar kata sang pendeta demikian,

dengan cepat membuka kalung kudanya, dan dengan khidmad serta tulus

ikhlas menghaturkannya kepada sang pendeta. Ketika sang pendeta menerima

genta itu dari tangan sang pengalu, beliau dengan gembira berkata, “semoga

engkau selalu dalam perlindungan Sang Hyang Widhi.”

Lalu genta itu bernama Genta Samprangan, karena didapat di

Samprangan.

68

(26) PURA TENGKULAK

Berangkat pula sang pendeta dari Samprangan ke timur sampai di

desa Syut Tulikup. Di pinggir kali beliau berhenti duduk-duduk. Kemudian

datang beberapa orang turut duduk menghadap sang pendeta, dengan hormat

menyapa sang pendeta dan menanyakan dari mana datang ke mana tujuannya.

Setelah sang pendeta menerangkan halnya berkelana menjelajah pulau Bali,

maka mereka menyuruh salah seorang di antaranya memanjat pohon kelapa

dan memetik buahnya yang muda (kuud) untuk dihaturkan kepada sang

pendeta.

Yang disuruh segera memanjat pohon kelapa memetik sebuah

kuud, dan sesudah kelungah itu dikasturi (dipotong bagian tampuknya), lalu

dihaturkan kepada sang pendeta untuk diminum.

Sang pendeta menerima kuud itu dengan ucapan terima kasih.

Sebagai biasa apabila pendeta akan minum atau bersantap sesuatu apapun,

selalu didahului dengan ucapan-ucapan Weda mantram yang mengandung

ucapan syukur kepada Tuhan. Setelah selesai sang pendeta meminum airnya,

maka kuud itu dipecah dua untuk disantap isinya. Sang pendeta menyantap isi

kuud itu perlahan-lahan sambil bercakap-cakap dengan orang-orang desa di

sana. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran

69

mereka kurang memuaskan, karena sering dilanda penyakit dan tanamtanaman

mereka kurang berhasil.

Sang pendeta menasihatkan apabila terjadi halangan, agar beliau

dipanggil secara batin, tentu beliau akan datang secara niskala memberi

pertolongan memohonkan kepada Tuhan agar halangan itu dapat

dimusnahkan. Lalu san pendeta berangkat ke arah selatan dan diiringi oleh

orang-orang di sana sampai tepi pantai.

Setiap malam, pecahan kuud yang isinya disantap oleh Dang Hyang

dilihat oleh oang-orang menyala seperti bulan, sehingga seluruh orang desa

dapat melihat pada malamnya kuud itu menyala gemilang bagai bulan, dan

dapat dirasakan kalau di sana terdapat kekuatan gaib.

Oleh karena itu orang-orang desa sepakat membuat suatu pura di

sana untuk memohon kepada Tuhan demi keselamatan dan kemakmuran desa.

Pura itu diberi nama Pura Tengkulak.

70

(27) PURA GOWA LAWAH

Diceritakan dang Hyang Dwijendra terus berjalan ke timur

menyusuri pantai laut. Akhirnya beliau sampai di Sowan Cekug. Lalu

melewati pantai Gelgel dan beliau terus ke timur melalui pantai Kusamba dan

akhirnya sampai pada sebuah gua yang penuh dengan kelelawar. Sang pendeta

masuk ke dalam gua dan menemukan banyak kelelawar yang sedang

bergelantungan di dalamnya. Suaranya hiruk-pikuk tiada putus-putusnya.

Sebab itu gua tersebut disebut Goa Lawah.

Di atas gua ini terdapat aneka macam bunga yang sedang tumbuh

dengan suburnya, baunya harum disebarkan oleh angin semilir. Dari sana

tampak pula keindahan pulau Nusa Penida. Segala keindahan ini menawan

hati sang pendeta sehingga berkenan menetap beberapa lama di sana.

Lambat laun dibangunlah sebuah parahyangan di sana yang

dinamai Pura Goa Lawah. Setelah beberapa malam sang pendeta menginap di

sana, beliau lalu kembali ke Gelgel.

Dalem Waturenggong sangat gembira melihat kedatangan sang

pendeta. Beliau dihadiahkan sebuah rumah dengan 200 orang pelayan. Tiap

malam Dalem menghadap gurunya untuk mempelajari ilmu kamoksan

(kelepasan/bersatu dengan Sang Hyang Widhi).

71

(28) PURA PONJOK BATU

Beberapa bulan kemudian, Dang Hyang berniat melihat-lihat

daerah Bali Denbukit, yaitu daerah Bali utara. Apabila ada kesempatan akan

terus ke Sasak untuk mengetahui agama yang dipeluk di sana. Dalem

berkenan akan niat gurunya itu, dengan harapan jangan lama-lama bepergian.

Pada suatu hari Mpu Dang Hyang berangkat ke utara dari Gelgel, akhirnya

tiba di pantai barat laut dari gunung Agung.

Di sana ada sebuah tanjung (ponjok) yang terjadi dari batu bulatan/

batu gunung yang ditutupi lumut menghijau. Sang pendeta berhenti di sana

dan duduk untuk melihat pemandangan laut.

Tiba-tiba beliau melihat sebuah perahu dengan layar sobek

terdampar di pantai pasir. Awak perahu tersebut pingsan di pantai pasir karena

mabuk laut yang hebat. Kemudian, dengan kekuatan gaib, Mpu Dang Hyang

menyadarkan mereka lagi. Mereka mengaku berasal dari Lombok. Mpu Dang

Hyang menasihati agar mereka menginap dulu di sana beberapa lama, baru

kemudian kembali ke Lombok, sekalian Mpu Dang Hyang akan ikut ke sana.

Besok paginya mereka berangkat menyusuri selat Lombok yang

membiru. Diceritakan kembali perihal keadaan di Ponjok Batu. Setiap malam

tampak oleh orang-orang di sana bahwa batu tempat peristirahatan Dang

Hyang Nirartha menyala terus-menerus. Akhirnya di sana didirikan sebuah

72

Pura dengan bangunan sanggar agung (tempat memuja kebesaran Hyang

Widhi) dinamai Pura Ponjok Batu.

73

(29) TUAN SEMERU PURA SURANADI

Setibanya di Sasak, Dang Hyang Nirartha juga mengajarkan agama

Islam waktu tiga kepada orang-orang sasak, sehingga beliau diberi gelar

TUAN SEMERU. Sebab itu beliau berkenan membuat syair bernama Tuan

Semeru bertembang Dandang. Asrama beliau tempat mengajarkan agama

disebut SURANADI, yang berarti asrama yang sangat indah diapit dua buah

telaga yang penuh bunga yang harum.

Karena kebesaran dan kesaktian jiwa beliau, maka di pinggir

asrama muncul empat buah mata air yang bernama Catur Tirtha, yaitu tirtha

panglukatan, tirtha pabersihan, tirtha pangentas, dan toya racun.

Tidak putus-putusnya orang datang ke sana untuk membersihkan

diri. Orang-orang Islam dan non-Islam menjadi rukun dan tidak ada

percekcokan. Mpu Dang Hyang menjelaskan tujuan agama itu tiada lain

adalah Sang Hyang Widhi itu sendiri atau Tuhan Allah, yang berbeda

hanyalah bahasanya dan praktek agamanya saja.

74

(30) GUNUNG API TAMBORA

Beberapa lama kemudian, sang pendeta berniat untuk pergi ke

Sumbawa untuk menemui saudara sepupu beliau. Pada suatu hari berangkatlah

beliau ke Sumbawa bersama tukang perahu yang beliau tolong di Ponjok Batu.

Akhirnya, beliau tiba di Sumbawa.

Beliau diiring ke lereng sebuah gunung berapi bernama Tambora.

Beliau menginap di rmah seorang petani. Beliau disuguhi ketela rebus dan

pisang rebus ala kadarnya, karena sawah-ladang petani di sana sedang

terserang hama ulat dan belalang.

Besok paginya Kepala Desa datang ke tempat Dang Hyang dan

menceritakan perihal desa mereka. Mpu Dang Hyang kasihan melihat

masyarakat di sana, lalu menyuruh mereka menyalakan pedupaan dan

membakar kemenyan malam harinya di sawah mereka, sementara beliau

sendiri akan memohon kepada Betara yang bersthana di gunung Tambora agar

hama-hama itu dipindahkan dari sana.

Setelah matahari terbenam, orang-orang mulai melaksanakan apa

yang diperintahkan Pendeta Tuan Semeru. Beliau bersama kepala desa pergi

ke suatu tempat di ladang yang agak tinggi, seraya memohon kepada Tuhan

agar hama-hama di daerah itu lenyap. Beliau baru kembali ke pasraman

setelah larut malam.

75

Besok paginya alangkah terkejutnya masyarakat di sana

menyaksikan hama-hama itu sudah lenyap tak bersisa. Sawah-ladang kembali

produktif dan semua warga gembira. Mereka bertambah yakin bahwa Tuan

Semeru adalah seorang pendeta yang benar-benar suci dan sakti.

Di sana Mpu Dang Hyang juga menyembuhkan orang sakit. Orang-orang

yang berobat langsung menjadi segar, sehingga berita tentang kehebatan

beliau mulai tersebar, sampai ke seluruh Sumbawa.

76

(31) DENDEN SARI

Diceritakan di Sumbawa ada seorang penghulu kaya yang

mempunyai seorang putri bernama Denden Sari. Karena kayanya dia menjadi

orang yang sangat bangga akan kekayaan dan kikir. Tiap hari kerjanya hanya

menghitung jumlah kekayaannya saja. Dia juga meminjamkan uang dengan

bunga tinggi, memungut uang dari warga, dan memasukkannya ke kas

pribadinya. Hanya itu yang dilakukannya setiap hari. Anak-anaknya tidak

dihiraukannya, sehingga hidup mereka melarat. Ada salah satu putrinya

bernama Denden Sari yang baru berumur 6 tahun, dalam keadaan sakit. Ia

sejak kecil tidak dihiraukan lantaran orangtuanya sibuk dengan kekayaan

mereka. Akhirnya, lama-kelamaan sakitnya bertambah parah. Badannya lemas

dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari.

Sang penghulu mendengar ada seorang pendeta sakti yang bisa

mengobati orang sakit sedang berada di Sumbawa. Tergerak hatinya untuk

meminta pertolongan kepada sang pendeta. Tidak diceritakan bagaimana

pertemuan mereka, akhirnya sang pendeta yang diiring sang penghulu tiba di

rumahnya. Dang Hyang Nirartha melihat dan memperhatikan anak yang sakit

itu dalam keadaan melarat sekali, nafasnya terengah-engah dan mukanya

pucat pasi seakan-akan mayat, tetapi rupanya amatlah cantik.

77

”Oh, tuan pendeta, hamba mohon sembuhkanlah anak hamba ini.

Kalau dia bisa hidup lagi, hamba akan mempersembahkannya padamu,” ujar

sang penghulu berharap.

“Baiklah, aku akan menyembuhkannya. Tapi setelah sehat aku

akan membawanya ke Bali,” jawab sang pendeta. Lalu beliau memegang

kening anak itu seraya diberikan bebayon (kekuatan gaib ketuhanan).

Beberapa detik saja antaranya maka anak itu tersenyum dengan wajah cerah,

lalu duduk dengan sehatnya.

Demikianlah akhirnya Dang Hyang Nirartha membawa Denden

Sari kembali ke desa Mas. Setelah Denden Sari meningkat gadis, Dang Hyang

Dwijendra menikahkannya dengan cucu beliau yang bernama Ida Ketut

Buruan Manuaba.

78

(32) BUAH TANGAN GURU DAN MAHAPUTRA

Ketika Dang Hyang Dwijendra kembali ke Gelgel bukan main

gembiranya Dalem Waturenggong. Setiap malam mereka membicarakan ilmu

batin dan ketuhanan. Pangeran Dauh (Ki Dauh Baleagung) tetap saja datang

pada Dang Hyang Nirartha untuk memohon nasihat-nasihat. Segala nasihat

gurunya itu citulis dalam sebuah lontar berjudul Wukir Padelegan.

Untuk mengetahui berapa banyak buah tangan (hasil karya) Dang

Hyang Nirartha dan Pangeran Dauh, di bawah ini dicantumkan namanamanya,

yaitu :

Buah tangan Pangeran Dauh :

1. Rareng Canggu

2. Wilang Sebun Bangkung

3. Wukir Padelegan

4. Sagara Gunung

5. Aras Nagara

6. Jagul Tuwa

7. Wilet Manyura Tahun Saka 1414

8. Anting Anting Timah

9. Kakawin Arjuna Pralabda

79

Buah tangan Dang Hyang Dwijendra :

1. Nusa Bali Tahun Saka 1411

2. Kidung Sebun Bangkung

3. Sara Kusuma

4. Ampik

5. Legarang

6. mahisa Langit

7. Hewer

8. Majadanawantaka

9. Wasista Sraya

10.Dharma Pitutur

11.Kawya Dharma Putus

12.Dharma Sunya Keling

13.Mahisa Megat Kung Tahun Saka 1458

14.Kakawin Anyang Nirartha

15.Wilet Demung Sawit

16.Gagutuk Menur

17.Brati Sasana

18.Siwa Sasana

19.Tuan Semeru

20.Putra Sasana

80

21.Kidung Aji Pangukiran

(33) MEDIKSA DAN MEMBAGI WARISAN; PURA

PANGAJENGAN

Pada suatu ketika Dang Hyang Nirartha mempermaklumkan pada

Dalem Waturenggong bahwa beliau ingin kembali ke desa Mas.

“Nanak Waturenggong, ingatlah segala nasihat yang sudah-sudah.

Kini aku akan pulang ke desa Mas hendak melaksanakan upacara pediksan

keempat orang anakku yang akan menggantikanku untuk menjadi pendeta,

yang akan melanjutkan tugasku sebagai Brahmana di dunia, sebab aku akan

segera pulang ke Siwaloka. Hari pediksan itu akan dilaksanakan pada tilem

sasih kalima nanti. Jangan anak kecewa sepeninggalku. Pilih antara empat

anakku untuk menjadi pendeta kerajaan!” demikian nasihat Mpu Dang

Hyang. Dalem menyembah dengan khidmad.

Setibanya Dang Hyang di desa Mas, dititahkan pangeran Mas

mempersiapkan segala upakara untuk upacara pediksan nanti.

Diceritakan tepat pada hari pediksan itu Sri Aji Dalem

Waturenggong datang diiring oleh para punggawa, turut mempersaksikan

upacara suci itu. Sesudah upacara itu selesai, maka Mpu Dang Hyang

81

memberikan nasihat kepada putra-putranya, antara lain tentang kewajiban

pendeta.

1. Tidak boleh minum tuak atau segala minuman beralkohol;

2. Menghindari segala hal yang menyebabkan mabuk;

3. Tidak boleh makan daging sapi, karena ia sebagai ibu yang

     memberikan susu kepada kita.

4. Tidak makan daging babi rumahan (peliharaan);

5. Tidak memakan daging ayam peliharaan;

6. Menghindari segala hal kotor, baik sekala maupun niskala;

7. Tidak boleh iri hati;

8. Tidak boleh mengambil istri orang lain dan berzina.


Demikianlah nasihat Mpu Dang Hyang kepada putra-putranya.

Selanjutnya beliau mengeluarkan seluruh harta kekayaan beliau, dan akan

dibagikan kepada semua putranya. Dalem Waturenggong turut

mempersaksikan peristiwa itu, diiringi oleh Sira Arya Kenceng, Pangeran

Dauh Baleagung beserta rakyatnya, dan Ki Pan Geleng pelayannya Ida Kidul.

Adapun harta yang dibagi yaitu : emas, perak, uang kepeng,

permata mirah, cincin, tegal sawah, lontar-lontar pustaka, alat pawedan

(pemujaan kependetaan), rakyat (panjak), dan lain sebagainya. Tempat

membagi harta beliau itu dilakukan di luar gria asramanya di Mas. Harta

82

benda itu dibagi lima (5) untuk enam orang putranya. Di luar gria itu

diletakkan 5 buah balai amanca desa (5 arah).

Kemudian, Dalem mempersilakan keenam putra Dang Hyang untuk

mengambil warisan itu sesuai kehendak mereka.

1. Mpu Kulon mengambil emas, perak, uang kepeng,

permata, surat tegalan dan rakyat, akibatnya akan

mempunyai keturunan banyak tapi kurang pandai.

2. Mpu Lor mengambil surat tegal sawah, emas, perak,

uang kepeng, permata perhiasan, dan rakyat, akibatnya

mempunyai keturunan banyak tapi kurang pandai.

3. Mpu Wetan mengambil surat tegal sawah, emas,

perak, uang kepeng, permata perhiasan, dan rakyat,

akibatnya mempunyai keturunan banyak tapi kurang

pandai.

4. Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu mengambil satu

bagian untuk mereka berdua berupa sawah dan ladang,

maknanya kepandaian kurang, tapi banyak anak.

Mpu Kidul tetap diam tak mengambil satupun. Akhirnya setelah

diperingatkan oleh Dalem, barulan beliau mengambil : lontar pustaka, alat

pawedan, 2 buah genta bernama Ki Brahmana dan Ki Samprangan, pisau

83

pengrupak bernama Ki Tamlang, keris bernama Ki Sepak. Maknanya penuh

kepandaian dan bakat, tapi sayang keturunannya sedikit. Beliau mengangkat

Bendesa Mas sebagai pelayannya.

Masih ada rakyat, seekor ayam kurungan, dan sebatang pisau

pengrupak. Mpu Kulon mengambil rakyat, Mpu Lor mengambil ayam

kurungan, dan Mpu Kidul mengambil pisau pengrupak.

Setelah selesai semuanya maka Dang Hyang berpamitan pada

semuanya, sebab beliau akan berangkat mencari tempat yang suci untuk

kembali ke Siwaloka. Putra-putranya semua menyembah dengan khusuk,

demikian pula Sri Aji Dalem Waturenggong dan Pangeran Dauh Baleagung,

para Arya dan rakyat yang hadir.

Demikianlah akhirnya Dang Hyang Dwijendra berjalan ke arah

selatan seorang diri, hanya membawa tempat pacanangan (tempat sirih). Dang

Hyang Dwijendra mengembara memasuki tempat-tempat suci tanpa ada

seorang pun yang tahu. Tapi pada suatu hari ada orang yang memberitahu

Pangeran Mas bahwa Dang Hyang sedang ada di penghulu sawah antara desa

Sumampan dengan Tengkulak, dilihat sedang menulis lontar.

Beberapa hari kemudian kebetulan hari Penampahan Kuningan.

Bendesa Mas bersama istrinya pergi ke tempat Dang Hyang dengan membawa

makanan yang enak rasanya yang akan dihaturkan kepada Mpu Dang Hyang.

84

Mpu Dang Hyang menerimanya dengan senang hati, lalu menyuruh pangeran

Mas untuk mencarikan bungkak untuk menyucikan makanan itu.

Setelah Dang Hyang meninggalkan tempat itu, maka tempat bekas

beliau bersantap setiap malam mengeluarkan sinar dan berbau harum, karena

itu di sana didirikanlah sebuah pelinggih bernama Pura Pangajengan

(pangajengan = tempat makan).

85

(34) PURA MASCETI DAN PURA PETI TENGET

Diceritakan setelah itu Dang Hyang pergi ke pantai selatan Bali,

berjalan menuju desa Rangkung mendekati pelabuhan Masceti. Tiba di sana,

beliau merasakan dewa sedang mendekati beliau, maka timbullah semangat

untuk melakukan pemujaan di dalam pura Masceti. Ketika beliau

mengucapkan Weda Matram, tangan beliau dipegang oleh Betara Masceti.

“Tidak patut Dang Hyang menyembah seperti ini, karena sudah

suci menunggal kepada Sang Hyang Widhi. Apa sebab Dang Hyang masih di

dunia?” tanya Bhatara Masceti.

“Saya masih menunggu saat turunnya perintah dari Tuhan,” jawab

Dang Hyang.

“Kalau begitu,” ujar Bhatara Masceti. “Marilah kita bersama-sama

bercengkrama di daerah pinggir laut.”

Kemudian, karena kesaktian Bhatara Masceti, akhirnya mereka tiba

di pulau Serangan bagian barat laut. Seseorang melihat mereka serupa cahaya

merah dan kuning, lalu memberanikan diri mendekat. Dilihatnya Mpu Dang

Hyang sedang bercakap-cakap dengan Bhatara Masceti, lalu dia berkata.

“Mpu Dang Hyang, tinggallah dulu di sini, sebab hamba akan

memuja Sesuhunan.”

86

“Baiklah,” jawab Mpu Dang Hyang. “Buatlah di sini sebuah candi

yang akan disungsung oleg jagat dan buat pula sebuah gedong pelinggih

Bhatara Masceti, karena beliau iring Bapak sampai ke sini!”

Dang Hyang melanjutkan pembicaraannya dengan Bhatara Masceti,

tiba-tiba telah sampai mereka di tepi laut Krobokan. Dari sana Mpu Dang

Hyang melihat tanjung Uluwatu sebagai perahu hendak berlayar memuat

orang-orang suci menuju surga.

“Dang Hyang, maafkan saya. Saya mohon diri di sini,” demikian

kata Bhatara Masceti lalu menggaib.

Dang Hyang Dwijendra berjalan menuju Uluwatu, pecanangannya

diletakkan. Ketika itu beliau melihat ada orang halus bersembunyi di semaksemak

karena takut melihat perbawa Dang Hyang yang suci itu. Makhluk

halus itu adalah Buto Ijo.

Buto Ijo kemudian diperintahkan oleh Dang Hyang untuk menjaga

pecanangannya di sana, dan daerah itu diberi nama Tegal Peti Tenget. Kalau

ada yang hendak merusak daerah itu, Buto Ijo ditugaskan untuk melawan.

Dang Hyang Nirartha terus menuju Uluwatu. Setelah tiba di sana,

tidak terperikan senang hati beliau, karena tempat itu sunyi dan hening, di

sana beliau mengheningkan cipta, menunggu panggilan Tuhan untuk

ngeluhur.


87

Pada suatu hari datang kepala desa Krobokan bersama beberapa

orang menghadap Mpu Dang Hyang. Ia bercerita mengenai orang-orang yang

sakit dan tidak bisa diobati setelah datang ke tegal (Peti tenget) tersebut. Lalu

Dang Hyang memberitahu bahwa pecanangan beliau ada di sana karena beliau

tidak memerlukannya lagi, dan dijaga ketat oleh Buto Ijo. Dang Hyang

kemudian memerintahkan agar di sana dibangun sebuah kahyangan pelinggih

Bhatara Masceti. Pecanangan milik beliau juga diperintahkan untuk

disungsung agar memperoleh kesejahteraan desa. Pada hari pujawali, Buto Ijo

harus diberi cecaruan, berupa nasi segehan atanding, ikannya jejeron, babi

mentah, segehan agung, lengkap dengan tetabuh tuak arak.

Kelihan Krobokan berpamitan, kemudian di Tegal Peti Tenget

kemudian dibangun sebuah pura bernama Pura Peti Tenget.


88

(35) PURA LUHUR ULUWATU

Pada hari Selasa Kliwon Medangsia, Dang Hyang Dwijendra mendapatkan wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa beliau pada hari itu dipanggil untuk ngeluhur. Merasa bahagia sekali beliau, karena apa yang dinanti-nantikan telah tiba. Hanya ada sebuah pustaka yang belum dapat diserahkan kepada salah seorang putranya. Tiba-tiba Mpu Dang Hyang melihat seorang bendega (nelayan) bersama Ki Pasek Nambangan sedang mendayung jukung di lautan di bawah, lalu dipanggil oleh beliau.

Setelah bendega itu menghadap, lalu Dang Hyang berkata,

“Engkau akan kusuruh menyampaikan kepada anakku Mpu Mas di desa Mas, katakan pada beliau bahwa bapak menaruh sebuah pustaka mereka di sini yang berisi ajaran ilmu kesaktian.”

“Singgih, pukulun sang sinuhun,” ujar bendega lalu mohon diri.

Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Dang Hyang Nirartha mulai melakukan yoga samadhinya. Beberapa saat kemudian beliau moksa ngeluhur, cepat bagai kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambangan memperhatikan juga hal itu dari tempat yang agak jauh, namun ia tidak melihat Mpu Dang Hyang, hanya cahaya cemerlang dilihat melesat ke angkasa bagai petir.


89

Demikianlah akhir riwayat hidup Dang Hyang Nirartha. Kahyangan tempat beliau ngeluhur itu kemudian disebut Pura Luhur, lengkapnya Pura Luhur Uluwatu.


Tamat 



Imajiner Nuswantoro 



Tags

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)